Kamis, 03 Januari 2019

Harga dari sebuah proses


Ada “harga” dari proses yang dilalui
Aku belajar satu pelajaran besar dua hari ini, bahwa ada harga dari sebuah proses yang dilalui. Dokter yang kita lihat selama ini dengan jas putih kebesarannya itu telah melewati proses yang panjang, mereka sudah melewati dunia akademik selama 4 tahun lalu lanjut KOAS selama 2 tahun (aku akan menulis pandanganku tentang dokter gigi). Proses yang panjang dan melelahkan itu ada saat KOAS. Ada waktu tidur yang lebih sedikit, ada kenyamanan yang ditinggalkan, ada waktu nongkrong yang dihilangkan, ada waktu bersenang-senang yang ditunda, ada laporan yang setiap saat harus diselesaikan, ada pasien yang butuh untuk dilayani, demi satu impian yaitu menjadi seorang dokter.

Melihat dan mengamati dua hari ini di RSGM, aku lalu mewajarkan harga perawatan yang “mahal”, bukan hanya proses akademik yang panjang yang dokter lalui tapi ada banyak pengorbanan yang mereka lakukan demi mendapat gelar drg.

Dua hari ini aku bolak balik ke RSGM untuk tambal gigi, kemarin tidak jadi tambal karena giginya masih dipelajari oleh dokter KOAS dan juga alatnya ada yang bermasalah karena tegangan listrik menurun, barulah hari ini jadi tambal. Itu pun setelah melewati waktu berjam-jam dan ngilu yang tak sebentar. Mulai dari jam 11 aku sudah berada di RSGM, diperiksa dan ditangani oleh dokter hingga pukul 14.00. Sempat ada rasa ingin menyerah saat ngilunya keseringan dan prosesnya lumayan lama, belum lagi harus ditinggal berkali-kali untuk laporan ke residen, sempat mikir “gapapa deh bayar mahalan dikit dari pada kayak gini”, waktunya yang lama membuat mikir untuk pindah ke RS yang ditangani langsung oleh dokter, kan lumayan waktu yang lama itu bisa dipake untuk melakukan aktifitas lain. Lalu kufikir lagi, “ketika kita memudahkan urusan orang lain, Allah pun akan memudahkan urusan kita”. Dokter KOAS itu lagi dalam proses belajar, lagi dalam proses menangani kasus untuk nantinya menjadi seorang professional, tak ada professional tanpa proses panjang yang dilalui, setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar dan trying and error, itu adalah tahapan untuk menjadi seorang professional. Meskipun beberapa kali aku dibuat panik oleh respon dokternya yang kaget kagetan saat memberi pertanyaan dan aku menjawab yang jawabannya mungkin tak dia duga, aku sebagai pasien kan juga ikut panic melihat ekspresinya yang seperti itu. Hihihi. Seharian ini kujalani dan mengambil hikmah dari setiap kejadian dan orang-orang yang kutemui. Kelar tambal gigi, kulihat raut muka kelelahan di wajah dokter muda itu. Meski lelah dia masih menemaniku untuk rontgen tanpa sedikit pun senyum pudar dari bibir manisnya, dia menemaniku dengan sepenuh hati.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 perutku sudah mulai keronconongan, padahal sebelum ke RSGM aku masih sempat sarapan, bagaimana dengan dokter yang menanganiku ya. Dia sempat sarapan gak ya sebelum ke rumah sakit. Hmmmp perjuangan sekali ya, bahkan waktu makan pun sering dilewatkan. Lalu kupesanlah dua paket bento di KFC melalui aplikasi go food, satu untukku satu untuk dokternya. Saat kudatangi dokternya untuk memberikan paket tersebut kudapati sang dokter sedang membenahi barang-barang yang sebelumnya digunakan untuk perawatan, saat kuberikan paket tersebut berkali-kali dokternya mengucapkan terima kasih dan mohon maaf karena merepotkan, padahal sama sekali aku gak merasa direpotkan dan aku yang berterima kasih banget karena sudah ditangani dengan baik dan sabar. 

Terima kasih ya dok untuk dua hari ini, semangat terus KOAS nya. Semoga disegerakan menajdi drg. Jaga pola makan, karena berjuang butuh banyak tenaga, karena kita tidak bisa menangani pasien dengan baik ketika kita saja tidak begitu fit, jadi tetap jaga kesehatan. Pun juga untuk pejuang pejuang masa depan yang lebih cerah di luar sana, semangat berjuang dan jangan lupa jaga kesehatan dan makan yang teratur. Cheers
Yogyakarta, 03 Januari 2018

Rabu, 02 Januari 2019

Diary of the day 02-01-2019


Melanjutkan cerita tentang Rina yang menghubungiku pagi-pagi, ya benar saja jam 9 dia kembali menghubungiku menanyakan keberadaanku. Tak sesuai rencana, jam 9 yang seharusnya aku sudah berada di kampus atau di RSGM saat itu masih berada di kontrakan, masih ngeprint tugas, ternyata perkiraanku revisi yang sebentar lumayan memakan waktu yang banyak jadi semuanya molor. Kelar ngeprint tugas aku lanjut mengumpulkan tugas ke kampus lalu ke RSGM.  Untung sebelumnya sudah komunikasi dengan salah seorang anak KOAS, jadi sampai RSGM bisa langsung tindakan. Aku menikmati prosesnya yang lumayan lama, mulai dari pemeriksaan hingga rontgen dan berujung keputusan besok harus ke RSGM lagi untuk check up, baiklah dinikmati aja setiap prosesnya. Bisa lebih banyak bertemu orang.

Semangat dokter-dokter KOAS. Ini lagi buat laporan kasus


Tadi saat rontgen gigi aku terperangah melihat alat-alat medis itu, semoga nanti sampai meninggal gak pernah berhubungan dengan alat-alat seperti itu, mengerikan dan mahal! :(

 Ini alat-alat rontgen, biayanya 104.000 untuk setiap alat. Mehong bagi mahasiswa missqueen kayak saya :(

Siangnya, setelah ronsen sembari menunggu dokter tiba-tiba ada chat Rina masuk, aku lupa belum mengabari bahwa aku sudah di RSGM. Saat Rina ngechat aku langsung membalas memberitahukan kalau aku sudah di RSGM dan kami janjian bertemu, tak lama kemudian Rina datang menyambangiku, membawakan oleh-oleh dan hadiah. Speechless banget dan terharu banget aku tuh, tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba dikasih hadiah, padahal gak ada momentum apa-apa. Kami lalu mengobrol, saling menyemangati, saling menguatkan dan saling mendoakan yang terbaik. 


Selesai ketemu sama Rina aku balik ke kost, menyusuri jalan dalam lingkungan UGM dibawah langit abu-abu yang semakin menggelap. Syukur Alhamdulillah bulir-bulir air itu jatuh tepat saat aku sudah tiba di kostan. Sungguh anugerah yang sangat patut untuk disyukuri, semuanya dimudahkan oleh Allah.

Saat baru aja tiba di kostan, hujan mengguyur dengan mesra kota ini


Malam harinya, saat kusedang berleha-leha di kamar, menunggu kabar Ana dan Fazat yang ingin mengerjakan Tesis bareng ditengah cuaca yang tak menentu, hujan berenti hujan berenti. Tiba-tiba ibu kostku menelfon, nanyain aku lagi di mana. Ibu lalu mengajakku untuk ikut pertemuan RT, di sana ada kegiatan sosialisasi tanaman vanili. Karena lagi kosong dan Fazat juga belum mengabari aku ikut aja sama ibu kost, hihihi. Setibanya di lokasi pertemuan, ternyata yang datang semuanya bapak-bapak, jadi aku sama ibu kost duduk di teras aja mendengarkan. Seru juga ya ikut kegiatan-kegiatan kayak gitu, hitung-hitung persiapan jadi ibu rumah tangga nantinya hehe. Kata pengantar dari pembicara sosialisasi tanaman vanili “saya bersyukur tinggal di Pogung Lor, dari sekian banyak kota yang telah saya datangi di Indonesia di tempat ini masih kental banget paguyubannya, tenang, aman dan tentram” and I feel it apa yang dikatakan bapak yang bicara tersebut, hampir dua tahun tinggal di lingkungan sini dan merasa nyaman banget.
Suasana kumpul RT
 
Menjelang pukul 10, setelah pemaparan tentang tanaman vanili itu selesai ibu mengajak balik karena acaranya juga sudah selesai, tinggal ngobrol bebas bapak-bapak yang di dalam. Aku memutuskan untuk menyusul Fazat dan Ana ke Stereos Café untuk mengerjakan Tesis, and here I am. Sebelum mengerjakan Tesis menyempatkan diri dulu curhat di blog. Hihihi
 Semangat Nesis gais



Stereos Café, 02-01-2019
22:09

Bersyukur dan bahagia


Awal tahun yang baik, bahagia dengan hal-hal sederhana

Sesederhana dapat email balasan dari dosen pembimbing mengenai revisian keseluruhan proposal tesis pukul 00:05 tepat di tanggal 01-01-2019, benar-benar anugerah di awal tahun. Padahal proposal yang saya kirimkan ke beliau kurang dari 36 jam, sudah mendapat balasan email tengah malam. Saat membuka file tersebut sempat terperanjat melihat revisiannya hampir tiap lembar ada tanda merah, merasa terharu. Dosen pembimbingku membaca dengan begitu detail, bahkan pengetikan yang tidak terspasi dari titik ke penulisan kata setelahnya pun juga tak luput dari revisi beliau. Hal tersebut memberikan saya semangat untuk melakukan yang terbaik dan memaksimalkan usaha, beliau saja bisa dengan begitu detail memeriksa hasil tulisan saya, memberikan saran atas kesalahan-kesalahan yang saya lakukan, berarti saya harus lebih bisa lebih baik lagi dan meminimalisir kesalahan. Menyadari bahwa sesuatu yang saya lakukan ternyata begitu diperhatikan dan dihargai, terbukti dengan pemeriksaan tulisan saya yang begitu detail membuat saya terpacu untuk belajar dan berusaha lebih keras lagi, sesederhana itu orang merasa dihargai sekuat itu mereka akan memberikan yang terbaik versi mereka. 

Sesederhana dapat chat “kalau butuh apa-apa kabari aja ya kak kali aja bisa bantu”. Teman yang sudah lama tidak terhubung secara nyata maupun secara sosial media kemarin mengirimkan chat bukaan salah satu pendaftaran volunteer relawan di Makassar, kubalas chat tersebut menyatakan akan meneruskan info tersebut ke yang lain. Lalu kami mengobrol beberapa saat saling menanyakan kesibukan. Chat diakhir dengan kalimat menawarkan bantuan. Sesederhana itu saja saya merasa sudah sangat bahagia. :’)

Sesederhana mendapat japrian dan doa dari beberapa teman yang telah membaca tulisan yang saya unggah di blog. Sesederhana itu sudah merasa bahagia karena tau bahwa tulisan receh yang saya tulis mendapat lumayan banyak pembaca, pun juga doa doa mereka yang dirapalkan kepada sang pencipta. Saya percaya bahwa doa doa itu melangit dan berebut untuk dikabulkan oleh Allah. Semoga segala sesuatu yang baik disegerakan.

Sesederhana bisa makan enak dan murah karena adanya cashback 50% dari gopay. Hihihi tempat-tempat makan yang enggan kudatangi saat hari-hari biasa karena “mahal” kini bisa kujajali satu persatu. Hahaha. Ah, adanya cashback gopay bukannya hemat malah tambah boros, hahaha. Kalau kata teman, “Gapapa mbak, kita foya-foyanya yang hemat”. Hahaha baiqlah.

Pagi ini, setelah sholat subuh. Aku membuka hp, memeriksa chat yang masuk sejak aku tidur semalam. Ada beberapa chat grup juga beberapa chat personal. Aku membuka bagian chat personal. Ada chat dari mbak Putri yang mengirimkan info flyer mengenai salah satu program pengabdian di daerah perbatasan dan menyusul seruan untuk daftar serta doa-doa agar saya bisa lolos program tersebut, belum daftar aja sudah banjir doa ya, hehe. Alhamdulillah. Saat kutanya “mbak udah daftar”? jawabnya “Belum tin, saat aku mendapat info tersebut langsung kushare infonya ke km”. Duuuh duuh sereceh itu aku merasa bahagia :’). Sadar bahwa ternyata ada begitu banyak orang yang perhatian dan langsung mengingat aku saat tau ada project sosial pengabdian dan liburan hahaha

Sesederhana membaca japrian Rina menanyakan “Mbak Tin di mana jam 9, masih di Jogja kan”, “Jam 9 kemungkinan aku di kampus atau kalau gak di GMC Rin, kenapa?”, balasku. “mau ngasih sesuatu mbak kemarin ada kiriman jajan dari Lombok”. Mataku langsung panas, terasa ada bulir-bulir air yang ingin keluar saat membaca chat tersebut. Bukan tentang “sesuatunya”, tapi menyadari bahwa “oh ternyata hidupku begitu berarti ya”. Ada begitu banyak orang yang sayang, perhatian dan mengingatku bahkan ketika kami sudah lama tak menjalin komunikasi.

Alhamdulillah ya Allah, bersyukur atas setiap detik nafas yang Engkau berikan, bersyukur atas kehadiran orang-orang yang Engkau kirim. Ah memang benar, kata Allah Bersyukurlah maka akan kutambah nikmatku kepadamu. And it works.
Jogja di awal tahun yang penghujan,
02-01-2019   

Selasa, 01 Januari 2019

Resolusi 2019


Dari banyak tahun yang saya lewati, tahun ini adalah tahun dengan begitu banyak resolusi. Saya selalu percaya bahwa Allah adalah maha segala-Nya. Tak apalah ya saya minta banyak, bukankah Allah juga sudah berkata bahwa mintalah padaku maka akan Aku kabulkan.
Banyak orang bilang, ngapain sih tulis resolusi? Toh nanti juga lupa dan tidak terealisasi, tahun depan buat resolusi lagi dan kayak gitu lagi. Hahahaha Tidak ada yang sia-sia, dengan menulis resolusi artinya buat komitmen diri untuk mewujudkan satu persatu janji kepada diri sendiri, membagikan kepada orang lain agar lebih banyak yang jadi reminder. Semakin banyak yang tau semakin banyak yang mendoakan semakin dekat dengan realisasi, karena kita tidak pernah tau doa mana yang dijamah oleh Allah. Baiklah, ini rentetan resolusi 2019.

Bismillahirrahmanirrahiim


#1. Mama, etta, kakak, adek sehat selalu dan diberi umur yang panjang.
Support system yang paling utama adalah keluarga, bagaimanapun bentuknya kita, baik buruknya kita, keluarga adalah support system yang paling tulus dan sangat patut untuk kita banggakan. Saya berharap dan sangat berharap keluarga menjadi saksi sejarah hal-hal yang saya lakukan, senantiasa menjadi pendamping setia dalam setiap langkah kaki saya, menjadi saksi atas pencapaian yang saya lakukan  dan menjadi orang-orang yang merapalkan doa ke Tuhan untuk setiap kebaikan.

#2. Menyelesaikan tanggung jawab akademik, kelarin tesis, seminar, ujian, yudisium
Menjalani kehidupan pendidikan Strata dua ternyata berlalu begitu cepat, tak terasa 2019 sudah memasuki tahun kedua, yang artinya segala tanggung jawab pun harus diselesaikan. Rencana anak manusia berjejer begitu panjang, doa pun dirapalkan begitu sering, berharap seluruh alam semesta melangitkan doa-doa kepada sang penguasa alam hingga Allah pun berkenan mengijabah satu persatu. Resolusi 2019 menyelesaikan tesis di bulan Januari, lalu konsul dan lanjut seminar di bulan februari, maju ujian di bulan maret dan mengurus berkas untuk yudisium di bulan April. Bismillah.

#3. Wisuda
Rencana seorang mahasiswi tingkat akhir, dengan segala kerendahan hati berharap kepada sang pencipta untuk memampukan dan menguatkan untuk melewati segala aral melintang hingga di bulan Juli bisa ikut wisuda. Bismillah semoga dilancarkan segala urusan dan dijamah doa-doanya.

#4. Menikah
Untuk pertama kalinya impian ini masuk menjadi sebuah resolusi. Kalau ditanya sudah ada calonnya belum? Belum sama sekali. Saat mendengar jawaban tersebut tak sedikit teman-teman tertawa hingga terheran-heran, responnya “orang mah menyiapkan calon dulu baru nentuin tanggal, ini malah kebalik” tapi kurespon dengan hanya tertawa, sambil di dalam hati berdoa dengan begitu keras kepada Allah, toh Allah pemilik segalanya, kalau Dia berkenan semuanya akan menjadi mungkin. Saya sangat yakin bahwa Allah akan mengirimkan orang yang tepat disaat yang tepat, didinding kamar telah tertulis indah tanggal pernikahan 01-09-2019. Orang-orang yang pernah ke kamarku pun pasti tau akan mimpiku yang satu ini. Menikahlah saat kau sudah merasa bahwa kau butuh untuk menikah, bukan hanya karena ingin. Dan saat ini saya merasa saya butuh untuk menikah, karena benar kata salah seorang teman “ada satu titik di dalam hidup kita yang terasa kosong dan itu hanya bisa diisi oleh seseorang yang berstatus suami/istri”. Seseorang yang dengannya kita bisa berbagi segala hal, seseorang yang dengannya kita bisa menjadi apa adanya, seseorang yang dengannya kita bisa saling mendukung dalam kebaikan untuk bersama-sama menuju surga-Nya. Tepat ditanggal yang saya tuliskan umur saya sudah memasuki angka 27. Saat ini pun saya sudah merasa cukup dengan diri sendiri. Sudah merasa cukup untuk menjajaki begitu banyak pengalaman sendiri. Sudah merasa cukup berjalan ke banyak tempat sendiri. Dan saatnya saya harus mempersiapkan diri untuk menerima orang baru masuk dalam kehidupan saya, menerima dengan segala kekurangan dan kelebihan, dari membuka mata hingga menutup mata.

#5. Membesarkan dan membuat badan hukum Panrita
Tanggal 02-01-2019 lembaga ini genap berumur 2 tahun. Lembaga yang awalnya iseng kami lakukan dan pada akhirnya kami seriusi. Kepercayaan orang-orang yang memilih lembaga kami untuk belajar memberikan kami tanggung jawab untuk melakukan lebih. Tahun 2019 insha Allah kami akan “melegalkan” dan mengurus segala berkas untuk membuatkan badan hukum Panrita, dan resmi lembaga ini bergerak dalam ranah professional. Membesarkan dan tetap menjaga amanah yang dipercayakan kepada kami, bekerja professional dengan dasar kekeluargaan.

#6. Keliling Jawa
2 tahun kemarin menulis resolusi keliling Indonesia, tapi belum terwujud. Eh atau mungkin itu sudah dikatakan terwujud kali ya jika digabungkan, saya sudah menyambangi pulau Sumatera, Papua, Kalimantan, Nusa Tenggara dan tentunya Sulawesi. Hihihihi. Resolusi tahun ini saya kerucutkan scope itu menjadi lebih sederhana berkeliling Jawa, dan itu yang paling realistis. Rencanya sih akan saya lakukan ketika selesai yudisium. Makanya menargetkan yudisium sesegera mungkin agar bisa keliling Jawa sebagai reward perjuangan untuk diri sendiri. Mottonya semakin cepat kelar ujian semakin dekat untuk mewujudkan mimpi keliling Jawa. SEMANGAAT.

#7. Mendaki merbabu
Wah ini nih, gunung yang puncaknya bisa kulihat dari lantai 3 kostan jika tak mendung. Bermimpi dan berharap bisa mendaki gunung ini, menikmati kicauan burung, menikmati dinginnya yang menusuk, dan menikmati keindahan puncaknya.

#8. Membeli 100 buku
Mumpung masih di Jogja, dengan segala kenikmatan fasilitas dan berbagai kemudahan. Saya menargetkan bisa membeli minimal 100 buku pada tahun 2019. Bagi saya buku merupakan aset yang tidak ternilai.

#9. Membaca dan menulis rutin
Setelah mereview blog, saya menyadari tahun 2018 kuantitas dan kualitas menulis dan membaca saya begitu rendah jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Saya bertekad dan berkomitmen kepada diri sendiri di tahun 2019 akan membaca dan menulis rutin, karena membaca adalah salah satu bekal untuk membuka obrolan yang berkulitas dengan seseorang dan menulis adalah bukti sejarah bahwa kita pernah ada di masa ini, kisah akan lekang tapi tidak dengan tulisan.

#10. Fokus pada pencapaian sendiri, tidak iri sama pencapaian orang lain
Setiap orang punya passion masing-masing, setiap orang punya value masing-masing, setiap orang punya impiannya masing-masing. Kita hidup dengan impian dan value yang berbeda, jadi tak sepatutnya iri dan membandingkan diri dengan orang lain, karena kita telah memilih jalan kita masing-masing. Bismillah, menjadi versi terbaik akan mimpi-mimpi yang ingin kita wujudkan.

#11. Tidak berghibah dan julid terhadap hidup orang lain
Bismillah untuk ini, semoga bisa istiqomah. Refleksi kepada diri sendiri, meyakini bahwa omongan adalah cerminan kualitas diri. Fokus saja memperbaiki diri sendiri, fokus saja menata langkah-langkah untuk mewujudkan mimpi, berghibah dan menjulidi orang lain tak akan membuat kita menjadi lebih baik.

#12. Tidak baperan
Tahun 2018 rasanya tertatih banget melawan rasa ini, jatuh bangun tersungkur dan berusaha untuk bangkit lagi, pernah berada di lowlife banget karena perasaan baper. Semoga di tahun 2019 sudah bisa belajar untuk mengelola hati dan manajemen emosi agar baperan tak lagi menjadi momok yang begitu menyeramkan.

#13. Mengurangi bermain sosial media
Ya mengurangi bersosial media, niatnya sih berhenti namun untuk berhenti untuk bersosial media tidak bisa instant, mie instan aja tidak bisa langsung dimakan kan, mesti di masak dulu baru bisa dinikmati. Jadi dimulai dengan mengurangi. Sosial media menjadi toxic banget, mulai dari buka mata merasa harus membuka dan mengecek sosial media, mau tidur pun demikian, kumpul sama keluarga dan teman tak sah rasanya jika tidak update, merasa bahwa orang lain perlu banget tahu apa yang sedang saya rasakan dan saya lakukan. Merasa butuh untuk tahu perkembangan teman-teman sehingga mengharuskan diri untuk mengecek sosial media secara berkala. “Penyakit” banget, bukan? Semoga ditahun 2019 bisa perlahan mengurangi hingga lepas dari sosial media dan mencoba hidup secara nyata dan normal.

#14. Berbagi lebih banyak
Segala sesuatu yang kita miliki hanyalah titipan, jadi seyogyanya kita turut berbagi atas apa yang sedikit banyak kita miliki tersebut. Barangkali ada hak orang lain yang tersimpan di kita. Saya merasa jadi lebih hidup ketika berbagi, melihat senyum tulus mereka, mendengar rapalan doa-doa mereka membuat hidup saya menjadi lebih bahagia. Sesederhana berbagi senyum, menawarkan bantuan dan berbagi secara finansial.

#15. Berteman dan menambah pengalaman lebih banyak
Hidup ini indah dengan kolaborasi, kita tidak pernah tahu esok lusa kita akan membutuhkan bantuan dari siapa, kita akan pergi ke mana. Dengan banyaknya teman semua akan terasa lebih mudah. Tahu saat butuh ini itu harus menghubungi siapa, tahu saat datang ke satu kota bisa numpang tidur dan makan di mana hahaha. Bukankah banyak teman banyak rejeki :D. Banyak pengalaman banyak pelajaran, karena pengalaman adalah guru terbaik. Ini bisa menjadi bekal juga nantinya ketika sudah punya anak, jadi punya banyak stok cerita.

#16. Memperbaiki bacaan Al-quran, bacaan sholat dan meningkatkan kualitas ibadah
Bagian ini tak perlu saya jabarkan. Bismillah semoga bisa jadi lebih baik.

#17. Merintis usaha
Usaha apa ya? Belum terfikirkan sih, tapi ya maunya membuat usaha setelah lulus nanti. Terus ditanyain orang, ya ngapain lanjut S2 kalau ujung-ujungnya ternyata mau buka usaha, kenapa gak langsung aja buat usaha pasca lulus S1. Ya karena saya lanjut S2 untuk belajar lebih banyak, membuka pola pikir seluas-luasnya, kalau pun toh saya bisa mendapatkan kerja bekal dari ijasah S2 saya ya syukur berarti itu adalah bonus. Jelasnya saya lanjut S2 bukan semata-mata karena tujuan ingin mencari kerja lebih baik berbekal selembar kertas bergelar magister. Pengennya sih buat TK, bisa lebih banyak berinteraksi dengan anak-anak kecil yang lucu. Bismillah dan sholawatin dulu aja ya hihihi

#18. Menambah berat badan
Sebenarnya saya tak pernah resah akan hal ini, bahkan setelah puluhan hingga ratusan orang yang menegur karena saya terlalu kurus. Namun, sepertinya menambah berat badan menjadi 47KG bukan merupakan ide yang buruk, hitung-hitung jika ngaca tidak lagi seperti lidi yang kurus dan lurus. Alhamdulillah berat badan saya sudah bertambah dari 36kg menjadi 38,8kg, hihihi. Ada progress ya. Meski orang-orang yang mendengarnya pasti akan heran dengan berbagai respon, “itu mah berat badan saya waktu SD”, atau “lebih berat tas saya”, dan banyak respon lucu lainnya. Hahaha

#19. Putih dan tidak jerawatan
Dari sekian banyak komentar lucu-lucu yang ada, saya hanya cukup terganggu dengan komentar perubahan warna kulit yang cukup drastis. Cemongnya to the max. Inget banget pas balik ke Makassar dikomentarin sama temen “di Jogja sabun mahal ya, kok pulang-pulang item banget”. Seketika kuingin bercadar, hihihi. Dulu sih ingetnya berawal dari tahun 2016 yang baru banget tau bawa motor, jadi tidak tahu menggunakan kaos tangan saat mengendarai motor karena rasanya licin buat ngegas dan ngerem, hingga lalu lalang dibawah terik dan hingga sekarang tangannya belang kayak zebra. Lalu muka mulai benar-benar gosong saat mendaki ke Rinjani tahun 2018 awal yang saat itu bertatap muka langsung dengan matahari dengan jarak yang begitu dekat, pulang-pulang gosong dan susah berubah menjadi lebih putih. Dasar kulitnya emang gampang banget gosong tapi susah banget putih. Mau beli perawatan wajah untuk memutihkan tapi miris melihat mukanya doang yang putih, tangannya tetap hitam. Jadi memutuskan menikmati proses untuk menjadi putih secara alami hahahah
Dulu pernah pake skincare agar muka bersih, lumayan menguras kantong dan hasilnya lumayan sih. Tapi setelah berhenti make hasilnya bikin pengen nangis. Sekarang lagi istiqomah pake Jafra yang sudah hampir 2 tahun makenya, katanya sih prosesnya emang lama. Semoga di tahun 2019 mukanya sudah bebas dari jerawat dan kinclong kayak piring yang dicuci pakai sunlight. Hahaha 

#20. Mandiri secara finansial
Harusnya ini menjadi resolusi teratas ya, hahaha. Tapi tak jadikan ini adalah resolusi penutup. Semoga di tahun 2019 sudah stop lagi minta transferan uang. Belajar menabung dan mencari uang sendiri. Semoga rejekinya dilancarkan.

Scroll up dan membaca ulang ternyata lumayan banyak ya. Bismillah semoga bisa mewujudkan satu persatu. Banyak mimpi berarti usahanya juga harus lebih keras, jam tidur dikurangin, waktu produktif ditambah, doanya lebih keras. Bismillah.

Yogyakarta, 01-01-2019
1/365

Moment To Remember

  Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...