Kamis, 11 Juni 2020

Masalah

Terkadang, sesuatu itu bukan sebuah masalah hingga seseorang mempermasalahkannya.

 
     Sumber gambar : Google

Kasian banget ya, sayang banget ya, atau bisa ya dengan ekspresi heran. Tiga kalimat yang sering banget saya ataupun mungkin kamu juga sering dengar. Sebut saja saat kita lagi pergi ke sebuah desa yang tidak memiliki listrik apalagi akses jaringan, tak jarang kita mendengar kalimat "bisa ya orang-orang di sini hidup tanpa listrik", buktinya mereka banyak yang hidup kan artinya bisa. Atau kalimat kasian banget ya anak-anak itu berlarian tanpa sandal, memakai baju pramuka rok merah, tampil cemong karena gak mandi ke sekolah. Menurut kita mereka kasian, tapi mereka ternyata menikmati aja tuh kondisi yang seperti itu. Atau kalimat sayang banget ya udah sekolah tinggi-tinggi malah jadi honorer atau sayang banget ya karirnya udah bagus malah memilih menjadi ibu rumah tangga. Atau menyoal pasangan dan buah hati, pasti kita sering mendengar atau mungkin kita yang sering mengatakan ini "kasian banget ya cantik-cantik suaminya biasa-biasa aja atau kebalikannya", atau komentar yang sering bilang "kok bisa ya anakmu putih bersih sedangkan kamu hitam pekat, untung dia gak mirip kamu ya".

Percayalah, dibalik sebuah keputusan besar yang diambil seseorang itu sudah melewati banyak pertimbangan yang tidak harus dia jelaskan kepada semua orang. Percayalah, kata-kata yang mungkin bagi kita becandaan bisa jadi bisa melukai seseorang. Percayalah, orang-orang yang kita anggap kasian itu bisa jadi hidupnya lebih tenang, lebih bahagia dibanding kita yang sudah terpapar arus informasi, teknologi, dan modernisasi.

Jangan buru-buru menjustifikasi kehidupan seseorang kasian hanya dari asumsi “ideal” kita, asumsi kehidupan "kota" yang kita miliki. Seseorang tidak "sama" dengan kehidupan yang kita jalani maupun lihat selama ini bukan berarti kehidupan mereka lebih "buruk" dibanding kehidupan kita.

Berkata baik atau diam. Kata-kata yang sering kita dengar untuk menjadi pengingat agar kita menjaga lisan, karena seringkali lisan kita melukai orang lain, atau mungkin lisan kita menjadi seseorang memaksa diri untuk berubah. Dari yang awalnya orang itu mungkin biasa aja dengan kehidupan yang dia jalani selama ini dan tak ada masalah, cuman karena kita mempermasalahkan akhirnya mereka pun juga mempermasalahkan kehidupan yang selama ini sudah mereka nikmati.

Saya pun pernah berada di posisi orang yang menyebalkan itu. Pernah seolah-olah melihat kehidupan yang dijalani orang sebagai sebuah "masalah" karena saya memakai standar yang saya miliki, seperti saat seorang teman lelaki saya bercerita kalau dia harus sudah berada di rumah sebelum maghrib, maghrib baginya adalah jam malam. Saya yang tidak pernah bertemu dengan orang seperti itu sebelumnya secara spontan saya langsung merespon "kok bisa ya hidup dengan aturan seperti itu". Kenyataannya dia hidup sampai sekarang dan menikmati aturan yang dibuat di rumahnya. Cerita yang lain saat salah satu teman laki-laki saya habis kehujanan dalam durasi beberapa detik, tak lama kemudian dia langsung flu. Saya kembali terheran-heran melihat kondisi itu dan bertanya-tanya kok bisa sih kehujanan sebentar aja langsung sakit. Dan beberapa cerita yang lain yang mengandung unsur penghakiman.

Semakin banyak saya bertemu dengan orang, semakin sering saya berjalan lebih jauh saya kemudian belajar banyak hal bahwa tak semua yang berbeda dari yang selama ini saya ketahui adalah sebuah masalah. Bisa jadi bagi saya itu adalah sebuah masalah tapi belum tentu dianggap masalah bagi orang lain. Cara saya merespon sesuatu yang berbeda dari saya bisa jadi itu yang akan menjadi awal masalah bagi orang lain dan mereka akhirnya mempermasalahkan hidup yang selama ini mereka sudah jalani. Sejak saat itu saya pun belajar menahan diri untuk tidak mudah menghakimi kehidupan seseorang.

 

 

Rabu, 10 Juni 2020

Perjalanan Makassar-Teluk Bintuni

Tanggal 16 Agustus 2015, tepat di hari minggu. Saya bertolak ke Bandara Sultan Hasanuddin diantar oleh papa, mama, Dian dan Nurul yang merupakan sepupu yang tinggal di rumah serta Winda sahabat SMAku yang sengaja datang kerumah untuk mengantarku ke Bandara. Pukul 01:00 kami sudah meluncur ke Bandara, di Bandara sudah ada Kak Rizad, partnertku yang akan bersama ke Papua sudah ada di ruang tunggu, pesawatnya dari Bandara Juanda telah sampai di Bandara Sultan Hasanuddin sekitar pukul 12. Saya mengalami kerepotan, memakai wedges, menenteng laptop, mengurusi jilbab, mengangkat tas dan kresek Dunkin Donald dan menarik koper, tampak tak ada bedanya dengan TKW yang baru datang. Kuminta mamaku menemaniku ke tempat check in karena saya sudah sangat yakin kalau barang bawaanku over bagasi. Hasilnya tetap nihil, di tempat check in aturannya sangat semrawut, penumpang jurusan Papua digabung, tak ada perbedaan tempat antara orang orang yang mau ke Jayapura, Nabire, Biak, Manokwari ataupun ke Sorong. Beda ketika mau ke Jawa, akan ada tempat khusus ke tempat yang dituju, akhirnya kutelefon Kak Rizad untuk turun agar nantinya bisa membantuku mengangkat barang. Saya masih tak mampu membayangkan menenteng banyak barang dengan keadaan pake rok dan wedges. Dan benar saja saat tiba giliranku check in bagasiku lebih 10 kg dan itu harus bayar 250.000, tentu saja saya tak mau 250.000 bukan nominal sedikit, apalagi saya hanya diberi bekal uang 300.000, akhirnya Kak Rizad muncul dengan muka kebingungan mencariku. Kak tolong bantu angkat ya ka, hahahaha. Tadi saya panggil Kak Rizad turun biar bisa bantu angkat

Setelah urusan dunia per check in-an selesai kami keluar di terminal keberangkatan, akhirnya Kak Rizad membayarkan uang kelebihan bagasi hahaha. Kami pamitan lalu berangkat. Alhamdulillah saya diantar dengan senyum bukan dengan tangis lagi, saya dan Kak Rizad lalu berjalan menuju ruang tunggu, Kak Rizad dengan langkah tergopoh menenteng tas yang berisi pakaian dan buku, sampai di ruang tunggu baru dia protes, kamu bawa apa sih Tin banyak banget, gak bawa apa-apa kok ka, cuman bawa pakaian sama buku aja, hahhaha.

Kami pun mencari tempat duduk dan menunggu sampai jadwal keberangkatan tiba, waktu itu masih ada sekitar 90 menit sampai akhirnya waktu keberangkatan tiba. Tak lama kemudian ada kakak-kakak dari Jayapura yang kebetulan ke Makassar untuk dinas kantor, mereka dibiayai oleh pemerintah untuk mengikuti seminar, tidurnya di Hotel Aryaduta. Hotel yang termahal di Makassar karena lokasinya yang strategis, menghadap ke Pantai Losari. Kakak itu bercerita banyak tentang kehidupan di Papua, tak berapa lama kemudian pesawat kakak itu sudah mau berangkat dan dia akhirnya pamitan. Kembalilah saya berdua lagi dengan Kak Rizad, Kak Rizad tampaknya kelelahan sampai akhirnya dia tertidur di kursi dan saya melanjutkan untuk mengobrol bersama Ani ditelefon.

Sekitar pukul 03:00 WITA sudah ada panggilan untuk penumpang tujuan Manokwari dan Sorong, ternyata pesawat Sriwijaya yang kami tumpangi juga akan mengangkut penumpang yang bertujuan ke Sorong, dalam perjalanan menuju ke pesawat pakaian dan bukuku yang dibawa oleh Kak Rizad ditahan oleh petugas karena ukurannya yang nampak besar dan tidak bisa dibawa masuk ke Kabin, barang tersebut ditukar dengan secarik kertas yang berisi keterangan kalau kami setuju andaikata barangnya tidak bersamaan sampai dengan orangnya. Sesampainya di pesawat orang-orang Papua sudah tampak memenuhi hampir semua kursi yang ada di pesawat, baru kali ini saya naik pesawat dengan orang sepadat itu dengan barang yang bejibun. Untung saja tasnya ditahan tadi karena sudah tak ada lagi tempat di kabin pesawat.

Perjalanan Makassar Manokwari ditempuh kurang lebih 3 jam, perjalanan terpanjang yang pernah kutempuh, semburan AC pesawat sukses membuat seisi pesawat menggigil kedinginan, baru kali ini pula dapat makanan berat di pesawat mungkin karena perjalanan jauh. Ada rasa jenuh berada di ketinggian dalam waktu yang lama, gendang gendang telinga pun mengalami nyut nyut saking lamanya berada di ketinggian, sekitar pukul setengah 7 awak pesawat mengumumkan sebentar lagi pesawat akan landing di Bandara Rendani, nama bandara yang ada di Manokwari. Rasanya mimpi bisa menginjakkan kaki di tanah Papua, berbeda dengan penerbangan-penerbanganku sebelumnya ke beberapa kota yang ada di Indonesia, kalau di kota yang lain saat mau landing mata akan disuguhkan suasana kota yang padat merayap oleh kendaraan dan bangunan, tapi di Papua yang kelihatan hanya hutan dan laut. Ada rasa khawatir, kalau saja pilot salah tempat landing karena tak ada tanda tanda pemukiman, yang ada hanya hutan rapat, pikiranku langsung bergentayangan ke cerita cerita kecelakaan pesawat yang jatuh ke hutan atau pegunungan dan tak ada yang selamat. Tampak dari atas tak ada kehidupan di bawah, waktu landing semakin dekat, hati semakin deg degan melihat di bawah yang ada hanya hutan tak ada tempat untuk pesawat landing. Untungnya beberapa menit kemudian pesawat bisa landing di jalur yang tepat dan benar saja kiri kanan depan belakang yang ada hanyalah hutan, wajar saja sebelum landing yang kelihatan dari atas hanya hutan, bandaranya pun tak sebesar bandara-bandara yang pernah kulihat sebelumnya, bahkan jika dibandingkan dengan Terminal Purwodadi Solo jauh lebih bagus Terminal Purwodadi, kata Kak Rizad ini sudah lebih bagus dibanding waktu Kak Rizad pertama kali ke Papua, ini sudah ada renovasi.

Manokwari merupakan ibu kota provinsi dari Papua Barat, cukup syok juga pas sampai di tempat pengambilan bagasi, tempatnya sangat sederhana dan saat saya ingin mencari troli Kak Rizad bilang kalau troli itu hanya untuk orang orang yang memakai jasa kurir, saya langsung menertawakan kebodohanku yang masih membayangkan kalau Bandara Rendani mirip dengan suasana di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Di tempat parkir sudah ada supir mobil yang akan menjemput kami dan mengantarkan kami ke Bintuni, mobil Hilux, yah mobil yang baru pertama kali saya tumpangi seumur hidup, sangat elit untuk ukuran ojek mobil. Fikiranku sudah mual bahkan sebelum berangkat apalagi mendengar cerita Kak Rizad tentang jalanan menuju bintuni yang berkelok kelok. Segede ini saya masih saja mabuk kendaraan. Kak rizad duduk di depan samping pak supir saya duduk dibelakang bersama barang barang, kami bagai tamu penting yang dijemput menggunakan mobil elit dan penumpangnya khusus kami berdua.

Mobil pun melaju keluar bandara, Kak Rizad bilang ke pak supir untuk mampir ke atm terlebih dahulu, saat mobil berkeliling mencari atm saya menyaksikan wajah Manokwari dari satu sisi, lebih rame pare dibanding kota manokwari. Setelah dari atm mobil langsung melaju menuju ke Bintuni, kata pak supir perjalanan akan ditempuh dalam waktu 7-8 jam, saya langsung tidur untuk menghindari mabuk perjalanan, sebenarnya ingin menyaksikan perjalanan tapi apa daya perut tak bisa diajak kompromi, mual. Sempat kuterbangun sekali dan kusaksikan sebuah pantai yang sangat indah di pinggir jalan tapi tak lama kutinggal tidur lagi. Sekitar 2 jam kami sampai di daerah Trans Bari, konon Trans Bari merupakan nama daerah untuk penduduk transmigran, kami pun bangun karena dibangunkan oleh pak supir yang mengingatkan untuk makan. Karena mabuk perjalanan baik saya maupun Kak Rizad sudah lupa untuk makan. Setelah makan soto di daerah Trans Bari kami melanjutkan perjalanan ke Bintuni, masih ada 5-6 jam perjalanan lagi yang harus kami tempuh.

Saya diberikan obat anti mabuk oleh Kak Rizad yang sukses membuatku tidur sampai masuk di Kabupaten Bintuni, itupun dibangunkan saat sudah sampai di depan kantor bupati, Tin bangun sudah dekat, kata Kak Rizad. Saya pun bangun dan merapikan jilbab serta memakan donat. Di kiri kanan masih dipenuhi hutan hutan, rumah tak sepadat di Sulawesi apalagi di Jawa, masih sangat asri, kendaraan pun cuman ada satu dua. Saya sudah tak sabar sampai apalagi Kak Rizad bilang bentar lagi kita sampai.

Ternyata masih sekitar 45 menit sampai akhirnya kami tiba di Terpadu. Akhirnya sampai juga, akhirnya bisa melihat langsung kondisi dan situasinya. Mobil bisa langsung naik di depan asrama, dan saya sempat kaget saat mendengar nominal yang mesti dibayar adalah 2.5 juta harga yang sangat fantastis. Di asrama kami disambut Pak Budi, disusul Bu Nur, Bu Nuning serta Bu Sari. Barang barang awalnya di ungsikan di asrama putra sambil menunggu Pak Kholid yang katanya ke SP (Satuan Pemukiman). Tak lama kemudian Bu Sari dan Bu Nur pulang, mereka memanggilku ikut serta untuk istirahat, awalnya saya sungkan tapi akhirnya baring dan tertidur karena kecapean, sedang Kak Rizad tetap di asrama putra bersama Pak Budi.

Sore harinya Kak Rizad yang sudah mandi dan berpakaian rapi datang memanggilku, kami diajak Pak Budi dan Pak Kholid untuk ke kota buat makan, ternyata kota yang dimaksud adalah kota Kabupaten Bintuni, saya berboncengan dengan Kak Rizad sedang Pak Kholid berboncengan dengan Pak Budi, di tengah perjalanan kami berhenti karena melihat ada polisi yang sweeping sedang kami tidak memakai helm, kami akhirnya memutar balikkan motor dan memutuskan makan soto serta ikan bakar. Setelah makan kami lalu lanjut ke toko furniture untuk membeli bantal dan payung, lalu kembali ke asrama.

Saya dan Kak Rizad untuk sementara tidur  di asrama putri, tentu saja dengan kamar yang berbeda. Dikamar sudah ada kasur dan kipas angin, tak berapa lama kemudian Pak Kholid datang membawa semprot baygon serta sabun, odol, air minum dan sikat gigi. Saya kaget sampai hal seperti itu dibelikan, tapi Alhamdulillah banget sih. Setelah itu kami tidur dan besoknya sudah tanggal 17 Agustus. Bu desi pagi pagi menelfon mengajak kami ikut upacara tapi Kak Rizad enggan untuk pergi, akhirnya saya pun juga tidak ikut pergi dan tidak bisa menyaksikan pakaian pakaian adat Papua yang digunakan orang-orang saat upacara 17 Agustus.

Sore harinya anak anak sudah berdatangan untuk tes. Anak-anak yang sudah ikut English Camp tahun lalu histeris memanggil Kak Rizad yang notabene tutor English Camp mereka tahun lalu. Tesnya hanya formalitas karena toh yang diambil 40 orang adalah putra putri daerah sedang 12 lainnya adalah anak nusantara. Nama-nama peserta sudah dikantongi, keesokan harinya tepatnya tanggal 18 agustus anak-anak diberikan undangan orang tua wali sebagai penyambutan atau temu orang tua wali dan pengurus serta tutor English Camp, di hari yang sama pula anak-anak sudah masuk di asrama dan membawa barang barang mereka serta bersih bersih asrama. Puluhan tas serta koeer berhamburan di asrama, mirip dengan korban pengungsian atau tenaga kerja hahahha.

Itulah hari pertama saya bertemu dengan calon calon muridku. Keesokan harinya tanggal 19 agustus baru kelas dimulai, mereka dikumpulkan di depan kelas delapan dekat lapangan lalu perkenalan nama serta pembagian kelompok A dan B, untuk sementara saya menghandle kelas B dan Kak Rizad di kelas A. Tanggal 19 merupakan hari rabu yang artinya ada dua minggu waktu sebelum tanggal 31 Agustus untuk melihat potensi anak-anak yang cocok ditempatkan di kelas A dan B, mereka dibagi menjadi dua kelas karena tingkat kemampuan penangkapan mereka berbeda, kelas A dominan lebih cepat dan B cenderung lebih lambat. Pembagian kelas ini dimaksudkan agar transfer materinya jadi lebih “mudah” dengan menyesuaikan kondisi siswa. Saya menghandle kelas A untuk sementara dan kelas B di handle oleh Kak Rizad.

Cerita ini ditulis tanggal 04 Oktober 2015

Cerita yang lain tentang kisah di Papua akan diunggah dalam cerita yang lain.

Sebelum mengunggah tulisan ini ke blog saya merapikan kembali tulisan dan memperbaiki typo, dalam proses memperbaiki penulisannya ingatan saya kembali diajak bernostalgia kisah 5 tahun lalu yang masih melekat di ingatan. Ada rasa kesal sendiri saat melihat tulisan banyak sekali perbandingan yang saya lakukan. Dasar aku! Setelah perjalanan beberapa bulan di Papua saya belajar banyak hal, berambisi untuk berjalan lebih sering dan lebih jauh lagi agar bisa melihat dunia jauh lebih luas agar pikiran tidak sempit dan tidak mudah melakukan justifikasi apalagi perbandingan.

Selasa, 09 Juni 2020

Foto dan Eksistensi


Berfoto salah satu cara menghentikan waktu, ketika ingatan tak mampu merekam dengan gamblang peristiwa yang dilalui foto menjadi salah satu petunjuk untuk mengingat kembali peristiwa peristiwa yang luput dari memori, jepretan demi jepretan diabadikan, tujuannya pun berbeda ada yang bertujuan untuk merekam ingatan, demi pengakuan diri atau lebih tepatnya pamer, tak afdol rasanya berkunjung ke suatu tempat, makan makanan mahal tanpa mengabadikan peristiwanya, ada rasa bangga tersendiri ketika bisa berkunjung ke suatu tempat dan pamer ke orang lain dan mendapat pujian, karena kata terlalu mainstream dan menyiratkan kesombongan maka gambar mengambil andil, gambar dijadikan tameng untuk pamer tanpa mesti bercuap cuap, terkadang gambar juga bisa menipu, tergantung kualitas kamera dan posisi pengambilan gambar, tak salah jika gambar yang seyogyanya bisa menjadi kenangan terindah malah menjadi dosa terkutuk, karena telah menipu penikmat gambar dengan pemalsuan foto.

Menjamurnya teknologi yang semakin tak terbendung memungkinkan manusia melakukan apapun dengan instan, segala peristiwa di abadikan dalam jepretan kamera. Foto bisa menggantikan peran lisan dalam menjelaskan sebuah peristiwa, alasannya adalah eksistensi atau pengakuan sebagai manusia yang update dan tidak ketinggalan jaman. Foto bisa menjelaskan ketika lisan tak bisa berkatakata, pada akhirnya foto bisa membungkam kata, mematikan cerita dan menyingkirkan komunikasi. Kata akhirnya terkubur di rak rak buku dan dilengserkan oleh eksistensi foto.

Hubungan harmonis pun yang bisa terjalin karena adanya komunikasi semakin tergeser, muda mudi lebih senang jeprat jepret lalu menunjukkan layar hpnya ketimbang bercerita. Kebersamaan pun hanya menjadi angan, dan komunikasi menjadi impian. Kita akan senyam senyum ketika melihat hal-hal konyol yang terpatri di layar handphone, ketimbang mengingat lini waktu yang kita lalui kala menjepret foto tersebut. Tidak ada lagi waktu untuk menikmati tempat yang dikunjungi, apalagi merenungkan dan mensyukuri ciptaan Ilahi, kita akan disibukkan mencari posisi yang tepat untuk jeprat jepret, tujuan utama untuk liburan atau refreshing berubah menjadi gerak tak menentu kesana kemari untuk  mencari posisi tepat agar fotonya tampak indah dengan latar belakang tempat yang menawan.

Kasian sekali generasi abad ini, teknologi mengambil andil jalur kehidupan lebih dari 50%, gerak gerik dikungkung oleh adanya media social, tiada lagi rahasia, tiada lagi waktu duduk mengobrol dan bercengkrama bersama teman dan keluarga, pergaulan menyempit dengan kehadiran gadget yang berukuran mini yang menjadi pengontrol roda kehidupan manusia, gadget seolah menjadi Tuhan tempat mengadu kala musibah menghampiri, menjadi malaikat pencatat yang menampung segala isi hati dan fikiran.
Bilik Literasi, 16 Juli 2015 08:14 PM

Senin, 08 Juni 2020

Tanda


Saban waktu, temanku pernah bercerita bahwa dia tidak suka minum obat karena itu sama artinya dengan mematikan tanda, dia percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita pada dunia ini adalah perihal tanda.

Saat kita sedang sakit itu adalah sebuah tanda, barangkali pola hidup kita kurang sehat, makanan kita bermasalah, tidur kita tidak teratur, atau kita terlalu keras dalam beraktifitas. Seperti halnya saat kita kentut itu bisa jadi tanda kita mau pup. Saat kita menguap bisa jadi adalah tanda kita sedang mengantuk. Saat kita sendawa bisa jadi adalah sebuah tanda kita kekenyangan. Saat kita sulit tidur barangkali adalah sebuah tanda di pikiran kita lagi bertebaran banyak hal yang lalu lalang. Saat langit mendung barangkali akan turun hujan. Coba perhatikan diri kita atau orang lain seringkali saat kita mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan baik yang terjadi di alam mimpi atau sakit yang dirasakan fisik maupun mental kita seringkali berselancar di pencarian dan menuliskan “tanda-tanda kehamilan, tanda-tanda sakit kanker, tanda-tanda stress, tanda-tanda dia adalah jodohmu, tanda-tanda dia menyukaimu” dan lain sebagainya. Kita sebenarnya secara tidak sadar percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah sebuah tanda.

Hidup adalah soal tanda. Seperti halnya orang-orang yang hidup di hutan mereka tidak butuh kecanggihan teknologi untuk mengetahui apa yang mungkin akan terjadi. Mereka hanya melihat matahari untuk mengetahui kira-kira saat itu pukul berapa. Mereka hanya melihat ke langit untuk mengetahui perihal pergantian siang ke petang dan gulita ke terang.

Hidup ini adalah perihal tanda. Seperti halnya saat doi mulai berubah bisa jadi adalah sebuah tanda ada sesuatu yang lain di hatinya, bisa karena ada muatan emosi yang sulit diungkapkan atau karena ada orang lain yang masuk ke kehidupannya. Kita butuh sedikit lebih peka untuk membaca setiap tanda yang dikirimkan semesta.

Hidup adalah perihal tanda. Seperti halnya sesuatu yang terjadi di muka bumi ini. Barangkali adalah sebuah tanda bahwa bumi butuh ruang untuk bernafas karena manusia sudah terlalu serakah dalam mengeruk setiap lapisan bumi. Barangkali sesuatu yang terjadi saat ini adalah sebuah tanda bahwa Tuhan sedang menginginkan para makhluknya untuk kembali berserah diri dan percaya kepada-Nya. Barangkali sesuatu yang terjadi hari ini adalah sebuah tanda bahwa kita mesti belajar mengenai sains dan ilmu pengetahuan, percaya lagi kepada sains bahwa segala sesuatu yang terjadi bisa ditelusuri sebab musababnya.

Karena hidup adalah perihal tanda mari sejenak tenang dan belajar mengamati, barangkali Tuhan telah mengirimkan tanda kepada kita tapi kita yang kurang peka untuk membaca tanda-tanda itu. Setelah mengetahui setiap tanda yang ada kita bisa belajar untuk mawas diri dan lebih waspada.

Minggu, 07 Juni 2020

Mengeluh Lalu Belajar Bersyukur

Kalau dibilang malas ya terkadang malasnya sampe ke ubun-ubun sampai ngerasa otaknya ngefreeze karena kelamaan gak digunakan. Kadang juga merasa males nulis tapi selalu aja ada dorongan yang mengajak untuk ayok nulis ayok nulis. Kadang memilih untuk rebahan seharian tapi ada aja ajakan untuk ayok bangun masak, ayok bangun membersihkan, ayok duduk di teras untuk sekadara ngobrol. Kadang males banget untuk bales chat tapi terkadang merasa kasian aja chatnya dianggurin, kembali memposisikan diri kalau chatku dianggurin kadang kesel gak karuan. Kadang mengeluh kepanasan, kedinginan, bosan, gak tau mau ngapain. Tapi selalu saja Allah seolah membalas keluhan tersebut dengan sebuah kejadian yang akhirnya membuat bersyukur. 

Misal lagi ngeluh panas eh gak lama kemudian tiba-tiba turun hujan yang sangat deras, atau saat ngeluh kedinginan eh tiba-tiba panas begitu terik, saat sudah ngeluh bosan tak tau mau ngapain tiba-tiba ada aja teman mengirimkan sesuatu untuk dikerjakan. Seperti beberapa hari yang lalu tiba-tiba ada teman yang mengirimkan draft tesisnya untuk kureview, meski beberapa hari kuanggurkan akhirnya kubangun untuk membaca dengan saksama draft yang dikirimkan tersebut lalu kukoreksi, aku mengembalikan posisi tersebut ke posisiku beberapa waktu yang lalu saat masih berjibaku dengan dunia pertesisan, ada sebuah harap untuk dibalas dengan segera ketika memilih orang untuk kukirimkan draft guna untuk dikoreksi. 

Di lain kesempatan aku mengeluh karena bosan gak ada kerjaan, tiba-tiba teman di kursusan mengajak untuk membenahi kursusan selama masa karantina di rumah, dibuatlah susunan rencana hingga akhir tahun yang padat merayap. Namun, hal tersebut terkadang juga masih kukeluhkan karena deadlinenya terlalu cepat. Di kesempatan yang lainnya project yang kurencanakan dengan teman-teman semangatku lagi menurun untuk lanjut membahas, tapi melihat antusiasme teman-teman aku juga kembali bersemangat untuk menjalani proses demi prosesnya, kembali kumenyadari bahwa segala sesuatu yang sudah dimulai dengan baik harus dijalani dan diakhiri dengan sesuatu yang baik pula, ini aku yang mengawalinya dan mengajak teman-teman untuk terlibat jadi aku pun harus belajar untuk menjaga semangat, emosi, dan hubunganku dengan teman-teman.

Aku gak mau juga menjadi orang yang toxic positivity memaksa diri ini untuk selalu bersyukur meski sedang berada di kondisi yang down. Tapi, saat sudah melampiaskan segala gunda gulana di hati, sudah mengeluh tak karuan, selalu saja merasa bahwa Allah memberikan kasih sayangnya dengan merangkulku kembali ke jalan-Nya, memberikan jawaban-jawaban dari keluhanku yang membuatku kembali bersyukur atas segala nikmat dan kenyamanan yang kumiliki. 

Nikmat bernafas tanpa ventilator, hidup di rumah yang berdiri kokoh, makan makanan yang masih tersedia dengan begitu banyak di meja makan, menyaksikan keluarga yang sehat walafiat, masih bisa tidur di kasur yang empuk, dan memiliki waktu yang sangat luang untuk mengeksplorasi banyak hal. Selalu saja ada hal yang bisa disyukuri dari setiap menit yang dianugerahkan oleh Tuhan. Ketika terkadang terasa sesak di dada aku mencoba belajar untuk melatih pernafasan, berkali-kali menarik nafas yang panjang dan menghembuskannya perlahan, hal ini cukup banyak membantuku untuk kembali rileks. 

Aku butuh waktu untuk terbiasa dengan kondisi sekarang dan belajar menerima dan berdamai dengan keadaan. Aku percaya bahwa dibalik sebuah kejadian akan selalu ada alasan terbaik yang melatarbelakanginya. Sekarang lagi belajar terus menerus untuk enjoy the moment.

 Selalu saja ada rasa damai saat melihat pemandangan alam yang seperti ini, perpaduan hijaunya sawah dan cerahnya langit. 
Selalu ada harapan akan hidup yang lebih cerah setelah pandemi ini berlalu, seperti layaknya langit yang cerah setelah awan hitam bergeser.

Moment To Remember

  Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...