Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga".
Dari puluhan hari yang telah dilewati bersama, suka, senang, tertawa, sedih, jengkel, nangis, tak pernah ada di bayangan akan berada di situasi yang cukup "mencekam", malam-malam gelap yang membuat mata terjaga, hari-hari yang dilewati dengan mode bertahan, dan di saat matahari mulai tenggelam artinya sudah siap siapa untuk mode “peperangan”.
Tiba-tiba saja di suatu malam salah satu teman kami mengalami gangguan tidur, awalnya asumsiku mungkin management stresnya yang kurang oke sehingga perjalanan panjang ke yang harus ditempuh ke luar kota membuatnya terjaga, ternyata di malam selanjutnya pun dia masih mengalami gangguan tidur, biasanya tidur 7-8 jam saat itu dia hanya tidur 2-3 jam. Asumsi kami berkembang "oh mungkin karena kecapean jadi susah tidur", situasi yang biasa terjadi di sebagian besar orang. Lalu di malam selanjutnya kondisinya lebih parah lagi, bukan hanya tidur 2-3 jam lagi tapi tidak tidur sama sekali. Namun, asumsi kami masih sama, kami berpikir "mungkin karena management stres yang kurang oke dan kecapean makanya tubuhnya berada di situasi alert".
Saat perjalanan pulang dari luar kota, kami mampir ke sebuah apotek untuk membeli obat tidur yang harapannya bisa membuatnya terlelap, tapi obat-obatan tersebut ternyata tidak mempan sama sekali. Akhirnya kami memutuskan ke RS untuk konsultasi dengan dokter, dokter kemudian meresepkan obat yang dosisnya cukup tinggi yang setidaknya untuk sementara bisa tidur dulu. Tapii setelah obat yang diresepkan dokter dengan anjuran 3 kali minum belum juga bereaksi dengan baik, kami mencoba melihat pola. Kenapa bangunnya selalu di jam yang sama? Bermunculan lah berbagai macam spekulasi. Oh, mungkin Allah lagi rindu disapa di sepertiga malam sehingga selalu dibangunkan di jam tersebut.
Kala terjaga di pertengahan malam, dia selalu melewatinya dengan sholat dan dzikir yang sudah dikirimkan oleh beragam orang yang mendengar telah mendengar cerita ini. Tapi, segala macam doa dan dzikir itu belum juga menunjukkan hasil. Kami mencoba mencari bantuan, mulai dari mendatangi ketua adat yang sedikit banyak tau tentang seluk beluk desa dan kampung yang kami tempati dan datangi, ritual dan doa pun dilakukannya untuk membantu teman kami, tapi hasilnya belum sesuai dengan harapan. Dalam proses yang dijalani dengan ketua adat, ada satu hal yang cukup membuatku melting yaitu saat ketua adat dengan tulus mendoakan dan menasehati kami, lalu mengembalikan ke kami untuk melakukannya sendiri atau mencari bantuan orang-orang yang seiman, beliau sangat menghargai kami yang memiliki kepercayaan yang berbeda. Saya melihat praktik toleransi yang sangat indah.
Selepas dari ketua adat kami semua ke pantai di siang bolong untuk berendam, melarungkan segala hal-hal negatif dan “sesuatu yang bukan milik kami”, tapi di malam hari situasi yang sama terulang kembali.
Esoknya kami terus coba mencari cara untuk membuat situasnya kembali normal, mulai dari bertanya ke teman dan juga kenalan yang kami tau punya kemampuan supranatural, tapi hasilnya tetap nihil. Kami mencoba meminta bantuan dari salah seorang teman yang memiliki rumah Alquran yang kuyakini mungkin bisa membantu, tapi juga hasilnya belum sesuai harapan.
Hingga satu hari akhirnya muncul inisiatif untuk berpindah tempat tidur, mencoba suasana baru, meminta bantuan seseorang yang mungkin punya kemampuan mengobati hal-hal tak kasat mata yang tidak bisa terdeteksi oleh pihak medis. Setelah usaha 2 hari terpisah jarak, ikhtiar, dan doa alhamdulillah akhirnya terlihat progress yang cukup signifikan. Masih belum sepenuhnya 100% seperti semula, tapi setidaknya sudah ada perkembangan menuju ke kondisi yang normal. Rasa gelisah yang kadang muncul dan terbangun di tengah malam alhamdulillah sudah tidak terjadi lagi. Salah satu ikhtiar yang cukup membantu yakni proses “pengobatan” dengan salah satu ustadz yang membantu dengan metode rukiah. Belakangan baru kami tahu bahwa hal ini ternyata tidak hanya terjadi dengan kami, ternyata di kelompok yang lain juga ada yang mengalami, ternyata kejadian seperti ini kadang terjadi ke pendatang yang disinyalir sebagai “welcoming” dan “tanda untuk mereka mengajak kenalan”
Segala sesuatu terjadi tidak pernah melewatkan pelajaran untuk diselami. Dalam proses ujian yang kami lewati, meskipun melelahkan secara mental karena dalam prosesnya kami berada di survival mode, tapi kami akhirnya belajar bahwa sekuat apa pun logika yang kita percayai, ada banyak hal yang memang tidak bisa dilogikakan. Menjadi pengingat bahwa hidup di alam dunia harus bisa hidup berdampingan dan selaras dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Apa sih yang mau disombongkan dari logika yang sangat terbatas ini? Proses ini menjadi turning point untuk kembali berserah dan mengenal Allah lebih dalam, harapannya semoga mengingat Allah tidak hanya saat lagi terpuruk dan kesulitan, tapi semoga menjadi titik awal untuk belajar lebih baik lagi. Akhirnya bisa menunjukkan apakah hubungan pertemanannya sekuat itu atau bisa jadi begitu rapuh, karena hubungan tidak hanya terbangun dari canda tawa, suka dan bahagia, tapi juga dari dinamika, masalah, tekanan yang terus bermunculan dan kita bisa tetap saling menjaga dan tidak saling meninggalkan.
Dulu saat masih bergelut di mapala, salah satu seniorku mengatakan untuk melihat sifat asli seseorang, ajak dia mendaki. Saat mulai bekerja, salah satu rekan kerjaku mengatakan kalau mau lihat sifat asli seseorang ajaklah kerjasama. Tapii untuk mengetahui apakah dia layak dianggap teman atau tidak, lihatlah saat kamu sedang sakit, saat sedang ada masalah, saat sedang dalam tekanan, apakah mereka akan bertahan atau meninggalkanmu sendirian.
Sebuah nikmat yang sering kita rasakan tapi jarang kita syukuri.
Tak pernah terbayangkan, tak bisa tidur bisa semenyiksa itu. Tubuh menjadi lunglai, kepala menjadi oleng, nafsu makan menjadi hilang, kehidupan menjadi tidak stabil, semua karena tidak tidur dengan cukup.
Terkadang sesuatu baru terasa berharga saat kenikmatan itu diambil sejenak oleh Allah. Selama ini banyak hal yang kita take it for granted.
Hidup memang selalu tentang dualitas, ada gelap ada terang, ada materi ada spiritual, ada suka ada duka, dan berbagai kehidupan yang penuh paradoksial.
Alhamdulillah untuk segala hal yang terjadi dan segala pelajaran yang ditinggalkan.




