Jumat, 27 Januari 2017

2 dari sekian

2 dari sekian orang yang berkontribusi membentuk karakterku. 2 dari sekian orang yang menemani melewati masa menjemukan dikampus. 2 dari sekian orang yang tetap bersamaku dalam keadaan bagaimanapun, 2 dari sekian orang yang tak kuragukan lagi kesetiakawanannha, 2 dari sekian orang yang membersamaiku setia menikmati indahnya alam, 2 dari sekian orang yang kusayangi. Dulu, pernah beberapa kali ingin hengkang dalam dunia mapala. Bukan karena tak kuat lagi mendaki, tapi proses pengkaderan yang begitu keras. Begitu banyak tekanan. Tuntutan loyalitas  dan totalitas. Kalo saja waktu itu tidak khawatir mendapat sinisme, saya pasti memilih keluar saking tidak tahannya. Waktu berjalan perlahan, dan mencoba menikmati setiap detiknya meski berat. Tapi saya percaya seberat apapun pasti akan terlewati. Tahun kedua di kampus dan di Mapala saya sudah mulai terbiasa dengan ritme yang "keras".

Dan sekarang, mereka adalah 2 orang yang kudedikasikan ucapan terimakasih. Karenanya saya menjadi pribadi yang kuat, tegar dan mampu bertahan di segala medan. Ketika pergi jauh dari kampung halaman, jauh dari keluarga, tidak ada siapa-siapa. Barulah pemgkaderan itu terasa. Ketika mendapat gesekan dari masyarakat, rasanya tidak ada apa-apanya. Toh hal yang lebih keras dari pada itu pernah saya alami. Ketika mendapat tugas yang harus segera diselesaikan, ini tak menjadi persoalan. Toh pernah mendapat tekanan yang jauh lebih berat.

Terimakasih untuk semua hal yang tak biasa yang kita lalui bersama hingga menjadikanku pribadi yang tak biasa.

Love ya kaks.




Kamis, 26 Januari 2017

Ah sudahlah



Awalnya kufikir semuanya baik-baik saja. Dan kejadian “buruk” di perbincangan awal kami hanyalah pendapat subjektif saya semata. Tapi kok rasa-rasanya semakin kesini semuanya semakin buruk. Dia yang harusnya mengambil andil besar kok semakin nganu saja ya.

Ah shit, saya masih berusaha menekan egoku. Berkali-kali berkata kepada diri sendiri harusnya saya yang mengalah, harusnya saya yang lebih mengerti. Tapi tapi, hati kok rasa-rasanya selalu menolak. Dia kan harusnya begini, dia kan harusnya begitu. Pola “harusnya” pun semakin menyesakkan.

Semangat berkobar yang kubawa tak luntur oleh hujan yang mengguyur dengan derasnya. Kuterobos hujan yang datang menyerang. Kupaksakan diri meninggalkan kasur yang mempunyai gravitasi yang sangat besar. Genangan yang sesekali mencipratkan kenangan kesekujur tubuh tak kuhiraukan. Semangat itu masih kujaga utuh demi sebuah pertemuan untuk perubahan.

Hingga tiba satu titik, bertemu dengan dia. Dia yang menurutku harus ini dan harus itu. Kok jadinya kayak begitu ya. Hati pun berkecamuk. WTF. Harus kerjasama dengannya selama beberapa bulan kedepan.

Awal yang buruk, fikirku. Berbagai cara kulakukan untuk mengembalikan mood yang sudah berantakan. Tapi tak satupun yang kuasa menormalkan. Kekesalan itu masih saja menyesakkan, moodku pun tak kunjung normal. Tawa terbahak pun ternyata hanyalah kamuflase dari sebuah sikap untuk menunjukkan saya dalam keadaan baik-baik saja. Nyatanya, kekesalan itu merobek-robek perasaanku.

Ah, harusnya tercipta kenyamanan dalam sebuah kerjasama. Harusnya ada kerjasama dalam sebuah tim. Tapi ah sudahlah. Semoga ketidaksukaan ini secepatnya berubah. Semoga ada titik dimana kenyamanan itu saya dapatkan.

Memanglah benar, semuanya akan kelihatan baik-baik saja ketika kita berada diluar lingkaran. Semuanya nampak begitu sempurna ketika kita hanya saling mengenal luarnya semata. Beda cerita ketika kita harus mengenal lebih dalam. Ego pun perlahan akan mencuat, gesekan emosional tak akan terhindarkan. 

Ah sudahlah. Mungkin lagi PMS, mungkin karena cuaca yang mendung membuat suasana hati ikut murung, ah mungkin saya yang terlalu perasa, ah mungkin yang terlalu cepat menafsirkan, ah harusnya saya mengerti mungkin dia punya alasan kenapa seperti itu,  Ah mungkin mungkin mungkin. Ah sudahlah.

Rabu, 25 Januari 2017

Happy wedding my bestie



Saat kau mendapat banyak kiriman undangan dari teman seperjuangan, entah itu teman SD, SMP, SMA atau kuliah. Artinya kau sudah memasuki usia senja.

Kenal saat masih kacuping, masa peralihan dari SD-ke SMP, dari masa kanak-kanak hingga remaja. Tepatnya 13 tahun yang lalu. Akhirnya doi melepas masa lajangnya setelah 9 tahun pacaran. Wow 9 tahun coy, kalo nyicil rumah itu mah udah lunas, kalau anak sudah masuk kelas 4 SD.

Alhamdulillah, setelah melewati lika liku hubungan yang alot selama beberapa tahun, menjalani LDR, akhirnya hubungan yang telah dijalin sah di depan penghulu setelah ijab di kabulkan.

Doi, sahabat yang kukenal sejak kelas 1 SMP, teman bertengkar, teman jalan, teman berbisnis, teman menggosip dan teman dalam banyak hal. Hari ini, hari dimana doi resmi menjadi seorang istri. Ada rasa bersalah juga sih sebenarnya, selama proses menuju ke hari H saya tidak bisa membantu banyak, bahkan masih sempat cekcok. 

Kain yang telah dibelikannya waktu itu tak kunjung kuambil. Hingga satu hari chat via BBM darinya masuk, dengan nada kesal dan memelas “eh kamu kemana aja, kain yang aku beliin kamu anggurin gitu aja, acaraku udah deket woii”, setelah melihat kalender dan hitung mundur, acaranya memang kurang dari 10 hari lagi. Akhirnya saya menyempatkan untuk datang kerumahnya mengambil kain, sebelum dicoret dari daftar teman yang pernah dia kenal.

Setelah itu beberapa hari kemudian, doi masih sering ngehubungin untuk datang menemuinya, tapi karena ke sok sibukan tak jua sempat kutemui. 

2 hari yang lalu, dia menghubungi memintaku datang di prosesi Mappaccing yang diadakan selasa malam. Lagi-lagi tak kusempatkan datang karena satu dan lain hal. Puncak acaranya hari ini dimana akad nikah akan dilangsungkan lagi lagi saya tak menyempatkan datang. Datangnya malah ba’da duhur setelah drama ketiduran dan bangun kaget terjadi. Dan surprisenya jadi tamu terakhir sebelum kedua mempelai menanggalkan pakaian pernikahan :’(.

Dengan membawa rasa bersalah, saya dengan muka tebal dan memelas datang ke pesta pernikahannya. Ketika salaman dan cipika cipiki saya mendapat semprotan “kenapa baru datang, semalam gak datang, hari ini gak datang akad nikah, kamu kayak orang lain aja”. Jleeeebbb, sahabat macam apa saya ini? 

Karena alasan ke sok sibukan tak pernah menyempatkan diri meluangkan waktu untuknya. Maafkan diriku bibeeeh Huhuhuhu.

Satu hal yang tak luput dari doaku untukmu, meski raga tak hadir dalam beberapa prosesi penting dalam perjalanan hidupmu. Doaku agar kau selalu sehat, bahagia, menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah. Selamat menempuh hidup baru sahabatku. Selamat membangun pondasi rumah tangga dengan berbagai drama kehidupan yang kau tuai nantinya. Berkah pernikahannya, langgeng dunia Akhirat.
Mumuaaach :*

Selasa, 24 Januari 2017

Si(apa) yang salah?



Sejak kecil kita sudah di doktrin untuk menjudge orang lain. Sadar atau tidak doktrin dan justifikasi yang kita dapatkan sewaktu kecil mengakar dan menjamur hingga kita beranjak remaja dan dewasa. Terima atau tidak doktrin yang kita dapatkan sejak dini membentuk pola pikir kita hingga di usia senja.

Kita terbiasa untuk menyalahkan orang lain, atas sebuah hal yang terjadi kita dengan enteng mencari kambing hitam, ini gara-gara si anu, si itu sih gak solid, si ini sih gak bisa diajak kerjasama. Semua karena orang lain. Masih lekat diingatan, dan mungkin bukan cuman saya yang mengalami hal ini, tapi hampir semua anak kecil. Coba perhatikan ketika anak kecil terjatuh kita menyalahkan hal yang membuatnya tersandung, memukul dan sekali-kali mencaci, lalu menenangkan si anak yang mulai menangis. Dan pada akhirnya ketika kita beranjak dewasa kebiasaan tersebut ikut serta. Ketika kita kesakitan kita mencari siapa yang bisa kita salahkan atas sakit yang kita alami. Kita selalu lupa untuk mencari sebenarnya apa yang salah. Fokus kita hanya kepada siapa yang salah.

Kita pun gampang menjustifikasi sesuatu, ini benar ini salah, ini pahala ini dosa, ini surga dan ini neraka. Hidup kita seolah diseret untuk tergerus ke penilaian. Ah sadar tidak sih, penilaian itu mematikan. Mematikan kreatifitas, membatasi ruang gerak, menekan tindak tanduk. Penilaian seolah menjadi tolak ukur kebahagiaan yang kita rasakan.

Kadang kita lupa memaknai sesuatu karena terlalu sibuk menilai. Kadang kita tidak mendapat pelajaran dari suatu masalah karena kita sibuk mencari siapa dalang dari masalah yang kita hadapi. Fokus kita terseret kesitu, hingga kita luput untuk berbenah diri menemukan sebenarnya apa yang salah dan dititik mana kita harus introspeksi dan memperbaiki.

Ketika kita mengetahui siapa yang salah, ketika kita dengan enteng menyalahkan orang lain. Lalu? Apa yang kita dapatkan? Kepuasan? Setelah itu apa? Saling hujat dan membenci?

Oh sayang sekali. Banyak hal yang harusnya bisa kita maknai, bisa kita pelajari, bisa kita benahi. Tapi semuanya terlewat begitu saja, karena mencari siapa yang salah terkadang jauh lebih penting dari pada membenahi apa yang salah.

Senin, 23 Januari 2017

Dik



Dik, nikmati masa kecilmu. Jangan terlalu cepat tergiur melihat orang dewa sa, jangan terlalu menggebu ingin cepat dewasa. Nikmati saat-saat bermainmu yang ceria. Berkotor-kotor tanpa perlu jijik, menangis tanpa harus takut mendapat cemoohan cengeng, tertawa tanpa harus takut menahan jaim hanya karena penilaian orang lain, akrab dengan lawan jenis tanpa harus mendapat tuduhan modus, perhatian tanpa harus takut dibilangin tebar jaring.

Dik, nikmati hidupmu yang polos. Jadi diri sendiri tanpa takut melukai perasaan orang lain. Jangan terlalu ingin cepat dewasa dik, jadi orang dewasa itu melelahkan. Harus banyak berpura-pura, harus pintar berdrama, harus lihai dalam bersandiwara.

Dik, teruslah berlari, bermain, jatuh dan bangkit lagi. Menangislah sekencang-kencangnya saat kau kesakitan, lekaslah bangkit saat rasa sakit itu sudah hilang. Saat kau dewasa kelak, kau akan butuh lebih banyak tenaga untuk berpura-pura tegar, menahan tangis hanya untuk kelihatan kau orang yang kuat. Jangan terlalu cepat dewasa dik, jadi orang dewasa itu ribet. Harus banyak memendam agar selalu bisa kelihatan baik.

Semakin matang usia, drama semakin banyak. Hidup yang dulu begitu simple dan enteng berubah menjadi runyam dan rumit. Sekali waktu kita bisa belajar dari anak kecil. Hidup mereka dibuat begitu sederhana. Tak butuh tenaga ekstra untuk berpura-pura bahagia. Bahagianya sederhana, bermain dan terus bermain. Sedihnya pun sesederhana tak punya mainan atau tak kebagian permen, kesakitannya divisualkan dalam bentuk tangis. Tak ada energi ekstra yang terkuras untuk menahan tangis yang ingin meledak. Andai, hidup bisa dibuat sederhana dan sesimple kala kita masih kecil.

Tak ada kekhawatiran berlebih, tak banyak lakon yang kita jalani. Tak mesti mengorbankan perasaan sendiri demi melihat senyum bahagia di bibir orang lain. Ah andai saja. Andai hanya berakhir dalam khayal.

Minggu, 22 Januari 2017

Saya Seorang Wanita



Please, believe me. I’m the real woman.
Duduuuuhh. Kadang heran ya. Saya sudah pake jilbab, pake bedak tebal biar kelihatan putih, pake lipstik cetar. Bahkan dulu sempat belajar pake maskara dan eyelinear, tapi karena labil ekonomi jadi harus memangkas pembelian alat make up demi memenuhi gaya hidup yang lain.  Kok masih ada ya yang nggak percaya kalo saya itu bener-bener WANITA TULEN.

Apa karena wanita tulen selalu di identikkan dengan wanita yang anggun, memakai rok, pake make up cetar membahana, berbicara mendayu-dayu, menggunakan higheels, lembut seperti tepung, putih seputih kapas? Lalu saya yang sering pakai celana dengan sepatu kets bisa dianggap bukan wanita? Duuuuhh kembalikan status saya. Kembalikaaaaannn.

Bukan berarti karena saya acuh sama penampilan, sok strong, banyak bergaul sama cowok jadi bisa dianggap bukan cewek. 

Karena banyaknya kontroversi, saya akan mengadakan klarifikasi kenapa penampilan saya seperti ini. Hahaha gaya ala-ala artis.

Perlu saya tegaskan. Ini sama sekali tidak ada hubungannya karena saya anak Mahasiswa Paling Lama loh ya, bukaaan. Tapi semua ini karena kenyamanan. Selama ini selalu pake jeans biar enak bergeraknya. Saya sadar dirilah ya, saya yang pecicilan, hyperaktif bakalan ribet cyin kalo pake rok. Ntar roknya keinjek , bisa-bisa cium tanah air gratis. Dan juga nih ya, kalau saya duduk biasanya lupa diri dan kadang malu-maluin dan gak ngerti sopan santun. Eh gak nyadar kakinya udah di atas kepala. Kalo pake celana itu gak akan jadi masalah, kalo pake rok berabe ntar cyiin, bisa-bisa jadi tontonan gratis, duduuuuh rugiii dong.

Terus nih ya, kenapa selalu pake sepatu kets. Itu bukan karena mau terlihat tomboy. Kaki saya yang imut dan menggemaskan hanya cocok pake sepatu kets. Keliling ke pasar ikan, sampai ke toko bahan bangunan jarang bisa nemu sendal atau sepatu yang cocok dan pas di kaki. Huhuhu

Karena kenyamanan dan alasan itu akhirnya keterusan sampai sekarang.

Pendapat orang-orang pun nganggap kalau saya itu tomboi dan bukan WANITA. Sekali pake sendal yang anggun di bully, pake baju wanita diketawain, mencoba pake make up dibilangin sakit. Lalu saya mesti gimana?

Gak mungkinlah ya nanti sy nikahnya sama cewek, duh bakal berabe. Ntar mama papa gak bisa punya cucu. OOOPPPSSS, ini ngomongnya sudah ngelantur kemana-mana gak jelas.
Besok dan hari-hari seterusnya akan mencoba feminin, biar kelihatan kalau saya benar-benar wanita. Calon ibu yang baik, calon istri idaman, calon menantu dambaan para mertua. Dan saya siap menikah dengan laki-laki. hihi

Maafkan atas tulisan random dan gaje ini. Saya stuck dan bingung mau tulis apa. Akhirnya jadi sebuah tulisan random hanya untuk tetap menjaga konsistensi untuk menulis setiap hari. -____-

Moment To Remember

  Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...