Kamis, 10 Maret 2022

Kesempatan

Beberapa hari yang lalu saya dihubungi oleh salah seorang kerabat untuk mengisi salah satu posisi di perusahan tempatnya bekerja. Project yang sedang digarapnya berada di provinsi yang memiliki hubungan sangat emosional bagi saya. Semalaman saya berpikir untuk menerima tawaran tersebut bahkan mungkin ketika saya diharuskan berangkat minggu depannya, saking jatuh cintanya saya dengan provinsi tersebut.

Keesokan harinya saya dikabari lagi, ternyata pihak manajemen tidak setuju jika saya yang mengisi posisi tersebut dengan alasan karena saya seorang perempuan. Setelah kukonfirmasi ternyata di tim yang berada di lokasi memang semuanya adalah laki-laki. Pada tulisan ini bukan itu poin yang ingin saya sampaikan. Terlepas dari alasan jender yang disampaikan sebagai sebuah alasan penolakan, saya malah merasa alasan penolakannya mungkin karena keilmuan saya yang tidak linier dan saya tidak memiliki pengalaman di bidang yang ditawarkan. Sesuatu yang sangat lumrah dan sudah saya prediksi sebelumnya.

Kali ini saya ingin berbicara tentang "pengalaman". Seseorang tidak pernah bisa punya pengalaman jika tidak pernah diberikan kesempatan pertama. Bahkan seorang pimpinan perusahaan pun pernah tidak memiliki pengalaman dan pernah diberikan kesempatan pertama oleh seseorang. Maka dari itu, di tempat saya bekerja saya selalu memperjuangkan untuk menerima orang-orang yang bahkan tidak memiliki pengalaman sekali pun asalkan dia memiliki keinginan untuk belajar dan punya attitude yang baik.

Tidak bisa dipungkiri, jurusan sangat beperan penting dalam langkah awal mendapatkan pekerjaan. Jurusan menjadi seleksi awal untuk masuk di proses wawancara dan seleksi-seleksi selanjutnya, kecuali jika kita memiliki relasi orang dalam yang kuat. Lulus dari jurusan bahasa tetapi memiliki keinginan kerja di lapangan butuh effort yang sangat besar. Mau kuliah S1 lagi butuh waktu 4 tahun lagi, mau lanjut S2 lintas jurusan belum tentu keterima apalagi lintas ilmu dengan jurusan yang berbeda jauh. Makanya butuh memperjelas tujuan sebelum memutuskan kuliah mengambil jurusan apa .

Bagi adik-adik yang saat ini masih kuliah perbanyak mengikuti program magang agar kelak ada bekal ketika mencari kerja, jangan hanya fokus kuliah dan akademik semata, perluas jejaring dan ikut berorganisasi, manfaatkan waktu selama kuliah dengan baik karena ada banyak kesempatan yang hanya bisa diperoleh ketika masih berstatus mahasiswa.

Teruntuk kakak-kakak, bapak-bapak, ibu-ibu yang sudah punya cukup pengalaman dan pengetahuan tentang prospek setelah kuliah seperti apa, agar sekiranya memberikan pencerahan kepada sanak keluarga dan teman-teman untuk mengetahui minat dan bakatnya apa sebelum memutuskan untuk kuliah mengambil jurusan apa, agar tak lagi ada istilah salah jurusan setelah lulus kuliah.

Maka tak heran hingga detik ini pun pekerjaan sebagai PNS menjadi salah satu jalan ninja bagi fresh graduate dan banyak orang di berbagai belahan Indonesia, PNS merupakan salah satu pilihan pekerjaan yang dianggap bisa menjamin dan tidak mempersyaratkan pengalaman kerja untuk bisa mendaftar dan diterima.


Kamis, 24 Februari 2022

Jurnal harian (240222)

Hal yang paling sulit adalah saat kita harus berpikir positif di saat kondisi kita tidak sedang baik-baik saja. Tak menyangka bisa masuk ke fase ini, fase overthinking hampir tiap malam hingga memutuskan mengambil jeda dari hiruk pikuk dan mulai belajar meditasi. Kadang saat diam, lagi sementara sholat, apalagi di saat meditasi tiba-tiba saja menangis tanpa sebab. Mungkin ini yang dinamakan kesepian. Kesepian ternyata senyata itu.

Dulu pernah berucap kepada salah seorang teman "Kak, santai aja, toh nanti setelah menikah akan ada pertanyaan yang tiada habisnya. Akan muncul pertanyaan kapan punya anak, kapan nambah anak, dan pertanyaan demi pertanyaan yang tidak ada habisnya".  "Gapapa, nanti ya nanti aja, yang jelas saya bisa segera berganti fase", jawabnya.

Ternyata bukan pertanyaan yang membuat kita gusar, tapi memang ada "kebutuhan" untuk bisa menjalin sebuah hubungan sakral dengan seorang pasangan, ingin ada seseorang yang bisa menjadi kawan berbagi kegundahan, bertukar pikiran, dan berdiskusi. Pada fase ini di saat teman-teman yang biasa nongkrong bersama, biasa menghabiskan waktu bersama sudah mulai sibuk dengan prioritasnya masing-masing di saat itu kita mulai merasa pahitnya "kesendirian dan kesepian", itu yang tak dia katakan dan baru kumengerti setelah kumengalaminya sendiri.

Mungkin ini alasan Allah menciptakan Siti Hawa agar Adam tak kesepian. Mungkin ya, mungkiin. Hihihi

Tulisan ini ditulis saat lagi kalut-kalutnya, masa di mana sholat pun tiba-tiba nangis, diam pun tiba-tiba nangis, apalagi pas meditasi.

Saat tulisan diunggah kondisi sudah jauuh lebih baik, hati lebih tenang dan lapang, dan lagi kumpul bareng keluarga. Sungguh, selain nikmat rasa cukup, nikmat hati yang tenang dan lapang merupakan sebuah anugerah yang sangat priceless.

Rumah, 24 Februari 2022

 


Jumat, 31 Desember 2021

Refleksi 2021

 

Setidaknya sudah tiga tahun terakhir ini, setiap ingin menulis refleksi akhir tahun selalu saja merasa bahwa waktu berjalan dengan sangat cepat. Masih teringat jelas memori dan rasanya menulis refleksi akhir tahun 2020, masih teringat jelas rasa saat menulis resolusi 2021, rasanya baru kemarin sore, tau-taunya sekarang sudah berada di  penghujung tahun 2021. Entah karena setiap harinya melakukan kegiatan yang berfaedah hingga waktu tidak begitu terasa atau karena memang ada percepatan waktu hahaha.

Tahun 2021, tahun yang banyak sekali belajar. Belajar ikhlas, belajar menerima, belajar merasa cukup. Begitu banyak keinginan yang tidak tercapai, tapi dibalik semua itu ternyata begitu banyak hal pula yang didapatkan, rangkaian hal-hal kecil hingga besar yang tidak pernah terpikir sebelumnya. Tuhan, engkau sangat tahu apa yang aku inginkan, tapi engkau pun jauh lebih tahu apa yang kubutuhkan. Berada di titik "nrimo" segala hal terbaik yang sudah digariskan Tuhan bukanlah sesuatu yang mudah, banyak pergulatan pikiran dan emosi, mempertanyakan kenapa begini kenapa begitu, hingga akhirnya pasrah dan berserah baru bisa memahami bahwa ternyata segala sesuatu tepat waktu, segala sesuatu akan hadir di saat kita sudah dianggap siap untuk menerimanya.

Tuhan, terima kasih atas nikmat sehat, keluarga yang sehat, keluarga yang harmonis, waktu luang, teman-teman yang baik, rejeki yang cukup yang telah engkau anugerahkan sepanjang tahun 2021.

Kilas balik 2021

Awal tahun  melepaskan salah seorang teman baik untuk berangkat ke kota tempatnya bertugas. Pada detik itu juga aku menyadari bahwa sudah saatnya untuk menerima bahwa kita memang sudah masuk fase “dewasa”. Kebersamaan dengan teman-teman untuk sekadar have fun dan haha hihi ada masanya. Setiap kita bergerak, setiap kita bertumbuh, setiap kita mengalir mengikuti arus kehidupan, bermuara ke suatu cita yang kita angankan, menemukan jalan hidup kita masing-masing. Dan pada akhirnya kenangan hanya akan menjadi sebuah kisah yang dibalut dengan indah dalam ingatan. Pada akhirnya kita akan memilih jalur kesuksesan kita masing-masing.

2021 merupakan tahun di mana aku menghabiskan cukup banyak waktu di Panrita. Ketika aku flashback beberapa bulan di tahun 2021 kuhabiskan untuk beraktivitas di Panrita. Sejak awal tahun saat Panrita merayakan syukuran 4 tahun sejak saat itu pula aktivitas di Panrita dimulai hingga akhir tahun. Berbagai kelas berjalan dengan lancar, mempertemukan dengan banyak orang dengan berbagai karakter, menyaksikan perjuangan, gelak tawa, kesedihan, tangis haru, kegagalan hingga keberhasilan satu persatu siswa.

Tahun 2021 banyak pelajaran dan pengalaman yang kudapat di Panrita. Semua kelas berjalan dengan lancar meski pasti tetap ada kendala. Agenda buka puasa bersama Panrita, berangkat ke Palopo untuk program kerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Palopo, program kerjasama online dengan IAIN Pontianak, staycation pasca program kelas intensif, staycation pasca program kelas SKB, liburan tim ke Bulukumba, hangout di pantai dan tak terhitung banyaknya kesempatan main-main di Panrita. Kalau dilihat-lihat lagi, bergabung di Panrita adalah sebuah pilihan yang sangat kusyukuri, benar-benar merasakan work-life balance. Setiap selesai satu program yang cukup menguras tenaga dan pikiran, kami selalu mengagendakan untuk mewaraskan pikiran dengan liburan atau setidaknya staycation. Semoga tahun depan bisa terus berlanjut work-life balancenya dan bisa jauh lebih baik.

Tahun 2021 aku kembali mencoba untuk bergabung dalam sebuah komunitas, aktivitas yang sangat menyenangkan bagiku beberapa tahun silam. Masuk ke komunitas menyadarkanku satu hal bahwa “setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya”. Dalam kegiatan komunitas tersebut aku bertemu banyaaak sekali anak-anak muda dengan semangat masa mudanya, anak-anak muda yang memiliki rentan umur yang berbeda 4 hingga 10 tahun dariku, menyadarkanku bahwa aku ternyata tidak muda lagi dan akhirnya harus merasa cukup bahwa sudah waktunya "pensiun" sebagai follower di komunitas. Saatnya untuk reborn sebagai inisiator dan penggerak bukan lagi pengikut.

Tahun 2021, tahun di mana aku menyaksikan banyak perubahan fase teman-teman. Perubahan status dari jomlo menjadi menikah, menjadi suami/istri, menjadi ibu/bapak, tapi yang masih tetap jomlo juga tetap ada sih hahaha, tenang kita sama kok hahaha.

Tuhan sangat tahu apa yang kubutuhkan, ternyata hingga akhir 2021 aku menyadari bahwa ada banyak titik dalam hidupku yang tidak seragam dengan manusia kebanyakan. Hingga akhir 2021 aku masih bahagia dan berlapang dada dengan pekerjaan yang tidak tetap, yang penting tetap bekerja dan berpenghasilan, ternyata hidup dalam ketidakpastian itu menyenangkan, banyak deg-degan dan pergulatan emosinya dan itu cukup membahagiakan.

Kebiasaan baik selama 2021 yang kulakukan yakni konsisten menulis catatan syukur selama satu tahun penuh, hal tersebut banyak merubahku secara pola pikir. Aku lebih bisa melihat segala sesuatu dari sisi baiknya sebelum judging, aku lebih bisa mensyukuri hal-hal kecil setiap harinya. Dan memang benar kata Kak Ayu Kartika Dewi “otak itu seperti itu, harus dilatih. Jika kita melatih otak kita untuk selalu bersyukur maka kita akan mudah bersyukur meski untuk hal-hal kecil, jika kita terbiasa mengumpat dan berpikir negatif maka itu juga yang akan terlatih”. Semoga kebiasaan baik ini terus berlanjut di 2022.

Satu hal yang kusyukuri di tahun ini, bagaimana pun keadaannya yang aku lalui, aku selalu bisa memastikan bahwa ada orang-orang yang selalu membersamaiku, berada disisiku untuk mendukungku saat kuterpuruk, ikut berbahagia saat aku bahagia, dan terus mendorongku untuk “berkembang” dan bertumbuh ke arah yang lebih baik.

Yang terakhir, terima kasih 2021 untuk up and down kehidupannya. Terima kasih aku yang sudah bertahan sejauh ini, terima kasih aku sudah banyak belajar, pengalaman itu mahal terkadang kita harus membayarnya dengan waktu, pergulatan emosi, dan deraian air mata.

Home, 31 Desember 2021

Selasa, 28 Desember 2021

Ketidakpastian

Manusia benci ketidak pastian, kalau bisa sih malah tahu dan memastikan apa yang akan terjadi di masa depan. Tak heran, praktik-praktik perdukunan dan paranormal masih begitu laris, karena ya itu tadi manusia benci ketidak pastian, selalu mau mengintip masa depan dan memastikan apa yang akan terjadi di masa depan sesuai dengan apa yang diekspektasikan. Tak cuman praktik perdukunan yang begitu laris, namun perusahaan-perusahaan asuransi pun masih banjir pelanggan, manusia selalu mau memastikan kondisi kesehatannya baik-baik saja, kondisi keuangannya stabil, pekerjaannya aman. Tak heran, PNS dan BUMN masih menjadi pekerjaan primadona sejuta umat, PNS dan BUMN meski gajinya tidak tergolong tinggi tapi berjuta manusia masih aja terus berlomba untuk menjadi PNS. Tujuannya tak lain dan tak bukan karena ingin memastikan kondisi keuangan stabil, masa tua dan kesehatan ditanggung negara.

Terkadang, bisa membaca apa yang akan terjadi di masa depan tak selamanya menyenangkan, kita akan menjalaninya dengan datar atau mungkin malah ketakutan. Sungguh, dunia ini tak ada yang pasti kecuali kematian.

Momen covid adalah sebuah fase di mana ketidakpastian itu terasa begitu nyata, ada yang stress dan ada pula yang akhirnya berdamai dengan ketidakpastian, menjalani hari demi hari dengan penuh harapan. Mungkin ini adalah salah satu alasan Tuhan tidak memberikan bocoran akan masa depan agar kita hidup dalam ketidakpastian, agar kita selalu melibatkan Tuhan dalam setiap langkah kaki kita, meyakini bahwa sebaik apa pun manusia berencana kita tetap hidup dalam ketidapkastian, Tuhan jualah yang menentukan hasil akhir dari usaha yang kita lakukan.


Jumat, 03 Desember 2021

Menjadi Perempuan

 

Hidup dalam budaya patriarki membuat status sebagai perempuan tidak selalu mudah. Menjadi perempuan selalu dihadapkan dengan berbagai tantangan dan pilihan-pilihan yang sulit. Menjadi perempuan harus selalu bisa belajar untuk mengatur skala prioritas. Menjadi perempuan harus menanggung banyak beban, beban moral dan beban batin.

Saat perempuan bercerai, image janda selalu buruk, berbeda dengan lelaki yang sering mendapat julukan duda keren. Ketika sudah menikah dan terlambat mendapat rejeki anak, yang selalu menjadi sorotan selalu perempuan, meski mungkin saja suaminya yang mandul. Ketika perempuan tidak bisa memasak, dapat dipastikan selalu ada cibiran “jadi perempuan kok tidak bisa masak, kasian suaminya mau makan apa”, padahal memasak itu tidak butuh jender tertentu, hanya butuh tangan dan insting tidak perlu melibatkan jender. Ketika dalam sebuah pekerjaan dan perempuan itu sebagai bos yang tegas, dapat dipastikan ada aja orang yang ngomong “galak amat sih jadi perempuan, namun jika yang tegas itu laki-laki pasti yang mereka dapatkan adalah pujian sebagai pemimpin yang baik dan karismatik”.

Perempuan selalu dihadapkan akan pilihan-pilihan hidup yang cukup berat. Bahkan ketika perempuan akan menikah dan statusnya sebagai perempuan bekerja, akan ada intervensi untuk disuruh memilih mempriotitaskan karir atau keluarga, sedangkan laki-laki jarang dituntut untuk memilih antara karir atau keluarga. Begitu pula halnya dengan tanggung jawab domestik, bebannya masih selalu dititik beratkan kepada perempuan.

Saat sudah menikah dan memiliki anak. Menjadi working mom atau fulltime mom selalu jadi sesuatu yang mesti dipilih. Selain diberikan pilihan untuk menentukan prioritas, menjadi perempuan juga tidak lepas dari aturan norma sosial yang dianggap harus bisa ini dan itu karena terlahir sebagai seorang perempuan. Parahnya, pengasuhan anak yang seharusnya menjadi tanggung jawab berdua tidak jarang hanya dibebankan kepada ibu. Kalau anaknya tidak terurus yang disalahkan pertama kali pasti ibunya.

Menjadi working mom bukan lah sesuatu yang mudah, beban kerja di kantor tidak serta merta berkurang hanya karena memiliki beban kerja juga di rumah. Pagi-pagi sebelum berangkat kerja harus memastikan seisi rumah terpenuhi gizinya, pulang kerja pun harus bisa memastikan rumah dan seisi rumahnya dalam kondisi yang baik-baik saja. Ketika menjadi full time mom dapat dipastikan juga bahwa pekerjaan domestik, mengurus rumah dan anak bukan pekerjaan yang bisa dianggap enteng, kelihatannya aja mudah namun kenyataannya tidak semudah kelihatannya, belum lagi rasa bosan yang pasti akan menghinggapi karena hanya menjalani rutinitas yang itu-itu saja dan interaksi dengan orang yang itu-itu saja.

Terlahir sebagai perempuan memang tidak lah mudah. Banyak tuntutan dan ekspektasi yang dibebankan baik oleh masyarakat maupun dari keluarga. Syukur-syukur kalau mendapat pasangan hidup yang paham bahwa perempuan dan laki-laki itu equal. Jadi ada pembagian peran yang adil, menyadari semua orang punya potensi untuk menjadi manusia seutuhnya, punya hak preogeratif untuk memilih mau bekerja di luar rumah atau pun mengurusi pekerjaan domestik tanpa memandang jender tertentu, tidak ada lagi relasi kuasa yang merasa superior dan inferior, sehingga bisa terjadi keseimbangan dalam hidup. Karena perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama untuk mengembangkan potensi terbaik dalam dirinya masing-masing.

Senin, 01 November 2021

Achievement (?)

 Apa kau tahu persamaan antara orang yang tak memiliki uang dan orang yang memiliki terlalu banyak uang? Hidup sama-sama tak menyenangkan bagi mereka, “Oh Il Nam”.

Maslow’s theory

Quotes dari Oh Il Nam dalam serial Squid games  dan  Maslow’s Hierarchy of needs di atas membuat saya cukup tergelitik untuk menuliskan ini. Seringkali menjelang tidur dan saat terbangun di pagi hari saya merenung, memikirkan apa yang benar-benar saya inginkan, apa tujuan hidup saya, dan apa pencapaian yang ingin saya wujudkan. Semakin banyak tulisan yang saya baca, semakin banyak kisah yang saya dengar, semakin mendorong saya untuk menentukan batas kata “cukup”, semakin memaksa saya untuk belajar bersyukur atas semua hal yang saya miliki.

Menjadi kaya raya yang bergelimang harta ternyata tak selamanya membuat orang bahagia, pada akhirnya saat kita memiliki segalanya hidup akan terasa begitu datar, tak ada lagi hasrat yang besar untuk mengejar sesuatu. Tidur di hotel bintang lima, berlibur ke berbagai penjuru dunia, makan makanan terlezat dari chef terhebat sekali pun semuanya akan terasa biasa saja dan hambar. Sama halnya dengan orang yang berada di bawah garis kemiskinan, berjuang dari hari ke hari untuk sekadar memenuhi basic needs merupakan pil pahit yang harus ditelan setiap hari. Tapi tentu saja, meski keduanya sama-sama tidak menyenangkan jauh lebih tidak menyenangkan saat tidak memiliki apa-apa dibanding saat memiliki segalanya.

Berada dalam kondisi in between dengan segala drama dan pelik kehidupan menjadikan hidup lebih berwarna, selalu ada alasan untuk terbangun di pagi hari dan kembali memperjuangkan hidup. Hidup penuh lika liku, ups and down, dan mengharuskan kita tetap bekerja keras untuk sekadar memenuhi basic needs nyatanya jauh lebih menggairahkan.

Entah terlalu cepat bersyukur atau pembelaan dari rasa malas, rasa-rasanya makin ke sini makin chill dalam menjalani hidup, tidak terlalu ngoyo ingin ini dan itu. Merasa arti kata cukup, hati terasa begitu lapang, dan basic needs terpenuhi ternyata it’s more than enough. Rezeki itu hanya ada tiga, “apa yang kita makan, apa yang kita pakai, dan apa yang kita sedekahkan”, ketika ketiganya sudah terpenuhi rasa-rasanya hidup sudah terasa begitu berarti. Dan benar teori dari Maslow, ketika poin poin dari hirarki piramida tersebut sudah terpenuhi, puncak tertingginya ya self-actualization.

Tulisan ini mungkin tidak akan relate dengan beberapa orang yang memiliki trauma pernah diremehkan sehingga butuh untuk  terus bekerja bekerja dan bekerja untuk menutup mulut orang-orang yang pernah meremehkan. Pandangan kita akan satu hal sangat dipengaruhi dari preferensi kehidupan masa lalu yang pernah membuat kita diapresiasi  atau mungkin terluka, cara kita menjalani hidup saat ini sangat dipengaruhi ada tidaknya hal yang pernah membuat kita trauma sehingga butuh untuk “balas dendam”. Pada intinya kita struggling di panggung kita masing-masing.

Banyak hal yang ingin saya tuliskan tapi belum tersusun secara rapi di otak jadinya narasi tulisannya juga menjadi acakadut, mungkin suatu saat ini saya akan kembali membuka tulisan ini dan merangkai kata demi kata sehingga menjadi satu narasi yang bisa lebih mudah dicerna. :D

Makassar, 01 November 2021

Kamis, 14 Oktober 2021

Titik Terendah


Saya tak pernah benar-benar mengerti, mengapa orang-orang senang sekali bertanya “kapan menikah”? Seolah menikah adalah sebuah pencapaian seseorang di batas umur tertentu. Pertanyaan yang membuat tak sedikit orang mengalami stres karena merasa tidak seperti layaknya manusia normal lainnya, yang di batas umur tertentu sudah memiliki pasangan dan juga buah hati.

Sebut saja Margareta, seorang gadis yang sudah mendekati usia 30 tahun. Jangan ditanya lagi berapa kali Margareta mendapatkan pertanyaan kapan menikah, mulai dari orang yang tidak begitu akrab hingga keluarga terdekat. Hingga suatu hari kutukan kejomloan Margareta itu pun berakhir saat seorang laki-laki datang untuk maksud meminang. Laki-laki yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Margareta, lelaki yang sudah cukup dikenal oleh keluarga Margareta. Jadi tak ada alasan bagi Margareta atau pun keluarganya untuk menolak.

Tidak ada proses berkenalan yang intim antara Margareta dan calon suaminya, Margareta berpikir bahwa lelaki yang masih memiliki kekerabatan dengannya itu adalah lelaki yang baik yang sudah dikenalnya sejak beberapa tahun silam dan itu sudah cukup menjadi informasi untuk Margareta memantapkan untuk memilih calon suaminya. Proses mereka menuju ke pelaminan pun berjalan begitu lancar, tak ada kendala yang berarti. Semua keluarga dari kedua belah pihak turut andil dalam proses persiapan pernikahan, prosesnya pun berjalan lancar tanpa ada masalah. Hari H pernikahan pun telah tiba, semua keluarga turut berbahagia, tak terkecuali Margareta dan suaminya. Seperti layaknya sepasang suami istri, Margareta dan suaminya pun menjalani masa-masa indah awal pernikahan. Saling sayang-sayangan dan bucin-bucinan.

Beberapa minggu setelah menikah, suami Margareta harus berangkat ke luar kota untuk kembali bekerja. Margareta masih berada di kota X dan tinggal bersama orang tuanya, mereka menjalani LDM untuk sementara waktu karena di kota tempat suami Margareta bekerja belum ada tempat tinggal untuk mereka huni berdua. Saat menjalani LDM masalah pun mulai muncul, terkadang hal kecil menjadi hal yang dibesar-besarkan dan menjadi pertengkaran. Margareta pun akhirnya berinisiatif untuk ikut suaminya tinggal di kota Y agar mereka bisa tinggal bersama. Namun, suaminya tidak megijinkan Margareta untuk tinggal di kota Y bersamanya, alasannya biaya hidup yang cukup tinggi dengan gaji yang pas-pasan tidak mampu untuk membiayai hidup mereka berdua. Mendengar hal itu, Margareta sebagai istri yang baik menuruti kata suaminya, dia hanya sesekali mengunjungi suaminya di kota Y lokasi tempat suaminya bekerja. Dalam pertemuan mereka yang singkat terjadilah sesuatu yang diinginkan, Margareta akhirnya hamil setelah 2 bulan menikah. Meski begitu, Margareta tetap tidak tinggal seatap dengan suaminya, dia tinggal bersama orang tuanya di kota X, suaminya tetap memilih tinggal dan bekerja di kota Y.

Hari demi hari mereka lalui dengan terpisah jarak dan waktu, hingga suatu hari terjadi pertengkaran besar diantara mereka. Dari pertengkaran tersebut semua hal-hal kecil diungkit terus menerus dan menjadi masalah besar. Puncaknya si suami menjatuhkan talak ke Margareta dengan alasan sudah tidak sanggup dengan sifat kekanak-kanakan Margareta ditambah dengan alasan sudah tidak ada perasaan lagi. Alasan yang sungguh sangat dibuat-buat dan mengada-ada. Suami yang sama sekali tidak memiliki hati nurani menjatuhkan talak ke istri yang sedang hamil, seorang wanita yang sedang mengandung buah hatinya, wanita yang lagi butuh perhatian dan kasih sayangnya malah ditalak oleh suaminya dengan alasan sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi. Kejadian ini menjadi lowest point dalam kehidupan Margareta, kehidupan pernikahan yang diimpikan bak cerita cinderella ternyata harus melalui lika liku seperti sinetron-sinetron azab.

Dulunya saya pikir hal-hal seperti ini hanya ada di film-film azab Indosiar, ternyata hal tersebut benar-benar ada di kehidupan nyata dan dialami oleh Margareta teman dekat saya. Hal yang tidak pernah dibayangkan oleh Margareta sebelumnya, harus menjalani kehidupan pernikahan dengan lika liku kehidupan seperti ini. Menjalani hari-hari di tengah kondisi hamil seorang diri tanpa sekali pun pernah dihubungi oleh lelaki yang pernah mengucap akad dihadapan bapaknya, lelaki yang pernah menjanjikan akan menjaganya dan menafkahinya lahir batin sekarang menghilang dan menjadi orang asing. Tak pernah sekali pun suaminya menghubungi untuk sekadar bertanya kondisi Margareta dan calon bayi yang dikandungnya. Sekarang Margareta lagi memulihkan kondisi fisik dan mentalnya setelah melalui kenyataan sulit dan sekarang lagi dalam proses menunggu buah hatinya lahir ke dunia.

Dalam kondisi seperti ini, dapat dipastikan orang-orang yang dulu sering bertanya “kapan menikah” sudah hilang entah ke mana, mereka tak lagi peduli dengan apa yang dialami pascapernikahan, yang ada malah mulai mencibir dengan kondisi yang dialami. Jadi paling baik ya menutup telinga dan bersikap bodo amat dengan pertanyaan orang-orang, toh pun saat kita mengalami kesulitan mereka tidak ada untuk mengulurkan bantuan, mereka tidak akan bertanggungjawab atas penderitaan yang dialami saat kita “salah” memilih pasangan yang diakibatkan oleh intervensi pertanyaan-pertanyaan mereka yang hanya kepo.

Moment To Remember

  Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...