Selasa, 30 Maret 2021

Volunteeran dalam Kondisi Pandemi

Setelah sekian lama, akhirnya bergabung lagi dalam dunia volunteer yang fokus dalam ranah pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, sebagai volunteer peserta, bukan sebagai panitia. Ternyata, volunteeran dalam situasi covid memberikan makna dan pengalaman tersendiri. Pengalaman yang sangat berbeda dan penuh dengan tanya juga protes. Kenapa begini kenapa begitu. Sampai pada satu kesimpulan, ya, setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya.

Bergabung dalam dunia volunteeran selama beberapa tahun ke belakang, umur yang terus bertambah, diri yang terus bertumbuh, sedikit banyak berpengaruh pada pola pikir. Melihat gaya volunteeran anak-anak sekarang yang ternyata masih sama dengan volunteeran 5-7 tahun silam. Ya, mungkin memang cocok dengan audience yang kebanyakan volunteernya masih di rentan usia early 20, tapi bagi saya yang usianya sudah 25+ rasa-rasanya melihat kondisi yang ada di lapangan menimbulkan banyak tanya juga komplain yang menari di kepala.

Berkegiatan dalam kondisi pandemi seperti saat ini, melahirkan tanya di kepala, apa yang sebenarnya kita cari, untuk apa dan untuk siapa semua ini? Apakah benar untuk adik-adik atau masyarakat, atau untuk eksistensi lembaga/komunitas kita, atau mungkin untuk ego kita yang ingin terus berkegiatan, jenuh dengan ketidak sibukan dan ketidak produktifan dan ingin terus berbuat sesuatu yang kita nilai sebagai sesuatu yang baik. Nyatanya, permasalahan di lapangan sangat kompleks, tidak cukup hanya dengan modal niat baik dan melakukan kegiatan yang seolah-olah menggugurkan kewajiban yang sebenarnya kita tidak punya kewajiban apa-apa untuk berkegiatan. Berkegiatan sehari dan "memaksa" menghadirkan adik-adik demi terlaksananya kegiatan kita mungkin bukanlah kebutuhan adik-adik, tapi mungkin kebutuhan ego kita.

Berbeda cerita ketika kegiatan yang kita lakukan rutin kita adakan setiap minggu. Mungkin dampaknya bisa lebih kelihatan, mungkin banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan mereka bukan kebutuhan kita. Misal membuat inisiasi untuk membantu guru-guru yang selama ini mengalami kesulitan dalam proses sekolah online, melakukan sosialisasi ke orang tua untuk pendampingan anak belajar, pemeriksaan kesehatan atau mendampingi adik-adik dalam proses belajarnya yang mungkin kesulitan karena harus belajar jarak jauh.

Berkegiatan di sekolah dalam kondisi pandemi hanya nampak menggugurkan kewajiban yang kita tidak wajib dan tidak ada yang mengharuskan kita untuk itu. Yang berbekas di kepala adik-adik bisa jadi hanya hadiah yang mereka dapatkan dari kegiatan yang kita lakukan. Sungguh, saya sangat tidak sepakat cara membujuk adik-adik dengan iming-iming hadiah, hal tersebut hanya akan membentuk mental hadiah , atau dengan cara mengancam adik-adik agar nurut, oh no, itu cara-cara lama yang mungkin kita alami dan sudah tidak perlu lagi kita teruskan ke generasi selanjutnya, karena akan berdampak dalam bentuk trauma ke adik-adik. Cukuplah kita yang mengalami dan memutus pola pembelajaran dengan sistem ancaman. Membuat adik-adik menurut harusnya dibangun dengan kebijaksanaan bukan ketakutan.

Meski banyak pergulatan batin selama proses mengikuti kegiatan volunteeran beberapa hari kemarin. Namun, ada begitu banyak hal juga yang menjadi pengalaman dan memberikan pelajaran. Bisa melihat kenyataan langsung kondisi adik-adik usia sekolah yang jauh dari sorotan dan tidak memiliki akses pembelajaran online seperti sekolah-sekolah di kota. Akibatnya, mereka benar-benar menjalani libur panjang. Tidak belajar sama sekali. Untungnya ada beberapa orang yang mendedikasikan diri dan ilmunya untuk mengajar adik-adik sehingga mereka ada kegiatan lain selain bermain. Arus globalisasi yang begitu cepat dan mengharuskan kita untuk bisa adaptif dengan teknologi, nyatanya tidak bisa dipukul rata, karena kenyataannya Indonesia dengan kondisi yang begitu luas dengan kontur geografis yang beragam belum semuanya mendapat akses yang setara. Listrik belum menjangkau semua titik apalagi internet. Kondisi pendidikan kita memang sekompleks itu dan butuh kerja kolektif yang terstruktur untuk membuat perubahan. Pendidikan alternatif yang diusung oleh teman-teman bisa menjadi sebuah solusi, hanya saja butuh direncanakan dan dikoordinir dengan baik. Meski banyak protes tapi saya menaruh apresiasi yang besar kepada orang-orang yang meski hidupnya sekarang tidak jauh lebih baik, tapi masih mau meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan juga finansial untuk terus berbagi dan terus menyalakan energi kebaikan.

Minggu, 28 Februari 2021

Sebuah Renungan

 

Pernah berada di sebuah kondisi, melihat sekeliling dan membandingkan hidup dengan orang lain. Merasa rendah diri dan useless, hingga mengurung diri dan melakukan social media toxic. Lelah terus-terusan iri melihat pencapaian orang dan mengutuki diri sendiri yang ngerasa jalan di tempat dan tidak kemana-kemana. Hingga pada akhirnya sadar dan menentukan tujuan dan value hidup. Lah ngapain saya membandingkan diri dengan orang lain, toh tujuan saya beda, value hidup saya beda. Hingga akhirnya belajar untuk merasa cukup.

Bertanya dan terus bertanya apa sebenarnya yang saya cari. Saya masih bisa menikmati makanan enak, tidur di tempat yang nyaman, memakai apa yang hendak saya pakai. Lalu kenapa saya begitu ngoyo?

Orang-orang berlomba untuk tampil baik2 saja, saya pun mengikuti. Hingga saya merasa lelah. Berusaha untuk menampilkan sesuatu terkadang berarti berusaha untuk mendapat pengakuan. Setelah mendapat pengakuan lalu apa? Tak ada ujungnya, terus membuktikan entah kepada siapa dan untuk apa. Semakin kita berusaha tampil baik-baik saja semakin membuktikan kita sedang tidak baik-baik saja. Hingga saya memilih berhenti dan belajar merasa cukup dengan apa yang saya miliki dan jalani, sekarang hidup saya terasa jauh lebih baik dan damai. Tanpa ada lagi ambisi besar untuk membuktikan apa-apa.

Privilese. Dulu, saya selalu berasumsi bahwa privilese itu saat kamu lahir di keluarga kaya, berpendidikan, dan segala fasilitas bisa kamu dapatkan dengan mudah itu adalah makna dari privilese. Tapi, ternyata saya salah, privilese maknanya bisa jauh lebih luas dari itu.

Saya selalu menggaungkan perspektif akan makna kesibukan dan mengejar cuan. Saya selalu berpendapat kenapa sih harus kerja mati-matian untuk mengejar cuan? Bahkan sampai harus mengorbankan waktu, kesehatan, bahkan keluarga. Toh semua orang ada rejekinya masing-masing dan rejeki adalah apa yang kita makan dan pakai pada saat itu, kenyamanan bisa kita cipta sendiri. Kenapa harus mati-matian mengejar sesuatu demi kemewahan dan mengorbankan sesuatu yang paling berharga, toh kita makan seenak dan semahal apapun akhirnya berlabuh juga di jamban, toh tidur melantai ataupun di kasur empuk sama-sama tujuannya tidur dan istirahat, toh menggunakan kendaraan sederhana ataupun mewah sama-sama fungsinya untuk mengantar kita sampai di tujuan. Begitu kurang lebih pergulatan demi pergulatan yang berseliweran di kepala. Hingga satu momen saya tersadarkan bahwa apa yang orang-orang kejar, apa yang orang-orang perjuangkan, ternyata saling berkorelasi dengan lingkungan dan juga privilese.

Ternyata, hidup dalam lingkungan keluarga dan pertemanan yang tidak banyak menuntut kita harus menjadi ini dan itu, kita harus tampil begini dan begitu, kita harus membuktikan ini dan itu, juga ternyata adalah sebuah keistimewaan. Tidak semua orang mendapat keistimewaan yang sama. Banyak orang yang harus kerja mati-matian siang malam bahkan tak lagi mengenal jam kerja demi untuk memenuhi standarisasi norma di masyarakat agar bisa diterima. Banyak orang yang harus jungkir balik memperjuangkan rejeki demi untuk memastikan keluarganya bisa bertahan dan tidak kelaparan. Banyak yang kelihatan begitu ngoyo demi untuk mempertahankan reputasi dan tetap mendapat pengakuan di masyarakat. Begitu banyak motif terselubung dari segala hal yang terlihat secara kasat mata, apa yang tampil di depan mata apalagi di sosial media terkadang hanyalah sebuah kamuflase dengan maksud dan tujuan yang beragam. Berempati dan tidak judgemental adalah sebuah skill set yang mesti dipelajari dan terus dilatih.

 

Minggu, 31 Januari 2021

Januari

 

Saya selalu merasakan rasa yang campur aduk acapkali menulis sesuatu yang berhubungan dengan waktu, tak terasa, itu kata yang selalu muncul. Tak terasa sudah berada di penghujung Januari. Waktu berlalu begitu cepat, sangat cepat, rasanya baru aja memulai tanggal 1 Januari, sekarang sudah berada di tanggal 31 Januari. Sungguh sangat cepat. Ada banyak hal yang terjadi sebulan ini, kelahiran, kematian, pernikahan, hingga pertengkaran dalam rumah tangga. Bencana terjadi di mana-mana. Rasa senang dan sedih yang silih berganti, tawa dan tangis mengiringi perjalanan sebulan ini.

Mengawali Januari dengan perasaan gembira, bertemu dengan orang-orang baik dalam kondisi yang baik. Tanggal 1 Januari resmi Panrita memiliki kantor. Setelah 4 tahun lamanya kami nomaden, pindah dari satu kafe ke  kafe yang lain untuk belajar. Selalu bingung ketika ditanya perihal domisili oleh para calon siswa. Namun, di awal bulan dan awal tahun yang baru ini akhirnya sudah bisa menjawab dengan jelas ketika ditanya kantornya di mana? Lanjut di tanggal 2 Januari masuk ke kantor baru dengan acara syukuran. Bersyukur bisa sampai di tahun keempat. Dengan personil yang bertambah banyak dan siswa yang kuantitasnya juga bertambah. Alhamdulillah memulai tahun yang baru, dengan suasana baru, dan beberapa program-program yang baru.

Minggu pertama Januari mama sakit. Kondisi yang membuat pikiran dan hati saya kalut. Apalagi pada waktu itu saya berada di Makassar dan mama di kampung. Ada perasaan bersalah karena tidak bisa merawat beliau saat beliau lagi sakit. Bahkan pernah satu malam saya tidak bisa tidur nyenyak dan tidur dalam keadaan memegang handphone, mempersiapkan diri untuk berbagai berita. Dulu, beberapa waktu silam keinginan untuk merantau bahkan mengabdi ke daerah-daerah pedalaman yang minim sinyal pernah begitu menggebu. Namun, belakangan entah karena faktor apa rasa-rasanya ingin stay di Makassar saja biar bisa kapan saja bertemu dengan orang tua. Bertumbuh dan menua bersama mereka, dan bisa merawat mereka dalam menjalani masa-masa senjanya.

Minggu kedua Januari saya dapat giliran mengawas ujian di salah satu kantor tentara di Makassar. Peserta yang terdaftar sebanyak tiga orang. Namun, pada malam itu yang datang hanya satu orang. Seorang petinggi TNI yang ketika namanya diketik di google akan muncul track record jabatan dan prestasi beliau. Jadwal belajar yang seharusnya berlangsung pukul 19.00-21.00 ternyata berakhir di pukul 23.30. Tidak hanya mengawas ujian, saya bersama si bapak berdiskusi mengenai soal-soal selepas ujian berakhir. Dalam proses diskusi kami, ada beberapa hal yang kupelajari secara tidak langsung dari si bapak. Saat beliau secara sadar atau tidak bercerita bahwa beliau terbebani dengan ujian yang akan dijalaninya, ekspektasi orang-orang yang menganggap beliau mampu untuk banyak hal. Selalu mempertanyakan dan sangsi ketika menyaksikan beliau gagal dan menganggap hal yang wajar dan biasa ketika beliau berhasil. Sesuatu yang membuatnya terbebani, orang-orang selalu berpikir bahwa beliau dengan mudah bisa mendapatkan apa yang diinginkan, padahal dibalik semua itu ada kerja keras dan tekananan yang mengiringi prosesnya. Saya belajar bahwa setiap fase akan selalu ada hal-hal yang membuat kita tertekan. Bahkan saat jabatan kita sudah tinggi sekali pun. Ekspektasi orang-orang akan selalu mengikut. Tak peduli bagaimana pun hebatnya kita dalam mencapai sesuatu, akan selalu ada ekspektasi-ekspektasi yang diinginkan lebih dari apa yang kita dapatkan. Selepas kelas berakhir, si bapak mengantar saya hingga ke parkiran, ajudan di mobil dinas beliau mengikutinya dari belakang, para penjaga di pos memberi hormat saat beliau lewat. Saya merasa terharu dengan kerendahan hatian beliau, beliau mengajak saya mengobrol dan mengantar saya hingga ke parkiran, menunggui saya hingga motor saya berlalu meninggalkan beliau. Malam itu terasa sangat dingin, suasana tengah malam ditambah rintik hujan yang membasahi jalanan. Namun, hati saya terasa begitu hangat.

Masih di minggu kedua Januari, bencana sudah datang silih berganti. Air mata dan rasa pilu terasa begitu menusuk. Mulai dari jatuhnya pesawat Sriwijaya Air, banjir bandang di Kalimantan Selatan, gempa di Sulawesi Barat, longsor dan banjir yang terjadi di berbagai tempat hingga muncul tagar Indonesia dikepung bencana. Belum lagi kasus virus corona yang tidak juga kunjung melandai, penyebarannya meningkat setiap hari, update berita kasus corona tak kunjung mereda. Peristiwa demi peristiwa yang seharusnya bisa mengajarkan kita banyak hal, belajar untuk selalu merasa cukup dan tidak serakah, belajar untuk tidak merusak alam, belajar untuk menjadi sebaik-baiknya manusia yang bisa saling menolong dengan manusia lain agar bisa sama-sama bangkit melalui masa-masa sulit ini, belajar untuk berserah diri kepada sang pencipta, kematian terasa begitu dekat.  

Memasuki minggu kedua Januari saya jatuh sakit. Panas yang mencapai 38 derajat membuat saya was-was. Sakit merupakan hal yang wajar dan bisa menyerang siapa saja, tetapi bedanya kondisi pasca covid mulai masuk ke Indonesia membuat sakit yang ada gejala covidnya membuat was-was. Saya tidak begitu khawatir dengan diri saya sendiri, saya malah khawatirnya ke orang-orang di sekeliling saya, jangan sampai saya menjadi penyebab mereka jatuh sakit. Saat-saat sakit tersebut membuat saya semakin mensyukuri arti sehat, lebih mensyukuri nikmatnya tidur nyenyak, bersyukur bisa makan makanaa apa saja. Selama ini selalu take if for granted untuk banyak hal bahkan untuk nikmat kesehatan, tidur nyenyak, bahkan makan. Selalu dengan sombongnya merasa tubuh kuat jadi kemungkinan untuk sakit kecil, lalu diberilah peringatan sama Allah agar tidak menjadi manusia sombong. “Diberi peringatan” agar bisa menghargai dan mensyukuri segala nikmat yang selama ini hanya diterima begitu saja dan belajar untuk lebih menyayangi diri sendiri, menerapkan pola hidup sehat. Tidak lagi minum minuman dingin saat habis keluar panas-panasan, sesuatu yang membuat saya jatuh sakit dan mengalami radang tenggorokan. Saat sakit terasa begitu banyak nikmat yang dicabut sementara oleh Allah. Nikmat sehat, nikmat makan, nikmat tidur nyenyak, nikmat bangun dan haha hihi.

Masih di bulan Januari. Ada begitu banyak berita dari orang-orang sekitar. Ada yang lahiran, ada yang menikah, ada yang meninggal bahkan untuk kasus meninggal ini hampir setiap hari ada saja berita meninggal yang lewat di timeline. Sungguh, saat-saat seperti ini selalu merasa kematian begitu dekat, bisa datang kepada siapa saja tanpa pernah menanyakan siap atau tidak . Selain berita bahagia pernikahan dan lahiran, berita mengenai kisruh rumah tangga juga masuk dalam cerita di Januari. Cerita dari teman dekat yang lagi bermasalah dengan pasangannya membuat berkali-kali istigfar dan mengelus dada. Banyak sekali pelajaran yang dikirimkan oleh Allah bulan ini. Dari yang bahagia hingga yang sedih.

Terakhir cerita di bulan ini, masih perihal bersyukur atas segala nikmat. Nikmat waktu luang dan leha-leha. Beberapa waktu lalu seorang teman menelfon, dia bercerita perihal aktifitas barunya saat ini. Dia sudah mulai bekerja dan menjalani kesibukan setelah setahun kemarin lowong. Dia, seseorang yang kutau begitu sering mengeluhkan status lowongnya kemarin karena tidak ngapa-ngapain, sekarang kudengar lagi keluh kesahnya perihal capeknya bekerja. Untuk pertama kalinya kudengar darinya yang menyarankan untuk menikmati waktu lowong, sesuatu yang dia keluhkan dulu ternyata saat ini begitu berharga. Memang benar-benar siklus kehidupan ya. Kita selalu mengejar sesuatu yang tidak kita miliki. Namun, saat kita sudah memiliki ternyata tidak selamanya membuat kita tenang dan bahagia. Sesuatu yang “nampak” memang begitu indah, namun keindahannya tidak selalu bertahan kuat hingga  kita menggenggamnya. Kita sering berdoa dan bertanya, namun tidak pernah betul-betul siap dengan jawaban-jawaban yang Tuhan kirimkan.

Mari kita menertawakan dan menikmati segala hal yang terjadi dalam kehidupan kita, karena siklus kehidupan dengan begitu mudah berganti, kita hanya perlu menikmati dan mensyukuri segala kejutan-kejutan yang diamanahkan kepada kita.

Keep smile, fighting, dan selalu belajar bersyukur ^^. Selamat menanti bulan Februari, bulan yang katanya penuh cinta 😊. Selamat mengarungi kehidupan bulan Februari, selamat menikmati segala kejutan-kejutan yang menanti.

 

Moment To Remember

  Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...