Jumat, 17 Oktober 2025

Moment To Remember

 


Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga".

Dari puluhan hari yang telah dilewati bersama, suka, senang, tertawa, sedih, jengkel, nangis, tak pernah ada di bayangan akan berada di situasi yang cukup "mencekam", malam-malam gelap yang membuat mata terjaga, hari-hari yang dilewati dengan mode bertahan, dan di saat matahari mulai tenggelam artinya sudah siap siapa untuk mode “peperangan”.

Tiba-tiba saja di suatu malam salah satu teman kami mengalami gangguan tidur, awalnya asumsiku mungkin management stresnya yang kurang oke sehingga perjalanan panjang ke yang harus ditempuh ke luar kota membuatnya terjaga, ternyata di malam selanjutnya pun dia masih mengalami gangguan tidur, biasanya tidur 7-8 jam saat itu dia hanya tidur 2-3 jam. Asumsi kami berkembang "oh mungkin karena kecapean jadi susah tidur", situasi yang biasa terjadi di sebagian besar orang. Lalu di malam selanjutnya kondisinya lebih parah lagi, bukan hanya tidur 2-3 jam lagi tapi tidak tidur sama sekali. Namun, asumsi kami masih sama, kami berpikir "mungkin karena management stres yang kurang oke dan kecapean makanya tubuhnya berada di situasi alert".

Saat perjalanan pulang dari luar kota, kami mampir ke sebuah apotek untuk membeli obat tidur yang harapannya bisa membuatnya terlelap, tapi obat-obatan tersebut ternyata tidak mempan sama sekali. Akhirnya kami memutuskan ke RS untuk konsultasi dengan dokter, dokter kemudian meresepkan obat yang dosisnya cukup tinggi yang setidaknya untuk sementara bisa tidur dulu. Tapii setelah obat yang diresepkan dokter dengan anjuran 3 kali minum belum juga bereaksi dengan baik, kami mencoba melihat pola. Kenapa bangunnya selalu di jam yang sama? Bermunculan lah berbagai macam spekulasi. Oh, mungkin Allah lagi rindu disapa di sepertiga malam sehingga selalu dibangunkan di jam tersebut.

Kala terjaga di pertengahan malam, dia selalu melewatinya dengan sholat dan dzikir yang sudah dikirimkan oleh beragam orang yang mendengar telah mendengar cerita ini. Tapi, segala macam doa dan dzikir itu belum juga menunjukkan hasil. Kami mencoba mencari bantuan, mulai dari mendatangi ketua adat yang sedikit banyak tau tentang seluk beluk desa dan kampung yang kami tempati dan datangi, ritual dan doa pun dilakukannya untuk membantu teman kami, tapi hasilnya belum sesuai dengan harapan. Dalam proses yang dijalani dengan ketua adat, ada satu hal yang cukup membuatku melting yaitu saat ketua adat dengan tulus mendoakan dan menasehati kami, lalu mengembalikan ke kami untuk melakukannya sendiri atau mencari bantuan orang-orang yang seiman, beliau sangat menghargai kami yang memiliki kepercayaan yang berbeda. Saya melihat praktik toleransi yang sangat indah.

Selepas dari ketua adat kami semua ke pantai di siang bolong untuk berendam, melarungkan segala hal-hal negatif dan “sesuatu yang bukan milik kami”, tapi di malam hari situasi yang sama terulang kembali.

Esoknya kami terus coba mencari cara untuk membuat situasnya kembali normal, mulai dari bertanya ke teman dan juga kenalan yang kami tau punya kemampuan supranatural, tapi hasilnya tetap nihil. Kami mencoba meminta bantuan dari salah seorang teman yang memiliki rumah Alquran yang kuyakini mungkin bisa membantu, tapi juga hasilnya belum sesuai harapan.

 

Hingga satu hari akhirnya muncul inisiatif untuk berpindah tempat tidur, mencoba suasana baru, meminta bantuan seseorang yang mungkin punya kemampuan mengobati hal-hal tak kasat mata yang tidak bisa terdeteksi oleh pihak medis. Setelah usaha 2 hari terpisah jarak, ikhtiar, dan doa alhamdulillah akhirnya terlihat progress yang cukup signifikan. Masih belum sepenuhnya 100% seperti semula, tapi setidaknya sudah ada perkembangan menuju ke kondisi yang normal. Rasa gelisah yang kadang muncul dan terbangun di tengah malam alhamdulillah sudah tidak terjadi lagi. Salah satu ikhtiar yang cukup membantu yakni proses “pengobatan” dengan salah satu ustadz yang membantu dengan metode rukiah. Belakangan baru kami tahu bahwa hal ini ternyata tidak hanya terjadi dengan kami, ternyata di kelompok yang lain juga ada yang mengalami, ternyata kejadian seperti ini kadang terjadi ke pendatang yang disinyalir sebagai “welcoming” dan “tanda untuk mereka mengajak kenalan”

 

Segala sesuatu terjadi tidak pernah melewatkan pelajaran untuk diselami. Dalam proses ujian yang kami lewati, meskipun melelahkan secara mental karena dalam prosesnya kami berada di survival mode, tapi kami akhirnya belajar bahwa sekuat apa pun logika yang kita percayai, ada banyak hal yang memang tidak bisa dilogikakan. Menjadi pengingat bahwa hidup di alam dunia harus bisa hidup berdampingan dan selaras dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Apa sih yang mau disombongkan dari logika yang sangat terbatas ini? Proses ini menjadi turning point untuk kembali berserah dan mengenal Allah lebih dalam, harapannya semoga mengingat Allah tidak hanya saat lagi terpuruk dan kesulitan, tapi semoga menjadi titik awal untuk belajar lebih baik lagi. Akhirnya bisa menunjukkan apakah hubungan pertemanannya sekuat itu atau bisa jadi begitu rapuh, karena hubungan tidak hanya terbangun dari canda tawa, suka dan bahagia, tapi juga dari dinamika, masalah, tekanan yang terus bermunculan dan kita bisa tetap saling menjaga dan tidak saling meninggalkan.

Dulu saat masih bergelut di mapala, salah satu seniorku mengatakan untuk melihat sifat asli seseorang, ajak dia mendaki. Saat mulai bekerja, salah satu rekan kerjaku mengatakan kalau mau lihat sifat asli seseorang ajaklah kerjasama. Tapii untuk mengetahui apakah dia layak dianggap teman atau tidak, lihatlah saat kamu sedang sakit, saat sedang ada masalah, saat sedang dalam tekanan, apakah mereka akan bertahan atau meninggalkanmu sendirian.

 

Sebuah nikmat yang sering kita rasakan tapi jarang kita syukuri.

Tak pernah terbayangkan, tak bisa tidur bisa semenyiksa itu. Tubuh menjadi lunglai, kepala menjadi oleng, nafsu makan menjadi hilang, kehidupan menjadi tidak stabil, semua karena tidak tidur dengan cukup.

Terkadang sesuatu baru terasa berharga saat kenikmatan itu diambil sejenak oleh Allah. Selama ini banyak hal yang kita take it for granted.


Hidup memang selalu tentang dualitas, ada gelap ada terang, ada materi ada spiritual, ada suka ada duka, dan berbagai kehidupan yang penuh paradoksial.

 

Alhamdulillah untuk segala hal yang terjadi dan segala pelajaran yang ditinggalkan.

 

Senin, 08 September 2025

Dreams Come True

Hidup selalu penuh dengan kejutan yang menyenangkan. Tak pernah kumembayangkan menjalani kehidupan yang dulu hanya sebatas mimpi dan doa, tidak hanya satu tapi satu paket, all in. Alhamdulillah 'ala kulli haal :'). Matematikanya Allah tak pernah bisa dikalkulasikan otak manusia.

Banyak yang bilang, kejar passionmu, kerjalah sesuai dengan apa yang kamu cintai dan bisa menghasilkan, tapi nyatanya hidup tak selalu semulus jalan tol, toh pun saat punya pilihan belum tentu punya privilege untuk menjalani pilihan tersebut. Terkadang kita tau apa yang kita inginkan, tau apa yang kita mau, tapi kita tidak punya kuasa untuk menjalani pilihan-pilihan tersebut, hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan.


Saya menyadari, mungkin blue print saya sebagai social worker, segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat, kehidupan sosial, pun pendidikan selalu menggugah gairah hidup. Ada banyak puzzle yang memvalidasi hal tersebut hingga suatu waktu saya mencoba untuk mendaftar program pengabdian tahunan. Saat itu saya diterima, hanya butuh menandatangani pernyataan dan siap untuk dikirim ke daerah pelosok, sesuatu yang sangat kuinginkan, tapi di saat yang bersamaan saya lolos administrasi beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2, entah karena pertimbangan apa saat itu saya memilih untuk melanjutkan proses beasiswa meskipun belum tentu lolos. Fast forward saya menjalani kehidupan S2 di kota yang dulu pernah kumimpikan saat duduk di bangku sekolah menengah pertama.


Selepas S2 ternyata keinginan untuk mengikuti pengabdian tahunan belum juga padam. Dengan semangat yang masih membuncah, saya mengumpulkan berbagai persyaratan untuk mendaftar, entah berapa orang yang kutempati untuk bercerita dan meminta pertimbangan, tapi tidak ada yang menyurutkan niatku untuk mendaftar, hingga seorang teman memberiku nasihat yang masih kuingat jelas hingga saat ini, “Oke tidak apa-apa kalau kamu mau ikut program tersebut, tapi kamu harus mempertimbangkan saat ini usiamu berapa, pra-penugasan-pasca program itu akan memakan waktu sekitar 2 tahun, dan saat kamu kembali usiamu sudah 29 tahun dan kamu baru mau memulai karir, kamu mau jadi apa?”, katanya. Kalimat yang terlihat biasa tapi mampu mengubah tekadku yang sudah bulat untuk tidak melanjutkan proses pendaftaran. Tapi apakah keinginan tersebut lantas mati? Nyatanya tidak. “Jangan membunuh mimpi karena mimpi tak pernah mati. Dia hanya akan pingsan dan bangun lagi ketika kamu sudah tua dalam bentuk penyesalan.” Kalimat Pandji tersebut selalu terngiang-ngiang acapkali kumencoba untuk mematikan mimpi tersebut. Saya sangat takut saat tua nanti selalu hidup dalam penyesalan dan pengandaian karena tak pernah berani mengejar mimpi.


Masih relate dengan keinginan menjadi social worker. Dulu punya keinginan kerja di Kementerian Desa, bukan karena mau jadi PNS, bukan karena bekerja di kementerian itu menggiurkan, tapi karena kupikir jika bekerja di Kementerian Desa saya punya kesempatan untuk turun ke desa-desa dan masyarakat. Tibalah saat pendaftaran CPNS dan jurusanku ada di kementerian desa, tepatnya jurusan S1 formasi tata usaha. Saya pun daftar yang penting bisa kerja di Kementerian desa dan bisa terjun ke masyarakat. Apakah saya lulus? Jelas tidak. Allah sebaik-baik perencana dan tau apa yang terbaik untuk hambanya. Belakangan baru kutau apa jobdesk dari seorang tata usaha, saya hampir saja menghabiskan sepanjang hidupku di balik meja kerja yang berangkat pagi dan pulang sore, dengan rutinitas yang sama hampir setiap hari. Saya hampir saja terjebak pada profesi yang kuanggap bisa membawaku mewujudkan mimpiku, tapi nyatanya malah akan semakin menjauhkanku dari mimpi-mimpi tersebut.


Dulu saat ditanya, apa mimpimu? Selalu kujawab “mau keliling Indonesia”. Melihat Indonesia dengan limpahan keindahan dan kearifan lokalnya tidak hanya dari balik layar, tapi bisa melihat dan merasakan langsung keindahan dan pengalaman tersebut. Apakah mimpi tersebut sudah terwujud? Belum tapi sudah menghampiri. Dulu pikiran saya yang kaku berpikir kalau keliling Indonesia itu harus dari timur ke barat dalam satu kali perjalanan, nyatanya hal tersebut tak hanya butuh waktu yang lama tapi juga dukungan finansial yang banyak dan saya tak punya keduanya.

 

Waktu berlalu, di tengah orang-orang yang sangat kucintai, pekerjaan yang menyenangkan, kehidupan yang nyaman, kesempatan untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut muncul dalam satu program. Apakah saya langsung mendaftar? Jelas tidak, ternyata tidak semudah itu, semakin tua semakin banyak pertimbangan bahkan sudah berpikir untuk merelakan semua mimpi-mimpi itu, mungkin memang hanya akan berakhir hanya sebatas mimpi, sama seperti kebanyakan orang yang melepas mimpinya untuk menjalani rutinitas yang sudah menjadi sebuah identitas yang baru untuknya. Hingga suatu pagi terbangun dan menyadari bahwa bisa jadi ini adalah jawaban dari doa dan mimpi yang selama ini kulangitkan, datang dalam satu paket jawaban, di kondisi dan waktu terbaik-Nya. Saya pun memutuskan untuk mendaftar program tersebut. Saat mulai mendaftar hingga pengumuman saya sempat mengalami panic attack hingga perutku beberapa hari terasa kram. Saya tau perwujudan mimpiku sudah di depan mata, tapi saya juga tidak sepenuhnya yakin akan lolos, tapi alhamdulillah Allah sebaik-baik perencana. Setelah melewati berbagai macam dinamika, saya dinyatakan lolos dan sekarang sedang hidup dalam mimpi yang hampir saja kumatikan. Dan setiap detik yang kujalani saat ini terasa bagai matahari pagi yang selalu menghangatkan. Selalu menyenangkan dan selalu kunikmati.


Terima kasih ya Allah untuk jawaban doa yang Kau berikan di waktu dan kondisi terbaik. Bahkan saat mengetik ini pun bulir air mataku tak henti berderai, mengingat betapa indahnya Allah dalam mengatur segalanya, memberikan balasan bahkan jaaaauuh lebih baik dari yang sanggup kubayangkan.


Sabtu, 09 Agustus 2025

Perubahan Pola Hidup

 

Anak kecil yang selalu bisa menciptakan bahagia dengan cara yang sangat sederhana, sesederhana membuat jungkat jungkit dari bambu bekas yang dipungut entah di mana, lalu dipasang di sisa akar/batang pohon.

Senang melihat ada perubahan gaya hidup, dari yang flexing harta menjadi flexing gaya hidup yang lebih sehat. Di mana-mana bisa kita lihat ada orang yang jogging, lari, sepedaan, bahkan sudah dijadikan lahan bisnis. Banyak ajang lari yang diselenggarakan di mana-mana, memanfaatkan animo tinggi masyarakat yang sekarang sudah menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup, selain itu fotografer sport juga mulai bermunculan.


Meskipun banyak yang bilang FOMO, nyatanya gaya hidup baru ini memberikan dampak baik untuk kesehatan secara fisik maupun mental. Meningkatkan hormon endorphin sebagai hormon yang meningkatkan rasa bahagia, mengurangi tingkat stres, menjadi alasan keluar dari rumah dan tidak mengurung diri dalam satu ruangan. Kata seorang teman “mungkin memang hidup sedang tidak baik-baik saja sehingga orang-orang menjadikan olahraga khususnya lari sebagai sebuah pelarian dari kenyataan hidup”, tapi meskipun sebagai sebuah pelarian, olahraga tetap berdampak sangat baik bagi kesehatan.

Hidup berubah, gaya hidup pun berubah.

Di titik ini kubaru menyadari hikmah dibalik semua masalah yang terjadi belakangan ini, andai tak ada masalah-masalah tersebut, aku mungkin tak pernah memulai untuk olahraga rutin, khususnya lari, sesuatu yang sebelumnya kupikir sangat membosankan. 


Faktor fisik dan mental yang kurasa mulai mengganggu saat ada masalah bertubi-tubi yang terjadi, menjadi salah satu pemicu untuk memulai hidup lebih sehat, olahraga secara rutin, meskipun kadang malas dan tak ada semangat untuk menjalaninya tapi tetap kuusahakan untuk keluar, setelah melihat dengan kesadaran apa yang terjadi di hidupku, aku menyimpulkan bahwa bisa jadi semua rasa overwhelming yang rutin menyerang karena hidupku terlalu stagnan, jadi merasa butuh bergerak, dan jogging menjadi pilihan paling masuk akal yang bisa kulakukan kapan saja dan tanpa harus ada teman. Hanya butuh modal usaha dan konsisten.


Dari yang awalnya hanya bisa 3 putaran, naik jadi 4, 5, dan sekarang sudah bisa 6 putaran. Dari yang awalnya hanya bisa lari satu putaran dan sisanya jalan, sekarang sudah bisa lebih banyak larinya daripada jalan dan tidak merasakan tekanan yang berat di badan. Sekarang setiap hari menjadi lebih bersemangat karena merasa ada tujuan, ada rencana yang akan dilakukan, setidaknya setiap sore aku tau aktivitas apa yang akan kulakukan.

Hidup dengan tujuan menjadikan hidup jauh lebih bersemangat.



Jumat, 08 Agustus 2025

Recall Memory

 

Waktu kecil, sekitar umur sekolah dasar, sering sekali pergi ke lapangan sepak bola untuk menonton pertandingan bola. Sebagai orang yang tinggal di kampung, pertandingan sepak bola menjadi sebuah hiburan bagi kami. Tidak ada mall, tidak ada banyak pilihan tempat hiburan. Untung saja jaraknya hanya sekitar 10 menit dari rumah, jadi bisa rutin datang menonton. Penonton dari berbagai kampung memadati pinggir lapangan untuk menyaksikan tim kesayangan mereka bertanding. Dengan aroma parfum eskulin yang sangat hits pada zaman itu. sudah merasa keren banget kalau datang dengan dandanan rapi dengan wangi parfum yang semerbak.


Saya tak pernah memiliki tim khusus untuk kudukung, hanya suka saja melihat pertandingannya, mendengar sorak sorai penonton dan teriakan para komentator bola. Biasanya, sepulang sekolah langsung buru-buru ganti baju, tidur siang, dan sorenya siap-siap ke lapangan. Sesampainya di lapangan biasa langsung nyosor menuju ke barisan penonton paling depan biar bisa kelihatan, maklum tubuh terlalu imut jadi tidak kelihatan kalau duduk atau berdiri di belakang. Tak ketinggalan para penjual makanan dan minuman yang mangkal di bawah pohon besar yang berada di sisi lapangan.

 

Waktu berlalu, tak pernah lagi kuingat kapan terakhir menikmati pertandingan sepak bola dengan riang gembira, tak lagi ada ruang dan waktu untuk menikmati hal tersebut. Namun belakangan, saat mulai meluangkan waktu untuk jogging, di saat yang sama ada latihan dan terkadang ada pertandingan bola yang diadakan tiap hari di lapangan Unhas. Ada rasa bahagia yang muncul memenuhi ruang hati, rasa hangat yang seperti sudah lama hilang, kenangan masa kecil yang indah dan penuh kebahagiaan. Saya sangat antusias duduk di pinggir lapangan selepas jogging untuk menikmati pertandingan bola dan kembali merasakan rasa yang sama dengan rasa waktu masih kanak-kanak dulu.

 

Sekarang kebahagiaannya bertambah, tidak hanya sebatas melihat pertandingan bola, tapi aktivitas orang yang berada di sekeliling lapangan. Semua sibuk dengan diri masing-masing, tak ada yang saling peduli satu sama lain, semua fokus dengan tujuannya masing-masing. Ada yang jogging sendiri, ada yang bergerombol bersama dengan teman-teman, ada yang bersama anak dan pasangan, ada yang lari sambil selfie, ada yang lari sambil latihan tinju, tak ketinggalan para fotografer yang mengambil posisi untuk memotret orang yang sedang jogging.

 

Berjalan lebih lambat, menikmati setiap moment, hidup mindful di sini kini dan menikmati apa yang ditangkap oleh panca indra, ternyata melahirkan banyak sekali keindahan dan kebahagiaan, hatiku penuh, saya merasakan kebahagiaan dan rasa syukur yang begitu besar.

 

Dulu saat masih kecil sangat memimpikan hidup dewasa yang kelihatannya sangat indah, teringat waktu di lapangan sepak bola dulu saya begitu takjub dengan salah seorang perempuan dewasa yang sepertinya baru datang dari kota, berpenampilan sedikit berbeda dari kebanyakan penonton yang datang, dengan tangan yang lentik dan kuku yang sudah dikuteks dilengkapi dengan pewarna putih di ujung kukunya yang kelihatan sangat indah, rasanya pada saat itu ingin segera dewasa agar bisa berpenampilan seperti itu, tapi kini saat menjalani kehidupan dewasa ternyata banyak sekali kejutannya, tidak sesederhana pakaian indah dan kuku jari yang diwarnai, tapi jauh lebih beragam dari itu. Saat mengingat kenangan masa kecil ternyata kenangan itu sangat indah, dulu kelihatan biasa saja tapi sekarang selalu menjadi sesuatu yang kurindukan. Sesuatu yang selalu menghadirkan rasa hangat di hati setiap kali mengingat setiap momennya.

 


Kamis, 07 Agustus 2025

Berbagi dengan Kasih

"Berbagi dengan kasih bukan dengan kasihan"


Beberapa waktu lalu nonton podcast dan makjleb banget rasanya pas di bagian ini, berbagi dengan kasih bukan dengan kasihan. Seakan diingatkan untuk berbagi atas dasar cinta kasih, bukan hanya karena kasihan. Seringkali terdorong untuk membantu karena kasihan, tapi ternyata hal itu bisa menjadi jauh lebih baik jika dorongan itu didasari cinta kasih, bukan hanya semata-mata kasihan, karena kasihan terkadang menimbulkan percikan "kesombongan" yang membuat kita merasa lebih baik dari orang lain.


Setiap kali hati merasa tidak tenang kadang langsung memutuskan untuk keluar rumah berbagi. Di setiap proses berbagi saat bertemu dengan orang-orang yang menerima sekotak makanan, sorot mata yang menyiratkan ketulusan dan mulut yang merapalkan doa-doa yang begitu banyak, doa-doa yang seakan langsung melangit dan kembali dalam bentuk ketenangan.


Harga nasinya tidak seberapa tapi doa-doa yang dirapalkan begitu berharga, begitu berarti, tak ternilai, dan menghadirkan kedamaian.


Di luar sana, banyak orang yang hidupnya lebih susah tapi tidak seberisik kita.


Selasa, 05 Agustus 2025

Orang yang Sama

 

Kau masih orang yang sama

Di tempat yang sama

Di jam yang sama

Di posisi yang sama

Dengan baju yang sama

Gaya duduk yang sama

 

Entah sejak kapan kumulai memperhatikanmu

Dari ratusan orang yang kutemui setiap hari, tak pernah kumengingat dengan jelas wajah orang-orang itu

Tapi berbeda denganmu

Hanya dengan sekali lihat, kubisa langsung mengingatmu dengan jelas

Kubaru menyadari, selain motivasi untuk pola hidup sehat dan menghirup oksigen yang bersih, ternyata melihatmu di tempat yang sama menjadi motivasi tambahanku

Aku bisa mengingat dengan jelas raut wajahmu, kacamatamu, botol minumanmu, gaya dudukmu, dan tempatmu menghabiskan waktu

 

Aku tau ini hanya akan berakhir dengan tatapan jauh yang tak pernah kau sadari

Itu bukan sebuah masalah, melihatmu di tempat yang sama setiap kuberada di sini menjadi sebuah kebahagiaan baru bagiku.

 

Entah dengan alasan apa, tapi kumerasa punya koneksi denganmu, mungkin kumembayangkan diriku yang sedang menempuh pendidikan di negara yang baru, jauh dari kerabat, terpisah dari sahabat, dan pusing dengan tugas kuliah serta stres dengan budaya yang baru.

Satu-satunya hal yang menenangkan hanyalah duduk diam, hening, meskipun pikiran ramai.

Kumembayangkan diriku beberapa tahun ke depan berada di negara yang jauh dari tempat tinggalku, memperjuangkan masa depan yang kuharapkan akan indah, meski harus melewati berbagai duri dan kerikil.

 

Kemarin, sempat terlintas di pikiranku untuk menghampirimu, mengajakmu berteman, mencoba membuka pembicaraan denganmu, mendengar keluh kesahmu tentang beratnya adaptasi dengan bahasa, budaya, dan lingkungan yang baru, tapi kuurungkan niatku karena aku wanita timur yang terlalu gengsi untuk membuka pembicaraan dengan orang asing, atau mungkin aku terlalu takut dianggap creepy, di lubuk hatiku yang paling dalam aku mengerti bahwa mungkin kamu tidak mencari teman yang baru, kamu hanya butuh waktu dengan dirimu sendiri, tenggelam hanyut dalam pikiranmu sendiri di tengah keramaian.


Untukmu, orang asing yang akan tetap menjadi asing.


Senin, 04 Agustus 2025

A Day in My Life - 04 Agustus 2025


Selepas sholat subuh, kumembuka aplikasi Mobile JKN dan mengambil antrian untuk bertemu dengan dokter. Hari Kamis lalu sudah bertemu dokter, diberikan vitamin dan tetes mata untuk mata kiriku yang penglihatannya buram karena pernah kelilipan. Waktu itu belum dikasih rujukan, hanya tetes mata dengan harapan ada perubahan. Ternyata setelah menggunakan tetes mata kondisinya malah lebih buruk, jadi kuberhenti memakainya.


Hari ini ke klinik lagi dan mendapat nomor antrian 15, padahal masih pagi-pagi sekali mengambil antrian. Ternyata begitu banyak orang yang butuh bantuan dokter. Melihat estimasi waktu pemeriksaannya masih lama, jadi saya melakukan beberapa aktivitas pagi dulu baru ke klinik. Dan kedatangan di klinik waktunya pas, kurang dari setengah jam namaku sudah dipanggil. Ngobrol sebentar dengan dokter lalu diberikan rujukan ke dokter mata. Keluar dari ruang dokter, duduk sebentar untuk menunggu panggilan dari pihak administrasi untuk dapat konfirmasi bahwa rujukannya sudah bisa digunakan. Karena baru pertama kali menggunakan rujukan, jadi saya meminta penjelasan dari pegawainya bagaimana cara menggunakannya. Dalam proses bertanya, saya menaruh buku di atas meja yang sebelumnya sementara kubaca, lalu pegawainya komen "salfok dengan judul bukunya, masih ada ya buku seperti itu". Aku sebenarnya gak tau apa yang ada di pikiran pegawai itu saat melihat buku yang sedang kupegang "Sisi Tergelap Surga". Biarlah dia larut dalam pikirannya sendiri hehe.

 

Sebelum ke RS Mata, saya menyempatkan makan soto ayam di samping klinik, soto yang rasanya enak dan harganya murah. Entah kapan terakhir makan di tenda pinggir jalan dan baru menyadari masih ada makanan dengan harga segitu. Selama ini terlalu sering makan di kafe atau warung yang menggunakan AC atau kipas angin yang harga makanan minumannya sudah tidak ada di bawah 20.000. Setelah selesai makan, saya ke RS Mata. Ternyata ramai sekali. Kebanyakan orang tua yang didampingi salah satu anggota keluarga. Meskipun sebelumnya saya sudah mengambil antrian BPJS melalui aplikasi, ternyata harus mengambil antrian lagi secara manual untuk pasien baru. Saat mengambil nomor antrian, satpamnya bertanya "Pasiennya mana"? Saya pak pasiennya, jawabku. Mungkin satpamnya berpikir, kok ada anak kecil tanpa pengawasan orang tua berkeliaran. Hahaha


Meskipun harus menunggu lama, saya menikmati pengalaman pertama ini, dan tentu karena membawa buku jadi waktu menunggu tidak terasa begitu membosankan. Nomor antrianku 43 untuk antri di pelayanan BPJS, setelah proses pendaftaran di layanan BPJS, dikasih nomor antrian lagi untuk ke pendaftaran administrasi. Menunggu sekitar 15 menit lalu dipanggil untuk pengisian data lalu menunggu lagi di depan ruang tindakan, BDR (Basic Diagnostic Room). Ada tahapan awal untuk screening, penyesuaian data, cek mata dua kali, lalu diberikan beberapa lembar kertas untuk lanjut pemeriksaan ke dokter.


Selesai tahap screening, lanjut ke ruangan dokter. Ternyata dokternya sedang istirahat karena memang jam menunjukkan pukul 12.15 Katanya dokter sedang makan siang dan sholat, jadi saya ke musholla untuk sholat. Selepas sholat ternyata dokternya juga sudah di ruangan, cepat sekali dokternya kembali bekerja. Perawat mempersilahkan saya masuk ke ruangan dokter. Dokter bertanya beberapa hal termasuk sejak kapan ada keluhan, lalu kujelaskan kronologinya dan kemudian lanjut pemeriksaan. Hasil pemeriksaan dokternya bilang "banyak air matanya ya di mata kiri dan kanan". Dalam hati (pantas sering nangis dok akhir-akhir ini, gak tau karena banyak air mata makanya sering nangis atau karena sering nangis makanya air matanya jadi banyak hahaha). Setelah diperiksa dokter lalu memberikan resep obat untuk ditebus di bagian farmasi dan surat control yang harus diberikan di bagian informasi, dokter memintaku datang lagi seminggu kemudian untuk kontrol.


Di bagian farmasi dikasih obat tetes mata lalu lanjut ke informasi untuk konfirmasi kontrol buat minggu depan. Semua prosesnya cukup cepat, kecuali di bagian pendaftaran. Semua tenaga kesehatan, keamanan, dan administrasinya sangat ramah. Tepat pukul 13.00 semuanya sudah selesai dan akhirnya bisa kembali ke rumah.


Sore harinya bersiap berangkat jogging ke Unhas. Lately, aku menemukan kegemaran baru. Jogging di Unhas lalu duduk di bawah pohon, terkadang sambil membaca, tapi sore ini memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk diam, menapakkan kaki ke ibu bumi, menyaksikan orang-orang yang masih jogging dan orang-orang yang sedang bermain bola, mendengarkan suara burung yang bertengger dari satu dahan ke dahan lain, menikmati semilir angin, menghirup oksigen dari pepohonan yang masih tumbuh rindang, dan meneguk air kelapa dingin yang kubawa dari rumah. Rasanya sangat tenang dan menentramkan.


Bunyi masjid menjadi penanda saatnya kembali ke rumah, layaknya burung-burung yang kembali ke sarang setelah seharian berkeliaran di alam bebas.


Moment To Remember

  Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...