Senin, 04 Agustus 2025

A Day in My Life - 04 Agustus 2025


Selepas sholat subuh, kumembuka aplikasi Mobile JKN dan mengambil antrian untuk bertemu dengan dokter. Hari Kamis lalu sudah bertemu dokter, diberikan vitamin dan tetes mata untuk mata kiriku yang penglihatannya buram karena pernah kelilipan. Waktu itu belum dikasih rujukan, hanya tetes mata dengan harapan ada perubahan. Ternyata setelah menggunakan tetes mata kondisinya malah lebih buruk, jadi kuberhenti memakainya.


Hari ini ke klinik lagi dan mendapat nomor antrian 15, padahal masih pagi-pagi sekali mengambil antrian. Ternyata begitu banyak orang yang butuh bantuan dokter. Melihat estimasi waktu pemeriksaannya masih lama, jadi saya melakukan beberapa aktivitas pagi dulu baru ke klinik. Dan kedatangan di klinik waktunya pas, kurang dari setengah jam namaku sudah dipanggil. Ngobrol sebentar dengan dokter lalu diberikan rujukan ke dokter mata. Keluar dari ruang dokter, duduk sebentar untuk menunggu panggilan dari pihak administrasi untuk dapat konfirmasi bahwa rujukannya sudah bisa digunakan. Karena baru pertama kali menggunakan rujukan, jadi saya meminta penjelasan dari pegawainya bagaimana cara menggunakannya. Dalam proses bertanya, saya menaruh buku di atas meja yang sebelumnya sementara kubaca, lalu pegawainya komen "salfok dengan judul bukunya, masih ada ya buku seperti itu". Aku sebenarnya gak tau apa yang ada di pikiran pegawai itu saat melihat buku yang sedang kupegang "Sisi Tergelap Surga". Biarlah dia larut dalam pikirannya sendiri hehe.

 

Sebelum ke RS Mata, saya menyempatkan makan soto ayam di samping klinik, soto yang rasanya enak dan harganya murah. Entah kapan terakhir makan di tenda pinggir jalan dan baru menyadari masih ada makanan dengan harga segitu. Selama ini terlalu sering makan di kafe atau warung yang menggunakan AC atau kipas angin yang harga makanan minumannya sudah tidak ada di bawah 20.000. Setelah selesai makan, saya ke RS Mata. Ternyata ramai sekali. Kebanyakan orang tua yang didampingi salah satu anggota keluarga. Meskipun sebelumnya saya sudah mengambil antrian BPJS melalui aplikasi, ternyata harus mengambil antrian lagi secara manual untuk pasien baru. Saat mengambil nomor antrian, satpamnya bertanya "Pasiennya mana"? Saya pak pasiennya, jawabku. Mungkin satpamnya berpikir, kok ada anak kecil tanpa pengawasan orang tua berkeliaran. Hahaha


Meskipun harus menunggu lama, saya menikmati pengalaman pertama ini, dan tentu karena membawa buku jadi waktu menunggu tidak terasa begitu membosankan. Nomor antrianku 43 untuk antri di pelayanan BPJS, setelah proses pendaftaran di layanan BPJS, dikasih nomor antrian lagi untuk ke pendaftaran administrasi. Menunggu sekitar 15 menit lalu dipanggil untuk pengisian data lalu menunggu lagi di depan ruang tindakan, BDR (Basic Diagnostic Room). Ada tahapan awal untuk screening, penyesuaian data, cek mata dua kali, lalu diberikan beberapa lembar kertas untuk lanjut pemeriksaan ke dokter.


Selesai tahap screening, lanjut ke ruangan dokter. Ternyata dokternya sedang istirahat karena memang jam menunjukkan pukul 12.15 Katanya dokter sedang makan siang dan sholat, jadi saya ke musholla untuk sholat. Selepas sholat ternyata dokternya juga sudah di ruangan, cepat sekali dokternya kembali bekerja. Perawat mempersilahkan saya masuk ke ruangan dokter. Dokter bertanya beberapa hal termasuk sejak kapan ada keluhan, lalu kujelaskan kronologinya dan kemudian lanjut pemeriksaan. Hasil pemeriksaan dokternya bilang "banyak air matanya ya di mata kiri dan kanan". Dalam hati (pantas sering nangis dok akhir-akhir ini, gak tau karena banyak air mata makanya sering nangis atau karena sering nangis makanya air matanya jadi banyak hahaha). Setelah diperiksa dokter lalu memberikan resep obat untuk ditebus di bagian farmasi dan surat control yang harus diberikan di bagian informasi, dokter memintaku datang lagi seminggu kemudian untuk kontrol.


Di bagian farmasi dikasih obat tetes mata lalu lanjut ke informasi untuk konfirmasi kontrol buat minggu depan. Semua prosesnya cukup cepat, kecuali di bagian pendaftaran. Semua tenaga kesehatan, keamanan, dan administrasinya sangat ramah. Tepat pukul 13.00 semuanya sudah selesai dan akhirnya bisa kembali ke rumah.


Sore harinya bersiap berangkat jogging ke Unhas. Lately, aku menemukan kegemaran baru. Jogging di Unhas lalu duduk di bawah pohon, terkadang sambil membaca, tapi sore ini memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk diam, menapakkan kaki ke ibu bumi, menyaksikan orang-orang yang masih jogging dan orang-orang yang sedang bermain bola, mendengarkan suara burung yang bertengger dari satu dahan ke dahan lain, menikmati semilir angin, menghirup oksigen dari pepohonan yang masih tumbuh rindang, dan meneguk air kelapa dingin yang kubawa dari rumah. Rasanya sangat tenang dan menentramkan.


Bunyi masjid menjadi penanda saatnya kembali ke rumah, layaknya burung-burung yang kembali ke sarang setelah seharian berkeliaran di alam bebas.


Sabtu, 02 Agustus 2025

Self-Sabotage


Perjalanan menuju diri sendiri adalah perjalanan tanpa garis finish, di saat kita merasa sudah selesai, di saat itu pula akan muncul trigger yang lain. Mungkin pada akhirnya bukan kata selesai yang cukup mampu menggambarkan segalanya, tapi berdamai dan menerima.

Self-sabotage, trauma bahagia, ini mungkin yang menjadi PR. Meskipun merasa sudah memiliki self-awareness dan self-esteem yang cukup baik, ternyata self-sabotage masih sering terjadi.


Masih sering wondering apakah saya deserve untuk ini, apakah ini betul-betul worth untuk saya hamba yang berlumur dosa ini. Bahkan pemberian Tuhan yang indah pun masih kadang diragukan karena merasa tidak pantas, astaghfirullah *cry*.


Bagian paling menyedihkan adalah saat orang-orang yakin denganmu tapi kamu malah meragukan diri sendiri. Beberapa kegiatan dan program yang menarik kulewatkan, hanya karena merasa tidak pantas untuk mendaftar atau karena terlalu malas dengan segala persyaratannya, mungkin di balik semua itu bukan alasan-alasan tersebut yang menghalangi, tapi adanya ketakutan gagal, takut jika sudah mencoba ternyata sia-sia, takut menjadi orang gagal hanya karena gagal dalam mencoba. 


Kucoba keluar dari pola-pola itu, menembus segala ketakutan dan kecemasan untuk mendaftar sebuah program pengabdian. Ada rasa insecure dalam mendaftar karena merasa tidak cukup kompeten untuk sekadar mendaftar, tapi Thanks God telah mengirimkan teman yang tiada henti bertanya, meyakinkan untuk mendaftar, dan membimbing dalam prosesnya. Meskipun begitu, rasa khawatir dan takut itu masih tetap ada, perutku keram berhari-hari karena khawatir berlebih menunggu email dari penyelenggara. Saya seperti tidak mengenal diriku yang sekarang, penuh ketakutan, penuh rasa tidak percaya diri. Diriku yang dulu lebih nekat dan tidak mengenal rasa takut untuk mencoba banyak hal. Entahlah, apakah ini sebuah proses bertumbuh atau proses degradasi.


Perubahan selalu bersanding dengan ketidaknyamanan, proses transformasi dibersamai dengan air mata dan juga keraguan. Semoga Allah selalu membersamai segala prosesnya.


Dari segala rasa yang kurasa, saya sangat bersyukur dibersamai oleh Sang Maha Segalanya dan dikelilingi banyak orang-orang yang baik. Orang-rang yang secara tidak mereka sadari membantu dalam proses transformasi ini. Yang selalu menyediakan telinga untukku berkelu kesah, selalu menyambut dengan tangan terbuka saat kubutuh penguatan, dan selalu memberikan endless support dalam bentuk bantuan secara langsung, semangat, maupun doa.


Dalam refleksi kukadang mensyukuri segala hal yang terjadi, setidaknya jika esok lusa ada yang cerita tentang apa yang mereka alami, saya bisa memberikan perspektif yang lebih berempati karena pernah atau bahkan masih mengalaminya. 


Everything happened for a reason, right?

Jumat, 01 Agustus 2025

Welcome Agustus


Sebelum tidur, benar-benar sudah pasrah sepasrah-pasrahnya, berserah kalau masih harus lanjut menjalani proses pembelajaran saya Ikhlas ya Allah. Karena toh ketika kita sudah sampai di titik terendah, tidak ada pilihan lain selain bertumbuh naik ke atas. Dada terasa nyeri, nafas sesak dan baru kali ini merasa cukup lama menghadapi panic attack dan anxiety. Berulang kali melatih nafas tapi dada masih terasa sesak. Cukup banyak trigger yang muncul, di satu sisi bersyukur karena semuanya naik ke permukaan dan siap untuk diproses dan ditransformasi. 

 

Allah, Sang Maha membolak-balikkan hati.

Entah bagaimana hidupku di Juli jika bukan Allah yang bantu kuatkan.

Pagi di awal Agustus, meski tidur hanya beberapa jam karena begadang, efek minum kopi kemarin siang, tapi saat bangun hati dan perasaan begitu lapang. Saat membuka mata langsung memohon doa kepada Allah agar menguatkan dan menjadikan Agustus bulan yang jauh lebih baik, penuh berkah dan rahmat, penuh kebaikan dan kebahagiaan, dan Alhamdulillah pagi ini tersadar dalam keadaan hati yang begitu tenang. Saat sholat pun masih menangis, kali ini bukan lagi tangisan yang menyesakkan dada, tapi tangisan penuh syukur atas segala nikmat tenang dan lapang yang menyelimuti perasaan. Sungguh, Allah Sang Maha membolak-balikkan hati.


Solusinya adalah sujud, kalimat yang terdengar klise, tapi efeknya begitu nyata. Seberapa sering pun saya mencoba membuat formula saat hati merasa gundah gulana, tapi formula tersebut tak pernah bisa saya gunakan saat rasa merana itu melanda. Satu-satunya hal yang bisa mengubah semuanya adalah pertolongan Allah. Sujud yang panjang, tanpa memohon apa pun hanya berserah dan menangis mengharapkan cinta kasih-Nya, limpahan berkah dan Rahmat-Nya, semua itu yang bisa merubah segala kekhawatiran menjadi ketenangan. Sekarang baru mulai mengerti kenapa sholat dijadikan Solusi untuk segala macam permasalahan, karena di saat itu pertolongan Allah terasa sangat dekat.


Sering kubahas dengan teman saat ada yang curhat, untuk berserah, untuk melibatkan Allah, meminta pertolongan Allah. Namun, saya sering lupa melakukannya, menganggap diri cukup kuat untuk menghadapi semua hal yang terjadi. Ketika berserah, ketika memasrahkan semua dan meminta pertolongan Allah, dalam sujud dan doa, di saat itu Allah hadir merangkul dengan cinta kasihnya dan dengan mudah Allah bisa mengubah lara menjadi bahagia, duka menjadi suka.


Setelah menjalani ritual pagi, kuambil hp dan membaca info di grup terkait penerimaan pengajar BIPA luar negeri yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan. Segala hal yang terasa abu-abu, segala kekhawatiran, perlahan sirna tergantikan dengan harapan dan semangat. Entah bagaimana jalannya ke depan tapi harapan itu mulai menampakkan sinarnya kembali.


Sore harinya menikmati suasana indah Pantai Bosowa bersama keluarga sambil berendam memandangi matahari tenggelam, lanjut menikmati similir angin malam sambil bercengkrama di pinggir pantai. Semua kembali indah dan menenangkan. Badai seakan sudah perlahan menjauh, tergantikan dengan hangatnya perasaan dan tenangnya jiwa.


Gak lagi-lagi deh Tuhan mempertanyakan hati yang tenang ini “apakah betul-betul ketenangan atau ujian”, gak lagi-lagi. Beberapa waktu yang lalu, sempat mempertanyakan perasaan tenang yang dimiliki karena merasa I don’t deserve this, merasa begitu damai dan tenang bahkan saat masalah datang silih berganti. Mempertanyakan apakah ini betul-betul ketenangan dari Allah yang kuminta setiap waktu, ataukah ini adalah ujian. Mungkin karena meragukan dan mempertanyakan itu akhirnya perasaan tenang itu dibalikkan menjadi perasaan gelisah dan gundah, ternyata rasanya sangaat tidak nyaman. Gak lagi-lagi meragukan, gak lagi-lagi mempertanyakan. Saatnya belajar membiasakan diri dengan segala ketenangan dan kenyamanan, menerima bahwa I deserve it


Terima kasih ya Allah untuk segala lyfe lessonnya. Love you Allah.


Kamis, 31 Juli 2025

Rekap Juli 2025

(Source: Pinterest)

Sepanjang bulan Juli, kayaknya situasinya lebih banyak di survival mode dan surrender. Benar-benar terjun ke low frequency. Tak terhitung berapa banyak malam yang kulalui dengan air mata. Menangis di kamar, di motor, atau saat melihat sesuatu secara random. Mengawali bulan Juli dengan berdamai pada kenyataan bahwa ditipu oleh seseorang yang amat kupercaya sebagai orang yang baik, kami yang harus segera mencari kantor yang baru untuk bernaung, dan ternyata tempat yang kami sewa dengan alasan lebih murah karena uang terbatas malah menjadi tempat kami mengeluarkan uang jauh lebih banyak karena harus renovasi dan menanggung beban kecurian.

Tak terhitung berapa banyak musibah yang datang bertubi-tubi di waktu yang bersamaan, hingga hanya bisa pasrah dan menerima bahwa “yang penting tubuh kita sehat, keluarga sehat, segala hal yang berbentuk materi akan ada kemungkinan datang dan pergi”. Hampir aja setiap hari ada berita yang menguras emosi, di satu sisi saya menyadari perasaan itu tapi tidak memberikan ruang pada diriku sendiri untuk memvalidasi emosi itu karena logikaku jalan dan mengatakan ”kamu harus stabil karena kalau tidak stabil akan ada entitas yang akan membuat kehidupan menjadi worst”. Jadi ada pertentangan antara rasa yang harusnya merasa tapi ditentang oleh otak yang memaksa untuk tetap logis. Ini keadaan yang terjadi di Panrita.

Di BIPA, satu persatu siswa melanjutkan perjalanan, Makassar memang hanyalah tempat mereka singgah, bukan tujuan. Saya tau ini sejak awal, tapi sesiap apa pun kita dengan perpisahan, akan selalu ada ruang kesedihan saat perpisahan itu terjadi. Bukan hanya karena perpisahan raga yang membuat sedih, tapi kepergian mereka juga berarti tidak ada kelas di Alekawa. Ini bukan hanya perihal penghasilan yang pasti akan terpengaruh, tapi saya tidak lagi memiliki teman-teman diskusi yang bisa mendiskusikan banyak hal, mulai dari kehidupan sehari-hari yang kelihatannya sepele, tapi juga hal-hal mendalam yang tidak semua orang mau atau mampu mendiskusikannya.

Sontak, saya menjadi “pengangguran” berstatus. Tidak ada jadwal ngajar di Panrita untuk saat ini karena tidak ada kelas CPNS, di Alekawa pun tersisa satu keluarga yang juga akan pindah bulan depan yang artinya tidak ada siswa untuk sekarang.

Tiba-tiba muncul ketidakpercayaan diri dan meragukan diri sendiri akan sesuatu yang dimiliki, keraguan akan kemampuan, menjadi lebih overthinking dan gampang melow yang mungkin karena mengasihani diri sendiri. Ada beberapa kekhawatiran dengan situasi ini yang kemudian kucoba figure out, apakah ini fakta atau opini. Misalnya: Ketika saya tidak bekerja saya merasakan apa? Oh ternyata saya merasa takut tidak produktif, saya tidak bisa bayar cicilan rumah, dan saya tidak bisa belanja. Lalu saya melanjutkan pertanyaan lagi “apakah yang saya rasakan fakta atau opini”? Oh ternyata saya tetap bisa produktif dengan mengerjakan beberapa hal yang tertunda karena kesibukan kemarin-kemarin, oh ternyata saya masih bisa bayar cicilan rumah dengan bantuan orang tua, oh ternyata saya masih bisa belanja yang tiba-tiba dapat rejeki entah dari mana. Ternyata ketakutan yang saya rasakan hanya opini yang berseliweran di pikiran, bukan sebuah fakta. Setelah saya figure out dan breakdown saya menemukan beberapa hal hanya asumsi semata, tapi tak serta merta hal tersebut merubah situasi hati, masih ada sedih-sedihnya, masih ada khawatirnya, masih ada takutnya. Saya memvalidasi semua rasa itu. Setidaknya sekarang lebih jernih melihat bahwa kenyataan hidupku tidak se-fucked up itu.

 

Lalu, hari ini, orang tua datang dari kampung, randomly duduk di teras dan ngobrol sama bapak. Mungkin Bapak juga kerasa kalau anaknya kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Bapak nanya “kamu tidak ngajar”?, saya lalu menceritakan kondisi yang terjadi sebulanan ini. Bapak mencoba menguatkan dan menyemangati. Tak terasa saya menangis (semoga bapak tidak menyadari meskipun suaraku berubah saat cerita). Selama ini tak pernah cerita masalah kerjaan secara detail ke orang tua, tapi malam ini entah kenapa tiba-tiba keterusan untuk cerita semuanya. Kami keluarga yang harmonis dan cukup dekat, tapi tidak seterbuka itu menceritakan semua hal yang terjadi dan yang dirasakan, jadi saat ada moment itu bisa kejadian saya merasa tidak sendirian dan menangis terharu karena merasa “apapun yang terjadi, akan selalu ada orang-orang dekat yang yang hadir tidak hanya secara fisik, tapi secara emosional dan juga doa”.

Terima kasih Juli atas segala ceritanya.

Home sweet home, 30 Juli 2025



Rabu, 30 Juli 2025

Berserah

Saat perjalanan keluar tadi pagi, gak sengaja melihat popcorn caramel di penjual sayur. Tiba-tiba terbersit di pikiran popcorn tradisional (Bugis = Benno). Teringat bagaimana cara tradisional orang di kampung membuat benno, bunyi yang kadang meledak tiba-tiba kalau sedang di pasar. Dan hari ini orang tua datang dari kampung dan membawa popcorn tradisional ini. Makanan yang tidak pernah dibawakan sama sekali sebelumnya. Benar-benar mestakung (semesta mendukung), hanya memikirkan saja tanpa keinginan bisa tiba-tiba mewujud nyata. Kadang hal-hal seperti ini menjadi reminder dan mungkin teguran dari Allah “Apa sih yang dikhawatirkan, sesuatu yang tidak didoakan spesifik saja dikabulkan, apalagi kalau sudah berdoa”.

Perihal makanan ini sudah terjadi berkali-kali, setelah kupikir-pikir lagi kejadian itu selalu terjadi di saat kondisi sedang tidak baik-baik saja dan merasa hidup lagi fucked up. Misalnya kepikiran donat kampung yang sering dimakan saat masih SD, tiba-tiba malamnya ada tetangga yang “Assalamualaikum” dan bawain donat persis yang kupikir sebelumnya, atau saat chat-an sama teman dan merasa hidup lagi payah-payahnya dan terbersit mau minuman dari kafe tempat teman tersebut nongkrong tapi gak enak kalau titip belikan karena pasti dia tidak mau dibayar, keesokan harinya ada siswa yang datang ke kantor dan traktir minuman dan pesannya dari kafe yang kuinginkan malam sebelumnya. Hatiku hangat dan merasa dipeluk oleh Allah atas segala energi bergetaran rendah yang sedang menyelimuti diri dan pikiran.

Pernah juga waktu ngekost ketika kuliah, saat itu kehabisan uang dan minta sama Allah “Ya Allah, mintaka’ uang”. Hari itu juga saat membersihkan kamar tiba-tiba nemu uang 50 ribu. Awalnya kupikir uang teman yang mungkin jatuh karena banyak teman yang sering main ke kost, setelah kutanya satu persatu teman ternyata gak ada yang merasa kehilangan. Langsung melting dengan cara Allah menjawab doaku saat itu juga.

Ada masa juga saat sudah balik ke Makassar dan kekurangan uang, langsung mengadu ke Allah “Ya Allah khawatirka ndak cukup uangku”, tiba-tiba keesokan harinya saat bertemu dengan teman dia memberikan uang 300 ribu, uang dari sewa tempat yang tidak pernah terpikir sebelumnya ada orang yang menyewa. Pernah juga di situasi serupa saat lagi gamang-gamangnya dengan kondisi keuangan, ada uang yang tiba-tiba masuk ke ATM tanpa ada keterangan pengirim dan gak ada yang konfirmasi mengirim.

Saat cerita ke teman, seorang teman menimpali "mintako sama Allah uang xxxxx". Ya ampuun kak 🤣🤣, tidak bisa kayaknya di-setting begitu deh. Kayaknya hal2 ini terjadi random, tanpa rencana, tanpa intensi, dan mungkin tanpa harapan hanya sepenuhnya berserah.


Selasa, 29 Juli 2025

Menjadi Tua

Menjadi tua ternyata bukan hanya tentang umur yang bertambah tapi juga kekhawatiran yang mulai bercabang, dulu tidak terlalu banyak mikir untuk melakukan sesuatu, modalnya hanya nekat dan langsung eksekusi, sekarang terlalu banyak pertimbangan dan mitigasi risiko.

Awalnya kupikir bertambah tua hanya perihal sakit punggung yang sudah mulai intens, ternyata lebih besar daripada itu, tua mencuri nyali yang dulu selalu menggebu.

Dulu, modal berani dan nekat menjelajah suatu tempat meskipun tempatnya sangat asing, sedikit berbahaya, dan juga tanpa persediaan uang yang cukup. Sekarang, selalu mau memastikan tempatnya aman, perjalanannya nyaman, uangnya cukup baru berani untuk melangkah.

Dulu, waktu masih awal 20-an, melihat senior-senior yang terlalu banyak “alasan” untuk melakukan sesuatu membuatku judging. Sekarang, aku mulai mengerti alasan kenapa mereka tidak senekat waktu masih muda, tidak semenggebu saat masih kuliah, aku sudah berada di fase itu dan mulai mengerti bahwa perihal fisik dan juga pikiran merampas banyak hal saat kita mulai menua.

Dulu, aku sempat berfikir untuk tinggal di Papua, spend the rest of my life there, tapi seiring waktu berlalu, meskipun ada kesempatannya ternyata aku tidak senekat itu mengambil kesempatan tersebut, terlalu banyak pertimbangan yang membuat nyaliku ciut.

Ah, menua ternyata tidak semenyenangkan yang kubayangkan saat masih kanak-kanak. Tapi, aku bersyukur menua dengan kebijaksanaan (semoga). Aku bisa melihat lebih jernih segala sesuatu, tidak hanya mengedepankan ego tapi juga mulai menggunakan akal sehat untuk membuat keputusan. Aku bersyukur menua dengan banyak kenekatan di kala masih muda, setidaknya meskipun sekarang tidak sebebas dan senekat dulu, aku punya banyak tabungan memori dan cerita yang akan kukenang hingga kelak raga menyatu dengan tanah.

 


Senin, 28 Juli 2025

A Day In My Life - 28 Juli 2025

Rasanya sudah lama sekali tidak mengunjungi blog ini, terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan banyak alasan yang diberikan untuk tidak menulis. Hari ini mau menulis status WA, tapi kepanjangan jadi berfikir mungkin ini bisa menjadi awal menulis kembali di blog, tentang kerandoman hidup yang bisa jadi bahan refleksi dan mungkin menjadi jejak hidup yang terabadikan, bahwa hidup tak selalu tentang suka dan cinta, tapi terkadang harus menghadapi duka dan lara.


Belakangan hidup terasa tidak baik-baik saja. Tak usah tanyakan kenapa? Terkadang tak butuh alasan tertentu untuk merasa tidak baik-baik saja. Melakukan sesuatu tapi terasa hampa, memiliki hampir semuanya tapi merasa kosong. Mencoba figure out the reason why I feel that feeling tapi tak juga kunjung membaik, malah hampir setiap hal mentrigger emosi, kadang hanya mendengarkan orang membahas tentang energi dan frekuensi, menonton podcast yang bahas tentang trauma healing, melihat orang yang dapat beasiswa dan berangkat ke luar negeri, atau membaca buku yang membahas realita sosial, itu saja mampu membuat nangis

kejer selama beberapa waktu.



Namun, hari ini mencoba keluar dari sangkar, mencari udara segara, menggerakkan badan dan menyatu dengan bumi, perasaan perlahan mulai membaik. Pagi hingga siang ke kantor untuk bekerja, siang ke sore tidur di rumah, lalu sorenya keluar untuk jogging selama lima putaran. Lalu duduk hening sejenak grounding sambil membaca buku, perlahan energi bumi menyatu ke tubuh dan membuat perasaan berangsur membaik. Mungkin keadaan sedang tidak baik-baik saja, tapi saya memilih untuk tidak menyerah begitu saja dengan keadaan yang seakan tiada ampun membombardir perasaan, saya memilih melawan dan menstabilkan rasa.



Pulang dari jogging, singgah beli sate, melariskan jualan pedagang kaki lama. Kemarin baca buku "Sisi Gelap Surga" tapi belum sampai selesai, kondisiku sedang tidak baik-baik saja untuk membaca kisah yang menyesakkan, kisah-kisahnya terasa begitu dekat dan nyata, mengetahui realita di sekitar kita banyak ketidak idealan, tapi kita tak punya kuasa untuk melakukan perubahan. 


Satu cerita di buku tersebut mengisahkan seorang penjual nasi goreng yang gamang apakah akan ada nasi goreng yang laku pada malam itu, hal ini yang menjadi motivasi untuk melariskan jualan pedagang kaki lima. Setidaknya, meskipun saya sedang tidak merasa baik-baik saja, saya masih bisa berbagi dengan orang lain, supaya kita tidak sama-sama suffer


Saat mampir ke penjual sate di depan saya ada seorang laki-laki paru baya yang lebih dahulu memesan sate dibanding saya, ternyata pada saat membayar uangnya kurang lima ribu rupiah, dia hendak membayar Qris tapi penjual sate tidak menyediakan layanan tersebut, akhirnya dia pulang dan berjanji ke penjual satenya akan kembali sebentar lagi untuk melunasi. Pada saat saya membayar, saya sengaja membayar kekurangan pembeli yang tadi, ibu penjual sate menolak tapi saya tetap memaksa membayar. Ternyata efeknya luar biasa, perasaan saya menjadi terasa penuh dan tanpa terasa air mata pun mengalir haru. Terkadang hal-hal kecil bisa memberikan perubahan yang besar terhadap kita, sama halnya dengan bersedekah, bukan tentang nominal tapi seberapa lapang saat kita memberi, manfaatnya bukan ke yang menerima, tapi kepada kita yang memberi.


Dalam perjalanan menuju ke rumah, saat sudah masuk ke kompleks perumahan, nampak langit jingga yang begitu indah menambah kehangatan pada hati yang gersang, seakan Tuhan hadir dan memeluk segala gundah melalui semburat jingga di langit sore, menghibur dan menyampaikan pesan bahwa "everything's gonna be okay, Aku akan selalu ada untukmu, mintalah dan berbaik sangkalah akan semua suratan yang telah kutuliskan".


Terima kasih untuk segala rasa yang tidak baik-baik saja, saya belajar untuk berserah, belajar mengontrol diri untuk tidak mengontrol keadaan.

Moment To Remember

  Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...