Senin, 10 April 2017

Amazing sunday




Bahagia
Ya bahagia, untuk kesekian kalinya. Mingguka tak lagi kosong. Mingguku selalu diisi dengan bertemu dengan banyak orang-orang positif, melakukan kegiatan-kegiatan positif dan mendapat energi-energi positif.

Seperti hari minggu ini, Alhamdulillah mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu Volunteer di The Floating School, bahagia rasanya bisa menjadi salah satu bagian dari tim hebat TFS minggu ini, diantara banyaknya waiting list yang mendaftar sebagai volunteer.

The Floating School merupakan program pendidikan non-formal yang memiliki tagline sail to serve. Sekolah apung yang menggunakan kapal membawa buku, fasilitator dan bahan ajar, di inisiasi oleh kak Ammy, kak Nunu dan Kak Mato yang mengajar anak-anak pulau. Yakni anak Pulau Satando, Saugi dan Sapuli. Materi-materi kelasnya pun beda dari kelas pada biasanya, ada kelas musik, nari, menggambar, prakarya, komputer dan fotografer. 

Bahagia rasanya bisa menyaksikan antusias dari para anak-anak pulau serta semangat yang begitu besar dari para Fasilitator. Rasa-rasanya energi positifnya begitu besar dan mampu menular kepada siapapun yang ikut. Minggu ini saya bergabung sebagai volunteer yang menemani anak-anak SD untuk menggambar. Berhubung kelas TFS dikhususkan untuk anak-anak rentan usia 13-20 tahun. Jadi anak-anak yang berada dibawah rentan usia 13 tahun tidak diperkenankan masuk dalam kelas, melainkan belajar bersama para volunteer yang datang.

Semakin sering bergaul dengan orang-orang positif, pola pikir sedikit banyak digiring untuk berfikir jauh lebih positif dan optimis. Senang sekali rasanya ternyata masih begitu banyak anak-anak muda yang mempunyai kepedulian yang begitu tinggi, yang mau bekerja banyak untuk sesama, yang rela waktu, fikiran dan tenaganya digunakan untuk memberi manfaat kepada orang-orang yang membutuhkan.

Quote of the day :
-          Jika punya mimpi besr usaha juga harus jauh lebih besar (Kak Ammy)
-          Relawan itu harus punya skill, agar ada yang mampu kita bagikan kepada orang lain (Kak Ammy)
-          Awalnya masuk dunia relawan mungkin hanya punya satu skill, tapi seiring berjalannya proses skill itu banyak menular dari relawan-relawan yang lain (Kak Pipi)
-          Bergerak dalam dunia volunteering jangan cuman sekedar datang, tapi tanamkan dalam hati untuk menjadi transformer yang memberi dampak perubahan (Kak Fadli).




Perjalanan menuju pulau
Hasil karya anak-anak




Sabtu, 08 April 2017

Moodboster


Setiap kali melakukan perjalanan, rasa-rasanya energi tercharge full. Menikmati hijaunya sawah, birunya langit, ramahnya penduduk setempat, jauh dari hiruk pikuk kota dan terlepas dari kontaminasi dunia luar membuat jiwa terasa begitu tenang dan adem, hingga melahirkan kesyukuran yang tiada henti kepada sang pencipta. Indonesiaku, kau begitu indah. Sayang sekali jika kita hanya menikmatinya lewat layar televisi. Sesekali berjalanlah lebih jauh meninggalkan rumah dan menikmati indahnya karunia Tuhan yang begitu besar.

Bagaimanapun bentuknya, ngetrip selalu saja menyenangkan.
Makanya tak pernah rela melewatkan ajakan ngetrip. Ngetrip selalu melahirkan kisah yang tak pernah usang, cerita yang tak pernah habis, dan teman-teman yang selalu saja bertambah

Teman ngetrip sedikit banyak akan mempengaruhi "keasyikan" perjalanan, kalau teman ngetripnya asyik, bagaimapun tempatnya pasti akan terasa menyenangkan, kalau teman ngetripnya garing, bagaimana pun indah tempatnya, pasti akan mempengaruhi suasana hati.

Trip kali ini adalah ke Gowa, melakukan survey sekolah. Kondisi jalan yang tak mulus menjadi keseruan yang begitu menyenangkan, teriak-teriak ketakutan hingga keringatan karena tahan nafas sambil komat kamit berdoa. Tapi karena teman ngetripnya asyik, jadi kondisi seperti apapun terasa begitu menyenangkan.

Bahkan ketika motor keluar jalur, terjebak dilumpur menjadi sebuah tontonan yang begitu membahagiakn, tertawa diatas penderitaan teman. Setelah puas menertawai baru bergegas membantu. Hahahaha. Jatuh d ri motor pun tak terasa sakitnya, yang begitu terasa adalah rasa malunya.

Ah, trap trip yang menyangkan. Terimakasih untuk "trip jebakan"nya.
Langitnya indah ya, iya seindah senyumanmu ๐Ÿ˜˜


Menuju senja


Setelah melewati jalanan berbatu, terjebak dilumpur, akhirnya mata dimanjakan oleh kehadiran sunset pas didepan mata


Eh ada mamas tukang bakso ditengah hutan


Saat motornya kak Khalid keluar jalur ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Saat kak Taufik terjebak di lumpur ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Kondisi jalan menuju sekolah


Harus melewati jembatan ini


Dan juga melewati sungai


Ini sekolah kedua yang kami survey


Kondisi adik-adik belajar


Sekolah pertama yang kami survey (tampak luar bagus)


Didalam gak ada kursi, siswanya digabung berdasarkan kategori. Bukan dipisah berdasarkan kelas seperti sekolah pada biasanya




Bersyukur



Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?
Alam raya yang begitu indah
Kesehatan yang masih terjaga
Nafas yang masih gratis
Makanan yang masih bisa kita santap
Pakaian yang masih bisa kita pakai
Keluarga yangsehat yang masih selalu ada
Sanak saudara, handai taulan, sahabat dan teman yang masih selalu menemani
Ngantuk yang masih kita rasakan
Tidur yang masih pulas
Kesibukan yang masih diamanahkan
Aktifitas yang masih bisa kita lakukan
Pup yang masih rutin
Lalu? Pantaskah kita mengeluh dengan begitu banyaknya nikmat yang tiada henti. Begitu banyaknya anugerah yang masih berlimpah, masih kita pantas untuk kurang bersyukur? Dengan begitu banyaknya rahmat dan berkah yang kita dapatkan, tak malukah kita jika masih melalaikan perintah-Nya?
Mari sejenak merenung, jangan sampai kita menjadi manusia-manusia yang kufur nikmat. Demi masa, sesungguhnya manusia kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kebenaran.

Tak perlu!



Tak perlu terus-terusan mengutuk, lebih baik berdamai.
Tak perlu saling menghardik, lebih baik menikmati.
Semakin keras kita melawan, semakin kuat kenyataan itu menerpa.
Layaknya kopi, hitam pahit pun masih bisa kita nikmati.

Tak ada yang kekal, semuanya fana, tak perlu saling memuja pun tak usah begitu terlena. Semua hanya sementara, semua akan berlalu. Pahit manis kehidupan akan datang silih berganti. Cukup menikmati, berdamai dengan keadaan. Mengikuti alur cerita yang ada, melakoni peran dengan apik, hingga tak ada sesal yang menanti. 

Lakukan yang terbaik yang kita bisa, persembahkan seluruh kemampuan yang kita punya, hingga satu masa kita mengenang sesuatu yang telah kita lakukan dengan rasa haru dan bahagia.

Rabu, 05 April 2017

Sevisi vs Serevisi


Geli sendiri kala mengingat obrolan absurd malam itu dengan salah seorang teman. Awalnya membahas kegiatan sosial, berlanjut ke mimpi berakhir ke pasangan hidup. Memasuki usia ¼ abad kok pembahasan apapun pasti akan nyerempet ke pasangan hidup ya. Mungkin memang sudah waktunya kali ya. Hihihi
 
Kembali ke pembahasan sevisi dan serevisi, menurut mbak Himzah dalam buku “Cinta yang Baru” saling mencintai belum tentu sevisi, namun sevisi insya Allah bisa saling mencintai. Dalam catatan yang lain kita pun sering membaca bahwa sebuah pasangan ideal harusnya bisa saling menerima dan memahami, bukan saling menuntut dan merubah satu sama lain.

Tiba-tiba pikiran genit pun bermain. Kayaknya enak ya kalo punya pasangan hidup yang sevisi, bisa berdiskusi panjang lebar sampai lupa waktu dan bisa berkolaborasi dalam banyak hal. Tak perlu takut melakukan kegiatan ini itu karena kan sudah sevisi, jadi bisa saling bahu membahu dan saling mendukung.

Dulu, beberapa waktu yang silam. Ketika ditanyain kapan nikah, pasti selalu bilang nanti-nanti aja deh, belum kepikiran dengan dalih “ingin membahagiakan diri sendiri dulu, ingin traveling, ingin puas-puas menikmati hidup, kalau sudah nikah nanti banyak larangan ini itu”. tapi setelah mikir-mikir alasan-alasan itu bisa saja digugurkan ketika menemukan pasangan hidup yang sevisi. Yang dulunya memiliki impian Menyelesaikan S2-Kerja-Nikah, tapi kalau ternyata Allah membalik polanya ya gak masalah, malah alhamdulillah banget. Artinya itu yang terbaik.

Rasa-rasanya sekarang bawaannya pengen nikaaaaah aja, bahkan sudah tersusun rencana di tanggal 01-09-2017 insya Allah NIKAH! Emang udah punya calon? Emang udah siap? Emang ada yang mau? Hahahaha. Nah, kalau Allah berkehendak, kita bisa apa coba? Bukankah Allah sang maha segalanya. Allah pemilik apa yang ada dilangit dan di bumi, tak ada yang tak mungkin jika Allah berkehendak. 

So? Mari memantaskan diri, terus bermunajat kepada Allah agar diberikan jodoh yang terbaik. Kalau Allah sudah bilang ya, bagaimanapun caranya pasti akan bertemu. Soal calon nanti akan datang disaat yang tepat, disaat kita benar-benar siap. Bukankah salah satu cara untuk saling menemukan adalah berhenti saling mencari? Dan tetap istiqomah menjalankan perintahnya, memantaskan diri. Karena jodoh kita adalah cerminan diri kita, jadi kalau mau mendapatkan jodoh yang baik, harusnya memperbaiki diri terlebih dahulu. Soal kesiapan? Kesiapan akan datang setelah kita melalui proses, tak ada yang tak bisa selama kita berusaha. Tak ada yang susah selama kita mau belajar. Bukankah waktu kecil pun kita memulai dari merangkak, belajar berdiri, lalu belajar berjalan. Intinya adalah belajar dan menikmati proses dan berdamai dengan keadaan.

Bismillah, NIKAH 2017!


Moment To Remember

  Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...