Kamis, 21 Mei 2020

Berjeda


Terkadang kita memang mesti mengambil waktu untuk berjeda agar bisa merawat kewarasan dan menjaga kesehatan jiwa.

Terkadang kita memang mesti memilih duduk sejenak, berhenti sebentar, membiarkan pikiran berjalan lambat dan melihat sesuatu secara keseluruhan.


Selama ini barangkali kita terlalu tergesa-gesa, pikiran kita terlalu riuh, aktifitas kita terlalu padat, hingga menjalani sesuatu hanya sebatas rutinitas tanpa memberikan roh terhadap kegiatan yang dilakukan.

Terima kasih waktu yang selama ini  telah memberikan jeda. Orang-orang menyebutnya waktu nganggur aku menyebutnya waktu berjeda. Terimakasih karena kehadiran jeda aku bisa belajar memaknai setiap moment, ketenangan dan menjaga kewarasan.
Banjarbaru, 23 Nov 2019

Rabu, 20 Mei 2020

"Juru Selamat"


Kontekstual. Kata yang berulang kali diulang oleh Kak Butet saat proses diskusi. Kata yang selalu ditekankan untuk dilakukan. Saat membangun komunitas, membuat project, bergerak secara individu atau berada di bawah naungan institusi untuk melakukan pengabdian seyogyanya pendidikan dan literature itu kontekstual (sesuai konteks). Jangan datang sebagai “juru selamat” yang membawa idealisme kota dan berfikir bahwa orang di desa atau pedalaman butuh kita untuk melakukan project tersebut atau butuh kita untuk membawa sesuatu yang kita pikir mereka butuh. 

Banyak sekali dari kita ketika melihat masyarakat adat, masyarakat pedalaman, masyarakat desa yang berbeda dengan kita sering muncul stigma kalau mereka itu “primitif”, “bodoh”, “liar”, “kotor” dan lain sebagainya. Itu merupakan stigma yang lahir dari sebuat perspektif orang kota yang melihat sesuatu yang berbeda dari yang selama ini dilihat sehingga kita semacam memiliki dorongan untuk membuat perubahan yang “lebih baik”. Tapi benarkah mereka primitif, bodoh, kotor, dan lain sebagainya seperti yang kita pikirkan? Pernah tidak kita menyelami lebih dalam kenapa mereka nampak “berbeda” dari kita? Pernah tidak belajar dan bertanya kenapa mereka berpakaian seperti itu atau kenapa mereka melakukan itu?

Contoh sederhananya kenapa suku anak dalam di Jambi atau suku-suku di Papua yang tinggal di hutan tidak menggunakan baju? Apa benar mereka primitif seperti yang disangkakan? Ternyata tidak, memakai baju bagi orang-orang yang tinggal di hutan tersebut hanya akan menyulitkan ketika dikejar binatang buas, dengan baju yang mereka kenakan bisa saja nyangkut kiri kanan yang akan menyebabkan mereka diterkam binatang buas. Itu baru satu persoalan. Contoh yang lain yakni sepatunisasi, dulu ada komunitas yang datang berdonasi sepatu karena berfikir masyarakat itu butuh sepatu karena kasihan kaki mereka berjalan atau berlari dengan telanjang. Tapi, pernah tidak berfikir bahwa ketika sepatu itu rusak kaki yang awalnya sudah terbiasa tidak beralas bahkan sudah keras bagaikan batu akan mengalami penyesuaian, malah akan luka karena terbiasa memakai sepatu selama beberapa tahun, hal tersebut membuat ketergantungan, bukan malah menyelesaikan masalah tapi menambah masalah yang baru, modal niat baik saja tidak cukup jika tidak kontekstual. Belum lagi cerita ada yang menyumbang speaker untuk hiburan, komputer agar melek teknologi, dan lain lain. Tapi apakah itu semua relevan untuk orang yang tinggal di sebuah daerah yang listrik aja tidak ada?
Jangan jadi “juru selamat”. Berdampak itu bukan dilihat dari kemampuan kita menyelesaikan masalah mereka dengan kehadiran kita, tapi saat mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri, bisa tetap bertahan disaat kita sudah meninggalkan lokasi tersebut, jika kita membuat mereka ketergantungan itu artinya membawa masalah yang baru.

Ketika datang ke suatu tempat bersikaplah rendah hati dan siap untuk belajar, bukan mengubah tatanan yang sudah ada. Datang dengan mindset apa yang bisa saya pelajari dari murid-murid, bukan apa yang murid-murid tersebut bisa pelajari dari saya. Seberapa persen sih pengetahuan kita yg bisa dibagi. Kita jangan datang dengan niatan ingin menjadi panutan yang mana selama ini kita hanya mendapatkan sekitar 10% ilmu aplikatif dari selama ini kita pelajari di bangku sekolah formal.

Ada beberapa pertanyaan yang diajukan dalam sesi diskusi kemarin oleh moderator dan dijawab dengan lugas oleh Kak Butet. “Menurut Kak Butet bagaimana dengan pemerataan pendidikan yang ada di Indonesia, apa kak Butet setuju? Dijawab oleh Kak Butet “Saya setuju dengan pemerataan tapi bukan penyeragaman. Pendidikan itu harusnya kontekstual, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. Pemerataan keadilan mendapatkan akses pendidikan bukan pemerataan kurikulum. Pendidikan itu harus memberikan manfaat saat itu juga, kalau sekarang pendidikannya benar bisa dijamin untuk kedepannya akan benar juga. Selama ini yang saya ajarkan adalah pendidikan dan berfikir kritis, agar anak-anak itu bisa menjadi tuan atas perubahannya sendiri dan tau resiko-resiko apa yang diambil”.

Pertanyaan lainnya saat ditanya “Dengan perkembangan yang begitu pesat apa Kak Butet setuju dengan modernisme”? “Modernisme dalam artian apa nih yang dimaksud? Kalau modernisme dipahami sebagai sesuatu yang bermanfaat orang rimba sudah melakukannya sejak lama, contohnya saja mereka tidak membuang sesuatu dan tidak memakai sabun di sungai karena menganggap bahwa sungai jalannya para dewa jadi tidak ada banjir, nah di kota seperti apa kejadiannya? Orang di rimba tidak ada yang miskin dan tidak ada yang kaya, mereka sama rata saling berbagi, orang yang tidak memiliki pohon akan diberikan pohon dari mereka yang berlebih. Tidak ada yang kelaparan disaat yang lain berlimpah makanan. Tidak ada yang mengambil sesuatu yang bukan miliknya. Dulu saat saya mengajak anak-anak ke Jakarta dan makan di restoran mereka tidak mau makan karena melihat ada pengemis di luar restoran yang tidak makan, mereka protes saat orang-orang naik mobil dan asapnya mengenai orang-orang yang naik motor, lanjut Kak Butet bercerita”. Sebuah cerita yang miris, menggelikan, dan “menampar”. Kisah pemikiran kritis dari anak-anak yang selama ini dianggap primitif dan “bodoh”.

Pesan yang masih terngiang yakni ketika kalian datang baik secara individu maupun organisasi untuk memberi “dampak” datanglah sebagai sosok yang membumi, rendah hati, memiliki kemampuan continues learning yang siap untuk belajar bukan menghakimi, yang siap untuk memuji, bukan menyudutkan, yang siap untuk memberikan sesuatu yang kontekstual bukan yang teoretis.

Ini beberapa catatan yang bisa saya tuliskan dari banyaknya pengetahuan-pengetahuan baru yang nyata dan menohok dari sesi diskusi kemarin. Banyak sekali PRnya, banyak sekali hal yang mesti dipelajari dan dibenahi dalam membuat sebuah gerakan yang bertujuan untuk “kesejahteraan” dan “pemberdayaan” masyarakat. Jangan sampai datang sebagai juru selamat yang menyebalkan.

20 Mei 2020

Selasa, 19 Mei 2020

Ceritaku Dari Rumah


Apa yang terjadi saat ini? Apakah bumi sedang diuji? Atau manusianya yang sedang diuji? Matahari masih berputar dan masih terbit dari timur, langit masih biru, awan masih putih, daun-daun masih hijau menguning lalu berguguran, masih seperti biasanya. Tapi apa yang terjadi kepada manusia? Manusia yang mengalami perubahan yang drastis, pola hidup jadi berubah, kebiasaan baru tercipta, norma-normal baru bermunculan.

Dalam hidup akan selalu ada dua hal yang beririsan, sesuatu yang bisa kita control dan tidak bisa kita kontrol. Covid-19 merupakan sesuatu yang tidak bisa kita kontrol dan untuk sesuatu yang tidak bisa kita kontrol kita memiliki dua pilihan respon, mengabaikannya atau terus memikirkannya. Saya memilih untuk mengabaikannya, berhenti mengikuti berita tentang Covid-19. Hari ini tanggal 19 Mei yang artinya berita tentang Covid-19 yang ada di Indonesia sudah memasuki bulan ketiga. Begitu banyak pemberitaan yang menguras emosi hingga air mata, satu hal yang pasti kita memiliki harapan yang sama “keluar dari pandemi ini dengan selamat dan sehat”.

Dalam menghadapi masa-masa krisis ini akan selalu beragam rasa yang muncul. Seperti yang saya alami, mulai dari biasa saja terus lama kelamaan merasa ada yang tak biasa hingga kepikiran berlebih sampai sering pusing, sesak, dan mual. Hingga akhirnya memilih untuk tidak melihat, mendengar, dan membaca berita tentang Covid-19 agar jiwa dan raga tetap sehat, sampai pada akhirnya berdamai dan menerima bahwa Covid-19 itu nyata dan merupakan musuh tak kasat mata, sekarang kembali biasa saja dan terbiasa dengan berita-berita yang ada mengenai Covid-19 serta menerapkan pola hidup sehat.

Tahun ini merupakan tahun yang penuh cerita. Jelas saja, ramadan tahun ini merupakan ramadan yang beda dan tidak pernah terpikirkan bahkan dibayangkan pun tidak bahwa kita akan melewati hari-hari di #rumahaja, tanpa simbol keagamaan di masjid yang selama ini sering kita lakukan seperti tahun-tahun sebelumnya. Tak lagi ada daftar masjid yang didatangi untuk menikmati takjil, tak ada lagi perdebatan untuk datang tarawih ke masjid yang sholat 8 rakaat tapi lama atau sholat 20 rakaat tapi cepat, tak ada lagi muda mudi yang jalan-jalan subuh selepas sholat di masjid, tak lagi kedengaran suara pemuda yang dulu rutin membangunkan sahur, tak lagi kedengaran suara riuh anak-anak berlarian di masjid ketika tarwih, tak lagi ada gosip tentang Pak Ustadz yang cakep atau isi ceramah yang mengocok perut, semuanya kita lewati dengan suasana yang berbeda.

Namun, satu hal yang terkadang membuat mata panas hingga hujan membasahi pipi ketika melihat energi kebaikan bekerja begitu luar biasa di tengah pandemi ini. Semua gotong royong saling bahu membahu, menguatkan satu sama lain, membantu orang lain meski keadaannya tidak lebih baik dari orang yang dibantu. Begitu banyak poster donasi yang digalang baik oleh individu maupun kelompok dan selalu dipastikan akan selalu saja ada orang yang menyumbang. Begitu banyak cerita driver ojol yang penghasilannya merosot karena adanya pandemi ini. Namun, disisi yang lain cerita mengharukan pun selalu ada saat konsumen memberikan persembahan terbaiknya untuk driver ojol yang tidak bisa bekerja #darirumah demi memastikan dapurnya masih tetap bisa mengepul, begitu banyak malaikat-malaikat yang berwujud manusia menyumbang dengan hal terbaik yang mereka mampu. 

Ramadan kali ini saya melewati hari-hari di kampung, moment yang begitu langka. Ketika flashback pada tahun-tahun sebelumnya, baru kali ini setelah 10 tahun terakhir saya menghabiskan seluruh hari-hari saya di bulan Ramadan di kampung halaman. Tradisi yang dulu sering kulihat saat usiaku masih belia ternyata masih dirawat dengan baik oleh orang di kampung sampai hari ini. Suasana kekeluargaan dan kehidupan sosial begitu terasa. Contoh kecilnya saat hendak berbuka puasa dapat dipastikan di meja makan akan selalu ada makanan yang beragam yang merupakan hasil dari pemberian tetangga, tradisi masak yang berlebih dan dibagikan ke tetangga merupakan tradisi yang sangat langka dan sudah lama sekali tak kutemui. 

Dari sisi yang lain, perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesat membuat manusia yang memang diciptakan dinamis akan perubahan memanfaatkan berbagai fasilitas yang ada untuk bisa saling berbagi. Kelas daring pun tersedia dari berbagai topik dan beragam pembicara, orang-orang membagikan apa yang bisa dibagikan, baik berupa materi maupun pengetahuan. Sesuatu yang langka bahkan mungkin tidak akan pernah terjadi seandainya covid-19 ini tidak ada. Kita bisa belajar dari berbagai sumber, konsultasi dengan berbagai macam orang dengan latar belakang yang beragam, membangun jaringan nasional maupun internasional.

Everything happen for a reason. Saya percaya bahwa meskipun masa-masa sekarang sulit dan sangat berat bagi sebagian besar orang tapi selalu saja ada hal yang bisa disyukuri, selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa. Sebagai manusia biasa yang bisa kita lakukan hanya bisa berdoa dan berharap semoga ini segera berlalu dan kita semua bisa keluar dari masa-masa krisis ini dan menjadi manusia yang lebih baik lagi. Manusia yang sudah mengenal dirinya sendiri, manusia yang tau kelebihan dan kekurangannya, dan yang pasti manusia yang terus memupuk dan menebar benih kebaikan dalam kapasitas yang kita mampu lakukan.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Competition “Ceritaku Dari Rumah” yang diselenggarakan oleh Ramadan Virtual Festival dari Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan”

Senin, 18 Mei 2020

Nanti Akan Kita Kenang Hari Ini (Enrekang-Toraja)


Setelah melewati masa-masa sibuk kelas intensif maka ditutup dengan Try Out yang diadakan di Enrekang, di salah satu sekolah tentor kami tepatnya di MTS N Sudu. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di Enrekang. Saya termasuk orang yang senang dengan perjalanan, beberapa tempat di daerah Jawa telah saya sambangi, tapi tidak di Sulawesi Selatan. Tekstur jalan yang berkelok membuat saya enggan untuk berkeliling Sulawesi Selatan, namun kemarin menjadi moment terindah sekaligus pertama kali saya memulai perjalanan tentunya dengan orang-orang yang menyenangkan.

Perjalanan dimulai tanggal 17 Januari, tepat pukul 20.00 kami berdelapan berangkat menuju ke Enrekang, lokasi akan diadakannya Try Out. Subuh hari sekitar pukul 04.00 kami sudah tiba di Enrekang, dijemput oleh kak Fadli, diantarkan menuju rumah Ibu Aji untuk istirahat sejenak sebelum memulai aktifitas kami di sekolah. Disambut dengan begitu hangat dan bersahaja. Kami menunaikan sholat subuh sebelum akhirnya siap-siap dan sarapan lalu berangkat ke sekolah. Kegiatan kami dimulai dari pagi hingga petang. Antusiasme para guru honor yang ada di sekolah begitu tinggi membuat semangat para pengajar juga membara, ada yang sudah jadi recidivist CAT ada yang baru pertama kali menghadapi ujian CAT. Setelah mereka melakukan test, lalu dilanjutkan dengan penjelasan dari tentor sejarah, numerik, verbal, dan ditutup dengan penjelasan TWK dan analisis hasil.

Malam hari setelah semua kegiatan di sekolah selesai, kami balik ke rumah Ibu Aji untuk bersih-bersih dan makan malam lalu lanjut ke rumah salah satu guru di sekolah juga untuk menginap. Rumahnya berada di salah satu tempat tertinggi di daerah Sudu, dari rumah guru tersebut kami bisa melihat pemandangan yang ada di bawahnya. Namun sayangnya kami tiba di malam hari, pemandangan yang nampak seperti di bukit bintang berbeda ketika kami tibanya sore barangkali bisa menikmati sunset. Kembali kami disuguhkan makan malam serta pisang goreng, hmmp maknyus. Menikmati hangatnya pisang goreng, serunya obrolan, dan dinginnya udara Enrekang.

Pukul 02.00 dinihari, mobil yang akan membawa kami menuju Toraja sudah menjemput. Tujuan awal kami adalah Lolai, negeri atas awan. Perjalanan dari Sudu Enrekang menuju ke Toraja lumayan mengocok isi perut, tak ayal isi perut pun berhamburan keluar. Kurang lebih 2 jam setengah kami sudah tiba di Negeri Atas Awan. Retribusi masuk yakni 15.000 per orang. Untungnya kami datang lebih awal, jadi bisa langsung sholat dan mencari tempat pewe menunggu awan datang. Semakin tinggi matahari naik semakin ramai orang yang berdatangan. Setelah kami puas menikmati keindahan Lolai perjalanan dilanjutkan menuju ke Ke’te Kesu. Salah satu tempat favorit orang-orang ketika ke Toraja. Di Ke’te Kesu kita bisa melihat banyak rumah tongkonan dan kuburan serta Goa tempat penyimpanan peti-peti mayat.

Matahari semakin terik kami pun bergegas untuk meninggalkan Ke’te Kesu dan mencari makan serta penginapan. Alhamdulillah tidak begitu sulit untuk mencari makanan halal di Toraja, ada banyak makanan dengan logo halal dan tulisan muslim yang memudahkan bagi orang-orang muslim untuk mencari makan yang diinginkan. Setelah makan alhamdulillahnya lagi kami mendapat tawaran menginap di rumah salah satu temannya Kak Fany. Alhamdulillah benar adanya bahwa banyak teman banyak rejeki. Setelah makan kami akhirnya beranjak menuju rumah temannya Kak Fany. Kami sejenak bisa istirahat, mandi, lalu bersiap untuk menuju destinasi selanjutnya. Tujuan kami selanjutnya adalah Burakeng, tempat yang tak kalah hitznya. Ini berada di tengah kota Makale, di Burakeng kita bisa melihat patung raksasa Jesus serta jembatan kaca, sayangnya kami tibanya kesorean, penjaga jembatan kaca sudah pulang. Jadi kami hanya bisa berswafoto di sekitar patung dan dibukit, namun hal itu sama sekali tak mengurangi rasa senang dan bahagia kami. Menjelang maghrib kami bergegas turun dan menuju ke Masjid Raya Makale.

Ada rasa haru melihat pemandangan yang ada di kota tersebut, Masjid dan Gereja berdiri kokoh berdampingan, orang-orag hidup selaras dalam keberagaman. Setelah beres sholat maghrib kami beranjak pulang ke rumah. Kak Fadli dan supir pun segera berpamitan balik ke Enrekang. Oh iya, waktu di Burakeng satu dari dua mobil yang kami rental berpamitan untuk pulang karena anaknya sakit, jadilah kami seperti ikan pepes berada di satu mobil dengan jumlah 10 orang, hahahah. Perjalanan yang menyenangkan.

Keesokan harinya perjalanan kembali dimulai dengan tujuan Kuburan Bayi Kambira, di sini terdapat satu Pohon Tarra tempat dikuburkannya bayi-bayi yang meninggal, pohon tarra di Kambira sudah lama tidak lagi digunakan, sejak beberapa tahun silam dikarenakan pohon tersebut terkena sambaran petir. Kami tidak begitu lama di Kambira, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Lemo. Lemo juga merupakan salah satu kuburan, di sini kami juga bisa melihat banyak pekuburan-pekuburan. Nah di Lemo ini terjadi drama dikepung Anjing, dalam perjalanan ini terungkaplah sudah bahwa semua dari kami ternyata takut dengan anjing. Perjalanan dilanjutkan menuju ke Londa, seperti tempat-tempat sebelumnya Londa pun merupakan sebuah kuburan, namun disini terdapat Goa yang lebih besar dari Ke’te Kesu, perjalanan ditutup dengan mengunjungi Kalimbuang Bori. Sebelum sampai ke Kalimbuang Bori’ kami terlebih dahulu mencari makan siang dan pergi ke Pasar Rantepao untuk membeli kopi. Sama seperti di makale, di Rantepao juga banyak terdapat makanan halal dengan label halal dan tulisan makanan muslim di depan toko. Setelah makan dan sholat kami melanjutkan perjalanan menuju Kalimbuang Bori’, Di sini terdapat banyak artefak-artefak yang anak sejarah menyebutnya Megalitikum, tempat ini menurut asumsi kami adalah salah satu desa adat, terbukti dengan banyaknya rumah tongkonan dan tempat pagelaran Rambu Solo’. Tempat ini lumayan lengkap untuk destinasi wisata. Kalimbuang Bori’ menjadi tempat penutup short trip kami di Toraja.

Sore harinya kami bergegas pulang untuk siap-siap balik ke Makassar. Tepat pukul 20.00 supir mobil yang akan membawa kami ke Makassar menelfon menginformasikan bahwa mereka sudah ada di depan Bank Sulselbar tempat kami janjian. Lekaslah kami berangkat menuju ke mobil dan bertolak balik ke Makassar.

BERIKUT INFORMASI HARGA BUS DAN TIKET MASUK TEMPAT WISATA:
Bus Kharisma : 140.000 berangkat pukul 19.00
Lolai’: 15.000/orang
Ke’te Kesu : 15.000/orang
Burakeng : 10.000/orang
Pohon Tarra : 10.000/orang
Lemo : 10.000/orang
Londa : 15.000/orang
Kalimbuang Bori’ : 15.000/orang


CAT di Enrekang

Lolai'
Lolai'
Lolai'

Ke'te Kese
Ke'te Kesu
Ke'te Kesu
Ke'te Kesu
Ke'te Kesu
Ke'te Kesu
Burakeng



Burakeng






Pohon Tarra

Lemo








 

 Kalimbuang Bori'







Moment To Remember

  Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...