Jumat, 01 September 2017

Sebuah mimpi yang terbayar lunas



Bermimpilah setinggi-tingginya, seluas-luasnya, bermimpilah tanpa batas. Karena mimpi itu gratis. Nikmati prosesnya, lakukan yang terbaik. Karena setiap mimpi punya hak yang sama untuk di perjuangkan.

Universitas Gadjah Mada merupakan salah satu impian yang sudah kutabung sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Kala itu, salah satu kakak dari teman kelas menempuh pendidikan di UGM. Waktu itu hanya tau, UGM adalah salah satu kampus terbaik yang ada di Indonesia. Sejak itu, saya mulai memupuk mimpi itu. Intinya ya bermimpi, meski tak tau bagaimana cara untuk menuju mimpi itu. UGM yang notabene berada di pulau Jawa dan saya berdomisili di Sulawesi. Tak ada satupun sanak keluarga yang berada di Jawa. Sempat hopeless, dan pasrah untuk mengubur mimpi itu. Namun saya tetap percaya, setiap mimpi punya caranya sendiri untuk diwujudkan. Setiap niat-niat baik pasti ada jalannya.

12 tahun semenjak saya mulai bermimpi, akhirnya mimpi itu bisa saya wujudkan. Meski dengan begitu banyak drama yang terjadi. Tapi percayalah, tak ada mimpi yang terlalu susah untuk diwujudkan jika ada kemauan. Tak ada yang mustahil jika kita terus berusaha. Dan akhirnya, saya telah berada disini. Di kota ini. Dikampus impian. Saya bahagia telah memupuk dan menuai mimpi ini. Akhirnya sekarang bisa merasakan kuliah dan belajar disini. I love what I do. I do what I love.

Yogyakarta, 01 September 1992

Lebar-an



Untuk kali ketiga, menjalankan ritual lebaran jauh dari kampung halaman.
Pertama lebaran di Solo, saat itu lebaran Idul fitri tahun 2015. Kali pertama lebaran jauh dari keluarga. Tidak ada sanak family.  Kebiasaan makan makanan khas lebaran pun tak ada, baju yang dipakai adalah baju koleksi yang sudah lama dibeli, bukan baju baru yang menjadi ciri khas lebaran di kampung. Waktu itu lagi masa belajar menulis selama satu minggu di Solo.

Lebaran kedua yang jauh dari keluarga adalah lebaran idul Adha tahun 2015. Tepatnya di Bintuni Papua Barat. Saat itu, saya bersama seorang teman dari Jawa, lagi ada tugas ngajar di English Camp. Lebaran kedua yang jauh dari keluarga ini sangat berbeda dari lebaran-lebaran pada biasanya. Tak ada gema takbir saat malam lebaran, suara masjid pun hampir tak kedengaran. Perjalanan dari asrama ke masjid membutuhkan waktu sekitar 30 menit berjalan kaki. Untuk kali pertama, lebaran di satu tempat yang mayoritas nasrani. Namun, soal toleransi tak perlu dipertanyakan lagi. Toleransi mereka sangat tinggi untuk kami para muslim yang sedang menjalankan ibadah sholat idul adha. Sepulang dari masjid kami balik ke asrama dan memasak mie instan. Bahan baku yang tersedia di asrama kala itu. Bu’de yang biasanya masak di asrama hari itu tak datang karena libur. Jadilah kami menikmati hari lebaran dengan santapan ala anak kostan, mie instan dan telur. Sore harinya panggilan makan dari guru-guru muslim yang juga melaksanakan ibadah idul adha silih berganti. Malam harinya kami bersama anak-anak yang beragama nasrani yang masih memilih untuk tidak pulang kerumah, membakar sate di depan asrama. Suasana kehangata pun terjalin. Meski jauh dari keluarga namun suasana kekeluargaan masih terasa, dengan “keluarga” baru tentunya.

Lebaran ketiga, yakni lebaran idul adha 2017. Hari ini baru memasuki minggu ke empat saya berada di kota Jogja. Kota tempat saya melanjutkan pendidikan. Kota impian yang sejak dulu kuimpikan. Minggu keempat yang bertepatan dengan hari raya Idul Adha. Tak ada rencana untuk pulang. Selain karena libur yang hanya sehari, keberadaanku di kota ini pun belum cukup sebulan. Memilih untuk berlebaran disini adalah pilihan yang terbaik. Teman kostan yang sebagian besar orang Makassar dan memilih untuk tidak pulang kampung menjadi sebuah hiburan tersendiri. Meskipun tak berada dirumah, tapi suasana lebaran masih rasa Sulawesi. 

Sore harinya rejeki anak kos yang tidak sholeha-sholeha banget dapat daging pembagian dari masjid. Malam harinya ibu kost naik ke lantai dua dan memberikan daging lagi untuk anak kost. Akhirnya kita bisa masak makanan rumahan ala Sulawesi. Lebaran jauh dari keluarga tidaklah mesti di dramatisir dengan perasaan sedih berlebihan. Ada banyak media yang bisa mendekatkan.
Selamat hari raya Idul Adha. Selamat hari jumat. Jangan lupa bahagia.
Yogyakarta, 01 September 1992

Jumat, 25 Agustus 2017

Akademik vs Non Akademik



Nilai bukan hanya berarti score tapi juga value. Bukan hanya tentang angka tapi juga tentang makna.

Bisa jadi, saya adalah salah satu mahasiswa yang cepat puas terhadap nilai. Waktu S1 dapat nilai B saja sudah sangat senang, yang penting mah lulus. Disaat teman-teman yang lain belajar mati-matian untuk mendapat nilai A, saya masih anteng-anteng saja belajar sambil berkegiatan diluar aktifitas akademik. Hingga nilai akhir di IPK keluar 3.50. kurang 0,1 hingga mendapat predikat cumlaude. Namun apalah daya, bukankah hasil selalu berbanding lurus dengan usaha? Alhamdulillah banget sih dapat nilai 3.50, setidaknya dalam berbagai seleksi. Baik pekerjaan maupun beasiswa, bisalah masuk dalam kualifikasi. Kuliah jalan, organisasi dan berkomunitas pun berjalan.

Sekarang, saat mengecap pendidikan sedikit lebih tinggi. Tingkat kesulitan pun bertambah. Apalagi kuliahnya di salah satu kampus idaman, pun juga kuliah hasil dari uang “pinjaman” rakyat. Ada beban moril dan tanggung jawab besar yang mesti di emban. Tak bisa lagi semena-mena dalam proses perkuliahan. Ada “hutang” yang harus dibayar dengan prestasi dan kontribusi.

Niatnya, saat duduk dibangku pascasarjana rasanya ingin vakum dari berbagai hal diluar kampus, dan fokus belajar seperti mahasiswa kebanyakan. Belajar serius - dapat IPK tinggi - lulus cepat - dapat kerja. Tapi yah, jiwa untuk terus berkegiatan diluar kegiatan akademik terus meronta-ronta. Ya mau gimana lagi, harus dijalani dua-duanya. Belajar sekuat tenaga untuk terus menyelaraskan antara keduanya tanpa melupakan tujuan utama. Kuliah adalah prioritas, dengan tanggung jawab moril harapan jutaan rakyat Indonesia. Bagiku, prestasi akademik dan IPK tinggi itu penting, tapi berkegiatan non akademik pun tak kalah pentingnya.

Suatu saat nanti, yang akan membantu pasca kuliah adalah jaringan pertemanan yang dibangun ketika proses perkuliahan, yang akan sangat bermanfaat dalam dunia kerja nantinya adalah pengalaman. Dan pengalaman tidak sepenuhnya didapatkan didalam ruang perkuliahan, tapi banyak didapatkan diluar kelas. Kelak yang akan terceritakan adalah pelajaran kehidupan, bukan prosses belajar mengajar di kelas. Pelajaran akademik hanya sepersekian persen yang digunakan di dalam dunia kerja, IPK tinggi hanya akan menjadi bobot penilaian dalam formalitas penerimaan seleksi baik kerja maupun beasiswa. Tapi setelah itu yang memberikan kontribusi besar adalah pengalaman nyata, bukan hanya teoritis.

Semoga mampu menyeleraskan keduanya, sehat-sehat terus untuk menjalankan keduanya dengan maksimal, belajar untuk memanajemeni waktu dan semoga mampu menyanggah cibiran kaum sinisme dengan prestasi akademik dan non akademik yang terbaik. Semoga

Selasa, 22 Agustus 2017

Benarkah?



Hidup adalah pilihan. Sering sekali kita mendengar teori kalo hidup itu pilihan. Dan tak jarang pula teori hanyalah berhenti di teori, terbentur oleh realitas. Dulu, saya sering berfikir bahwa hidup itu memang harus memilih. Kita punya hak atas hidup yang  kita jalani, mau dibawa kemana dan bagaimana, itu adalah sepenuhnya hak kita yang melakoni. Namun, waktu mengajarkan banyak hal. Waktu membuktikan bahwa hidup adalah pilihan mungkin hanyalah sebatas teori.

Terkadang kita harus menjalani sesuatu, bukan karena memilih untuk menjalani. Tapi karena harus menjalani. Terkadang, kita harus pergi. Bukan karena memilih untuk pergi, tapi karena memang harus pergi. Terkadang, kita harus meninggalkan, bukan karena tak ingin lagi bersama, tapi karena pergi adalah sebuah keharusan.

Lantas, masihkah berlaku teori hidup itu adalah pilihan? Disaat kita tak punya lagi hak untuk menentukan hal yang harus kita jalani dalam hidup kita? Biarkan waktu yang menjawabnya. Rangkaian proses kehidupan akan menjawab berbagai teka-teki yang dulu dan atau sekarang masih sebatas pertanyaan. Lets enjoy the life.

Kamis, 17 Agustus 2017

Masih tentang jarak



Kita tidak berpisah, hanya berjarak.

Sing : Aku hanya pergi, tuk sementara. Bukan tuk meninggalkanmu, selamanya. Aku pasti kan kembali, pada dirimu tapi kau jangan nakal, aku pasti kembaliii.

Aku pergi untuk memantaskan diri, agar aku tak lagi krisis identitas, agar aku mempunyai “status”. Hahaha.

Berat, sangat berat buatku. Meninggalkan segala hal yang telah kita bangun bersama. Sesuatu yang sama-sama kita mulai dari nol. Dua hal bagiku yang sama-sama berat kutinggalkan. Aku tak memungkin memilih, karena sekarang aku tak punya kuasa untuk itu. Ini bukan sebuah pilihan, ini adalah keharusan yang mesti kujalani. ini adalah mimpi yang sejak dulu kubangun. Mimpi yang sekarang menjadi nyata. 

Dari sekian banyak hal, kamu adalah sesuatu yang paling berat kutinggalkan. Aku takut jarak akan membuatmu berubah. Aku takut kenyamanan yang sudah begitu lekat menguap karena jarak. Aku takut kamu akan melupakanku karena ragaku tak lagi mampu untuk bersua.

Maafkan aku yang belakangan ini sering baper, aku hanya takut kehilangan. Aku hanya takut kau berubah. Aku hanya tidak mau kau tidak lagi menganggap keberadaanku karena adanya jarak.

Terima kasih untuk loyalitas yang masih membara, terima kasih untuk semangat yang tak pernah pudar, terima kasih untuk komitmen yang masih terjaga. Dan terimakasih karena jarak, karenanya aku mengerti arti sebuah kehadiran dan rindu.

Terucap doa yang tiada henti, kepada sang maha segalanya. Untukmu, untukku, untuk kita yang akan selalu ada, yang akan terus bertahan dan yang akan terus saling menguatkan.

Moment To Remember

  Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...