Rasanya sudah lama sekali tidak mengunjungi blog ini, terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan banyak alasan yang diberikan untuk tidak menulis. Hari ini mau menulis status WA, tapi kepanjangan jadi berfikir mungkin ini bisa menjadi awal menulis kembali di blog, tentang kerandoman hidup yang bisa jadi bahan refleksi dan mungkin menjadi jejak hidup yang terabadikan, bahwa hidup tak selalu tentang suka dan cinta, tapi terkadang harus menghadapi duka dan lara.
Belakangan hidup terasa tidak baik-baik saja. Tak usah tanyakan kenapa? Terkadang tak butuh alasan tertentu untuk merasa tidak baik-baik saja. Melakukan sesuatu tapi terasa hampa, memiliki hampir semuanya tapi merasa kosong. Mencoba figure out the reason why I feel that feeling tapi tak juga kunjung membaik, malah hampir setiap hal mentrigger emosi, kadang hanya mendengarkan orang membahas tentang energi dan frekuensi, menonton podcast yang bahas tentang trauma healing, melihat orang yang dapat beasiswa dan berangkat ke luar negeri, atau membaca buku yang membahas realita sosial, itu saja mampu membuat nangis
kejer selama beberapa waktu.
Namun, hari ini mencoba keluar dari sangkar, mencari udara segara, menggerakkan badan dan menyatu dengan bumi, perasaan perlahan mulai membaik. Pagi hingga siang ke kantor untuk bekerja, siang ke sore tidur di rumah, lalu sorenya keluar untuk jogging selama lima putaran. Lalu duduk hening sejenak grounding sambil membaca buku, perlahan energi bumi menyatu ke tubuh dan membuat perasaan berangsur membaik. Mungkin keadaan sedang tidak baik-baik saja, tapi saya memilih untuk tidak menyerah begitu saja dengan keadaan yang seakan tiada ampun membombardir perasaan, saya memilih melawan dan menstabilkan rasa.
Pulang dari jogging, singgah beli sate, melariskan jualan pedagang kaki lama. Kemarin baca buku "Sisi Gelap Surga" tapi belum sampai selesai, kondisiku sedang tidak baik-baik saja untuk membaca kisah yang menyesakkan, kisah-kisahnya terasa begitu dekat dan nyata, mengetahui realita di sekitar kita banyak ketidak idealan, tapi kita tak punya kuasa untuk melakukan perubahan.
Satu cerita di buku tersebut mengisahkan seorang penjual nasi goreng yang gamang apakah akan ada nasi goreng yang laku pada malam itu, hal ini yang menjadi motivasi untuk melariskan jualan pedagang kaki lima. Setidaknya, meskipun saya sedang tidak merasa baik-baik saja, saya masih bisa berbagi dengan orang lain, supaya kita tidak sama-sama suffer.
Saat mampir ke penjual sate di depan saya ada seorang laki-laki paru baya yang lebih dahulu memesan sate dibanding saya, ternyata pada saat membayar uangnya kurang lima ribu rupiah, dia hendak membayar Qris tapi penjual sate tidak menyediakan layanan tersebut, akhirnya dia pulang dan berjanji ke penjual satenya akan kembali sebentar lagi untuk melunasi. Pada saat saya membayar, saya sengaja membayar kekurangan pembeli yang tadi, ibu penjual sate menolak tapi saya tetap memaksa membayar. Ternyata efeknya luar biasa, perasaan saya menjadi terasa penuh dan tanpa terasa air mata pun mengalir haru. Terkadang hal-hal kecil bisa memberikan perubahan yang besar terhadap kita, sama halnya dengan bersedekah, bukan tentang nominal tapi seberapa lapang saat kita memberi, manfaatnya bukan ke yang menerima, tapi kepada kita yang memberi.
Dalam perjalanan menuju ke rumah, saat sudah masuk ke kompleks perumahan, nampak langit jingga yang begitu indah menambah kehangatan pada hati yang gersang, seakan Tuhan hadir dan memeluk segala gundah melalui semburat jingga di langit sore, menghibur dan menyampaikan pesan bahwa "everything's gonna be okay, Aku akan selalu ada untukmu, mintalah dan berbaik sangkalah akan semua suratan yang telah kutuliskan".
Terima kasih untuk segala rasa yang tidak baik-baik saja, saya belajar untuk berserah, belajar mengontrol diri untuk tidak mengontrol keadaan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar