Biar saja kita seperti ini. Aku dengan duniaku, kamu dengan duniamu. Dan kita tertawa bersama tanpa pernah melibatkan perasaan.
Biar saja seperti ini, kau punya pacar, dan kita sering keluar bersama tanpa sekalipun kau bahas tentang pacarmu
Biar saja seperti ini, kita berteman tapi kamu selalu ada jika aku butuh, jangan sekali-kali bahas tentang hubunganmu dengan kekasihmu, karena kau tau itu adalah hal yang menyakitkan.
Biar saja seperti ini, kita menikmati setiap detik bersama meski kutau akhirnya kita akan berpisah
Biar saja seperti ini, kita menikmati dan menjalani hari bersama meski kutau cepat atau lambat kita pasti akan berpisah
Apapun yang akan terjadi di masa depan, biarkanlah saja. Yang kutau pasti, saat ini, detik ini. Aku bahagia bersamamu. Aku bahagia selalu disampingmu. Aku bahagia karena pernah menyayangimu.
Bagaimanapun keadaannya nanti, biarkanlah saja. Yang kuingat pasti adalah aku pernah berada di masa ketika aku tak rela ada seorang pun yang menyakitimu. Aku pernah berada di masa aku tak akan membiarkan dunia menyakitimu.
Rabu, 21 Februari 2018
Minggu, 18 Februari 2018
Zona Nyaman
Aku takut
Takut terjebak kenyamanan hingga akhirnya aku takut kehilangan
Aku takut
Takut terjebak kenyamanan hingga tak rela melihatmu dengan orang lain
Aku takut
Takut terjebak kenyamanan hingga merasa berhak mengatur hidupmu seperti yang kumau
Aku takut
Takut terjebak kenyamanan hingga membuatmu tak lagi merasa nyaman
Aku takut
Takut terjebak kenyamanan hingga sehari saja tak ketemu dengamu mampu membuatku uring-uringan
Aku takut
Takut terjebak kenyamanan hingga menjadikanmu prioritas diatas segalanya
Aku takut
Takut terjebak kenyamanan hingga selalu menuntutmu selalu ada
Aku takut
Takut terjebak kenyamanan hingga banyak menuntut ini itu darimu
Aku takut terlalu nyaman denganmu hingga akhirnya aku harus sakit karena harus menerima kenyataan bahwa kita terjebak friendzone, yang hanya mampu menyayangi tanpa bisa memiliki
Aku takut akan kenyamanan. Karena kutau, ada yang lebih berbahaya dari jatuh cinta yakni zona nyaman.
Takut terjebak kenyamanan hingga akhirnya aku takut kehilangan
Aku takut
Takut terjebak kenyamanan hingga tak rela melihatmu dengan orang lain
Aku takut
Takut terjebak kenyamanan hingga merasa berhak mengatur hidupmu seperti yang kumau
Aku takut
Takut terjebak kenyamanan hingga membuatmu tak lagi merasa nyaman
Aku takut
Takut terjebak kenyamanan hingga sehari saja tak ketemu dengamu mampu membuatku uring-uringan
Aku takut
Takut terjebak kenyamanan hingga menjadikanmu prioritas diatas segalanya
Aku takut
Takut terjebak kenyamanan hingga selalu menuntutmu selalu ada
Aku takut
Takut terjebak kenyamanan hingga banyak menuntut ini itu darimu
Aku takut terlalu nyaman denganmu hingga akhirnya aku harus sakit karena harus menerima kenyataan bahwa kita terjebak friendzone, yang hanya mampu menyayangi tanpa bisa memiliki
Aku takut akan kenyamanan. Karena kutau, ada yang lebih berbahaya dari jatuh cinta yakni zona nyaman.
Jumat, 26 Januari 2018
Maestro
MAESTRO
.
Bukan hanya sekedar organisasi, tapi juga rumah
.
Disini, saya menemukan bahwa untuk bersaudara, tak melulu tentang hubungan darah
.
Disini, saya menjadi apa adanya dan diterima apa adanya tanpa syarat
.
Disini, saya tak pernah menemukan pujian, tapi celaan. Celaan yang berarti pujian, dan pujian yang berarti celaan
.
Disini, saya pernah bahagia, kecewa, tertawa, menangis dan berharap
.
Disini, saya pernah merasakan dendam dan juga rindu
.
Disini, saya belajar banyak hal, tentang dinamika kehidupan, tentang perjuangan, tentang persaudaraan, tentang petualangan, tentang memahami, tentang bertahan, tentang jatuh dan bangun
.
Disini, saya diajarkan bahwa perjalanan itu sesulit apapun pasti akan berujung
.
Disini, saya diajarkan bahwa puncak hanyalah bonus, dan pulang adalah suatu keharusan
.
Disini, saya berproses dan "dibentuk"
.
Disini, saya menemukan "rumah", tempat yang selalu dirindukan untuk pulang
Selasa, 19 Desember 2017
Dirimu berharga
Pernah merasa hidupmu tak berguna?
Pernah punya niatan untuk menghilang?
Pernah merasa tidak dihargai?
Pernah merasa apa yang kamu lakukan kok sia-sia?
Wajar! Namanya
juga manusia. Perasaan-perasaan seperti itu pernah menyapa hampir semua orang. Namun,
pernah tidak berfikir kalau dirimu itu ternyata berharga? Ternyata kehadiranmu
dirindukan oleh banyak orang. Ternyata hidup yang selama ini kau anggap
biasa-biasa aja begitu berarti bagi orang lain. Pernah tidak memikirkan itu?
Pernah tidak berusaha menghargai diri sendiri?
Pernah tidak mengapresiasi diri sendiri?
Pernah tidak menyadari bahwa dirimu itu berarti dan
berharga?
Kehidupan
pesimisme atas diri sendiri terjadi karena kebiasaan kita membandingkan diri
kita dengan kelebihan orang lain. Kenapa sih mesti melakukan itu? Ketika ternyata
kita mampu menjadi terbaik versi diri kita.
Haru campur
bahagia, ketika mendapati kenyataan bahwa kehidupanku yang aku anggap
biasa-biasa saja, kehidupan yang sering aku keluhkan, kehidupan yang sering aku
banding-bandingkan dengan orang lain, ternyata begitu berharga. Orang-orang
yang menyayangiku begitu banyak.
Saat musim
ujian, ketika tugas menyerang bertubi-tubi, aku kedatangan tamu. Di waktu dan
kondisi yang tidak tepat. Ini bukan kali pertama aku kedatangan kamu semenjak
aku tinggal di kota ini. Tapi ini adalah tamu yang datang di waktu yang tidak
tepat namun begitu membuatku speechless. Gimana
gak, dia datang ke Jogja khusus untuk bertemu denganku. Belajar bersamaku. Dia
dulunya adalah murid privateku ketika aku masih di Makassar. Dan ketika dia
libur, dia bela-belain nyamperin ke Jogja untuk bertemu dan belajar. Sesuatu yang
membuatku tak habis fikir, kok bisa dia melakukan itu. Padahal tempat kursus di
Makassar banyak banget, kenapa mesti kesini untuk belajar denganku? Sespesial
itukah aku untuknya? Seberharga itukah aku baginya?
Belum lagi
cerita sahabatku ketika kuliah S1 dulu, masih teringat ceritanya ditelefon
beberapa waktu lalu, ketika dia menyuruhku segera pulang dan dia menceritakan selama
aku pindah kota dia tidak pernah ke mall lagi karena tidak ada teman. Padahal aslinya
dia memiliki banyak teman yang bisa diajaknya untuk jalan-jalan.
Cerita yang
lain datang dari teman-teman yang lain, bagaimana mereka merencanakan untuk
bertemu denganku, mengajakku jalan-jalan ketika aku pulang kelak. Hal sederhana
yang mampu membuat air mataku terkadang tak terbendung.
Sepenggal cerita
yang selalu menjadi reminder ketika
aku merasa hidupku “tidak berharga”, sebuah alarm
ketika aku merasa terjatuh. Ternyata hidupku begitu berharga, ternyata
kehidupan yang menurutku biasa-biasa saja begitu luar biasa bagi orang lain,
dan aku menyadari satu hal kemanapun aku
pergi, sejauh apapun kaki ini melangkah, ada “rumah” tempatku kembali. Ada orang-orang
yang tetap dan akan selalu mencintai dan menyayangiku tanpa syarat.
Kamis, 14 Desember 2017
Normalkah?
Wajarkah?
Normalkah?
Saya
wanita berusia 25 tahun dan saya masih sangat menikmati kesendirian. Saya
bergaul dengan banyak orang, saya bermain kemanapun saya ingin, saya melakukan
banyak kegiatan hingga terkadang lupa untuk memikirkan diri sendiri. Dulu, saya
berpikir ketika menempuh pendidikan pascasarjana saya akan bertemu dengan banyak
orang-orang tua di kelas. Nyatanya, ketika saya menjalaninya, saya dipertemukan
dengan anak-anak yang usianya 3-4 tahun dibawah umur saya. Saya menikmati
bersama mereka, saya terhanyut dalam pikiran dan dunia mereka, hingga saya
lupa. Sekarang, umur saya sudah ¼ abad.
Apalagi
yang dipermasalahkan oleh orang-orang terhadap wanita ¼ abad selain pembahasan
pernikahan? Entah, masihkah ini tergolong wajar, masihkah saya normal jika
diumur saya yang ¼ abad ini belum memikirkan soal pernikahan. Saya menolak dewasa,
permasalahan orang-orang dewasa begitu pelik. Saya menikmati kesendirian, beraktifitas
dan bebas tanpa ikatan. Saya resah, saya khawatir jika saya terus seperti ini,
saya akan melewati hari-hari tua seorang diri.
Pergaulan
dengan banyak orang di masa lalu, dengan banyak tipe lelaki, dari yang baik
hingga yang paling brengsek, dari yang setia hingga yang rutin gonta ganti
pacar. Membuat secara sadar atau tidak saya mengalami “trauma”, skeptis
terhadap suatu hubungan, apalagi saat mendengar kalimat-kalimat dari orang
orang yang sudah menikah bahwasanya keindahan pernikahan hanya 3 bulan pertama,
selebihnya hanyalah tanggung jawab. Saya makin ragu untuk menjalaninya.
Arrghhh.
Sampai kapan harus seperti ini, bayangan “hukuman sosial” pun sudah didepan
mata. Hardikan dan cibiran orang-orang, mendapati wanita separuh baya yang
masih betah sendiri. Bukan, ini bukan betah. Hanya saja masih belum menemukan
orang yang tepat.
Saya
takut. Takut sama diriku sendiri. Jangan-jangan saya yang membentengi diri. Saya
yang memasang tembok yang begitu tinggi hingga tak ada orang yang mampu untuk
menembusnya. Banyak orang-orang yang dekat, namun tak seorang pun yang
berkesan. Saya khawatir, resah, dan takut. Saya tak tau sampai kapan ini akan
berakhir. Sampai kapan ada orang yang benar-benar bisa saya terima dalam hidup
saya. Sampai kapan saya betah dengan diri sendiri.
Minggu, 10 Desember 2017
Lagi lagi tentangmu
Fotomu
yang paling natural. Foto yang diambil dari jarak jauh dan di zoom beberapa
kali oleh salah seorang teman. Aku suka melihat senyumanmu yang begitu lepas,
bukan hanya “haha” dan “hehe”, ketawa yang terkesan begitu tertahan. Senyumanmu
yang selama ini irit, dan tiba-tiba mendapat foto seperti ini bak oase di
padang pasir, begitu menentramkan.
Dalam
keruwetan dan kepusingan hingga hampir menangis mengerjakan tugas UAS yang
sudah beberapa minggu dianggurkan, aku teringat tentangmu, dan memutuskan
kembali menulis tentang dirimu. Aku ingin berterima kasih atas segala pelajaran
yang telah kau berikan, baik dalam situasi formal ataupun sikap dan tindak
tanduk yang kemudian menjadi pelajaran hidup untukku. Semoga kita akan tetap
bersama, bekerjasama dalam banyak hal, mewujudkan usaha yang pernah
diwacanakan, berdiskusi rutin untuk menambah khasanah pengetahuan kita.
Tuh
kan menulis tentangmu membuat tulisannya pun ikut kaku dan kikuk.
Baru
kali ini, aku yang begitu ceplas ceplos dalam berbicara, berusaha untuk begitu
hati-hati dalam bercuap-cuap dengan seseorang. Dan seseorang itu, kamu! Saat berbicara
denganmu aku begitu berhati-hati. Setiap kata yang terucap aku selalu merasa
bodoh, apapun yang terucap kau selalu mengusut sampai ke akar-akarnya, hingga
seringkali aku harus memutar otak dan menjawab gelagapan pertanyaanmu yang
beruntun, dan disaat itulah kebodohanku akan terkuak -__-. Obrolan yang awalnya
ringan, pembicaraan yang tujuannya bercanda ketika berbicara denganmu semuanya
berubah menjadi serius.
Namun,
itulah kamu. Dengan ciri khas yang begitu serius. Kalau gak serius pastilah
bukan kamu. Bahkan bercandaanmu pun adalah becandaan yang garing karena candaan
diseriusi. Lagi-lagi pendapat subjektif yang hanya melihat kamu dari luarnya
saja tanpa benar-benar tau kau seperti apa. Meskipun pengetahuanku tentangmu
masih begitu dangkal, namun aku senang bercerita tentangmu, memikirkanmu, dan
menulis pendapat subjektifku tentang dirimu.
Sebenarnya
tak ada yang spesial, namun akupun tak tau mengapa sering sekali menjadikanmu
objek tulisan.
Ada
yang paling menyebalkan darimu, setidaknya itu menurutku. Kau yang begitu
berwibawa akan luluh karena wanita. Ah, mungkin memang benar adanya, harta
tahta wanita adalah 3 hal yang akan membuat pria jatuh. Tapi tak
masalah, kamu kan normal! Jadi wajar saja ketika wanita mampu membuat
kewibawaanmu goyah. Semoga saja tiga hal duniawi tersebut hanya membuatmu
goyah, dan tidak sampai terjatuh.
Lebih
baik diam dan kerja nyata dibanding banyak bicara tapi tidak melakukan apa-apa.
(HI 25th) Nah ini mungkin yang menjadikanmu Nampak
begitu cuek.
Aku
sebenarnya perhatian, katamu. Buktinya? Biarlah akan
terjawab seiring perjalanan waktu. Bukankah
waktu adalah jawaban yang paling indah?
Selasa, 05 Desember 2017
Kau, akan selalu istimewa
Tak salah jika namanya menjadi kota Istimewa. Dulu, sekarang dan nanti akan tetap begitu.
Kota yang penuh dengan kisah dan cerita.
Kota yang berkonspirasi menciptakan persahabatan dan perasaan.
Kota yang tak pernah pudar pesonanya.
Kota yang tak pernah bosan kujamahi.
Kota yang begitu ramah meski penduduknya silih berganti datang dan pergi.
Kota yang penuh dengan kesenian dan kreatifitas.
Kota yang sarat adat dan budaya
kota yang melahirkan banyak rindu
Kota yang mencipta banyak cinta
Kota yang mengajarkan banyak hal
Kota yang akan selalu istimewa ❤
Jogja di awal desember yang cerah (00:14 am)
Langganan:
Postingan (Atom)
Moment To Remember
Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...
-
Pada tulisan kali ini saya akan mengulas mengenai tata cara unggah mandiri ke perpustakaan UGM. Sebelum proses unggah mandiri, seb...
-
Baru 2 bulan kuliah aja, identitasnya udah ilang. Kartu identitas ya. Sebiji kartu penanda untuk meyakinkan orang-orang kalo aku udah mahas...
-
Jangan mengaku menjunjung tinggi toleransi kalau dijalan masih belum bisa pelan-pelan. Duuuh sering kesel sendiri kalau lagi dijalan, dalam...




