Sabtu, 09 Agustus 2025

Perubahan Pola Hidup

 

Anak kecil yang selalu bisa menciptakan bahagia dengan cara yang sangat sederhana, sesederhana membuat jungkat jungkit dari bambu bekas yang dipungut entah di mana, lalu dipasang di sisa akar/batang pohon.

Senang melihat ada perubahan gaya hidup, dari yang flexing harta menjadi flexing gaya hidup yang lebih sehat. Di mana-mana bisa kita lihat ada orang yang jogging, lari, sepedaan, bahkan sudah dijadikan lahan bisnis. Banyak ajang lari yang diselenggarakan di mana-mana, memanfaatkan animo tinggi masyarakat yang sekarang sudah menjadikan olahraga sebagai bagian dari gaya hidup, selain itu fotografer sport juga mulai bermunculan.


Meskipun banyak yang bilang FOMO, nyatanya gaya hidup baru ini memberikan dampak baik untuk kesehatan secara fisik maupun mental. Meningkatkan hormon endorphin sebagai hormon yang meningkatkan rasa bahagia, mengurangi tingkat stres, menjadi alasan keluar dari rumah dan tidak mengurung diri dalam satu ruangan. Kata seorang teman “mungkin memang hidup sedang tidak baik-baik saja sehingga orang-orang menjadikan olahraga khususnya lari sebagai sebuah pelarian dari kenyataan hidup”, tapi meskipun sebagai sebuah pelarian, olahraga tetap berdampak sangat baik bagi kesehatan.

Hidup berubah, gaya hidup pun berubah.

Di titik ini kubaru menyadari hikmah dibalik semua masalah yang terjadi belakangan ini, andai tak ada masalah-masalah tersebut, aku mungkin tak pernah memulai untuk olahraga rutin, khususnya lari, sesuatu yang sebelumnya kupikir sangat membosankan. 


Faktor fisik dan mental yang kurasa mulai mengganggu saat ada masalah bertubi-tubi yang terjadi, menjadi salah satu pemicu untuk memulai hidup lebih sehat, olahraga secara rutin, meskipun kadang malas dan tak ada semangat untuk menjalaninya tapi tetap kuusahakan untuk keluar, setelah melihat dengan kesadaran apa yang terjadi di hidupku, aku menyimpulkan bahwa bisa jadi semua rasa overwhelming yang rutin menyerang karena hidupku terlalu stagnan, jadi merasa butuh bergerak, dan jogging menjadi pilihan paling masuk akal yang bisa kulakukan kapan saja dan tanpa harus ada teman. Hanya butuh modal usaha dan konsisten.


Dari yang awalnya hanya bisa 3 putaran, naik jadi 4, 5, dan sekarang sudah bisa 6 putaran. Dari yang awalnya hanya bisa lari satu putaran dan sisanya jalan, sekarang sudah bisa lebih banyak larinya daripada jalan dan tidak merasakan tekanan yang berat di badan. Sekarang setiap hari menjadi lebih bersemangat karena merasa ada tujuan, ada rencana yang akan dilakukan, setidaknya setiap sore aku tau aktivitas apa yang akan kulakukan.

Hidup dengan tujuan menjadikan hidup jauh lebih bersemangat.



Jumat, 08 Agustus 2025

Recall Memory

 

Waktu kecil, sekitar umur sekolah dasar, sering sekali pergi ke lapangan sepak bola untuk menonton pertandingan bola. Sebagai orang yang tinggal di kampung, pertandingan sepak bola menjadi sebuah hiburan bagi kami. Tidak ada mall, tidak ada banyak pilihan tempat hiburan. Untung saja jaraknya hanya sekitar 10 menit dari rumah, jadi bisa rutin datang menonton. Penonton dari berbagai kampung memadati pinggir lapangan untuk menyaksikan tim kesayangan mereka bertanding. Dengan aroma parfum eskulin yang sangat hits pada zaman itu. sudah merasa keren banget kalau datang dengan dandanan rapi dengan wangi parfum yang semerbak.


Saya tak pernah memiliki tim khusus untuk kudukung, hanya suka saja melihat pertandingannya, mendengar sorak sorai penonton dan teriakan para komentator bola. Biasanya, sepulang sekolah langsung buru-buru ganti baju, tidur siang, dan sorenya siap-siap ke lapangan. Sesampainya di lapangan biasa langsung nyosor menuju ke barisan penonton paling depan biar bisa kelihatan, maklum tubuh terlalu imut jadi tidak kelihatan kalau duduk atau berdiri di belakang. Tak ketinggalan para penjual makanan dan minuman yang mangkal di bawah pohon besar yang berada di sisi lapangan.

 

Waktu berlalu, tak pernah lagi kuingat kapan terakhir menikmati pertandingan sepak bola dengan riang gembira, tak lagi ada ruang dan waktu untuk menikmati hal tersebut. Namun belakangan, saat mulai meluangkan waktu untuk jogging, di saat yang sama ada latihan dan terkadang ada pertandingan bola yang diadakan tiap hari di lapangan Unhas. Ada rasa bahagia yang muncul memenuhi ruang hati, rasa hangat yang seperti sudah lama hilang, kenangan masa kecil yang indah dan penuh kebahagiaan. Saya sangat antusias duduk di pinggir lapangan selepas jogging untuk menikmati pertandingan bola dan kembali merasakan rasa yang sama dengan rasa waktu masih kanak-kanak dulu.

 

Sekarang kebahagiaannya bertambah, tidak hanya sebatas melihat pertandingan bola, tapi aktivitas orang yang berada di sekeliling lapangan. Semua sibuk dengan diri masing-masing, tak ada yang saling peduli satu sama lain, semua fokus dengan tujuannya masing-masing. Ada yang jogging sendiri, ada yang bergerombol bersama dengan teman-teman, ada yang bersama anak dan pasangan, ada yang lari sambil selfie, ada yang lari sambil latihan tinju, tak ketinggalan para fotografer yang mengambil posisi untuk memotret orang yang sedang jogging.

 

Berjalan lebih lambat, menikmati setiap moment, hidup mindful di sini kini dan menikmati apa yang ditangkap oleh panca indra, ternyata melahirkan banyak sekali keindahan dan kebahagiaan, hatiku penuh, saya merasakan kebahagiaan dan rasa syukur yang begitu besar.

 

Dulu saat masih kecil sangat memimpikan hidup dewasa yang kelihatannya sangat indah, teringat waktu di lapangan sepak bola dulu saya begitu takjub dengan salah seorang perempuan dewasa yang sepertinya baru datang dari kota, berpenampilan sedikit berbeda dari kebanyakan penonton yang datang, dengan tangan yang lentik dan kuku yang sudah dikuteks dilengkapi dengan pewarna putih di ujung kukunya yang kelihatan sangat indah, rasanya pada saat itu ingin segera dewasa agar bisa berpenampilan seperti itu, tapi kini saat menjalani kehidupan dewasa ternyata banyak sekali kejutannya, tidak sesederhana pakaian indah dan kuku jari yang diwarnai, tapi jauh lebih beragam dari itu. Saat mengingat kenangan masa kecil ternyata kenangan itu sangat indah, dulu kelihatan biasa saja tapi sekarang selalu menjadi sesuatu yang kurindukan. Sesuatu yang selalu menghadirkan rasa hangat di hati setiap kali mengingat setiap momennya.

 


Kamis, 07 Agustus 2025

Berbagi dengan Kasih

"Berbagi dengan kasih bukan dengan kasihan"


Beberapa waktu lalu nonton podcast dan makjleb banget rasanya pas di bagian ini, berbagi dengan kasih bukan dengan kasihan. Seakan diingatkan untuk berbagi atas dasar cinta kasih, bukan hanya karena kasihan. Seringkali terdorong untuk membantu karena kasihan, tapi ternyata hal itu bisa menjadi jauh lebih baik jika dorongan itu didasari cinta kasih, bukan hanya semata-mata kasihan, karena kasihan terkadang menimbulkan percikan "kesombongan" yang membuat kita merasa lebih baik dari orang lain.


Setiap kali hati merasa tidak tenang kadang langsung memutuskan untuk keluar rumah berbagi. Di setiap proses berbagi saat bertemu dengan orang-orang yang menerima sekotak makanan, sorot mata yang menyiratkan ketulusan dan mulut yang merapalkan doa-doa yang begitu banyak, doa-doa yang seakan langsung melangit dan kembali dalam bentuk ketenangan.


Harga nasinya tidak seberapa tapi doa-doa yang dirapalkan begitu berharga, begitu berarti, tak ternilai, dan menghadirkan kedamaian.


Di luar sana, banyak orang yang hidupnya lebih susah tapi tidak seberisik kita.


Selasa, 05 Agustus 2025

Orang yang Sama

 

Kau masih orang yang sama

Di tempat yang sama

Di jam yang sama

Di posisi yang sama

Dengan baju yang sama

Gaya duduk yang sama

 

Entah sejak kapan kumulai memperhatikanmu

Dari ratusan orang yang kutemui setiap hari, tak pernah kumengingat dengan jelas wajah orang-orang itu

Tapi berbeda denganmu

Hanya dengan sekali lihat, kubisa langsung mengingatmu dengan jelas

Kubaru menyadari, selain motivasi untuk pola hidup sehat dan menghirup oksigen yang bersih, ternyata melihatmu di tempat yang sama menjadi motivasi tambahanku

Aku bisa mengingat dengan jelas raut wajahmu, kacamatamu, botol minumanmu, gaya dudukmu, dan tempatmu menghabiskan waktu

 

Aku tau ini hanya akan berakhir dengan tatapan jauh yang tak pernah kau sadari

Itu bukan sebuah masalah, melihatmu di tempat yang sama setiap kuberada di sini menjadi sebuah kebahagiaan baru bagiku.

 

Entah dengan alasan apa, tapi kumerasa punya koneksi denganmu, mungkin kumembayangkan diriku yang sedang menempuh pendidikan di negara yang baru, jauh dari kerabat, terpisah dari sahabat, dan pusing dengan tugas kuliah serta stres dengan budaya yang baru.

Satu-satunya hal yang menenangkan hanyalah duduk diam, hening, meskipun pikiran ramai.

Kumembayangkan diriku beberapa tahun ke depan berada di negara yang jauh dari tempat tinggalku, memperjuangkan masa depan yang kuharapkan akan indah, meski harus melewati berbagai duri dan kerikil.

 

Kemarin, sempat terlintas di pikiranku untuk menghampirimu, mengajakmu berteman, mencoba membuka pembicaraan denganmu, mendengar keluh kesahmu tentang beratnya adaptasi dengan bahasa, budaya, dan lingkungan yang baru, tapi kuurungkan niatku karena aku wanita timur yang terlalu gengsi untuk membuka pembicaraan dengan orang asing, atau mungkin aku terlalu takut dianggap creepy, di lubuk hatiku yang paling dalam aku mengerti bahwa mungkin kamu tidak mencari teman yang baru, kamu hanya butuh waktu dengan dirimu sendiri, tenggelam hanyut dalam pikiranmu sendiri di tengah keramaian.


Untukmu, orang asing yang akan tetap menjadi asing.


Senin, 04 Agustus 2025

A Day in My Life - 04 Agustus 2025


Selepas sholat subuh, kumembuka aplikasi Mobile JKN dan mengambil antrian untuk bertemu dengan dokter. Hari Kamis lalu sudah bertemu dokter, diberikan vitamin dan tetes mata untuk mata kiriku yang penglihatannya buram karena pernah kelilipan. Waktu itu belum dikasih rujukan, hanya tetes mata dengan harapan ada perubahan. Ternyata setelah menggunakan tetes mata kondisinya malah lebih buruk, jadi kuberhenti memakainya.


Hari ini ke klinik lagi dan mendapat nomor antrian 15, padahal masih pagi-pagi sekali mengambil antrian. Ternyata begitu banyak orang yang butuh bantuan dokter. Melihat estimasi waktu pemeriksaannya masih lama, jadi saya melakukan beberapa aktivitas pagi dulu baru ke klinik. Dan kedatangan di klinik waktunya pas, kurang dari setengah jam namaku sudah dipanggil. Ngobrol sebentar dengan dokter lalu diberikan rujukan ke dokter mata. Keluar dari ruang dokter, duduk sebentar untuk menunggu panggilan dari pihak administrasi untuk dapat konfirmasi bahwa rujukannya sudah bisa digunakan. Karena baru pertama kali menggunakan rujukan, jadi saya meminta penjelasan dari pegawainya bagaimana cara menggunakannya. Dalam proses bertanya, saya menaruh buku di atas meja yang sebelumnya sementara kubaca, lalu pegawainya komen "salfok dengan judul bukunya, masih ada ya buku seperti itu". Aku sebenarnya gak tau apa yang ada di pikiran pegawai itu saat melihat buku yang sedang kupegang "Sisi Tergelap Surga". Biarlah dia larut dalam pikirannya sendiri hehe.

 

Sebelum ke RS Mata, saya menyempatkan makan soto ayam di samping klinik, soto yang rasanya enak dan harganya murah. Entah kapan terakhir makan di tenda pinggir jalan dan baru menyadari masih ada makanan dengan harga segitu. Selama ini terlalu sering makan di kafe atau warung yang menggunakan AC atau kipas angin yang harga makanan minumannya sudah tidak ada di bawah 20.000. Setelah selesai makan, saya ke RS Mata. Ternyata ramai sekali. Kebanyakan orang tua yang didampingi salah satu anggota keluarga. Meskipun sebelumnya saya sudah mengambil antrian BPJS melalui aplikasi, ternyata harus mengambil antrian lagi secara manual untuk pasien baru. Saat mengambil nomor antrian, satpamnya bertanya "Pasiennya mana"? Saya pak pasiennya, jawabku. Mungkin satpamnya berpikir, kok ada anak kecil tanpa pengawasan orang tua berkeliaran. Hahaha


Meskipun harus menunggu lama, saya menikmati pengalaman pertama ini, dan tentu karena membawa buku jadi waktu menunggu tidak terasa begitu membosankan. Nomor antrianku 43 untuk antri di pelayanan BPJS, setelah proses pendaftaran di layanan BPJS, dikasih nomor antrian lagi untuk ke pendaftaran administrasi. Menunggu sekitar 15 menit lalu dipanggil untuk pengisian data lalu menunggu lagi di depan ruang tindakan, BDR (Basic Diagnostic Room). Ada tahapan awal untuk screening, penyesuaian data, cek mata dua kali, lalu diberikan beberapa lembar kertas untuk lanjut pemeriksaan ke dokter.


Selesai tahap screening, lanjut ke ruangan dokter. Ternyata dokternya sedang istirahat karena memang jam menunjukkan pukul 12.15 Katanya dokter sedang makan siang dan sholat, jadi saya ke musholla untuk sholat. Selepas sholat ternyata dokternya juga sudah di ruangan, cepat sekali dokternya kembali bekerja. Perawat mempersilahkan saya masuk ke ruangan dokter. Dokter bertanya beberapa hal termasuk sejak kapan ada keluhan, lalu kujelaskan kronologinya dan kemudian lanjut pemeriksaan. Hasil pemeriksaan dokternya bilang "banyak air matanya ya di mata kiri dan kanan". Dalam hati (pantas sering nangis dok akhir-akhir ini, gak tau karena banyak air mata makanya sering nangis atau karena sering nangis makanya air matanya jadi banyak hahaha). Setelah diperiksa dokter lalu memberikan resep obat untuk ditebus di bagian farmasi dan surat control yang harus diberikan di bagian informasi, dokter memintaku datang lagi seminggu kemudian untuk kontrol.


Di bagian farmasi dikasih obat tetes mata lalu lanjut ke informasi untuk konfirmasi kontrol buat minggu depan. Semua prosesnya cukup cepat, kecuali di bagian pendaftaran. Semua tenaga kesehatan, keamanan, dan administrasinya sangat ramah. Tepat pukul 13.00 semuanya sudah selesai dan akhirnya bisa kembali ke rumah.


Sore harinya bersiap berangkat jogging ke Unhas. Lately, aku menemukan kegemaran baru. Jogging di Unhas lalu duduk di bawah pohon, terkadang sambil membaca, tapi sore ini memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk diam, menapakkan kaki ke ibu bumi, menyaksikan orang-orang yang masih jogging dan orang-orang yang sedang bermain bola, mendengarkan suara burung yang bertengger dari satu dahan ke dahan lain, menikmati semilir angin, menghirup oksigen dari pepohonan yang masih tumbuh rindang, dan meneguk air kelapa dingin yang kubawa dari rumah. Rasanya sangat tenang dan menentramkan.


Bunyi masjid menjadi penanda saatnya kembali ke rumah, layaknya burung-burung yang kembali ke sarang setelah seharian berkeliaran di alam bebas.


Sabtu, 02 Agustus 2025

Self-Sabotage


Perjalanan menuju diri sendiri adalah perjalanan tanpa garis finish, di saat kita merasa sudah selesai, di saat itu pula akan muncul trigger yang lain. Mungkin pada akhirnya bukan kata selesai yang cukup mampu menggambarkan segalanya, tapi berdamai dan menerima.

Self-sabotage, trauma bahagia, ini mungkin yang menjadi PR. Meskipun merasa sudah memiliki self-awareness dan self-esteem yang cukup baik, ternyata self-sabotage masih sering terjadi.


Masih sering wondering apakah saya deserve untuk ini, apakah ini betul-betul worth untuk saya hamba yang berlumur dosa ini. Bahkan pemberian Tuhan yang indah pun masih kadang diragukan karena merasa tidak pantas, astaghfirullah *cry*.


Bagian paling menyedihkan adalah saat orang-orang yakin denganmu tapi kamu malah meragukan diri sendiri. Beberapa kegiatan dan program yang menarik kulewatkan, hanya karena merasa tidak pantas untuk mendaftar atau karena terlalu malas dengan segala persyaratannya, mungkin di balik semua itu bukan alasan-alasan tersebut yang menghalangi, tapi adanya ketakutan gagal, takut jika sudah mencoba ternyata sia-sia, takut menjadi orang gagal hanya karena gagal dalam mencoba. 


Kucoba keluar dari pola-pola itu, menembus segala ketakutan dan kecemasan untuk mendaftar sebuah program pengabdian. Ada rasa insecure dalam mendaftar karena merasa tidak cukup kompeten untuk sekadar mendaftar, tapi Thanks God telah mengirimkan teman yang tiada henti bertanya, meyakinkan untuk mendaftar, dan membimbing dalam prosesnya. Meskipun begitu, rasa khawatir dan takut itu masih tetap ada, perutku keram berhari-hari karena khawatir berlebih menunggu email dari penyelenggara. Saya seperti tidak mengenal diriku yang sekarang, penuh ketakutan, penuh rasa tidak percaya diri. Diriku yang dulu lebih nekat dan tidak mengenal rasa takut untuk mencoba banyak hal. Entahlah, apakah ini sebuah proses bertumbuh atau proses degradasi.


Perubahan selalu bersanding dengan ketidaknyamanan, proses transformasi dibersamai dengan air mata dan juga keraguan. Semoga Allah selalu membersamai segala prosesnya.


Dari segala rasa yang kurasa, saya sangat bersyukur dibersamai oleh Sang Maha Segalanya dan dikelilingi banyak orang-orang yang baik. Orang-rang yang secara tidak mereka sadari membantu dalam proses transformasi ini. Yang selalu menyediakan telinga untukku berkelu kesah, selalu menyambut dengan tangan terbuka saat kubutuh penguatan, dan selalu memberikan endless support dalam bentuk bantuan secara langsung, semangat, maupun doa.


Dalam refleksi kukadang mensyukuri segala hal yang terjadi, setidaknya jika esok lusa ada yang cerita tentang apa yang mereka alami, saya bisa memberikan perspektif yang lebih berempati karena pernah atau bahkan masih mengalaminya. 


Everything happened for a reason, right?

Jumat, 01 Agustus 2025

Welcome Agustus


Sebelum tidur, benar-benar sudah pasrah sepasrah-pasrahnya, berserah kalau masih harus lanjut menjalani proses pembelajaran saya Ikhlas ya Allah. Karena toh ketika kita sudah sampai di titik terendah, tidak ada pilihan lain selain bertumbuh naik ke atas. Dada terasa nyeri, nafas sesak dan baru kali ini merasa cukup lama menghadapi panic attack dan anxiety. Berulang kali melatih nafas tapi dada masih terasa sesak. Cukup banyak trigger yang muncul, di satu sisi bersyukur karena semuanya naik ke permukaan dan siap untuk diproses dan ditransformasi. 

 

Allah, Sang Maha membolak-balikkan hati.

Entah bagaimana hidupku di Juli jika bukan Allah yang bantu kuatkan.

Pagi di awal Agustus, meski tidur hanya beberapa jam karena begadang, efek minum kopi kemarin siang, tapi saat bangun hati dan perasaan begitu lapang. Saat membuka mata langsung memohon doa kepada Allah agar menguatkan dan menjadikan Agustus bulan yang jauh lebih baik, penuh berkah dan rahmat, penuh kebaikan dan kebahagiaan, dan Alhamdulillah pagi ini tersadar dalam keadaan hati yang begitu tenang. Saat sholat pun masih menangis, kali ini bukan lagi tangisan yang menyesakkan dada, tapi tangisan penuh syukur atas segala nikmat tenang dan lapang yang menyelimuti perasaan. Sungguh, Allah Sang Maha membolak-balikkan hati.


Solusinya adalah sujud, kalimat yang terdengar klise, tapi efeknya begitu nyata. Seberapa sering pun saya mencoba membuat formula saat hati merasa gundah gulana, tapi formula tersebut tak pernah bisa saya gunakan saat rasa merana itu melanda. Satu-satunya hal yang bisa mengubah semuanya adalah pertolongan Allah. Sujud yang panjang, tanpa memohon apa pun hanya berserah dan menangis mengharapkan cinta kasih-Nya, limpahan berkah dan Rahmat-Nya, semua itu yang bisa merubah segala kekhawatiran menjadi ketenangan. Sekarang baru mulai mengerti kenapa sholat dijadikan Solusi untuk segala macam permasalahan, karena di saat itu pertolongan Allah terasa sangat dekat.


Sering kubahas dengan teman saat ada yang curhat, untuk berserah, untuk melibatkan Allah, meminta pertolongan Allah. Namun, saya sering lupa melakukannya, menganggap diri cukup kuat untuk menghadapi semua hal yang terjadi. Ketika berserah, ketika memasrahkan semua dan meminta pertolongan Allah, dalam sujud dan doa, di saat itu Allah hadir merangkul dengan cinta kasihnya dan dengan mudah Allah bisa mengubah lara menjadi bahagia, duka menjadi suka.


Setelah menjalani ritual pagi, kuambil hp dan membaca info di grup terkait penerimaan pengajar BIPA luar negeri yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan. Segala hal yang terasa abu-abu, segala kekhawatiran, perlahan sirna tergantikan dengan harapan dan semangat. Entah bagaimana jalannya ke depan tapi harapan itu mulai menampakkan sinarnya kembali.


Sore harinya menikmati suasana indah Pantai Bosowa bersama keluarga sambil berendam memandangi matahari tenggelam, lanjut menikmati similir angin malam sambil bercengkrama di pinggir pantai. Semua kembali indah dan menenangkan. Badai seakan sudah perlahan menjauh, tergantikan dengan hangatnya perasaan dan tenangnya jiwa.


Gak lagi-lagi deh Tuhan mempertanyakan hati yang tenang ini “apakah betul-betul ketenangan atau ujian”, gak lagi-lagi. Beberapa waktu yang lalu, sempat mempertanyakan perasaan tenang yang dimiliki karena merasa I don’t deserve this, merasa begitu damai dan tenang bahkan saat masalah datang silih berganti. Mempertanyakan apakah ini betul-betul ketenangan dari Allah yang kuminta setiap waktu, ataukah ini adalah ujian. Mungkin karena meragukan dan mempertanyakan itu akhirnya perasaan tenang itu dibalikkan menjadi perasaan gelisah dan gundah, ternyata rasanya sangaat tidak nyaman. Gak lagi-lagi meragukan, gak lagi-lagi mempertanyakan. Saatnya belajar membiasakan diri dengan segala ketenangan dan kenyamanan, menerima bahwa I deserve it


Terima kasih ya Allah untuk segala lyfe lessonnya. Love you Allah.


Moment To Remember

  Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...