Selasa, 31 Desember 2024

Serba Serbi 2024

Siang ini, 30 Desember, menepi dari segala keriuhan dan memilih nongkrong di sebuah kafe favorit di tengah Kota Makassar, mencoba memesan matcha dingin untuk mendinginkan otak sebelum memulai merangkai kata refleksi tahun 2024. Setelah sekian lama baru mencoba lagi memesan matcha, selama ini hanya memesan coklat atau kopi aren, hari ini ingin sesuatu yang berbeda. Namun, matcha yang baru kupesan lagi setelah sekian lama rasanya cukup pahit karena tidak teraduk dengan baik, sebuah kejutan yang indah, bukankah pahit pun juga bisa dinikmati? Tidak hanya selalu menikmati yang manis.

Terlalu banyak hal yang terjadi di 2024, rangkaian cerita indah, perpisahan, kemarahan, kesepian, pertemuan, berbaur menjadi satu alur cerita indah. Tahun ini melewati cukup banyak perjalanan ke luar kota, Bau-bau, Wakatobi, Sinjai, Bulukumba, Kalimantan Selatan, Surabaya, Jogja, Karimun Jawa, Pangkep, Bantaeng. Hingga pertengahan tahun 2024 hampir setiap bulan melakukan perjalanan ke luar kota, bertemu dengan banyak orang baru, merangkai banyak cerita indah, bercengkrama dengan sanak saudara, bersenang-senang dengan teman-teman.

-   Januari

Cerita ini dimulai di awal bulan Januari, bulan Januari tahun ini menjadi bulan dengan banyak agenda berkumpul dan tukaran kado, mulai dari tukaran kado di kantor, lanjut ngumpul di rumah salah seorang teman untuk tukaran kado, berlanjut tukaran kado di ulang tahun Panrita, dan berakhir dengan staycation bersama dengan teman-teman Wanita ketche di Apartemen Vidaview. Selain agenda tukaran kado, di bulan Januari juga ada agenda kunjungan ke rumah salah seorang teman yang anaknya akikah. Lalu menutup bulan Januari dengan mengikuti kegiatan Jelajah Bumi Pertiwi di Wakatobi.

Perjalanan ke Wakatobi penuh dengan cerita yang indah, bertemu dengan siswa-siswa Alekawa yang sudah memulai kehidupan baru di kota yang baru, dibuat terharu dengan kehadiran keluarga Linder di pelabuhan yang rela menunggu dalam keadaan rintik hujan di Wakatobi hanya untuk sekadar mengucapkan selamat datang di Wakatobi. Sebuah momentum yang mengingatkan untuk selalu berbuat baik kepada siapa pun karena kita tidak pernah tahu esok lusa kita akan bertemu dengan siapa dalam kondisi yang seperti apa. Selepas dari kegiatan di Wakatobi dan kembali ke Bau-Bau di sana juga dipertemukan dengan  keluarga Jackson dan keluarga Lee yang meluangkan waktu untuk bertemu dan mentraktir makan gelato di Bau-Bau. Sebuah momen yang sangat priceless.

Selain pertemuan dengan alumni Alekawa, perjalanan ke Bau-Bau dan Wakatobi untuk pertama kalinya itu juga memberikan banyak pengalaman baru, berkenalan dengan banyak volunteer dengan berbagai latar belakang dari berbagai daerah, pertama kalinya mencoba makan gurita di Wakatobi, bertemu dengan lumba-lumba di tengah laut, mandi dan masak pakai air asin di Kapota, pawai budaya keliling Pulau Kapota dengan segala kemeriahannya, nonton film “Agak Laen” di bioskop Bau-Bau, rebutan tempat tidur di kapal dalam perjalanan pulang ke Makassar agar bisa dekatan dengan semua volunteer, dimarahin penumpang kapal karena bermain games dan tertawa berisik.

-   Februari

Pulang dari Wakatobi, beberapa teman singgah di Makassar untuk jalan-jalan dan mencoba makanan Makassar, ada yang hanya transit untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Jawa dengan naik pesawat, ada yang extend beberapa hari untuk bisa menjelajah beberapa tempat sebelum kembali ke rutinitas. Salah satu kebahagiaan tersendiri kalau bisa ngehosting teman-teman, sebuah rasa yang sama bahagianya ketika ke suatu tempat dan ada teman yang bersedia untuk nge-hosting. Beberapa hari menjadi tour guide dan juga sekaligus host selama teman-teman di Makassar.

Setelah berbagai kegiatan itu, akhirnya kembali dengan rutinitas sehari-hari untuk mengajar. Kembali bertukar cerita dengan para siswa tentang budaya dan bahasa. Selama mengajar di Alekawa rasa-rasanya rutinitas tersebut tidak hanya sebatas pekerjaan tapi menjadi salah satu wadah untuk bertumbuh, selalu merasa harus ada input baik dari pengalaman langsung atau pun dari bacaan agar bisa bertukar cerita dengan para siswa. Jadi selalu semangat jika melakukan perjalanan karena hal itu berarti akan ada bahan pembicaraan yang baru. Selain rutinitas mengajar, di akhir Februari saya, Selpi, dan Kak Nunu memanggil guru private untuk kami belajar menari persiapan ikut mengajar BIPA di luar negeri.

-   Maret

Awal Maret ada agenda gathering Mata Garuda Sul-Sel di Pantai Bosowa untuk membangun bonding sesame pengurus, lumayan recharge energi dengan bertemu dengan teman-teman dan juga dapat hadiah-hadiah yang cute. Lalu beberapa hari kemudian memasuki bulan ramadan dan disibukkan dengan agenda buka puasa di berbagai kelompok pertemanan. Syukuran ulang tahun Alekawa yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama tutor dan siswa, buka puasa Panrita, buka puasa teman SMA, buka puasa teman kuliah, buka puasa Mata Garuda di bantaran Sungai Jenne’berang. Selain agenda buka puasa di mana-mana, satu hal yang paling kusyukuri di ramadan tahun ini yaitu kesempatan bergabung di satu grup yang memiliki tujuan untuk belajar ayat demi ayat Alquran, mentadaburi ayat-ayat Al-Quran dan menuliskan insight yang didapat dari ayat tersebut. Agenda ini memberikan banyak pengetahuan baru tentang ayat-ayat suci Al-Quran yang selama ini biasanya hanya dibaca lafaz Arabnya tanpa tau arti dan sebab turunnya ayat tersebut.

-   April

Setelah menjalani berbagai macam kegiatan selama ramadan, di penghujung ramadan melakukan perjalanan pulang kampung untuk persiapan lebaran bersama dengan keluarga. Momen lebaran bersama dengan keluarga selalu menjadi agenda tahunan yang penting untuk dirayakan. Waktu berjeda dari segala kesibukan dan menikmati kebersamaan.

Berpindah-pindah tempat tinggal sejak SMP, SMA, kuliah S1 dan S2 membuatku tidak memiliki banyak teman di kampung halaman selain keluarga, jadi biasanya setelah lebaran ada teman dari luar daerah atau luar kota yang berkunjung ke rumah, tahun ini Keluarga teman SMA dari Makassar yang melakukan kunjungan, maklum dianya tidak punya kampung jadi tidak ada tradisi pulang kampung hehe. Bisa saling melengkapi, teman yang tidak punya kampung difasilitasi kampung untuk berkunjung, sayanya juga jadi senang mendapat kunjungan dari teman di kampung.

Bulan April ini juga menjadi hari Bahagia untuk salah satu staff Alekawa, Wirda, yang melangsungkan akad dan resepsi pernikahan di kampung halamannya di Sinjai. Rombongan tutor dan siswa Alekawa berangkat dari Makassar menuju ke nikahan Wirda di Sinjai, perjalanan ke Sinjai mereka lalui dengan melewati Soppeng agar bisa mampir ke rumah. Kunjungan siswa bule ke rumah di kampung sontak melahirkan kehebohan, bahkan bagi orang-orang yang sedang lewat, ada pengendara yang lewat depan rumah dan memberhentikan kendaraannya untuk sekadar singgah untuk berfoto bersama para bule. Di rumah pun tak kalah hebohnya tetangga dan keluarga yang datang untuk melihat bule dan berfoto bersama. Rombongan Alekawa sengaja menyempatkan waktu untuk ke kampung saya untuk berkunjung, bertemu dengan keluarga dan sekaligus makan siang.

Huru hara pertemuan dengan bule berlangsung beberapa jam dan kemudian melanjutkan perjalanan ke tujuan utama di Sinjai. Kami mengikuti prosesi mappaci, akad nikah, dan resepsi selama 1 malam 1 hari di Sinjai dan kemudian melanjutkan perjalanan liburan ke Bulukumba. Tidak banyak agenda jalan-jalan, kami liburan ala bule yang menghabiskan waktu yang berkualitas, berkumpul dan makan bersama di satu tempat. Kebetulan lokasi penginapan kami tepat berada di bibir pantai jadi tidak harus mencari spot foto atau spot nongkrong untuk menikmati pemandangan.

-   Mei

Awal Mei saya bersama teman-teman merancang sebuah project kolaborasi yang kami beri nama “Arungi Cita” yang memiliki filosofi mengarungi cita-cita, project yang menyatukan Komunitas Sinesia, Mata Garuda, Panrita, Alekawa. Empat organisasi/lembaga yang saya menjadi bagian di dalamnya, jadi seolah-seolah project pribadi yang dibantu oleh teman-teman untuk mewujudkan. Sebuah project yang dengan antusias kami rancang untuk menjadi navigasi bagi anak-anak SMA yang harapannya tidak salah memilih jalan seperti yang Sebagian besar dari kami pernah alami. Project tersebut alhamdulillah bisa terlaksana dengan baik dengan bantuan banyak teman dan kolaborasi dengan berbagai pihak.

Di bulan yang sama datang ke akikahan anak salah seorang teman. Tahun ini ada cukup banyak agenda nikahan dan akikahan juga, alhamdulillah sampai di umur ini yang dulu kusaksikan sebagai aktivitas manusia-manusia dewasa. Selain beberapa agenda tersebut, saya juga berkesempatan mendampingi Laura yang menjadi pemateri untuk anak-anak Al-Azhar di Mall Nipah, sebuah kegiatan seru yang tidak pernah saya dapatkan ketika saya masih SD dulu, belajar ala-ala bahasa Inggris di mall dipandu oleh bule hehe. Masih di bulan yang sama, salah satu sahabat SMAku, Rezky, menikah dengan laki-laki yang sudah menjadi pacarnya beberapa tahun terakhir.

-   Juni

Mengawali bulan Juni dengan jalan-jalan ke Pulau Lanjukang bersama dengan Nanda, akhirnya terwujud juga perjalanan ke Lanjukang, sebenarnya keinginan untuk jalan-jalan ke Pulau Lanjukang sudah ada sejak lama tapi baru ketemu kesempatannya. Perjalanan yang seru bisa menikmati keindahan alam Lanjukang dan bertemu dengan beberapa teman baru. Bersyukur tinggal di Makassar yang memiliki banyak pulau-pulau yang indah yang bisa dikunjungi dengan sehari perjalanan atau bisa dimanfaatkan untuk short vacation.

Berselang beberapa hari, saya bersama dengan orang tua melakukan kunjungan ke rumah kakak yang ada di Kalimantan Selatan, kami sekaligus merayakan idul adha bersama. Sudah lama sejak sekali kami tidak merayakan hari raya bersama-sama, dan tahun ini pun perayaan hari rayanya tidak lengkap karena adik sedang berada di papua. Kami menghabiskan 2 minggu di Kalimantan, melakukan berbagai rutinitas sebagai sebuah keluarga. Kebersamaan bersama dengan keluarga di usia segini menjadi hal yang sangat mahal, semua sudah dengan kesibukan dan tanggung jawabnya masing-masing di daerah yang berbeda-beda, jadi butuh waktu dan dana untuk bisa berkumpul bersama.

Akhir bulan Juni kami meninggalkan Kalimantan menggunakan kapal ferry menuju ke Surabaya, sebenarnya tujuan kami selanjutnya adalah Jogja, tapi kami lewat Surabaya agar lebih hemat. Naik kapal dari Kalimantan menuju Surabaya, lalu melanjutkan perjalanan dari Surabaya menuju ke Jogja. Untungnya saya sudah booking penginapan dan mobil beberapa hari sebelum kami tiba di Jogja karena ternyata akhir bulan Juni itu merupakan high season, sehingga banyak sekali orang yang liburan di Jogja yang mengakibatkan penginapan hampir semuanya penuh dan kendaraan rental sangat susah ditemukan, bahkan beberapa tempat wisata yang kami kunjungi hampir semuanya ramai. Kami menghabiskan beberapa hari di Jogja, alhamdulillah bahagia bisa jalan-jalan bersama orang tua di Jogja, kota yang memiliki tempat yang spesial di hati. Mama sebenarnya sudah pernah beberapa kali ke Jogja, khususnya pada saat saya kuliah di Jogja, tapi etta baru pertama kali ke Jogja dan kesempatan ini menjadi kesempatan yang berharga dan membahagiakan bisa menunjukkan beberapa tempat favoritku dulu pada saat kuliah, dan juga bisa mengenal beberapa teman-teman dekatku pada saat kuliah dulu. Semoga kami senantiasa diberikan kelapangan rezeki dan umur yang Panjang agar bisa melakukan banyak perjalanan-perjalanan lainnya. Akhir Juli mama dan etta kembali ke Makassar karena sudah ada kesibukan yang menanti, sedangkan saya masih tinggal beberapa hari. Jogja selalu punya daya magnet untuk dikunjungi dan sangat sayang jika hanya menghabiskan beberapa hari saja. Masih ada beberapa teman-teman yang juga mau ditemui.

-   Juli

Sepulangnya etta dan mama ke Makassar, di awal Juli Kak Galuh, salah satu volunteer yang kukenal pada saat di Wakatobi ternyata sedan gada conference di Jogja, jadilah kami menghabiskan dua hari untuk menjelajah Jogja. Setelah Kak Galuh balik, beberapa hari kemudian di akhir pekan saya bersama dengan Ani, Ana, dan Hanan berangkat ke Salatiga bertemu dengan Kak Kasih. Di akhir tahun 2023 sebenarnya ada rencana untuk datang ke Salatiga menemani Kak Kasih merayakan natal, tapi karena ada rencana ke Wakatobi di bulan Januari akhirnya rencana itu dibatalkan dan diubah jadwalnya ke bulan Juli.

Untuk pertama kalinya berkunjung ke Salatiga dan langsung jatuh cinta dengan kota ini. Kalau bisa berkhayal, rasanya mau ada kesempatan untuk bisa tinggal di Salatiga, kotanya tidak terlalu besar, sejuk, dan tenang, ditambah lagi rumah Kak Kasih diatur hingga menjadi rumah yang sangat homey. Beberapa kali Kak Kasih mengajak untuk keluar, tapi hanya satu kali kami memutuskan untuk nongkrong di luar, karena di rumah saja rasanya sudah terlalu nyaman. Kafe yang kami kunjungi pada saat keluar tempatnya sangat bagus dengan harga yang masih sangat masuk akal. Argh, semoga punya kesempatan untuk jalan-jalan ke Salatiga lagi. Kami menghabiskan waktu di Salatiga selama 3 hari, lalu kembali ke Jogja untuk persiapan nonton Tulus di Prambanan Jazz.  

Kak Kasih ikut menonton Tulus, meskipun dia bule ternyata dia juga mengenal Tulus dan tau beberapa lagunya. Momen menonton konser kali ini tidak akan pernah terlupakan, waktu itu ada beberapa band terkenal yang tampil, seperti Dewa 19, Gigi, dan Kahitna. Berkesannya bukan karena siapa yang tampil di konser itu, tapi karena kami terpencar. Ini momen paling menyebalkan pada saat itu, tapi sekarang malah ditertawakan karena momen itu sangat konyol haha. Jadi singkat cerita, kami datang ke Prambanan Jazz sore dan otomatis terpotong magrib. Kami bertiga (Saya, Ani, dan Ana) menuju mushola yang disiapkan panitia. Karena mau pipis, jadinya saya ke toilet sedangkan Ana dan Ani ke musholla, dan pintarnya saya semua barang-barang kutitipkan di mereka dan kami menyepakati satu tempat untuk bertemu. Waktu berjalan, mereka sholat, saya pun kemudian sholat dan ke titik yang kami sepakati untuk kumpul. Mereka tak ada di sana sampai beberapa menit kucari. Hari sudah mulai gelap, saya pun memutuskan untuk kembali ke depan panggung, tempat kami berempat nongkrong sebelumnya. Ternyata pada saat kembali, suasananya sudah berubah karena sudah mulai ramai dan sudah gelap. Saya tidak bisa menghubungi Ana dan Ani karena saya tidak tau nomor mereka, saya telefon hp saya yang dibawa oleh mereka tapi tidak ada respon dan masih panjang cerita ketololan lainnya hahaha. Pada akhirnya kami terpisah menonton, mereka menikmati karena berpikir toh saya berdua dengan Kak Kasih, tapi saya tidak menikmati karena fokus mencari mereka di tengah lautan manusia, jaringan yang hilang, dan hp yang lowbat. Sungguh nonton konser yang sangat berkesan.

Beberapa hari setelah nonton konser, kami (saya, Ana, dan Ani) berangkat ke Karimun Jawa, destinasi wisata yang sudah kami impi-impikan sejak 5-7 tahun lalu waktu kami masih kuliah, akhirnya kesampaian juga bisa ke sini dalam kondisi yang jauh lebih baik. Mungkin kalau berangkatnya dulu pas masih mahasiswa kami akan backpackeran, tapi sekarang karena mau yang lebih nyaman dan kami juga sudah punya uang jadi kami mengambil paket trip yang sekali bayar untuk semua hal mulai dari berangkat di Jepara sampai kembali ke Jepara. Pantai-pantai di Karimun Jawa sangat indah, meskipun alam bawah lautnya tidak begitu bagus, apalagi beberapa bulan sebelumnya saya sempat snorkeling di Wakatobi jadi ada perbandingan, tapi pantai dan panorama lautnya sangat indah. Kalau ada kesempatan, mau berkunjung lagi ke Karimun Jawa.

Minggu ketiga Juli, perjalanan yang cukup panjang sudah selesai dan waktunya kembali ke rutinitas dengan energi yang sudah 100% charged. Selain mengajar, sekembalinya dari Jogja saya langsung bergabung dengan teman-teman mempersiapkan terjun ke sekolah di akhir Juli. Jadi kegiatan Arungi ada dua waktu, akhir Juli dan pertengahan Agustus. Akhir Juli ini yang terjun ke sekolah adalah para fasilitator untuk mengambil data secara real tentang rencana adik-adik SMA, kemudian data tersebut kami olah untuk jadi referensi yang kami bagikan ke volunteer agar mereka mempersiapkan materi yang cocok dengan kebutuhan adik-adik di sana.

Bulan Juli ternyata cukup panjang. Setelah liburan, berkegiatan, tibalah di satu momen yang tak kalah berkesannya. Waktu ketika transfer uang kontrakan ke bapak kontrakan dan tiba-tiba ditelefon oleh bapak kontrakan yang menjelaskan banyak hal yang intinya “saya harus mengosongkan rumah yang sudah saya tempati 5 tahun itu dalam waktu dua minggu”. Belum juga hilang bayangan liburan, belum juga hilang capek berkegiatan, tiba-tiba ada hal baru yang cukup mengagetkan. Alurnya pun seperti drama di sinetron. Hahaha. What a life.

Malam ketika mendapat telefon itu masih ketawa-ketawa dan mencoba tenang memproses segala informasi yang datang begitu cepat dan seolah-seolah tidak memberikan waktu untuk berfikir. Keesokan harinya setelah tidur dengan tenang saya diskusi dengan orang tua, menghubungi teman yang sudah membeli rumah terlebih dahulu, dan merencanakan survey rumah yang rencana akan saya tempati sembari mempersiapkan berkas-berkas yang kemungkinan akan dibutuhkan.

Di bulan yang sama harus berbesar hati melepas kepergian salah satu teman terbaik, Aryana, untuk melanjutkan hidup dengan profesi yang berbeda di tanah yang nan jauh di sana, ada rasa sesak ketika sudah berada di fase nyaman dengan seseorang tapi harus berjarak, tapi setidaknya ada satu hal pasti yang kutau bahwa kita hanya berjarak, tidak berpisah.

-   Agustus

Hidup menjadi lebih berwarna dengan banyak drama kehidupan. Di waktu yang sangat terbatas alhamdulillah dimudahkan untuk mencari rumah, memantapkan hati memilih rumah, dan mengurus berkas-berkas KPR. Alhamdulillah Allah mudahkan segala prosesnya, bahkan ada momen ketika merasa pesimis pengajuan KPRnya akan approved karena status pekerjaan yang bukan pegawai tetap, tapi alhamdulillah Allah mengirimkan orang-orang baik yang membantu segala prosesnya dan semuanya menjadi mudah, bahkan di ACC oleh bank hanya dalam waktu kurang dari 2 minggu, dan akad kredit KPR kurang dari 1 bulan. Sempat menangis haru saat menjalani prosesnya, setiap kali ada keraguan selalu saja Allah mengirimkan bukti nyata yang mematahkan keraguan tersebut, lalu apalagi yang bisa kita andalkan sebagai manusia yang lemah ini selain berserah kepada Allah dan berusaha.

Selain kemudahan, alhamdulillah ada banyak hal kebetulan yang terjadi, kebetulan dapat rumah yang sudah hampir rampung, rumah yang sudah dibooking oleh orang lain tapi tiba-tiba batal diambil oleh pemilik sebelumnya karena satu dua alasan, dan rumahnya kebetulan pas tetanggaan dengan Kak Udpa, sesuatu yang kelihatan semua serba kebetulan tapi nyatanya sudah diatur sedemikian apik oleh sang maha pengatur, terima kasih ya Allah, maafkan hambamu ini yang seringkali khawatir dan ragu tentang banyak hal.

Akan ada momen-momen dipaksa oleh keadaan untuk berproses, belajar, dan bertumbuh. Rasa-rasanya hal-hal tersebut penuh dengan ketidaknyamanan. Salah satunya ya proses memiliki rumah ini, sudah sejak lama disuruh untuk membeli rumah, tapi tak pernah ada niat serius untuk mencari karena terlalu nyaman hidup di kontrakan, bahkan saya sudah menghitung simulasi kalau harus ngontrak 10 tahun berapa anggaran yang harus saya siapkan. Tapi namanya manusia ya, kita hanya bisa berencana, Allah sebaik-baik pengatur yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Dalam keadaan terdesak dan tidak ada pilihan barulah pada akhirnya mau tidak mau membeli rumah, alhamdulillahnya dapat rumah di lokasi yang strategis dengan proses yang alhamdulillah mudah. Satu hikmah yang kupetik, andaikan memutuskan membeli rumah sejak beberapa tahun yang lalu, mungkin pilihannya akan jatuh ke rumah subsidi yang jaraknya cukup jauh dari kota, untunglah dengan segala skenario terbaik Allah bisa menempati rumah yang semoga bisa memberikan kenyamanan dan kebaikan.

Di bulan yang sama program lanjutan Arungi Cita dilaksanakan dengan menghadirkan volunteer dari berbagai profesi untuk hadir membagikan pengalaman dan gambaran pekerjaan mereka, alhamdulillah semuanya berjalan lancar sesuai dengan rencana.

Akhir Agustus pulang ke kampung karena ada sepupu yang melangsungkan acara pernikahan. Untung saja kegiatan Arungi tidak bersamaan dengan nikahan sepupu, jadi tidak harus terpaksa memilih dua hal yang sama-sama penting.

-   September

My day. Accidentally, meskipun tidak ada sesuatu yang benar-benar kebetulan. Saat tiduran sambil main hp, tiba-tiba masuk chat dari Winda, sahabat SMAku, yang mengajak untuk staycation. Dia sudah memesan kamar hotel dengan dua orang temannya dan kebetulan dua-duanya berhalangan datang karena ada urusan yang lain, sedangkan kamar yang sudah dipesan tidak bisa cancel dan reschedule. Ajakan tersebut tepat sehari sebelum ulang tahunku. Sebenarnya Winda tidak ada niatan untuk ngasih surprise karena dia lupa kalau besoknya itu ulang tahunku, tapi kebetulan saja dia mengirim foto kami staycation di grup, dan salah satu sahabatku yang lain chat ke Winda menanyakan apakah kebersamaan kami disengaja atau tidak. Keesokan harinya setelah sarapan tiba-tiba saja Winda datang dengan kuetartnya yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan di mall bersama teman-teman. Saya mendapat hadiah dari setiap teman. Senang banget rasanya dengan hubungan kami yang longlast sejak SMA dan selalu meluangkan waktu untuk merayakan momen-momen istimewa kami. Selain perayaan kecil bersama dengan teman-teman, saya juga merayakan diri sendiri dengan mentraktir diri sendiri dengan kuetart sehat. Alhamdulillah bulan penuh berkah.

Bulan September menjadi awal kesibukan di Alekawa dan Panrita secara ugal-ugalan, alhamdulillah jadwal selalu padat hampir setiap hari, bahkan beberapa kali sampai menolak kelas karena menyadari alarm tubuh yang sudah tidak sanggup untuk terus diporsir. Pada waktu itu akhirnya menyadari limit tubuh dan membuat batasan yang mana bisa kuterima, yang mana harus kutolak demi Kesehatan fisik dan mental.

-   Oktober

Kesibukan September belum berakhir dan masih berlanjut di bulan Oktober. Selain mengajar dengan jadwal yang cukup padat yang menguras energi dan fikiran, perpisahan dengan keluarga Parker yang kembali ke Amerika menambah satu hal yang terkuras, mentally. Saya cukup dekat dengan Laura, kami sering menghabiskan waktu nongkrong dan berdiskusi hal-hal yang ringan hingga berat yang membuat kami memiliki hubungan emosional yang cukup dekat, jadi saat mereka harus kembali ke Amerika, saat itu juga sangat terasa sedihnya karena membayangkan akan menjalani hari-hari dengan rutinitas yang berbeda yang tidak ada Laura di dalamnya selama beberapa bulan. Tapi, hidup harus tetap berlanjut ada atau tidaknya orang-orang yang cukup dekat dengan kita. Jadi beberapa hari setelahnya sudah bisa berdamai dengan perpisahan dan kembali ke rutinitas semula.

Overwhelmed yang dirasakan sejak awal Oktober karena rutinitas dan perpisahan, ternyata tidak berakhir sampai di situ, ada satu hal lain yang menambah beban pikiran dan menguras energi, tidak lain dan tidak bukan adalah urusan dengan polisi. Surprisingly, semuanya serba tiba-tiba, tiba-tiba berurusan dengan polisi yang tiba-tiba mempermasalahkan hal yang selama 7 tahun terakhir baik-baik saja. Tapi, hahaha dari beberapa paragraf sebelumnya selalu saja ada kata tapinya. Tapii, everything happens for a reason. Karena kejadian ini, ada beberapa hal yang sebelumnya dianggap biasa-biasa saja akhirnya kami pedulikan bahwa hal tersebut sangatlah penting. Utamanya pencatatan keuangan, laporan pajak, dan serba serbi administrasi. Untungnya berkas-berkas kami semuanya lengkap dan tidak bermasalah, sehingga tidak ada celah untuk diproses lebih lanjut, meskipun kata pak polisinya kasusnya belum ditutup, setidaknya sudah tidak harus bolak balik lagi ke kantor polisi dalam waktu dekat dan semoga tidak akan pernah lagi ke sana karena sebuah masalah. Ada satu hal yang juga menjadi perhatian kami akibat kejadian ini, yakni belajar strategi komunikasi yang baik dan seluk beluk perizinan untuk menyelenggarakan kegiatan. Karena kejadian ini, jadinya kenalan kami bertambah hahaha, jadi kenal dan saling simpan nomor dengan penyidiknya, bisa saling lihat status juga dan bisa tau informasi terkini terkait sesuatu yang terjadi di sekitar karena pak polisinya rajin banget update status hahaha.

Di pertengahan Oktober, setelah melewati banyak hal yang menguras energi dan pikiran, kami memutuskan menepi sejenak ke Malino, melepas segala penat. Rencana sudah sangat matang meski pada hari keberangkatan Kak Udpa tidak jadi berangkat karena salah satu anaknya sakit. Akhirnya kami hanya menghabiskan waktu di villa, pindah dapur dan tempat tidur, momen yang cukup menyenangkan untuk rehat. Oh iya, ada satu hal lain yang terjadi di minggu itu. Saya yang daftar CPNS karena disuruh oleh Kak Udpa ternyata hari tesnya bersamaan dengan jadwal berangkat ke Malino. Saya merasa hal ini menjadi jawaban atas keraguan saya apakah akan melanjutkan proses pendaftaran CPNS atau tidak, jadi saya memilih tetap berangkat liburan dan tidak ikut seleksi. Ketika ikut seleksi dan saya lolos SKD bisa dipastikan saya akan lolos menjadi CPNS karena kebutuhan formasinya dua dan saya satu-satunya pendaftar di formasi tersebut. Saya merasa ini menjadi keputusan yang bijak karena ketika saya ikut seleksi lalu lolos SKD dan saya tidak melanjutkan ke SKB, saya mungkin akan ada penyesalan di kemudian hari, tapi karena ini tidak dicoba dari awal jadi tidak akan ada penyesalan kemudian, insyaallah semoga hahaha.

Akhir Oktober, liburan masih berlanjut, saya menemani Kak Udpa dan keluarganya untuk jalan-jalan ke Bantimurung sebagai pengobat hati karena tidak bisa ikut ke Malino. Jalan-jalan ke Bantimurung menjadi self-healing karena bisa bermain air di mata air murni dan pada saat itu pengunjung tidak terlalu ramai jadi bisa menikmati.

Selain agenda jalan-jalan, Oktober ditutup dengan kegiatan dewasa yakni mengemasi mengemasi barang-barang untuk pindahan.

-   November

Awal November sudah mulai pindah ke rumah yang baru meskipun belum selesai 100%. Alhamdulillah proses memiliki rumah sangat dimudahkan oleh Allah, tapi ternyata tantangannya adalah ketika telah memiliki rumah hahaha. Harus pindah “terpaksa” di saat rumahnya belum 100% selesai karena batas tinggal di kontrakan sudah habis, harus menempati rumah yang belum ada pintu dan jendela, ditambah lagi hari-hari awal di rumah baru saat itu sudah memasuki musim hujan, jadi bisa kebayang rempongnya tinggal di rumah yang hanya ditutupi dengan kardus dan musim hujan, ditambah lagi ada beberapa tukang yang ikut tinggal di rumah, barang banyak berserakan di mana-mana, rumah mulai kelihatan ada yang bocor, sungguh hari-hari yang menguras energi dan kesabaran.

Selama sebulanan di November berurusan dengan rumah serta tetek bengek dan segala dramanya sukses membuat stress hahaha. Ditambah lagi siswa di Alekawa berkurang secara drastis, kelas di Panrita sudah selesai, jadi tetap tinggal di rumah dengan segala keruwetannya, karena terkadang malas juga keluar rumah kalau tidak ada urusan, jadi ya sudah terima nasib tinggal di rumah dengan hati yang campur aduk.

Alhamdulillah semuanya terlewati meskipun tertatih. Di pertengahan November sempat mengadakan acara syukuran dan alhamdulillah banyak teman-teman yang datang, dapat banyak kado juga yang mengurangi list belanjaan yang harus dibeli jadinya stresnya berkurang hahaha. Ada satu hal lain yang menjadi sumber stress, baru memasuki fase dewasa yang ternyata cukup berat apalagi saat berurusan dengan finansial. Baru terjun langsung mengurus bahan-bahan renovasi, mengisi perabot rumah yang ternyata budgetnya cukup besar ahahaha.

Alhamdulillah alhamdulillah November berakhir juga dan bisa lulus dengan waras hahaha

-   Desember

Memasuki bulan Desember, artinya sebulan sudah berlalu di rumah yang baru, meskipun rumah belum 100% rampung, bocor masih terlihat di beberapa titik, muncul beberapa masalah yang lain, tapi sudah jauh lebih berdamai dengan keadaan. Melihat segala ketidaksempurnaan itu sudah tidak lagi stress, yang ada malah ketawa-ketawa saat harus menghadapi masalah-masalah berbeda dengan bulan sebelumnya saat melihat ada bocor dan masalah yang lain bawaannya stress dan bad mood ke semua orang. Desember urusan rumah sudah jauh lebih baik, perasaan juga sudah mulai berdamai dengan banyaknya kekurangan, hidup pun menjadi jauh lebih baik.

Setelah melewati fase stress urusan rumah, “masalah” yang lain kemudian muncul. Sempat berada di situasi “krisis”, mempertanyakan dan mengkhawatirkan banyak hal, tapi hanya selang sehari tiba-tiba Allah menjawab segala keraguan tersebut. Untungnya masalahnya ada dalam diri sendiri yang masih masuk dalam lingkaran “control”, jadi bisa dengan cukup mudah diatasi meskipun tetap tertatih. Alhamdulillah Allah selalu membersamai dan tidak pernah meninggalkan meskipun kadang hambanya ini kadang meragukan, hikz. Makasih banyak Allah.

Di bulan ini ada perpisahan juga dengan keluarga Wiseman yang kembali ke Amerika, jadi fiks di Alekawa hanya ada beberapa kelas karena hampir semua siswa sedang berada di luar kota dan luar negeri. Berita baiknya bulan ini sempat mencoba pengalaman baru naik kereta di Sulawesi untuk pertama kalinya, makan kerang di Barru juga untuk pertama kalinya, dan menikmati pemandangan dari dalam kereta dalam perjalanan pulang. Bagaikan pengobat hati terhadap hati yang gusar beberapa minggu sebelumnya.

Awal tanggal 20-an ada rapat Panrita dan kemudian lanjut rapat tahunan Alekawa juga untuk rencana tahun 2025, setidaknya ada semangat baru untuk menghadapi tahun 2025 dengan jauh lebih baik. Ada perjalanan dadakan juga ke Bantaeng untuk bertemu bupati Bantaeng terpilih untuk membahas potensi kerjasama dengan LPDP. Dan terakhir hari ini, tanggal 31 Desember, saat tulisan ini mulai dirampungkan, tadi sore kami (Saya, Kak Udpa, Kak Nunu, dan Kak Yayat) nongkrong di Excelso untuk membahas satu program yang akan kami kerjakan bersama di tahun depan. Malamnya, berkumpul bersama dengan keluarga untuk menantikan pergantian tahun.

Alhamdulillah menutup tahun dengan melewatinya bersama-sama orang-orang terkasih, orang-orang yang menyaksikan dan membersamai perjalanan 2024 dengan segala dramanya.

 

Tahun ini belajar lebih banyak tentang hal spiritual, energi, trauma dan pola hidup sehat. Dalam proses belajar ini pula cukup terasa ujian demi ujian untuk menguji apakah sanggup untuk mempraktekkan apa yang sudah dipelajari atau tidak, tanggung jawab belajar tidak hanya berakhir sekadar tau, tapi apakah ilmu yang dipelajari bermanfaat atau tidak, bisa dipraktekkan atau tidak.

Ada banyak perasaan tidak nyaman yang muncul karena harus mengulik sesuatu yang mungkin sengaja atau tidak, sudah dikubur dalam-dalam dan harus dibawa ke permukaan. Alhamdulillah semuanya terlewati meskipun tertatih.

Terima kasih tahun 2024 dengan berbagai ceritanya. Dengan segala macam emosi. Dengan segala macam pelajaran. Dengan banyaknya pertemuan dan perpisahan. Semoga saya bisa bertumbuh menjadi sosok yang jauh lebih dewasa dan lebih bijak dalam menjalani kehidupan ke depannya.

Semoga tahun 2025 jauh lebih berwarna dengan cerita yang lebih baik. Bisa bertemu dengan jodoh dan menikah di tahun 2025. Aamiin


Baiti Jannati - 31 Desember 2024

22:24

 

 

 


Senin, 15 Juli 2024

Menikmati Kebahagiaan di Karimun Jawa


Perjalanan dimulai dari Jogja menggunakan daytrans yang sudah kami booking beberapa hari sebelumnya, pemesanan tiket bisa langsung ke kantornya atau bisa melalui aplikasi Tiket.com atau Traveloka. Daytrans tujuan Jogja langsung ke Pelabuhan Jepara dengan waktu keberangkatan dari kantor Gading pukul 23.00 dan tiba di Pelabuhan Jepara pukul 05.00. Turunnya pas di depan gerbang pelabuhan, jalan kaki dikit sudah masuk ke area pelabuhan. Kalau ke Karimun pakai open trip nanti bisa langsung ketemu sama tim penjemputan di sekitar area pelabuhan, tapi kalau mandiri atau backpackeran bisa langsung ke loket tiket yang ada di pelabuhan untuk membeli tiket khusus kapal Siginjai dan jika ingin menggunakan kapal cepat bisa booking di aplikasi Express Bahari Mobile jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Adapun untuk waktu keberangkatan kapal Siginjai yakni pukul 07.00 dengan estimasi waktu tempuh kurang lebih 4 jam sedangkan untuk kapal express berangkatnya pukul 09.00 dengan estimasi waktu tempuh kurang lebih 2 jam, tiba di Pelabuhan Karimun Jawa sekitar pukul 11.00-12.00.


Karena kami pakai open trip jadi yang akan kuceritakan adalah point of view dari sisi pengguna open trip. Kami menggunakan open trip 3 hari 2 malam dengan menggunakan kapal cepat dan sudah all in mulai dari awal penjemputan di pelabuhan, penginapan, makan, tour darat dan laut, transportasi dan juga dokumentasi biasa maupun drone.


Pada saat turun dari kapal, di pelabuhan ada baaanyak sekali orang yang menawarkan jasa jemput, jasa rental motor/mobil, dan penginapan. Jadi kalau backpackeran pun tidak perlu khawatir atau kebingungan mencari tempat maupun transportasi.


Sama seperti di Pelabuhan Jepara, saat tiba di Pelabuhan Karimun Jawa salah satu crew dari open trip yang kami gunakan sudah menunggu kami di Pelabuhan. Kami dijemput dan diantar langsung ke penginapan. Kami tiba di penginapan sekitar pukul 12.00 dan sudah disambut oleh makanan dan minuman segar yang sudah tersedia di atas meja dan juga sambutan dari kamar yang bersih dan wangi. Karena kelaparan setelah diayun ombak laut Karimun kami langsung makan dan beres-beres, agenda selanjutnya hari itu yakni jalan-jalan ke Pantai Bobby. Crew yang mengantar kami ke penginapan menginformasikan bahwa kami akan dijemput lagi pukul 13.45. Awalnya berfikir bahwa bisalah leha-leha dan mager-mageran dulu paling juga nanti molor dijemputnya, tapi ternyata pas 13.45 pintu kamar sudah diketok oleh crew lain yang akan menemani kami di Pantai Bobby. Bintang 5 untuk ketepatan waktunya. 


Oh iya, di itinerary trip yang kami gunakan hanya menyebutkan tempat-tempat yang akan dikunjungi, tapi tidak ada jam khusus yang dicantumkan, dalam artian waktunya cukup fleksibel jadi lebih nyaman juga karena tidak harus terburu-buru sat set ke sana ke mari, dan tentunya semua list tempat yang dituliskan di itinerary bisa dikunjungi. Waktu kunjungan ke tempat selanjutnya selalu diinfokan oleh crew setelah satu tempat selesai dikunjungi.


Selain apresiasi ketepatan waktu dari pihak open tripnya, saya juga sangat mengapresiasi pemilihan tempat dan waktu yang tepat untuk kami berkunjung. Seperti di Pantai Bobby, kami tiba di sana sekitar pukul 14.00 dan saat itu tidak terlalu ramai, entah orang ramai sebelum kami datang atau gimana tapi yang jelas saat kami tiba di sana suasanya cukup sepi, jadi kami mengambil foto di berbagai spot lebih enak tidak harus antri lama dan tidak harus bocor sana sini. Puas menikmati dan mengambil dokumentasi di Pantai Bobby selanjutnya kami ke Pantai Sunset.  Penamaan pantai Sunset kayaknya karena di pantai ini kita bisa menikmati sunset dan senja yang saaaangat indah. Di sini kami foto-foto, minum degan, makan gorengan sembari menunggu sunset. Di sini juga tersedia beberapa toilet dan juga ada musholla. Di samping pantai sunset terdapat tempat yang juga terkenal yakni Pantai Tanjung Gelam, tapiii di sini saaangat ramai, jadi kami ke sini hanya melihat-lihat suasana pantai TG dan kembali ke pantai sunset untuk menunggu sunset.


Di Pantai Sunset sekitar pukul 17.00 orang-orang sudah ramai berdatangan dan tepat saat matahari mulai tenggelam hampir di setiap titik diisi orang-orang yang ingin mengabadikan matahari tenggelam. Di momen ini sempat terheran-heran juga dengan fotografer yang juga sekaligus guide kami yang malah tidur hahaha, kocak dan ngeselin gak sih hahaha. Saat matahari sudah tenggelam sepenuhnya kami sudah bersiap-siap pulang, tapi sang fotografer malah baru mengambil peralatannya, tetap dengan mode komunikasinya yang cukup unik. Kami menunggu sejenak sampai langit berubah menjadi senja yang sangat cantik dan orang-orang sudah sepi, dan ternyataa waktu itu adalah momen yang sangat tepat untuk mengambil gambar dan video, waktu di saat semburat senja dan gradasi warna langit yang sangat indah terpancar. Bintang 5 untuk fotografer yang irit ngomong, memiliki cara komunikasi yang unik, tapi mampu menghasilkan hasil dokumentasi yang sangat bagus. Setelah puas foto kami kembali ke penginapan dan hari pertama pun berakhir dengan kondisi tubuh yang kelelahan tapi hati yang senang dan Bahagia.


Day 2 diawali dengan sunrise di Pantai Bobby (again). Kami siap-siap pukul 05.00 sesuai instruksi, tapi ternyata dijemputnya hampir setengah 6 karena ternyata mataharinya juga baru terbit menjelang jam 6. Saat kami di sana suasananya tidak terlalu ramai (syukurlah), mungkin setiap penyelenggara trip punya destinasi yang berbeda di setiap waktu jadi tidak numpuk di satu tempat. Di sini kami bisa menikmati sunrise yang indah disertai suara desiran ombak yang membuat otak menjadi rileks, bisa grounding sekaligus sunbathing, momen yang sangat indah.


Selanjutnya kami kembali ke penginapan untuk sarapan dan siap-siap untuk tour laut. Kami dijemput pukul 08.30 untuk menuju ke deramaga, di dermaga kami bertemu baaanyak sekali orang. Nah di kapal kami juga sekapal dengan orang-orang yang random, sistem tour laut adalah sistem sharing jadi bisa aja dari berbagai trip digabung menjadi satu. Kapasitas kapal yang kami gunakan sekitar kurang lebih 20 orang dengan 3 orang guide yang juga merangkap sebagai dokumentator + 1 kapten kapal, mereka semua sangat baik dan ramah, peralatan yang dipinjamkan juga kualitasnya bagus.


Tujuan pertama yakni snorkeling dengan ikan ikan hias dan foto-foto bawah laut, lalu lanjut makan siang di Cemara Besar, di Pulau Cemara Besar tempat persinggahan hampir semua orang untuk makan siang sepertinya karena raamai sekali. Di sini juga tersedia beberapa penjual minuman dingin, degan, gorengan dan juga fasilitas toilet dan musholla. Di Pulau Cemara Besar ini juga kita bisa lanjut bermain air karena meskipun mataharinya terik suasananya tetap dingin karena banyak pohon. Pantai Cemara Besar ini dikelilingi pasir putih yang luas dan sangat indah, jadi bisa foto-foto di berbagai sisi dan hasilnya akan tetap bagus karena alamnya sudah sangat indah.


Setelah makan siang kami lanjut perjalanan lagi menuju spot snokeling untuk foto dengan nemo, di sini hanya sebentar karena spot nemonya juga terbatas dan alam bawah lautnya tidak terlalu variatif dan airnya tampak sedikit keruh. Dan spot kunjungan terakhir yakni penangkaran Hiu. Kita bisa bergantian berfoto dengan baby hiu. Untungnya kami tiba di sini di saat suasananya masih agak sepi jadi tidak harus antri lama untuk foto dengan HIU. Tapi PR banget juga sih foto dengan hiu, so scary hahaha, apalagi selalu diinstruksikan untuk tidak banyak gerak dan jangan menurunkan tangan karena itu bisa dianggap umpan oleh hiu, jadi foto sok sok asyik tapi aslinya takuut haha. Di penangkaran hiu ini juga bisa liat bintang laut, ikan buntal, dan beberapa tempat yang dijadikan kramba untuk menyimpan ikan dan seafood lainnya. Perjalanan day dua berakhir saat kami berlabuh di dermaga. Bintang 5 untuk para guide yang ramah, baik, dan sangat totalitas.


Hari ketiga sekaligus hari terakhir. Kami packing pagi-pagi sekali untuk selanjutnya siap-siap ke Bukit Love sebagai destinasi terakhir. Lokasi Bukit Love tidak terlalu jauh dari dermaga. Di sini kita bisa menikmati hamparan laut yang saaangat indah dan hamparan pepohonan yang masih terjaga kelestariannya, cuaca di sini juga adem jadi sangat pas untuk bersantai dan relaksasi. Berjam-jam di sini pun rasanya akan betah. Ada beberapa spot untuk foto, salah satunya dengan ikon Karimun Jawa. Di sekitar tempat parkir banyak dijual souvenir yang harganya masih sangat terjangkau. Lalu setelah puas berfoto kami kembali ke penginapan untuk mengambil barang-barang dan kemudian kami diantar ke pelabuhan untuk kembali ke Jepara menggunakan kapal cepat di pukul 11.00 pagi.


Terima kasih untuk semua yang sudah membersamai perjalanan 3 hari 2 malam yang sangat berkesan dan menyenangkan ini. 

 

Awalnya sebelum berangkat ke sini tak pernah punya ekspektasi apa-apa, mikirnya ya namanya laut dan pulau pulau pasti akan gitu gitu aja, apalagi sebelumnya sudah pernah ke Gili Trawangan dan juga Labuan Bajo, beberapa bulan lalu baru balik dari Wakatobi, dan pernah ke banyak pantai dan pulau yang lain sehingga banyaak sekali perbandingan. Jadi datang ke Karimun benar-benar me-nol-kan ekspektasi biar gak kecewa, bahkan yang sebelum-sebelumnya selalu backpackeran kemana-mana, kali ini mencoba menggunakan open trip full dari awal hingga akhir yang itu pun juga minta tolong temen yang handle jadi tinggal bayar. Gak pernah sama sekali nyari foto-foto dan informasi tentang Karimun Jawa dengan kepasrahan apa pun yang terjadi ya udah dinikmati aja, bahkan sempat heran kok bisa seramai ini. Tapi semakin menyelami setiap sudutnya, menikmati setiap keindahannya, dimanjakan oleh hawa dingin pulau yang sangat langka (hampir semua pulau yang pernah kukunjungi itu selalu panas, baru di Karimun Jawa ngerasain pulau tapi sejuk), dilayani dengan sangat baik oleh orang-orang yang membantu perjalanan kami, dan menyaksikan banyak sekalii tawa kebahagiaan yang ditunjukkan oleh keluarga, sahabat, dan teman-teman yang sedang berlibur bersama di situ saya merasakan bahwa Karimun Jawa memiliki hal yang sangat istimewa. Dan yang paling berkesan adalah ombak Karimun Jawa yang tak terlupakan, baru kali ini merasakan hantaman ombak yang begitu besar, jadi naik kapal berasa naik roller coaster. hahhaha

 

Adapun biaya yang kami keluarkan:

  • Travel Jogja – Jepara = 140.000 (Daytrans – Bus) 
  • Travel Jepara – Jogja = 151.00 (Daytrans – Shuttle)
  • Biaya open trip = 1.550.000 @The Nekad Karimun Jawa (udah include semuanya dari berangkat di Pelabuhan Jepara dan kembali lagi ke Pelabuhan Jepara). Harganya bisa berbeda tergantung waktunya berapa lama, pilihan kapalnya, dan pilihan penginapannya. Untuk lebih jelasnya hubungin kontak tripnya aja biar lebih jelas.
  • Grab car dari Pelabuhan Jepara – Daytrans = 21.000

Total biaya perjalanan Jogja: 1.862.000




Minggu, 31 Desember 2023

Recap 2023

Selalu mellow setiap menuliskan cerita akhir tahun, selalu merasa waktu berlalu begitu cepat, detik berganti menit, menit berganti jam, hari, minggu, bulan, dan sekarang sudah di penghujung tahun. Tahun ini ngerasa berproses cukup lambat tapi semoga yang lambat itu memberikan makna yang cukup dalam. Menjalani slow living yang semoga bukan alibi dari kemalasan.

Mari kita rekap tahun 2023 dalam satu tulisan ini, semoga bisa menjadi kenangan jika dibaca tahun tahun ke depan.

Dari sekian banyak hal yang kupelajari dan kulalui di tahun 2023 ini, perjalanan spiritual menjadi hal yang mendapat atensiku cukup besar. Alhamdulillah tahun ini mendapat kesempatan dan rahmat sehingga bisa melakukan perjalanan umroh, meskipun kuakui perjalanan umroh itu tidaklah mulus, ada banyak logika yang main yang kutau seharusnya tidak melibatkan logika jika berkaitan dengan iman. Ada banyak hal yang kupertanyakan, ada banyak hal yang mengganggu pikiran, sehingga perjalanan ibadah menjalani perjalanan yang cukup berat buatku. Sepulangnya dari umroh beberapa bulan kemudian menjalani proses pembersihan jiwa dengan bantuan guru spiritual. Melalui proses ini kesangsianku terhadap banyak hal yang melibatkan logika akhirnya diuji, ada banyak hal yang tidak masuk akal tapi terjadi secara nyata di depan mata. Persilangan dimensi fisik dan roh, keterlibatan jin dan berbagai hal mistis lainnya yang seakan tidak masuk akal tapi nyata di depan mata membuka pikiran dan hati bahwa ya, ada banyak hal yang tidak masuk akal tapi harus diimani karena semua itu sudah diatur oleh sang Maha Pengatur.

Di tahun ini pun perjalanan karier cukup baik, alhamdulillah kelas di Panrita mulai ramai dari awal tahun hingga akhir tahun, seakan sebuah balasan dari tahun sebelumnya yang sangat sepi. Kerjaan di Alekawa juga alhamdulillah berjalan lancar, kantor yang serasa rumah, rekan kerja dan siswa yang seperti keluarga, menjadikan proses menjalani pekerjaan di sini juga terasa nikmat. Dan yang terpenting bisa bekerja sesuai dengan nilai-nilai yang dianggap tidak melanggar aturan-aturan agama serta idealisme. Setahun ini benar-benar belajar banyak dari berbagai diskusi, membuka mata terhadap perbedaan, bukan hanya perbedaan suku, tapi juga agama, ras, warna kulit, budaya, negara. Perbedaan-perbedaan yang melahirkan banyak pelajaran dan pengalaman serta keinginan untuk melihat langsung secara nyata budaya dari negara asalnya. Beberapa kerjaan freelance mengajar bahasa Inggris selama beberapa bulan yang alhamdulillah cukup mendukung proses untuk belajar dan menambah pundi-pundi. Dan juga sempat membantu teman untuk mengelola warkop selama beberapa bulan.

            Tahun ini juga sempat mengambil les TOEFL selama beberapa bulan meskipun pada akhirnya skor yang didapatkan tidak sesuai target, but it’s okay. Dari proses kursus ini akhirnya bisa mencoba memahami bagaimana perjuangan untuk bekerja dan belajar di saat yang bersamaan. Pagi mengajar Bahasa Indonesia, sore kursus TOEFL, malam mengajar verbal untuk CPNS, akhir pekan mengajar Bahasa Inggris untuk kids. Proses switching yang sebenarnya cukup mudah tapi juga cukup menantang. Di sela-sela waktu kosong lebih banyak memberikan waktu ke diri sendiri untuk bisa menikmati waktu untuk bisa nonton Netflix dan bermain timezone untuk tetap bisa menikmati work life balance.

            Alhamdulillah di tahun ini juga teman-teman baik yang suportif juga bertambah, merasa bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang selaras, orang-orang yang memiliki value yang sama untuk bertumbuh dan melakukan kebaikan, orang-orang dengan ketulusan rela meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk berbagi. Di sisi yang lain juga harus melepas orang-orang yang sudah tidak selaras. Bukankah hidup memang begitu? Semua ada time limit masing-masing. Ada yang bisa dipertahankan, ada yang harus dilepas karena sudah tidak sejalan, dan bukan berarti harus bermusuhan, kan? Hanya saja jalan kita sudah berbeda. Tahun ini menjadi tahun untuk belajar melepaskan hal-hal yang sudah seharusnya dilepaskan.

            Alhamdulillah di tahun ini mulai belajar hidup berkesadaran, sadar yang dikonsumsi masuk ke tubuh, pikiran, dan hati. Sadar untuk belajar hidup sehat demi untuk hidup yang lebih baik. Sadar untuk terus belajar dan bertumbuh.

 

Recap bulan ke bulan

Mengawali awal tahun dengan berkumpul bersama keluarga, melewati pergantian tahun di rumah bersama dengan keluarga. Alhamdulillah sangat bersyukur berada di keluarga yang baik dan harmonis, semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat, kesehatan, dan umur panjang yang penuh berkah untuk keluargaku. Alhamdulillah seperti tahun-tahun sebelumnya mengawali tahun 2023 dengan mengadakan syukuran Panrita yang ke-6 tahun, alhamdulillah Panrita sudah 6 tahun. Semoga terus bertumbuh menjadi tempat pengabdian, tempat berproses, tempat belajar, dan juga tempat yang bisa menjadi tangga menuju ke pencapaian tujuan hidup banyak orang.

Di Januari ada momen tukaran kado di Alekawa. Momen tukaran kado yang sebenarnya tidak surprise karena kadonya sesuai request-an, hehe. Lalu masih di bulan yang sama ada kumpul bersama dengan tutor dan siswa di rumah Kak Fera saat acara 7 bulanan, lalu di akhir bulan ditutup dengan barbeque bersama teman-teman di Panrita.

Di tengah huru hara pekerjaaan di Panrita dan Alekawa tapi tetap jalan-jalan adalah yang utama, haha. Alhamdulillah di Februari berkesempatan untuk ikut conference yang diadakan di BRIN Jakarta, di sana bertemu Ana, Ani, dan Nida dan tentunya yang paling berkesan bisa bertemu dengan Prof Putu bahkan bisa satu forum saat presentasi.  Menghabiskan beberapa hari di Jakarta untuk seminar dan jalan-jalan lalu melanjutkan perjalanan ke Jogja. Jogja selalu memiliki magnet untuk menarikku mengunjunginya setiap tahun. Tahun ini kusempatkan ke Jogja di bulan Februari. Menyusuri jalan-jalan yang selalu penuh kenangan dan nongkrong di kafe untuk sekadar menikmati live music. Untuk pertama kalinya juga bisa berkunjung ke SALAM, salah satu sekolah alternatif yang kukagumi. Alhamdulillah semesta memang selalu memberikan kejutan, kebetulan ada teman yang sedang menjadi fasilitator di SALAM sehingga ada kesempatan untuk mengunjungi dan berbaur langsung dengan lingkungan SALAM. Sekolah alternatif yang memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk murid bereksplorasi dan mengembangkan potensi sejatinya sebagaimana yang Allah kehendaki.

Sepulang dari jalan-jalan langsung pelantikan pengurus Mata Garuda LPDP Sulsel. Alhamdulillah dan astaghfirullah di saat bersamaan haha. Mendapatkan amanah untuk menjadi kepala departemen, amanah yang semoga bisa kupertanggung jawabkan. Di bulan Maret juga bisa kumpul bersama dengan semua orang-orang Alekawa untuk merayakan ulang tahun Alekawa di rumah Sarah.

Memasuki bulan puasa dengan berbagai agenda buka bersama. Bukber dengan tim Panrita, dengan tutor dan siswa Alekawa, dengan teman-teman kampus, dan dengan teman-teman SMA. Bulan puasa selain menjadi bulan penuh berkah juga menjadi bulan reunian dengan sanak keluarga dan sahabat. Akhir April ditutup dengan kunjungan sahabat-sahabat SMA ke Soppeng untuk berlibur dan menghabiskan waktu bersama.

Awal Mei alhamdulillah diberikan kesempatan bersama dengan Etta untuk berangkat umroh. Pertama kalinya umroh dan juga pertama kalinya ke luar negeri. Ada banyak keajaiban yang dirasakan selama umroh dan juga bisa merasakan kenikmatan dalam beribadah selama berada di tanah suci. Salah satu momen terindah di tahun ini adalah dengan adanya kesempatan untuk berangkat umroh. Semoga tahun 2024 diberikan kesempatan lagi untuk umroh. Aamiin. 

Awal Juni keluarga dari Kalimantan datang ke Makassar, alhamdulillah bisa kumpul keluarga secara lengkap dan akhirnya bisa mengadakan syukuran rumah. Pertengahan Juni bersama-bersama berangkat ke Surabaya menggunakan kapal. Di Surabaya kami berpisah, kakak beserta keluarganya melanjutkan perjalanan ke Kalimantan, saya bersama dengan mama dan teman-temannya melanjutkan jalan-jalan ke Malang dan ke Bali. Bulan Juni menjadi perjalanan panjang nan melelahkan. Menempuh perjalanan dari Makassar Surabaya menggunakan kapal, naik mobil keliling Surabaya-Madura-Malang, dan lanjut perjalanan darat menggunakan kereta-kapal-bis dari Surabaya menuju ke Bali, akhirnya nyerah dan minta pulang naik pesawat. Akhir Juni memilih untuk lebaran di Makassar, tidak pulang kampung, karena merasa cukup lelah dengan perjalanan panjang di hari-hari sebelumnya.

Bulan Juli Ayu dan Didit menikah. Saya bersama teman-teman melakukan perjalanan ke Polman untuk menghadiri akad nikah mereka. Lalu kembali ke rutinitas sehari-hari untuk mengajar. Akhir bulan Juli ditutup dengan pertemuan dengan para mentor dan mentee untuk mentoring LPDP.

Awal bulan Agustus ada acara “BERBUDI (Berbagi Budaya Indonesia)”, salah satu program di Alekawa untuk mengenalkan budaya ke para siswa. Berbudi kala itu diadakan di Maros, berkunjung ke salah satu pesantren untuk melihat kehidupan pesantren, lalu ke rumah Kak Oji untuk melihat proses penggilingan gabah, lanjut makan di rumah Ilo, dan berakhir menikmati sore di Sumpang Bitta. Lalu seperti biasa menjalani aktivitas dengan mengajar dan juga masih mendampingi proses mentoring.

Mengawali bulan September dengan merayakan usia 30-an, alhamdulillah masih diberikan umur panjang yang semoga berkah. Lanjut di pertengahan bulan ikut kegiatan Songkabala Lae-lae yang merupakan salah satu acara adat yang dimaksudkan untuk menolak bala. Ada banyak rangkaian kegiatan menarik yang diinisiasi oleh beberapa lembaga yang bekerjasama dengan pemuda setempat. Lalu dilanjutkan dengan tes TOEFL dan di akhir bulan pelaksanaan kelas intensif di Hotel Swissbell.

Di bulan Oktober, setelah rangkaian hari-hari yang melelahkan kami bersepakat untuk staycation di Hotel Gammara untuk relaksasi agar tidak terlalu spaneng, lalu di hari kedua kami ke TSM untuk bermain snow world. Setidaknya meskipun belum berkesempatan merasakan salju secara langsung, sudah bisa merasakan imitiasinya di TSM hehe.

Mengawali November dengan mengikuti kegiatan “Sehari Mengabdi Chapter Makassar”. Alhamdulillah dipertemukan dengan semangat-semangat muda baru, relawan yang meluangkan waktunya untuk terus menghidupkan energi kebaikan. 

Lalu di pertengahan bulan ke Bantimurung wisata keluarga. Rasa-rasanya selama ini terlalu banyak waktu untuk teman dan orang lain, tapi hanya sedikit waktu dengan keluarga, jadi selalu berusaha untuk meluangkan waktu untuk bisa quality time bersama dengan keluarga. 

Di akhir bulan recharge energy lagi dengan bertemu teman-teman LPDP di kegiatan LEAD LPDP. 

Mengawali bulan Desember dengan kumpul keluarga di wisudanya Nanda. Lalu di pertengahan bulan membersamai seorang sahabat untuk melepas masa lajangnya. Senang sekali rasanya bisa melihat salah satu sahabat baikku menikah. Selalu senang melihat kebahagiaan dan cinta. 

Tahun ini ditutup dengan raker di Alekawa untuk merancang tahun 2024 dengan lebih baik. Dan setelah libur telah tiba akhirnya bisa pulang kampung dan menghabiskan waktu bersama dengan keluarga. 

 

Semoga tahun tahun ke depan masih senantiasa diberikan umur yang panjang untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama dengan keluarga dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga. Aamiin

Alhamdulillah melewati tahun ini dengan penuh sukacita, meskipun kadang merasa kehidupan tahun ini cukup datar, tapi ada banyak perjalanan hidup yang memberikan banyak pengalaman dan semoga bisa menjadi proses untuk bertumbuh menjadi lebih baik.

Bismillah untuk tahun 2024. Semoga lebih banyak kebaikan dan kabar baik yang berdatangan.

Terima kasih 2023 untuk perjalanan panjang yang terasa begitu singkat.


Home, 31 Desember 2023

Kamis, 19 Januari 2023

Turning Point - Kesadaran Pola Hidup Sehat

(Source - Pinterest)

Selalu ada yang pertama untuk setiap hal, termasuk untuk pertama kalinya sadar pentingnya hidup sehat.

Angka 270 menjadi titik awal untuk berpikir ulang merubah pola hidup. Tes kolesterol normal dengan batas maksimal 180 dan saat tes waktu itu mendapati hasil kolesterol 270. Angka yang cukup membuat terkejut dan denial.

Selama beberapa tahun ke belakang mungkin bisa dihitung jari intensitas sakit dalam setahun atau bahkan tidak pernah sakit sama sekali dalam setahun. Hal itu yang membuat akhirnya sedikit jumawa, saya berpikir bahwa saya masih muda dan tidak pernah sakit, tidak kelebihan berat badan, jadi bebas untuk menikmati gaya hidup yang “berantakan”. Tapi saat hasil tes kolesterol jauh di atas ambang batas normal dan sudah merasakan keluhan di beberapa bagian tubuh selama durasi waktu yang cukup lama, di saat itu penyesalan mulai muncul. Kenapa menjalani pola hidup yang sangat berantakan, kenapa tidak mencoba menerapkan pola hidup sehat sejak dulu, dan berbagai penyesalan yang terus bermunculan di kepala. Tapi apa daya, semuanya sudah terjadi.

Seperti orang-orang pada umumnya, saat mengetahui saat ini sedang menjadi penyintas kolesterol, saya mencari di mesin pencarian google hal-hal yang mengakibatkan kolesterol tinggi, dan benar saja, makanan minuman manis serta makanan dan minuman yang memiliki kadar lemak jenuh yang tinggi menjadi dua dari sekian banyak alasan yang bisa mengakibatkan sakit kolesterol. Dua jenis makanan yang menjadi favorit saya selama ini. Saya tidak pernah berpikir bahwa gula bisa menjadi begitu berbahaya untuk tubuh, saya mengira gula hanya akan mengakibatkan penyakit diabetes, ternyata bahaya gula bukan hanya akan menyebabkan diabetes tapi bisa mengakibatkan berbagai penyakit kronis yang lain. Ini yang baru saya sadari setelah diperingatkan melalui sakit kolesterol dan akhirnya belajar kembali tentang efek positif atau pun negatif dari sebuah produk.

Saya flashback dan mengingat betapa buruknya pola hidup saya dulu. Minum minuman manis mungkin 3-5 kali seminggu, makan makanan manis hampir setiap hari, makan coto mungkin bisa 2-3 kali dalam seminggu, jarang olahraga, jarang minum air putih, sering begadang, jarang makan sayur dan buah, sungguh pola hidup yang sangat “bagus”.


Hal yang membuat lebih menusuk lagi saat harus mengkonsumsi simvastatin untuk menormalkan kadar kolesterol, obat yang selama ini saya beli untuk orang tua. Gilsss, di umur yang belum cukup 30 tahun sudah harus mengkonsumsi obat yang diminum oleh orang tua di umur 50 tahun ke atas. Sungguh sebuah tamparan yang menyakitkan dan memaksa diri untuk merubah pola hidup dengan cepat.

Akhirnya, saya mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis, gorengan, daging merah, mencoba belajar makan buah dan sayur, mencoba untuk olahraga minimal sekali seminggu. Dan syukurnya setelah beberapa minggu gejala penyakit kolesterol berangsur membaik dan haid yang selama ini berantakan juga mulai kembali normal. Karena riwayat kolesterol, sekarang jadi lebih selektif dalam memilih makanan dan minuman kemasan, selalu mengecek komposisi dan kadar dari setiap makanan minuman kemasan. Dulu mah boro-boro, bahkan beberapa kali expired date sudah lewat tetap saya beli karena tidak pernah mengecek apa-apa sebelum membeli.

Sungguh pola dan gaya hidup sangat berpengaruh besar terhadap kondisi hormon dan kesehatan. Sekarang, saat mengkonsumsi makanan atau minuman yang cukup manis rasanya sudah tidak enak di tenggorokan.

Selamat menjalani kehidupan sehat yang semoga bisa konsisten 😊





 

Jumat, 30 Desember 2022

Recap 2022

 

Wah, sudah penghujung 2022. Time flies fast. Tak bosan-bosan menulis kata-kata ini sebagai kalimat pembuka, karena ya waktu terasa sangat cepat berlalu. Ada banyak sekali hal yang terjadi di 2022, ada banyak sekali pergulatan emosi yang muncul, ada banyak kegagalan, kekhawatiran, kebahagiaan, rejeki, dan banyak nano nano kehidupan yang lain di 2022. Yuk kita coba merangkum sesuatu yang terjadi selama 2022.

Seperti dua tahun sebelumnya, setiap awal tahun selalu diawali dengan syukuran Panrita. Alhamdulillah tahun ini masuk tahun kelima. Wah ternyata sesuatu yang awalnya dibuat iseng untuk tujuan sosial bisa bertahan sampai sekarang, sampai tahun kelima dan semoga sampai selamanya. Tanggal 2 Januari kami berkumpul di tempat baru Panrita untuk merayakan syukuran 5 tahun Panrita, sebuah perayaan sederhana sarat makna. Alhamdulillah.

Tahun ini Panrita sedikit mati suri karena tidak terlalu banyak program yang berjalan, tidak ada pembukaan CPNS, sekolah kedinasan hanya ada satu kelas reguler dan satu kelas beasiswa, sisanya hanya kelas TPA dan BUMN, tapi meski begitu kami tetap bersyukur bisa survive dan alhamdulillah tahun ini setelah bolak balik mengurus sana sini akhirnya Panrita sudah resmi terdaftar sebagai sebuah lembaga kursus.

 Pertengahan bulan Januari saya dan Ani berangkat liburan ke Lombok, bulan yang tidak tepat untuk melakukan liburan outdoor karena sedang musim hujan, tapi hanya bulan ini yang paling pas untuk kami liburan sebelum berjibaku dengan kesibukan masing-masing. Liburan kali ini cukup panjang dimulai dari Lombok, di Lombok kami menghabiskan waktu selama 5 hari 4 malam dan hanya 1 hari yang betul-betul cerah hahaha. Ini mungkin menjadi sebuah tanda untuk kami agar kembali liburan lagi ke Lombok suatu saat nanti. Setelah Lombok kami melanjutkan perjalanan menuju ke Labuan Bajo, sebuah perjalanan nekat yang kami jalani demi bisa menyaksikan secara langsung keindahan Pulau Komodo. Perjalanan ini ditempuh menggunakan jalur darat dan laut dari Mataram menuju ke Labuan Bajo. Kami menghabiskan waktu 4 hari 3 malam di Labuan Bajo dan alhamdulillah di sini kami bisa menikmati matahari yang cerah. Dari Labuan Bajo kami ke Yogyakarta lewat Surabaya. Jadi perjalanan Labuan Bajo – Surabaya lalu lanjut naik kereta menuju ke Yogyakarta. Di Yogyakarta kami melanjutkan liburan. Jaya, Fitri, dan Rayhan datang juga ke Yogyakarta untuk berlibur. Ada beberapa destinasi wisata yang kami datangi, mulai dari Heha, Tumpeng Menoreh, Bhumi Merapi, naik jeep, dan mengakhiri perjalanan di Jogja dengan menikmati sunset sambil membuat video di Candi Keraton Ratu Boko.

Setelah perjalanan di Yogyakarta, kami berempat (Saya, Jaya, Fitri, dan Rayhan) melanjutkan perjalanan ke Bandung untuk menemui Siti dan keluarga kecilnya. Di Bandung, kami menghabiskan waktu bersama dan jalan-jalan di Lembang Wonderland. Dua hari kami di Bandung dan kami melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Kali ini kami mencoba naik kereta lokal dari Bandung ke Bekasi, lalu melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Di Jakarta saya nginap di kost Ana yang saat itu masih kerja di Bappenas. Dari Jakarta kami ke Rangkasbitung, nginap di Serang dan ikut survey persiapan Bakti Negeri 2 Sinesia. Setelah semingguan di Jakarta-Banten saya kembali ke Makassar. Awalnya ada rencana untuk ke Kalimantan, hanya saja waktu itu dapat kabar dari Liza kalau dia covid dan sebelumnya saya cipika cipiki dengan Liza, jadi daripada beresiko terpapar atau menularkan covis saya memilih untuk langsung pulang ke Makassar.

Saat beberapa hari setibanya di Makassar saya merasa berada di titik bawah kehidupan, merasa tidak layak, merasa useless, merasa tidak cukup, dan banyak sekali energi negatif yang berseliweran di kepala. Apalagi saat itu merasa tidak memiliki pekerjaan yang layak, Panrita tidak ada kelas sehingga saya tidak memiliki kesibukan yang akhirnya ada banyak waktu kosong, tidak ada pemasukan, melihat teman-teman sudah mendapat pekerjaan yang bagus dan sudah berkeluarga, tak ayal ini membuat kepercayaan diri dan harga diri tergerus habis-habisan.

Akhir Maret saat saya iseng buku buka grup WhatsApp saya melihat ada lowongan pekerjaan sebagai teacher assistant di Stella Gracia School yang dikirim oleh Amma. Saat itu saya langsung menghubungi Amma dan menanyakan terkait lowongan tersebut dan langsung mengirimkan CV. Saat itu saya berpikir tidak peduli tentang gaji atau pekerjaannya, saya hanya ingin mendapat pengalaman dan menambah aktivitas. Berselang beberapa hari kemudian saya langsung dihubungi oleh kepala sekolah untuk wawancara dan menanyakan kesediaan untuk segera bergabung. Awal April saya langsung bergabung di sekolah sebagai teacher assistant. Di sini, saya mendapat sangat banyak pengalaman, saya terlibat secara langsung menjadi bagian di sekolah bagus, melihat bagaimana sistem dan fasilitas yang ada di sekolah, kehidupan anak-anak orang kaya, dan bagaimana konsep toleransi di sekolah yang mayoritas Tionghoa.

Akhir Mei semua teacher assistant diinfokan oleh kepala sekolah bahwa kemungkinan besar tahun ajaran depan tidak ada lagi program TA. Jadi teman-teman yang masih ingin berada di SGS bisa mendaftar sebagai guru atau mencari pekerjaan di luar untuk second option. Saya memilih untuk mendaftar menjadi guru bahasa Indonesia, alasannya sederhana karena saya berfikir bahwa waktu kurang dari dua bulan saya di SGS saya merasa belum belajar banyak. Tapi ternyata hasilnya saya tidak lulus, sebuah hasil yang saya syukuri di kemudian hari. Oh iya, salah satu alasan saya mendaftar di SGS waktu itu selain untuk belajar juga untuk menguji diri saya seberapa jauh saya bisa bertahan di sebuah sistem dan waktu kerja pagi sampai sore setiap hari. Setelah saya terlibat dalam sebuah sistem saya menyadari bahwa tidak semua sistem buruk, tergantung sistem itu diisi oleh orang-orang yang seperti apa. Dan saya menyadari bahwa ternyata saya tidak cukup kuat untuk bekerja penuh waktu dari Senin sampai Jumat. Saya merasa tidak memiliki kehidupan yang lain. Apalagi waktu itu saya juga mengajar kelas malam di Speaktive. Jadi saya merasa hidup saya hanya untuk bekerja, tidak ada waktu untuk bersosialisasi. Hal ini membuat saya tidak merasa hidup. Jadi kegagalan saya menjadi guru di SGS membuat saya bersyukur karena saya tidak harus bekerja sepenuh waktu dari pagi sampai sore.

Akhir Mei, saya menghubungi Kak Nunu untuk menanyakan terkait lowongan tutor di Alekawa. Ternyata kebutuhan dua tutor semuanya sudah dipenuhi. Jadi saya flashback sedikit di bulan Maret. Saya sempat menanyakan terkait lowongan tutor di Alekawa, tapi waktu itu Kak Nunu bilang akan dibuka tapi belum. Saat bulan pertama saya di SGS Kak Nunu menghubungi saya terkait penerimaan tutor di Alekawa, waktu itu saya menimbang-nimbang di mana saya bisa belajar lebih banyak antara Alekawa atau SGS, dan setelah menimbang-nimbang saya memutuskan untuk bertahan di SGS karena saya merasa bahwa saya harus menyelesaikan dengan baik sesuatu yang sudah saya mulai. Ternyata akhir Mei ada informasi dari SGS kalau program TA ini kemungkinan besar tidak akan dilanjut. Saat mendengar kabar tersebut saya langsung menghubungi Kak Nunu dan ternyata di Alekawa pun penerimaan tutor sudah ditutup. Saya berpikir “oh ya sudah, ini mungkin jalan terbaik, Allah adalah sebaik-baik perencana dan saya ikhlas atas segala ketentuan-Nya”. Tapi saya tetap mengirimkan CV dan mengabari Kak Nunu bahwa “tidak apa-apa kak kalau sudah tutup, tapi saya tetap mengirimkan CV jika mungkin tahun-tahun depan ada pembukaan lagi CV saya sudah ada di email”. di Beberapa hari kemudian Kak Nunu menghubungi saya bahwa satu dari dua tutor yang diterima tersebut mengundurkan diri dan saya diminta untuk datang keesokan harinya wawancara dan microteaching kalau masih berminat di Alekawa. Waktu itu saya merasa bahagia dan juga gugup. Tapi kesempatan itu datang untuk orang-orang yang siap, kan? Dalam waktu kurang dari 24 jam saya mempersiapkan diri untuk microteaching dan wawancara. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Beberapa hari kemudian saya dikabari bahwa saya diterima di Alekawa. Posisinya waktu itu saya masih bekerja jadi TA di SGS. Saya menyampaikan dengan jujur kepada Kak Nunu bahwa saya ingin menyelesaikan dulu di SGS sampai bulan Juni, dan saya menyampaikan ke kepala sekolah SGS bahwa saya diterima di tempat kerja yang lain yang artinya mungkin ada beberapa jam dalam sehari saya harus izin keluar karena harus mengikuti pelatihan sebelum resmi masuk mengajar.

Pertengahan Juni diadakan graduation sekaligus perpisahan di SGS. Perpisahan antara kepala sekolah yang waktu itu juga memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak dan juga kami para asisten. Setelah perpisahan di SGS artinya saya sudah resmi masuk penuh waktu di Alekawa sebagai tutor. Sebuah momen yang membuat saya semakin meyakini takdir Allah itu adalah takdir terbaik untuk setiap makhluk-Nya. Sampai saya menulis ini pun saya masih berstatus sebagai tutor di Alekawa. Sebuah perjalanan hidup yang membuat saya banyak sekali belajar. Di Alekawa saya tidak hanya mengajar orang dewasa, tapi juga remaja, dan anak-anak. Pekerjaannya freelance tapi kadang kami mendapat dua hingga tiga kelas per hari, jadi meskipun di kantor dari pagi sampai sore pasti selalu ada jeda istirahat dan leha-leha. Sebuah pekerjaan yang menerapkan work life balance. Kantor yang terasa seperti rumah, orang-orang yang terasa seperti keluarga. Selain belajar banyak tentang bahasa Indonesia saya juga belajar banyak tentang keragaman dan cross culture. Jadi saat ini, saat tulisan ini saya tulis saya bekerja di tiga tempat, di Panrita, Alekawa, dan di Speaktive.

Pertengahan bulan Juli saya dan Mama ke Surabaya menggunakan kapal. Di Surabaya saya dan mama berpisah. Mama ke Kalimantan, saya ke Jakarta menggunakan kereta dan lanjut ke Banten untuk mengikuti Bakti Negeri Sinesia 3. Perjalanan kali ini saya tidak sekalian liburan jauh-jauh, hanya pergi untuk mengikuti kegiatan Sinesia, singgah foto-foto di Kota Tua, mampir ke Perpusnas dan setelah itu langsung balik menggunakan pesawat ke Makassar dari Jakarta. Alasan tidak melanjutkan liburan karena feeling bad kalau harus izin lama di kantor dan merasa sudah tidak ada kemauan yang besar lagi untuk liburan, I’m enough 😊

Akhir Juli saya, Winda, Laura dan Ms Sita ikut trip ke Pulau Panambungan. Salah satu pulau yang cukup indah di Makassar. Perjalanan waktu itu cukup cerah jadi kami bisa menikmati keindahan air laut yang jernih. Kami merasakan sensasi tidur di tenda dan saya merasakan kenikmatan ikut trip yang hampir semua hal diurusi jadi tinggal terima beres hehe.

Oh iya, mulai Juli hingga November, Panrita mencoba melebarkan sayap dengan datang ke sekolah-sekolah mempromosikan tentang sekolah kedinasan, yang alhamdulillah menjaring siswa untuk belajar persiapan sekolah kedinasan.

Akhir bulan Desember setelah beberapa tahun akhirnya ikut diksar Maestro, diksar kali ini lebih mudah karena kami (beberapa senior) menyusul jadi tidak perlu jalan jauh, hanya jalan kurang dari sejam sudah tiba di lokasi camp terakhir anak-anak. Sebuah momen yang indah bisa berkumpul dengan anak-anak di Maestro, mendengar suara air mengalir, menikmati dinginnya cuaca, dan mendengar kicauan burung.

Tahun ini alhamdulillah bisa tetap melanjutkan kegiatan bagi nasi, menginisiasi Speakup Celebes bersama dengan Kak Udpa, Kak Nunu dan Kak Yayat, membangun kebiasaan membaca dengan membuka grup diskusi “Reading and Writing Challenge”, dan mempertahankan kebiasaan menulis catatan syukur setiap malam ditambah dengan membuat google form untuk update kehidupan sehari-hari dan apa yang dipelajari. Tahun ini juga hp rusak total yang memaksa harus mengganti hp hahaha.

Alhamdulillah untuk semua nikmat yang Allah berikat, ups and downs kehidupan, dan pelajaran yang saya dapatkan sepanjang tahun 2022. Good bye 2022 and welcome 2023. Semoga 2023 be better 😊

Home, 31 Desember 2022

 

WIsuda

Bagi sebagian orang, wisuda mungkin hanya sebuah euforia sehari, saya pun dulu berpikir seperti itu. Apalagi saat melihat orang-orang banyak yang mencak-mencak saat wisuda luring tahun 2020 pada musim covid tiba-tiba dihilangkan. Saya belum mengerti waktu itu kenapa orang-orang bisa merasa sangat kecewa di saat tidak bisa mengikuti prosesi wisuda yang hanya euforia sesaat. Saya dengan ego seseorang yang sok dewasa berpikir bahwa wisuda hanyalah ritual, yang jauh lebih penting dipikirkan adalah kehidupan setelah wisuda, mencari kerja dan lain lain. Tapi beberapa hari yang lalu saat saya mengikuti wisuda adik, saya akhirnya mengerti, bagi sebagian besar orang wisuda bukan hanya sebuah prosesi sehari, bukan hanya sebuah euforia, tapi wisuda sarat akan makna. Makna perjuangan, air mata, peluh keringat, dan juga rapalan doa.

Saat kami baru memasuki gerbang universitas si adik, saya melihat begitu banyak keluarga yang menunggu para wisudawan keluar dari auditorium. Mereka datang dengan rombongan keluarga, bahkan mungkin ada yang datang sejak pagi. Kami waktu itu datang menjelang duhur. Tak sedikit pula dari mereka mengenakan baju seragam bahkan ada yang membawa bekal seperti orang piknik. Hal ini membuktikan bahwa euforia wisuda bukan hanya milik wisudawan/wisudawati, tapi juga kebahagiaan bagi seluruh anggota keluarga. Saat para wisudawan/wisudawati keluar dari auditorium dan datang menemui keluarga mereka, nampak jelas raut muka orang tua yang penuh haru sekaligus mata yang berkaca-kaca, menyiratkan sebuah kebanggaan atas kerja kerasnya selama ini menyekolahkan anak-anaknya.

Bagi kebanyakan orang tua di Indonesia, salah satu kesuksesan terbesar adalah saat mereka mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Kalimat yang cukup familiar saya dengar dari orang-orang tua yakni “Tidak apa-apa kita bodoh yang jelas anak kita jangan. Kalau kita hanya mampu sekolah sampai SMA semoga anak kita bisa kuliah. Semoga anak-anak kita nanti bisa lebih sukses dan mendapat pekerjaan yang lebih baik dari orang tuanya”. Kalimat-kalimat ini sangat familiar saya dengar, kalimat yang menjadi sebuah bukti bahwa orang tua akan melakukan berbagai cara agar anak-anaknya bisa mendapat kehidupan yang lebih baik daripada mereka.

Saat adik saya keluar dari ruang auditorium, dia langsung menghampiri mama dan etta (a.k.a bapak, saya memanggil bapak dengan sebutan etta), salim dan berpelukan dengan mereka. Saya tak sanggup melihat mata etta yang tiba-tiba berkaca-kaca. Akhirnya anak bungsunya wisuda juga. Ini menjadi salah satu tanda kesuksesan juga baginya. Bisa mengantarkan anak-anaknya mendapatkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Etta yang tidak lulus SD, etta yang sejak kecil sudah ikut bekerja serabutan dengan orang dan hingga kini berprofesi sebagai pandai besi bisa menyekolahkan anak-anaknya. Etta seorang anak sulung yang miskin sejak kecil harus banting tulang untuk mencari uang demi kebutuhan sehari-hari. Hal ini menjadi sebuah tanda keberhasilan baginya saat bisa melihat anak-anaknya di wisuda.

Miskin erat hubungannya dengan ketidak percayaan diri, hal ini pun yang dirasakan oleh etta. Etta yang lahir dari keluarga miskin tidak pernah memiliki kepercayaan diri untuk gabung dengan keluarganya yang kaya, beliau selalu minder karena tidak memiliki pendidikan sebaik keluarganya yang lain, tidak memiliki harta benda sebanyak yang dimiliki oleh keluarganya. Tapi berkat kerja kerasnya menyekolahkan anak-anaknya, kini dia sudah mulai percaya diri karena telah cukup “berhasil” bekerja keras untuk mengubah nasib anak-anaknya menjadi lebih baik.

Saat di perjalanan pulang etta nyeletuk “tugas saya sudah selesai menyekolahkan kalian semua, sekarang terserah kalian mau memilih jalan seperti apa”. Kalimat yang bermakna sangat dalam bagi saya. Terima kasih etta dan mama, semoga Allah senantiasa melindungi kalian, memberikan umur yang panjang, kesehatan, dan ketenangan jiwa raga.

Jadi ya, wisuda bukan hanya sebuah ritual yang menandakan masa studi sudah selesai tapi juga menjadi sebuah kebanggaan bagi orang tua, apalagi bagi keluarga-keluarga menengah ke bawah yang harus berjuang sangat keras agar bisa melihat anak-anaknya mengenakan toga, mereka yang bekerja tak kenal lelah demi untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya hingga anak-anak mereka berhasil lulus dan menjadi sarjana.


 

Moment To Remember

  Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...