Senin, 08 September 2025

Dreams Come True

Hidup selalu penuh dengan kejutan yang menyenangkan. Tak pernah kumembayangkan menjalani kehidupan yang dulu hanya sebatas mimpi dan doa, tidak hanya satu tapi satu paket, all in. Alhamdulillah 'ala kulli haal :'). Matematikanya Allah tak pernah bisa dikalkulasikan otak manusia.

Banyak yang bilang, kejar passionmu, kerjalah sesuai dengan apa yang kamu cintai dan bisa menghasilkan, tapi nyatanya hidup tak selalu semulus jalan tol, toh pun saat punya pilihan belum tentu punya privilege untuk menjalani pilihan tersebut. Terkadang kita tau apa yang kita inginkan, tau apa yang kita mau, tapi kita tidak punya kuasa untuk menjalani pilihan-pilihan tersebut, hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan.


Saya menyadari, mungkin blue print saya sebagai social worker, segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat, kehidupan sosial, pun pendidikan selalu menggugah gairah hidup. Ada banyak puzzle yang memvalidasi hal tersebut hingga suatu waktu saya mencoba untuk mendaftar program pengabdian tahunan. Saat itu saya diterima, hanya butuh menandatangani pernyataan dan siap untuk dikirim ke daerah pelosok, sesuatu yang sangat kuinginkan, tapi di saat yang bersamaan saya lolos administrasi beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2, entah karena pertimbangan apa saat itu saya memilih untuk melanjutkan proses beasiswa meskipun belum tentu lolos. Fast forward saya menjalani kehidupan S2 di kota yang dulu pernah kumimpikan saat duduk di bangku sekolah menengah pertama.


Selepas S2 ternyata keinginan untuk mengikuti pengabdian tahunan belum juga padam. Dengan semangat yang masih membuncah, saya mengumpulkan berbagai persyaratan untuk mendaftar, entah berapa orang yang kutempati untuk bercerita dan meminta pertimbangan, tapi tidak ada yang menyurutkan niatku untuk mendaftar, hingga seorang teman memberiku nasihat yang masih kuingat jelas hingga saat ini, “Oke tidak apa-apa kalau kamu mau ikut program tersebut, tapi kamu harus mempertimbangkan saat ini usiamu berapa, pra-penugasan-pasca program itu akan memakan waktu sekitar 2 tahun, dan saat kamu kembali usiamu sudah 29 tahun dan kamu baru mau memulai karir, kamu mau jadi apa?”, katanya. Kalimat yang terlihat biasa tapi mampu mengubah tekadku yang sudah bulat untuk tidak melanjutkan proses pendaftaran. Tapi apakah keinginan tersebut lantas mati? Nyatanya tidak. “Jangan membunuh mimpi karena mimpi tak pernah mati. Dia hanya akan pingsan dan bangun lagi ketika kamu sudah tua dalam bentuk penyesalan.” Kalimat Pandji tersebut selalu terngiang-ngiang acapkali kumencoba untuk mematikan mimpi tersebut. Saya sangat takut saat tua nanti selalu hidup dalam penyesalan dan pengandaian karena tak pernah berani mengejar mimpi.


Masih relate dengan keinginan menjadi social worker. Dulu punya keinginan kerja di Kementerian Desa, bukan karena mau jadi PNS, bukan karena bekerja di kementerian itu menggiurkan, tapi karena kupikir jika bekerja di Kementerian Desa saya punya kesempatan untuk turun ke desa-desa dan masyarakat. Tibalah saat pendaftaran CPNS dan jurusanku ada di kementerian desa, tepatnya jurusan S1 formasi tata usaha. Saya pun daftar yang penting bisa kerja di Kementerian desa dan bisa terjun ke masyarakat. Apakah saya lulus? Jelas tidak. Allah sebaik-baik perencana dan tau apa yang terbaik untuk hambanya. Belakangan baru kutau apa jobdesk dari seorang tata usaha, saya hampir saja menghabiskan sepanjang hidupku di balik meja kerja yang berangkat pagi dan pulang sore, dengan rutinitas yang sama hampir setiap hari. Saya hampir saja terjebak pada profesi yang kuanggap bisa membawaku mewujudkan mimpiku, tapi nyatanya malah akan semakin menjauhkanku dari mimpi-mimpi tersebut.


Dulu saat ditanya, apa mimpimu? Selalu kujawab “mau keliling Indonesia”. Melihat Indonesia dengan limpahan keindahan dan kearifan lokalnya tidak hanya dari balik layar, tapi bisa melihat dan merasakan langsung keindahan dan pengalaman tersebut. Apakah mimpi tersebut sudah terwujud? Belum tapi sudah menghampiri. Dulu pikiran saya yang kaku berpikir kalau keliling Indonesia itu harus dari timur ke barat dalam satu kali perjalanan, nyatanya hal tersebut tak hanya butuh waktu yang lama tapi juga dukungan finansial yang banyak dan saya tak punya keduanya.

 

Waktu berlalu, di tengah orang-orang yang sangat kucintai, pekerjaan yang menyenangkan, kehidupan yang nyaman, kesempatan untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut muncul dalam satu program. Apakah saya langsung mendaftar? Jelas tidak, ternyata tidak semudah itu, semakin tua semakin banyak pertimbangan bahkan sudah berpikir untuk merelakan semua mimpi-mimpi itu, mungkin memang hanya akan berakhir hanya sebatas mimpi, sama seperti kebanyakan orang yang melepas mimpinya untuk menjalani rutinitas yang sudah menjadi sebuah identitas yang baru untuknya. Hingga suatu pagi terbangun dan menyadari bahwa bisa jadi ini adalah jawaban dari doa dan mimpi yang selama ini kulangitkan, datang dalam satu paket jawaban, di kondisi dan waktu terbaik-Nya. Saya pun memutuskan untuk mendaftar program tersebut. Saat mulai mendaftar hingga pengumuman saya sempat mengalami panic attack hingga perutku beberapa hari terasa kram. Saya tau perwujudan mimpiku sudah di depan mata, tapi saya juga tidak sepenuhnya yakin akan lolos, tapi alhamdulillah Allah sebaik-baik perencana. Setelah melewati berbagai macam dinamika, saya dinyatakan lolos dan sekarang sedang hidup dalam mimpi yang hampir saja kumatikan. Dan setiap detik yang kujalani saat ini terasa bagai matahari pagi yang selalu menghangatkan. Selalu menyenangkan dan selalu kunikmati.


Terima kasih ya Allah untuk jawaban doa yang Kau berikan di waktu dan kondisi terbaik. Bahkan saat mengetik ini pun bulir air mataku tak henti berderai, mengingat betapa indahnya Allah dalam mengatur segalanya, memberikan balasan bahkan jaaaauuh lebih baik dari yang sanggup kubayangkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Moment To Remember

  Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...