Selasa, 02 Mei 2017

Behind the scene of KIKo



Alhamdulillah, setelah persiapan kurang lebih 4 bulan. Akhirnya Kelas Inspirasi Konawe bisa berjalan dengan lancar tepat pada tanggal 28 April, hingga 29 April 2017. Di awali dengan briefing di tanggal 28 April. Dilanjutkan hari Insprirasi dan refleksi di tanggal 29 April 2017.

Begitu banyak pihak yang berperan serta dalam persiapan hingga hari H. Begitu banyak pula dinamika yang dihadapi selama jenjang proses persiapan. “Lem Alteko”, ini menjadi grup yang mengawali terbentuknya Kelas Inspirasi Konawe. Kami yang beranggotakan 7 orang, yang merupakan “sisa-sisa” proses dari Kegiatan Running Book Penyala Makassar.

Hubungan “Alteko” yang begitu indah membuat kami iseng-iseng untuk menjalankan sebuah rencana. Rencana awal adalah jalan-jalan, berbagai spot wisata kami hunting untuk menjadi destinasi kami. Tapi kami pikir-pikir lagi, masa sih cuman jalan-jalan kosong doang, harusnya bisa jalan-jalan berkualitas, akhirnya terpikir untuk jalan-jalan sambil donasi buku, mengingat kami bertujuh berasal dari gerakan yang sama, yakni Penyala Makassar. Nah akhirnya mantap untuk rencana jalan-jalan, donasi buku dan sharing profesi serta mimpi kepada adik-adik yang akan menerima donasi buku. Terpilihlah 3 kota yang akan menjadi opsi tujuan kami. Yakni Bima, Lampung dan Konawe.  Di Bima kami berencana donasi buku dan Trauma Healing berhubung pada saat itu Bima baru saja terkena musibah banjir bandang. Di Lampung karena ada Tubabar mengajar serta di Konawe ada Pengajar Muda.

Pembicaraan di awal tahun 2017 itu pun berlanjut untuk mencari jalan untuk mewujudkan rencana kami. Mencari uang dengan cara “profesional”. Mengingat beberapa dari kami belum memiliki penghasilan tetap, dan ada yang masih mahasiswa. “Jalan-jalan, senang-senang dan meminta uang sama orang tua” tidak masuk dalam opsi kami kala itu. Akhirnya setelah mengerahkan pikiran dan tenaga *tsah. Tercetuslah sebuah jalan pencarian dana dengan cara “profesional”, yakni membuat sebuah bimbingan belajar. Menggali potensi-potensi dari kami bertujuh.

Bimbingan Tes Potensi Akademik, pelatihan Design grafis, serta pelatihan public speaking merupakan beberapa opsi yang menjadi pertimbangan kami untuk mencari uang. Ngobrol-ngobrol berkualitas pada awal tahun tersebut melahirkan banyak catatan. Mulai dari Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang kita butuhkan untuk mewujudkan rencana yang telah kami susun, pembagian job, hingga pembentukan sebuah nama Lembaga Kursus dan Pelatihan yang akan menjadi wadah kami untuk melakukan kegiatan. LKP Panrita lahir pada tanggal 2 Januari 2017 bersamaan dengan rencana untuk jalan-jalan dan donasi buku.

Jadi di waktu yang bersamaan kami bertujuh mengurus 2 hal sekaligus. Rencana kegiatan, dan project pencarian uang. Timeline pun sukses disusun, lengkap dengan pembagian job masing-masing. Saya yang mendapat jatah menjadi tim humas atau narahubung mengubungi kak Mahayu, teman di gerakan Ruang Berbagi Ilmu. Dia memberikan dua kontak, satu di Lampung yakni pengajar di Tubabar mengajar dan satunya lagi kontak kak Melly salah satu Pengajar Muda Konawe. Dari dua orang yang saya hubungi tersebut, cuman pesan singkat melalui WA ke kak Melly yang terkirim, chat WA ke pengajar Tubabar tidak terkirim, mungkin pada waktu itu semua pengajar lagi di desa yang tidak memiliki signal.

Akhirnya berlanjutlah chat bersama kak Melly. Saya mengutarakan maksud dan tujuan kenapa menghubunginya. Rencana kami bersambut baik. Kak Melly dan teman-teman Kons (Pengajar Muda penempatan Konawe) sangat antusias dengan rencana kami. Mereka malah menawarkan “Gimana kalau sekalian buat Kelas Inspirasi aja kak”, kata kak Melly. Saya sangat senang menerima respon yang begitu positif dan semangat yang begitu besar. Saya menyampaikan saran dan tawaran dari kak Melly ke group “Alteko”. Terjadilah polemik diantara kami, ada beberapa yang tidak setuju dengan membawa nama Kelas Inspirasi. Katanya pertanggungjawabannya berat. Banyak hal yang harus kita pelajari. Banyak hal yang menjadi pertimbangan. Namun setelah diobrolkan dan dirembukkan bersama di grup, beberapa hari kemudian kami sepakat untuk membuat Kelas Inspirasi Konawe bekerja sama dengan Pengajar Muda. 

Pembagian job kembali dilakukan, kami sadar bahwa kami butuh pembagian job dan timeline yang jelas. Mengingat kami memiliki kesibukan dan pekerjaan yang berbeda. Apalagi harus menghandle 2 kegiatan sekaligus. Disaat yang bersamaan, dibulan yang sama kami menjalankan 2 project sekaligus. Satu Kelas Inspirasi Konawe, satunya lagi project dari LKP Panrita yang menjadi kendaraan yang akan membawa kami menuju ke Kelas Inspirasi Konawe. Kami dengan keahlian yang berbeda mengambil peran masing-masing, ada yang membuat timeline, ada yang ngadmin, ada yang design, ada yang humas, ada yang membuat modul dan ada yang bertindak sebagai marketing. hihihi

Satu dua minggu semuanya berjalan lancar tanpa kendala. Namun seiring berjalannya waktu dinamika sudah mulai bermunculan, ah bukankah sebuah proses memang penuh dengan dinamika? Kami yang berasal dari background yang berbeda pun memiliki rutinitas yang berbeda diluar 2 project yang telah kami canangkan bersama. Satu persatu sudah mulai hectic dengan prioritas masing-masing. Meski sudah tidak se intens dulu pembahasannya, namun semuanya masih memaksimalkan usaha untuk menjalankan job masing-masing. 

Pembuatan akun sosial media Kelas Inspirasi Konawe serta pembagian job untuk menjadi admin, mendaftarkan Kelas Inspirasi Konawe di website Kelasinpirasi.org , membuat blog Kelas Inspirasi Konawe, serta design flyer pembukaan pendaftaran. Semuanya telah selesai dan kami resmi launching pendaftaran tepat pada tanggal 9 Januari - 9 April 2017. Rentan waktu yang begitu lama yang bertujuan untuk memaksimalkan persiapan dan sounding kegiatan. Kami sadar bahwa Konawe merupakan daerah yang jauh, dan orang-orang butuh untuk mempersiapkan budget dan hunting tiket untuk menuju lokasi.

Sembari proses pendaftaran Kelas Inspirasi Konawe, kami pun tetap menjalankan project dari LKP Panrita. Yakni pengadaan bimbingan CPNS. Dengan penuh optimis kami yakin bahwa akan banyak orang yang mendaftar, kami yakin begitu banyak orang yang bercita-cita untuk menjadi PNS. Kami gencar untuk melakukan sounding. Seiring proses berjalan terjadi lagi polemik diantara kami mengenai range biaya yang akan kami pasang. Karena tidak menemukan kesepakatan harga untuk Pelatihan, maka kami sepakat untuk mengadakan Try Out untuk menjadi tolak ukur harga yang akan kami pasang nantinya, serta melihat seberapa besar animo masyarakat mengenai project yang kami lakukan. 

Kami sepakat untuk mengadakan Try Out CAT CPNS pada tanggal 18 Februari. Disaat yang bersamaan kami menyusun langkah strategis untuk memperkenalkan LKP Panrita serta mempersiapkan berbagai macam hal yang dibutuhkan saat Try Out. Membuat modul, mengetik soal, mendesign flyer, sounding sosmed, membuat website serta membuat aplikasi CAT yang akan kami gunakan untuk Try Out. Untuk merintis usaha tak hanya butuh semangat dan kerja keras, namun juga butuh budget untuk membiayai beberapa hal, termasuk budget pembuatan aplikasi, bayar website serta untuk sounding. Kami harus mengeluarkan modal awal untuk merintis project yang kami lakukan. Sembari terus mengkampanyekan kegiatan Try Out yang akan kami laksanakan.
Alhamdulillah hampir setiap hari ada-ada saja calon peserta yang mendaftar. Meski ketika admin membalas sms dengan memberikan nomor registrasi serta nomor rekening tujuan untuk melakukan pembayaran, terkadang calon peserta sudah hilang entah kemana. Dalam moment seperti ini kalimat ampuh yang menjadi penyemangat kami adalah di php pun kami sudah sangat senang. Artinya sudah ada yang tertarik untuk sekedar mendaftarkan diri meskipun pada kenyataannya tidak jadi ikut menjadi peserta. Hari berlalu hingga hari H Try Out menjelang, hanya 6 dari sekitar hampir 20 orang calon peserta yang membayar. Alhamdulillah.

Try Out CAT CPNS pun berjalan dengan lancar. Meskipun kami “rugi” secara materiil, tapi kami “untung” secara moril dan pengalaman. Setelah Try Out CAT CPNS berakhir. Kami kembali bertemu untuk berembuk memikirkan langkah selanjutnya yang harus kami lakukan. Melihat kondisi peserta yang sedikit padahal pembayaran sudah kami minimalisir semurah mungkin, kami pun berdiskusi untuk plan yang lain. Dengan kenyataan seperti ini tidak memungkinkan untuk melakukan bimbingan CAT CPNS dalam waktu dekat, apalagi dengan biaya jutaan. Mungkin banyak yang ingin mendaftar CPNS tapi belum ada informasi jelas mengenai jadwal penerimaan CPNS. Ini menjadi salah satu faktor kurangnya peserta yang mendaftar. Setidaknya kami mendapat banayk pelajaran dari proses persiapan hingga hari H. 

Kami menyepakati untuk mencari opsi selain CAT CPNS. Untuk CAT CPNS kami saving sambil menunggu momentum yang tepat untuk kembali menyelenggarakannya.

Opsi kedua adalah melakukan Try Out (lagi), dalam hal ini Try Out TPA. Mengingat tidak lama lagi akan terbuka secara serentak pendaftaran program Pascsarjana yang menjadikan TPA sebagai salah satu persyaratan wajib dalam seleksi. Tanggal 18 maret kami sepakati untuk melakukan Try Out TPA. Alhamdulillah animo masyarakat lebih tinggi terhadap Try Out TPA ini, barangkali momentum yang tepat menjadi faktor penunjang yang besar dalam kesuksesan Try Out TPA ini. Lebih baik dari Try Out sebelumnya, TO TPA ini berhasil mendapat peserta sebanyak 10 orang. Dan Alhamdulillah kami sudah mendapat sedikit untuk materi dari Try Out TPA ini. 

Setelah Try Out TPA selesai, kami meet up (lagi) membahas langkah selanjutnya yang akan kami ambil menuju ke Konawe bersama-sama. Ternyata pencarian dana secara profesional tidak berhasil menjadi jalan kami untuk menuju ke Konaw. Kami pun saling bertanya kesediaan satu sama lain untuk berangkat ke Konawe dengan menggunakan biayar pribadi. Satu dua orang sudah mulai mundur karena tidak memiliki budget yang cukup untuk dialokasikan ke Konawe, satu dua orang lainnya memutuskan untuk tidak berangkat karena ada pekerjaan kantor yang tidak bisa ditinggalkan serta tidak mendapat ijin berangkat dari orang tua karena jarak yang lumayan jauh. Alhasil hanya 3 dari 7 orang yang berhasil berangkat ke Konawe. 

Meski tidak semua berangkat, kami masih kompak untuk mempersiapkan Kelas Inspirasi Konawe. H-3 minggu penutupan kami gencar untuk melakukan sounding. Sembari meminta tolong kepada panlok untuk melakukan sosialisasi secara offline kepada para profesional di Konawe, mengkampanyekan Kelas Inspirasi ke steak holder setempat. Komunikasi secara virtual menjadi kendala kami, apalagi dunia kerelawanan adalah hal yang baru bagi para panlok. Kami berusaha berproses bersama-sama dari dasar, meskipun tak jarang para panlok tidak menggubris. Kehadiran PM yang hanya sekali-kali ke desa menjadi angin segar bagi kami di Makassar. PM bisa bergerilya untuk sosialisasi secara offline dan menjelaskan secara sabar kepada panlok apa sih tuh KI. Tapi ketika PM kembali ke desa penempatan tanpa signal, komunikasi kami pun terputus. Begitupun kepada panlok. Kekurang pahaman mereka mengenai KI menjadikan mereka enggan untuk sekedar membalas chat ketika saya menanyakan perkembangan. Keterbatasan yang begitu banyak yang kami hadapi membuat kami belajar lebih banyak lagi tentang sebuah kesabaran, proses dan kerjasama. Kami lost, keterbatasan jarak dan waktu yang lumayan jauh membuuat kami hanya bisa bergerilya di sosial media sambil berharap PM segera ke Kota agar komunikasi kami lebih terarah serta hal-hal yang ingin kami lakukan menjadi lebih jelas.

H-1 minggu pelaksanaan KI, satu persatu PM sudah berada di kabupaten. Namun karena mereka baru berada di kabupaten saat hari sabtu, jadi hari minggu dan senin dimanfaatkan untuk ketemu panlok, training fasil, serta memeprsiapkan yang bisa dipersiapkan. Minggu dan senin sama sekali tidak bisa sosialisasi offline karena merupakan hari libur. Dag dig dug pun semakin jelas, karena tinggal beberapa hari lagi Briefing dan hari Inspirasi akan segera dilaksanakan, sedangkan sekolah yang kami butuhkan sebanyak 4 sekolah baru 2 sekolah yang fix dengan data-datanya. 

Kembali lagi, dengan penuh keikhlasan, kesabaran dan kerja keras harus menghadapi banyaknya pertanyaan relawan yang sudah dibagi ke empat grup, pertanyaan tentang sekolah, fasil, fotografer serta memberi penjelasan akan bertambahnya relawan dari form offline. Begitu banyak kendala hingga menjelang hari H. Tapi kami tetap optimis, bermodalkan keyakinan insya Allah semua akan berjalan lancar. 

Alhamdulillah H-1 briefing semuanya sudah fix. Baik dari sekolah maupun relawan. 

Kami yang berangkat dari Makassar sudah terlepas dari kendala mengenai persiapan KI Konawe, tapi kembali ke persoalan pribadi masing-masing. Kemauan yang besar dari kami yang mau berangkat harus terkendala urusan finansial, urusan kantor dan persoalan ijin dari keluarga. Dan dengan berat hati kami harus terpisah dari komposisi 7 orang menjadi 3 orang.

Dengan keyakinan dan kemauan yang besar. Allah selalu memberi jalan untuk niat-niat baik. Berbekal uang pinjaman, saya membeli tiket untuk ke Konawe. Sudah membeli tiket harus menerima konsekuensi lagi dapat ceramah dari orang tua karena “jalan terus” padahal saya membutuhkan budget lebih banyak lagi untuk mendaftar kampus, harus berangkat ke Bandung bulan ini untuk tes UPI serta harus menyediakan uang akomodasi. Harus menerima konsekuensi didiamkan oleh teman baik karena memilih untuk berangkat KI dibandingkan menghadiri pernikahannya. Maafkan kak, ini bukan persoalan memilih, tapi persoalan tanggung jawab dan komitmen, hikz.

Beda cerita dengan satu teman lagi. Karena uang dari kantor yang belum turun akhirnya uang yang mau dipake untuk mendaftar kuliah dialokasikan untuk membeli tiket agar bisa ke Konawe. Satu orangnya lagi aman secara financial tapi tidak aman dari ijin orang tua, harus kabur dari kantor dan “menolak” secara halus perintah untuk berangkat dinas, dan parahnya saat hari H keberangkatan ke Konawe ATMnya hilang. Jadilah kami bertiga berangkat dengan uang pas-pasan dan hanya bermodalkan keyakinan akan sampai dan pulang selamat ke Makassar.
ini sedikit perjalanan kisah yang kami lewati hingga sampai di kendari dan mengikuti serangkain prosesi Kelas Inspirasi Konawe. 

Note :
Masalah bukanlah sebuah masalah ketika kita mampu untuk mencari jalan keluar, yang penting jangan stagnan ketika mendapat sebuah masalah, karena pasti akan ada solusi.

Masalah dan dinamika yang ada bukan untuk membuat kita terpuruk, tapi membuat kita menjadi sosol yang lebih kuat, menambah deratan pengalaman dan pelajaran hidup yang kita punya

Masalah terkadang membuat kita tertekan, membuat kita terkadang konflik dalam satu tim. Tapi dengan adanya masalah dan tekanan tersebut hubungan emosional kita semakin terjalin dan kita bisa saling mengetahui karakter satu sama lain. Dan meyakini siapa orang-orang yang akan menemani kita bukan hanya saat kita senang, tapi juga saat kita terjatuh.

The last i say THANK YOU SO MUCCCHHHH for togetherness, big effort from beginning until finishing the project. I hope, this is the new chapter of us for another projects in the future.

Sabtu, 22 April 2017

Secercah kisah Online Shop-ers



Menjadi seorang Online Shop-ers kelihatannya mudah, namun faktanya bukanlah perkara yang mudah. Setiap saat harus berurusan dengan Supplier, harus ramah dan sabar dengan costumer serta harus setia menunggu kedatangan kurir. Seperti kasus kali ini, dimana terjadi miss antara aku dengan supplier. Barang yang telah ku order sedari senin, hingga hari senin berikutnya tak kunjung datang. 

Saat itu, aku order barang sekitar 4 kiloan, dan ternyata supplierku mengirim barangnya secara bertahap. Apesnya, 3 barang yang dipesan costumer yang sama hanya terkirim dua, satunya dikirim dalam tahap kedua. Dan mungkin ini adalah ajang menguji kesabaran, costumerku tumben banget kali ini rada rewel. Setiap saat menanyakan barangnya yang belum datang-datang. Masih skala wajar sih, wong waktunya emang sudah seminggu namun barangnya belum juga tiba.

Si costumer meminta barang yang dua dikirim aja dulu, yang satunya nyusul. Tapi setelah aku menghitung-hitung, kalau aku mengirim dua kali itu artinya berat di ongkos. Untung yang diambil sudah dikit, jatuhnya malah rugi karena berat di ongkos kirim. Akhirnya aku memutuskan untuk mengecek barangnya ke JNE, status di sistem sudah pengantaran per hari senin, aku disuruh menunggu di alamat. 2 barang yang sudah kubawa hendak kukirim di terminal akhirnya kubawa pulang kerumah dan menghubungi costumerku untuk memberikan pengertian.

“Besok pagi barangnya aku kirim lewat mobil ya, tas satunya diantar hari ini sama kurir, ini aku lagi di kantor JNE. Lagian kalau dikirim malam ini juga paling sampainya besok”. Begitu sepenggal kalimat penjelasan yang kuberitahukan kepada costumerku. “tapi barangnya sudah ada kan hari ini? Tinggal dikirim?” jawabnya meminta kejelasan. Oh iya, costumerku ini domisilinya di daerah. Jadi barang yang sudah sampai dirumah harus kukirim lagi ke daerah via mobil.

“Iya, Insya Allah jawabku. Besok pagi-pagi saya kirim ya”. Lanjutku lagi. Aku pun mengendarai motor pulang kerumah menunggu kurir JNE datang. Hingga pukul 10 malam kurir tak kunjung datang. Aku sudah pasrah saja apapun yang terjadi. Mungkin kurirnya kelelahan mengantar barang seharian jadi tak sempat mengantar barangku. Aku menunggu hingga ke esokan harinya.
Pagi-pagi sekitar pukul 9, mamaku yang hendak keluar kumintai tolong untuk mengecek kembali barangku di JNE. Kalau barangnya masih di kantor, gapapa nanti aku ambil aja di kantor dari pada lama nungguin kurir. Sesampainya mamaku di kantor JNE status barangnya sudah diantar kurir per hari ini (selasa). Aku diminta untuk menunggu di alamat. Lagi lagi aku menunggu dengan setianya si kurir datang. Saking lelahnya menunggu jam 11 aku tertidur. Hingga radio mesjid pun berbunyi saat waktu Duhur telah masuk.

Aku bangun dalam kondisi kaget. Ya Allah, udah duhur tapi kurirnya belum juga datang. Kucek hpku, ada chat dari costumerku menanyakan barangnya sudah dikirim apa belum, yang sengaja aku tidak read untuk sementara karena tak tau mesti beralasan apalagi. Sudah siang tapi barangnya belum juga kukirim, padahal janjiku pagi sudah akan kukirim. Chat yang lain dari salah seorang teman yang hari itu janjian untuk ketemu. Janji yang awalnya kami rencanakan jam 2 siang selepas dia kuliah, dimajukan ba’da duhur, karena kuliahnya ternyata selesai lebih awal. “Wuah gimana ini, pertemuannya dimajukan, sedangkan kurir JNE belum juga datang, mana barangnya ahrus aku kirim hari ini juga lagi. Huhuhu”, pikirku.

Lalu aku membalas chat temanku, mengiyakan ketemu sekarang meski dalam kondisi masih harap harap cemas menunggu kedatangan kurir. “Aku sholat dan siap-siap dulu ya kak baru berangkat”, jelasku kepadanya. Persoalan barang aku sudah pasrah, gapapa aku kirim 2 barang ini dulu, besok baru ngirim barang satunya lagi. Rugi bukan lagi hak yang harus difikirkan, ini adalah resiko pekerjaan. Selanjutnya akan kujelaskan dudu persoalannya ke Costumerku. Aku yakin apapun hal yang kita alami asal dikomunikasikan dengan baik pasti akan menemukan jalan keluar. 

Beberapa menit menuju pukul 1 aku mengendarai motorku menuju lokasi tempat aku dan temanku janjian, sembari membawa dua barang yang aku kirim ke costumerku. Meski dalam hati masih terus berharap bisa ada keajaiban bertemu kurir dijalan. Aku mengemudikan motorku menuju jalan keluar ke jalan raya. Jalan yang selama ini kulewati tertutup total oleh kayu dan bambu. Sempat heran sih, kemarin-kemarin masih ada cela untuk motor lewat. Tapi aku tak ambil pusing, aku memilih untuk memutar balik motor memilih jalan yang agak jauh ketimbang harus turun dari motor dan membuka palang yang ada. (Sejujurnya gengsi turun dari motor karena di pos kamling ada beberapa orang). Hahaha Perlu saya jelaskan bahwa jalan didepan rumahku baru saja di beton, jadi di ujung jalan masih diberikan penghalang tanda jalannya belum bisa dilewati oleh mobil.

Saat aku memutar balik motor, tiba-tiba aku melihat kurir JNE yang motornya pun sudah diputar balikkan menuju arah keluar, mungkin karena melihat rumah yang tertutup. Dengan sigap kuteriaki, “Kak barangku ya? Atas nama Restiny”? Tanyaku. Iya mbak, jawabnya. Segera kuambil barangku dan menandatangani resinya. Kurirnya segera berlalu, kuambil barangku sambil senyam senyum.

Alhamdulillah ya. Kekuatan keyakinan. Aku tak menyangka akan begini alur ceritanya. Seperti drama FTV. Kebetulan jalan ditutup, mesti mutar balik, dan saat putar balik, didepan rumah orang yang ditunggu-tunggu telah datang juga. Ah memang benar segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan indah, tak ada yang kebetulan. Bahkan daun yang jatuh pun bukanlah sebuah kebetulan, pasti ada alasan indah didalamnya.

Begitulah segelintir kisah dari si Online Shop-ers Hahahahaha. Akhirnya aku keluar dalam kondisi hati yang tenang dan senang. Barangnya segera kukirim leat mobil dan menghubungi costumerku bahwa barangnya sudah dikirim. Dan pertemuan dengan temanku pun menjadi lebih lega, karena tak ada beban yang difikirkan lagi.

Senin, 17 April 2017

Teling Pulau Kulambing





Akan kuhentikan waktu melalui tulisan, akan kuukir sejarah melalui tulisan. Agar kelak, tulisan ini menjadi saksi sebuah perjalanan yang pernah kulakoni.

Pulau kulambing, 15 April 2017.
Ini merupakan kali ke-5 SIGi melakukan TELING (Teater Edukasi Keliling). Dan ini merupakan kesempatan kedua saya mengikuti teling, setelah melewati pengalaman pertama Teling di Pattanyamang. Teling merupakan salah satu dari kegiatan rutin SIGi untuk mengobati ke sakauan kakak-kakak yang butuh piknik. Piknik yang tidak hanya sekedar piknik kosong namun dirangkaikan dengan berbagi keceriaan dengan adik-adik setempat.

Bukan main senangnya melihat antusias yang begitu besar dari warga pulau Kulambing. Begitu bahagia saat melihat anak-anak yang begitu banyak berkumpul dilapangan sore harinya. Ada kebahagiaan yang tak mampu diungkapkan kala melihat senyum bahagia mereka. Kehangatan dan keramahan penduduk pulau. Serta semangat dari adik-adik.

Sore harinya dilewati dengan bermain bersama adik-adik dilapangan sekolah. Sembari mencairkan suasana agar tercipta keakraban antara adik-adik dan kakak-kakak relawan. Waktu sejam setengah pun berlalu begitu cepat. Tak terasa maghrib pun sudah datang. Senja sudah mulai memanggil. Adik-adik diperkenankan untuk balik kerumah masing-masing untuk bersiap-siap menonton pada malam harinya (red : layar tancap). Setelah adik-adik balik, kami berlari ke belakang sekolah untuk mengantar senja kembali keperaduannya.



Malam harinya, tak disangka, antusias yang begitu besar tidak luntur hingga malam menjelang. Kami yang baru ke lapangan selepas isya, sudah mendapati adik-adik pada berkumpul dilapangan. Mereka tak balik lagi kerumah setelah melakukan sholat isya berjamaah di mesjid. Setelah melakukan persiapan sekitar setengah jam, film “Jejak Jejak Kecil” pun menjadi tontonan kami semua dilapangan, tak hanya adik-adik yang menonton, bapak ibu para warga desa pun ikut menonton. 




Setiap selesai satu sesi, adik-adik diberikan pertanyaan untuk menakar pemahaman mengenai film yang ditonton, dan yang berani menjawab serta menjawab dengan benar mendapatkan reward berupa 1 kantong goodie bag beserta isinya. Setelahnya, semuanya sudah berebutan menjawab hingga kakak-kakaknya kewalahan mengatur adik-adik yang berebutan ingin menjawab pertanyaan. Alhasil, kita merubah strategi untuk melempar pertanyaan agar kondisinya tetap kondusif. Lagi lagi, karena keseruan film serta kehangatan para penonton, tak terasa ternyata sudah jam 11 malam. Dibawah cahaya purnama yang temaram dan bintang-bintang yang berkilau, kami melawati malam minggu dengan penuh kualitas.

Jam 11 filmnya selesai, hadiah pun telah dibagikan. Semua warga dan adik-adik berbondong bondong balik kerumah masing-masing dan kakak-kakak beberes dan diakhiri dengan foto bersama.


Pulau Kulambing 16 April 2017
Subuh harinya, selepas subuh. Kami berjalan menuju ke dermaga, menyaksikan sunrise yang penuh kehangatan. Dalam dinginnya fajar, kami tenggelam dalam kengatan obrolan, menyaksikan langit di ufuk menjingga, menyaksikan birunya air laut, menyaksikan kapal-kapal yang siap berlayar dan para nelayan yang sudah balik dari pencariannya.




Pagi yang indah, pagi yang cerah, pagi yang menyenangkan. 

Piknik, selalu saja memberikan begitu banyak cerita. Memberikan banyak pelajaran untuk lebih banyak bersyukur lagi dan lagi. Atas besar dan banyaknya karunia Tuhan. Semakin lama, semakin aku sadar bahwa kita hanyalah serpihan debu di jagat raya yang megah ini. Hutan, langit, gunung adalah sebagian kecil dari bukti-bukti kebesarn Tuhan. Yang mampu menyadarkan kita bahwa kita manusia hanyalah bagian yang sangat kecil di dunia ini. Jadi? Tak ada alasan untuk kita tak bersyukur. Tak ada alasan untuk kita berlaku sombong.

Terimakasih kisah dan pengalaman dua harinya. Pulau Kulambing yang indah.
Kapal yang kami gunakan ke pulau kulambing


Langit pulau Kulambing


Eh ada beberapa kapal yang lagi berlayar

Nemu pabrik tonasa di tengah lautan





Makin hari, tulisanku makin tak karuan. Semakin banyak hal yang ingin kutulis, semakin berantakan caraku dalam menulis. Banyak hal yang ingin kusampaikan hingga aku mendadak speechless. Tak tau mau mulai dari mana dan mengakhirinya dimana. Begitu banyak hal yang luaarrr biasaaa yang membuatku tak mampu untuk menggambarkannya dalam bentuk kata-kata. Semuanya begitu AMAZIIING.

Moment To Remember

  Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...