Sabtu, 02 Agustus 2025

Self-Sabotage


Perjalanan menuju diri sendiri adalah perjalanan tanpa garis finish, di saat kita merasa sudah selesai, di saat itu pula akan muncul trigger yang lain. Mungkin pada akhirnya bukan kata selesai yang cukup mampu menggambarkan segalanya, tapi berdamai dan menerima.

Self-sabotage, trauma bahagia, ini mungkin yang menjadi PR. Meskipun merasa sudah memiliki self-awareness dan self-esteem yang cukup baik, ternyata self-sabotage masih sering terjadi.


Masih sering wondering apakah saya deserve untuk ini, apakah ini betul-betul worth untuk saya hamba yang berlumur dosa ini. Bahkan pemberian Tuhan yang indah pun masih kadang diragukan karena merasa tidak pantas, astaghfirullah *cry*.


Bagian paling menyedihkan adalah saat orang-orang yakin denganmu tapi kamu malah meragukan diri sendiri. Beberapa kegiatan dan program yang menarik kulewatkan, hanya karena merasa tidak pantas untuk mendaftar atau karena terlalu malas dengan segala persyaratannya, mungkin di balik semua itu bukan alasan-alasan tersebut yang menghalangi, tapi adanya ketakutan gagal, takut jika sudah mencoba ternyata sia-sia, takut menjadi orang gagal hanya karena gagal dalam mencoba. 


Kucoba keluar dari pola-pola itu, menembus segala ketakutan dan kecemasan untuk mendaftar sebuah program pengabdian. Ada rasa insecure dalam mendaftar karena merasa tidak cukup kompeten untuk sekadar mendaftar, tapi Thanks God telah mengirimkan teman yang tiada henti bertanya, meyakinkan untuk mendaftar, dan membimbing dalam prosesnya. Meskipun begitu, rasa khawatir dan takut itu masih tetap ada, perutku keram berhari-hari karena khawatir berlebih menunggu email dari penyelenggara. Saya seperti tidak mengenal diriku yang sekarang, penuh ketakutan, penuh rasa tidak percaya diri. Diriku yang dulu lebih nekat dan tidak mengenal rasa takut untuk mencoba banyak hal. Entahlah, apakah ini sebuah proses bertumbuh atau proses degradasi.


Perubahan selalu bersanding dengan ketidaknyamanan, proses transformasi dibersamai dengan air mata dan juga keraguan. Semoga Allah selalu membersamai segala prosesnya.


Dari segala rasa yang kurasa, saya sangat bersyukur dibersamai oleh Sang Maha Segalanya dan dikelilingi banyak orang-orang yang baik. Orang-rang yang secara tidak mereka sadari membantu dalam proses transformasi ini. Yang selalu menyediakan telinga untukku berkelu kesah, selalu menyambut dengan tangan terbuka saat kubutuh penguatan, dan selalu memberikan endless support dalam bentuk bantuan secara langsung, semangat, maupun doa.


Dalam refleksi kukadang mensyukuri segala hal yang terjadi, setidaknya jika esok lusa ada yang cerita tentang apa yang mereka alami, saya bisa memberikan perspektif yang lebih berempati karena pernah atau bahkan masih mengalaminya. 


Everything happened for a reason, right?

Jumat, 01 Agustus 2025

Welcome Agustus


Sebelum tidur, benar-benar sudah pasrah sepasrah-pasrahnya, berserah kalau masih harus lanjut menjalani proses pembelajaran saya Ikhlas ya Allah. Karena toh ketika kita sudah sampai di titik terendah, tidak ada pilihan lain selain bertumbuh naik ke atas. Dada terasa nyeri, nafas sesak dan baru kali ini merasa cukup lama menghadapi panic attack dan anxiety. Berulang kali melatih nafas tapi dada masih terasa sesak. Cukup banyak trigger yang muncul, di satu sisi bersyukur karena semuanya naik ke permukaan dan siap untuk diproses dan ditransformasi. 

 

Allah, Sang Maha membolak-balikkan hati.

Entah bagaimana hidupku di Juli jika bukan Allah yang bantu kuatkan.

Pagi di awal Agustus, meski tidur hanya beberapa jam karena begadang, efek minum kopi kemarin siang, tapi saat bangun hati dan perasaan begitu lapang. Saat membuka mata langsung memohon doa kepada Allah agar menguatkan dan menjadikan Agustus bulan yang jauh lebih baik, penuh berkah dan rahmat, penuh kebaikan dan kebahagiaan, dan Alhamdulillah pagi ini tersadar dalam keadaan hati yang begitu tenang. Saat sholat pun masih menangis, kali ini bukan lagi tangisan yang menyesakkan dada, tapi tangisan penuh syukur atas segala nikmat tenang dan lapang yang menyelimuti perasaan. Sungguh, Allah Sang Maha membolak-balikkan hati.


Solusinya adalah sujud, kalimat yang terdengar klise, tapi efeknya begitu nyata. Seberapa sering pun saya mencoba membuat formula saat hati merasa gundah gulana, tapi formula tersebut tak pernah bisa saya gunakan saat rasa merana itu melanda. Satu-satunya hal yang bisa mengubah semuanya adalah pertolongan Allah. Sujud yang panjang, tanpa memohon apa pun hanya berserah dan menangis mengharapkan cinta kasih-Nya, limpahan berkah dan Rahmat-Nya, semua itu yang bisa merubah segala kekhawatiran menjadi ketenangan. Sekarang baru mulai mengerti kenapa sholat dijadikan Solusi untuk segala macam permasalahan, karena di saat itu pertolongan Allah terasa sangat dekat.


Sering kubahas dengan teman saat ada yang curhat, untuk berserah, untuk melibatkan Allah, meminta pertolongan Allah. Namun, saya sering lupa melakukannya, menganggap diri cukup kuat untuk menghadapi semua hal yang terjadi. Ketika berserah, ketika memasrahkan semua dan meminta pertolongan Allah, dalam sujud dan doa, di saat itu Allah hadir merangkul dengan cinta kasihnya dan dengan mudah Allah bisa mengubah lara menjadi bahagia, duka menjadi suka.


Setelah menjalani ritual pagi, kuambil hp dan membaca info di grup terkait penerimaan pengajar BIPA luar negeri yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan. Segala hal yang terasa abu-abu, segala kekhawatiran, perlahan sirna tergantikan dengan harapan dan semangat. Entah bagaimana jalannya ke depan tapi harapan itu mulai menampakkan sinarnya kembali.


Sore harinya menikmati suasana indah Pantai Bosowa bersama keluarga sambil berendam memandangi matahari tenggelam, lanjut menikmati similir angin malam sambil bercengkrama di pinggir pantai. Semua kembali indah dan menenangkan. Badai seakan sudah perlahan menjauh, tergantikan dengan hangatnya perasaan dan tenangnya jiwa.


Gak lagi-lagi deh Tuhan mempertanyakan hati yang tenang ini “apakah betul-betul ketenangan atau ujian”, gak lagi-lagi. Beberapa waktu yang lalu, sempat mempertanyakan perasaan tenang yang dimiliki karena merasa I don’t deserve this, merasa begitu damai dan tenang bahkan saat masalah datang silih berganti. Mempertanyakan apakah ini betul-betul ketenangan dari Allah yang kuminta setiap waktu, ataukah ini adalah ujian. Mungkin karena meragukan dan mempertanyakan itu akhirnya perasaan tenang itu dibalikkan menjadi perasaan gelisah dan gundah, ternyata rasanya sangaat tidak nyaman. Gak lagi-lagi meragukan, gak lagi-lagi mempertanyakan. Saatnya belajar membiasakan diri dengan segala ketenangan dan kenyamanan, menerima bahwa I deserve it


Terima kasih ya Allah untuk segala lyfe lessonnya. Love you Allah.


Kamis, 31 Juli 2025

Rekap Juli 2025

(Source: Pinterest)

Sepanjang bulan Juli, kayaknya situasinya lebih banyak di survival mode dan surrender. Benar-benar terjun ke low frequency. Tak terhitung berapa banyak malam yang kulalui dengan air mata. Menangis di kamar, di motor, atau saat melihat sesuatu secara random. Mengawali bulan Juli dengan berdamai pada kenyataan bahwa ditipu oleh seseorang yang amat kupercaya sebagai orang yang baik, kami yang harus segera mencari kantor yang baru untuk bernaung, dan ternyata tempat yang kami sewa dengan alasan lebih murah karena uang terbatas malah menjadi tempat kami mengeluarkan uang jauh lebih banyak karena harus renovasi dan menanggung beban kecurian.

Tak terhitung berapa banyak musibah yang datang bertubi-tubi di waktu yang bersamaan, hingga hanya bisa pasrah dan menerima bahwa “yang penting tubuh kita sehat, keluarga sehat, segala hal yang berbentuk materi akan ada kemungkinan datang dan pergi”. Hampir aja setiap hari ada berita yang menguras emosi, di satu sisi saya menyadari perasaan itu tapi tidak memberikan ruang pada diriku sendiri untuk memvalidasi emosi itu karena logikaku jalan dan mengatakan ”kamu harus stabil karena kalau tidak stabil akan ada entitas yang akan membuat kehidupan menjadi worst”. Jadi ada pertentangan antara rasa yang harusnya merasa tapi ditentang oleh otak yang memaksa untuk tetap logis. Ini keadaan yang terjadi di Panrita.

Di BIPA, satu persatu siswa melanjutkan perjalanan, Makassar memang hanyalah tempat mereka singgah, bukan tujuan. Saya tau ini sejak awal, tapi sesiap apa pun kita dengan perpisahan, akan selalu ada ruang kesedihan saat perpisahan itu terjadi. Bukan hanya karena perpisahan raga yang membuat sedih, tapi kepergian mereka juga berarti tidak ada kelas di Alekawa. Ini bukan hanya perihal penghasilan yang pasti akan terpengaruh, tapi saya tidak lagi memiliki teman-teman diskusi yang bisa mendiskusikan banyak hal, mulai dari kehidupan sehari-hari yang kelihatannya sepele, tapi juga hal-hal mendalam yang tidak semua orang mau atau mampu mendiskusikannya.

Sontak, saya menjadi “pengangguran” berstatus. Tidak ada jadwal ngajar di Panrita untuk saat ini karena tidak ada kelas CPNS, di Alekawa pun tersisa satu keluarga yang juga akan pindah bulan depan yang artinya tidak ada siswa untuk sekarang.

Tiba-tiba muncul ketidakpercayaan diri dan meragukan diri sendiri akan sesuatu yang dimiliki, keraguan akan kemampuan, menjadi lebih overthinking dan gampang melow yang mungkin karena mengasihani diri sendiri. Ada beberapa kekhawatiran dengan situasi ini yang kemudian kucoba figure out, apakah ini fakta atau opini. Misalnya: Ketika saya tidak bekerja saya merasakan apa? Oh ternyata saya merasa takut tidak produktif, saya tidak bisa bayar cicilan rumah, dan saya tidak bisa belanja. Lalu saya melanjutkan pertanyaan lagi “apakah yang saya rasakan fakta atau opini”? Oh ternyata saya tetap bisa produktif dengan mengerjakan beberapa hal yang tertunda karena kesibukan kemarin-kemarin, oh ternyata saya masih bisa bayar cicilan rumah dengan bantuan orang tua, oh ternyata saya masih bisa belanja yang tiba-tiba dapat rejeki entah dari mana. Ternyata ketakutan yang saya rasakan hanya opini yang berseliweran di pikiran, bukan sebuah fakta. Setelah saya figure out dan breakdown saya menemukan beberapa hal hanya asumsi semata, tapi tak serta merta hal tersebut merubah situasi hati, masih ada sedih-sedihnya, masih ada khawatirnya, masih ada takutnya. Saya memvalidasi semua rasa itu. Setidaknya sekarang lebih jernih melihat bahwa kenyataan hidupku tidak se-fucked up itu.

 

Lalu, hari ini, orang tua datang dari kampung, randomly duduk di teras dan ngobrol sama bapak. Mungkin Bapak juga kerasa kalau anaknya kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Bapak nanya “kamu tidak ngajar”?, saya lalu menceritakan kondisi yang terjadi sebulanan ini. Bapak mencoba menguatkan dan menyemangati. Tak terasa saya menangis (semoga bapak tidak menyadari meskipun suaraku berubah saat cerita). Selama ini tak pernah cerita masalah kerjaan secara detail ke orang tua, tapi malam ini entah kenapa tiba-tiba keterusan untuk cerita semuanya. Kami keluarga yang harmonis dan cukup dekat, tapi tidak seterbuka itu menceritakan semua hal yang terjadi dan yang dirasakan, jadi saat ada moment itu bisa kejadian saya merasa tidak sendirian dan menangis terharu karena merasa “apapun yang terjadi, akan selalu ada orang-orang dekat yang yang hadir tidak hanya secara fisik, tapi secara emosional dan juga doa”.

Terima kasih Juli atas segala ceritanya.

Home sweet home, 30 Juli 2025



Rabu, 30 Juli 2025

Berserah

Saat perjalanan keluar tadi pagi, gak sengaja melihat popcorn caramel di penjual sayur. Tiba-tiba terbersit di pikiran popcorn tradisional (Bugis = Benno). Teringat bagaimana cara tradisional orang di kampung membuat benno, bunyi yang kadang meledak tiba-tiba kalau sedang di pasar. Dan hari ini orang tua datang dari kampung dan membawa popcorn tradisional ini. Makanan yang tidak pernah dibawakan sama sekali sebelumnya. Benar-benar mestakung (semesta mendukung), hanya memikirkan saja tanpa keinginan bisa tiba-tiba mewujud nyata. Kadang hal-hal seperti ini menjadi reminder dan mungkin teguran dari Allah “Apa sih yang dikhawatirkan, sesuatu yang tidak didoakan spesifik saja dikabulkan, apalagi kalau sudah berdoa”.

Perihal makanan ini sudah terjadi berkali-kali, setelah kupikir-pikir lagi kejadian itu selalu terjadi di saat kondisi sedang tidak baik-baik saja dan merasa hidup lagi fucked up. Misalnya kepikiran donat kampung yang sering dimakan saat masih SD, tiba-tiba malamnya ada tetangga yang “Assalamualaikum” dan bawain donat persis yang kupikir sebelumnya, atau saat chat-an sama teman dan merasa hidup lagi payah-payahnya dan terbersit mau minuman dari kafe tempat teman tersebut nongkrong tapi gak enak kalau titip belikan karena pasti dia tidak mau dibayar, keesokan harinya ada siswa yang datang ke kantor dan traktir minuman dan pesannya dari kafe yang kuinginkan malam sebelumnya. Hatiku hangat dan merasa dipeluk oleh Allah atas segala energi bergetaran rendah yang sedang menyelimuti diri dan pikiran.

Pernah juga waktu ngekost ketika kuliah, saat itu kehabisan uang dan minta sama Allah “Ya Allah, mintaka’ uang”. Hari itu juga saat membersihkan kamar tiba-tiba nemu uang 50 ribu. Awalnya kupikir uang teman yang mungkin jatuh karena banyak teman yang sering main ke kost, setelah kutanya satu persatu teman ternyata gak ada yang merasa kehilangan. Langsung melting dengan cara Allah menjawab doaku saat itu juga.

Ada masa juga saat sudah balik ke Makassar dan kekurangan uang, langsung mengadu ke Allah “Ya Allah khawatirka ndak cukup uangku”, tiba-tiba keesokan harinya saat bertemu dengan teman dia memberikan uang 300 ribu, uang dari sewa tempat yang tidak pernah terpikir sebelumnya ada orang yang menyewa. Pernah juga di situasi serupa saat lagi gamang-gamangnya dengan kondisi keuangan, ada uang yang tiba-tiba masuk ke ATM tanpa ada keterangan pengirim dan gak ada yang konfirmasi mengirim.

Saat cerita ke teman, seorang teman menimpali "mintako sama Allah uang xxxxx". Ya ampuun kak 🤣🤣, tidak bisa kayaknya di-setting begitu deh. Kayaknya hal2 ini terjadi random, tanpa rencana, tanpa intensi, dan mungkin tanpa harapan hanya sepenuhnya berserah.


Selasa, 29 Juli 2025

Menjadi Tua

Menjadi tua ternyata bukan hanya tentang umur yang bertambah tapi juga kekhawatiran yang mulai bercabang, dulu tidak terlalu banyak mikir untuk melakukan sesuatu, modalnya hanya nekat dan langsung eksekusi, sekarang terlalu banyak pertimbangan dan mitigasi risiko.

Awalnya kupikir bertambah tua hanya perihal sakit punggung yang sudah mulai intens, ternyata lebih besar daripada itu, tua mencuri nyali yang dulu selalu menggebu.

Dulu, modal berani dan nekat menjelajah suatu tempat meskipun tempatnya sangat asing, sedikit berbahaya, dan juga tanpa persediaan uang yang cukup. Sekarang, selalu mau memastikan tempatnya aman, perjalanannya nyaman, uangnya cukup baru berani untuk melangkah.

Dulu, waktu masih awal 20-an, melihat senior-senior yang terlalu banyak “alasan” untuk melakukan sesuatu membuatku judging. Sekarang, aku mulai mengerti alasan kenapa mereka tidak senekat waktu masih muda, tidak semenggebu saat masih kuliah, aku sudah berada di fase itu dan mulai mengerti bahwa perihal fisik dan juga pikiran merampas banyak hal saat kita mulai menua.

Dulu, aku sempat berfikir untuk tinggal di Papua, spend the rest of my life there, tapi seiring waktu berlalu, meskipun ada kesempatannya ternyata aku tidak senekat itu mengambil kesempatan tersebut, terlalu banyak pertimbangan yang membuat nyaliku ciut.

Ah, menua ternyata tidak semenyenangkan yang kubayangkan saat masih kanak-kanak. Tapi, aku bersyukur menua dengan kebijaksanaan (semoga). Aku bisa melihat lebih jernih segala sesuatu, tidak hanya mengedepankan ego tapi juga mulai menggunakan akal sehat untuk membuat keputusan. Aku bersyukur menua dengan banyak kenekatan di kala masih muda, setidaknya meskipun sekarang tidak sebebas dan senekat dulu, aku punya banyak tabungan memori dan cerita yang akan kukenang hingga kelak raga menyatu dengan tanah.

 


Senin, 28 Juli 2025

A Day In My Life - 28 Juli 2025

Rasanya sudah lama sekali tidak mengunjungi blog ini, terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan banyak alasan yang diberikan untuk tidak menulis. Hari ini mau menulis status WA, tapi kepanjangan jadi berfikir mungkin ini bisa menjadi awal menulis kembali di blog, tentang kerandoman hidup yang bisa jadi bahan refleksi dan mungkin menjadi jejak hidup yang terabadikan, bahwa hidup tak selalu tentang suka dan cinta, tapi terkadang harus menghadapi duka dan lara.


Belakangan hidup terasa tidak baik-baik saja. Tak usah tanyakan kenapa? Terkadang tak butuh alasan tertentu untuk merasa tidak baik-baik saja. Melakukan sesuatu tapi terasa hampa, memiliki hampir semuanya tapi merasa kosong. Mencoba figure out the reason why I feel that feeling tapi tak juga kunjung membaik, malah hampir setiap hal mentrigger emosi, kadang hanya mendengarkan orang membahas tentang energi dan frekuensi, menonton podcast yang bahas tentang trauma healing, melihat orang yang dapat beasiswa dan berangkat ke luar negeri, atau membaca buku yang membahas realita sosial, itu saja mampu membuat nangis

kejer selama beberapa waktu.



Namun, hari ini mencoba keluar dari sangkar, mencari udara segara, menggerakkan badan dan menyatu dengan bumi, perasaan perlahan mulai membaik. Pagi hingga siang ke kantor untuk bekerja, siang ke sore tidur di rumah, lalu sorenya keluar untuk jogging selama lima putaran. Lalu duduk hening sejenak grounding sambil membaca buku, perlahan energi bumi menyatu ke tubuh dan membuat perasaan berangsur membaik. Mungkin keadaan sedang tidak baik-baik saja, tapi saya memilih untuk tidak menyerah begitu saja dengan keadaan yang seakan tiada ampun membombardir perasaan, saya memilih melawan dan menstabilkan rasa.



Pulang dari jogging, singgah beli sate, melariskan jualan pedagang kaki lama. Kemarin baca buku "Sisi Gelap Surga" tapi belum sampai selesai, kondisiku sedang tidak baik-baik saja untuk membaca kisah yang menyesakkan, kisah-kisahnya terasa begitu dekat dan nyata, mengetahui realita di sekitar kita banyak ketidak idealan, tapi kita tak punya kuasa untuk melakukan perubahan. 


Satu cerita di buku tersebut mengisahkan seorang penjual nasi goreng yang gamang apakah akan ada nasi goreng yang laku pada malam itu, hal ini yang menjadi motivasi untuk melariskan jualan pedagang kaki lima. Setidaknya, meskipun saya sedang tidak merasa baik-baik saja, saya masih bisa berbagi dengan orang lain, supaya kita tidak sama-sama suffer


Saat mampir ke penjual sate di depan saya ada seorang laki-laki paru baya yang lebih dahulu memesan sate dibanding saya, ternyata pada saat membayar uangnya kurang lima ribu rupiah, dia hendak membayar Qris tapi penjual sate tidak menyediakan layanan tersebut, akhirnya dia pulang dan berjanji ke penjual satenya akan kembali sebentar lagi untuk melunasi. Pada saat saya membayar, saya sengaja membayar kekurangan pembeli yang tadi, ibu penjual sate menolak tapi saya tetap memaksa membayar. Ternyata efeknya luar biasa, perasaan saya menjadi terasa penuh dan tanpa terasa air mata pun mengalir haru. Terkadang hal-hal kecil bisa memberikan perubahan yang besar terhadap kita, sama halnya dengan bersedekah, bukan tentang nominal tapi seberapa lapang saat kita memberi, manfaatnya bukan ke yang menerima, tapi kepada kita yang memberi.


Dalam perjalanan menuju ke rumah, saat sudah masuk ke kompleks perumahan, nampak langit jingga yang begitu indah menambah kehangatan pada hati yang gersang, seakan Tuhan hadir dan memeluk segala gundah melalui semburat jingga di langit sore, menghibur dan menyampaikan pesan bahwa "everything's gonna be okay, Aku akan selalu ada untukmu, mintalah dan berbaik sangkalah akan semua suratan yang telah kutuliskan".


Terima kasih untuk segala rasa yang tidak baik-baik saja, saya belajar untuk berserah, belajar mengontrol diri untuk tidak mengontrol keadaan.

Selasa, 31 Desember 2024

Serba Serbi 2024

Siang ini, 30 Desember, menepi dari segala keriuhan dan memilih nongkrong di sebuah kafe favorit di tengah Kota Makassar, mencoba memesan matcha dingin untuk mendinginkan otak sebelum memulai merangkai kata refleksi tahun 2024. Setelah sekian lama baru mencoba lagi memesan matcha, selama ini hanya memesan coklat atau kopi aren, hari ini ingin sesuatu yang berbeda. Namun, matcha yang baru kupesan lagi setelah sekian lama rasanya cukup pahit karena tidak teraduk dengan baik, sebuah kejutan yang indah, bukankah pahit pun juga bisa dinikmati? Tidak hanya selalu menikmati yang manis.

Terlalu banyak hal yang terjadi di 2024, rangkaian cerita indah, perpisahan, kemarahan, kesepian, pertemuan, berbaur menjadi satu alur cerita indah. Tahun ini melewati cukup banyak perjalanan ke luar kota, Bau-bau, Wakatobi, Sinjai, Bulukumba, Kalimantan Selatan, Surabaya, Jogja, Karimun Jawa, Pangkep, Bantaeng. Hingga pertengahan tahun 2024 hampir setiap bulan melakukan perjalanan ke luar kota, bertemu dengan banyak orang baru, merangkai banyak cerita indah, bercengkrama dengan sanak saudara, bersenang-senang dengan teman-teman.

-   Januari

Cerita ini dimulai di awal bulan Januari, bulan Januari tahun ini menjadi bulan dengan banyak agenda berkumpul dan tukaran kado, mulai dari tukaran kado di kantor, lanjut ngumpul di rumah salah seorang teman untuk tukaran kado, berlanjut tukaran kado di ulang tahun Panrita, dan berakhir dengan staycation bersama dengan teman-teman Wanita ketche di Apartemen Vidaview. Selain agenda tukaran kado, di bulan Januari juga ada agenda kunjungan ke rumah salah seorang teman yang anaknya akikah. Lalu menutup bulan Januari dengan mengikuti kegiatan Jelajah Bumi Pertiwi di Wakatobi.

Perjalanan ke Wakatobi penuh dengan cerita yang indah, bertemu dengan siswa-siswa Alekawa yang sudah memulai kehidupan baru di kota yang baru, dibuat terharu dengan kehadiran keluarga Linder di pelabuhan yang rela menunggu dalam keadaan rintik hujan di Wakatobi hanya untuk sekadar mengucapkan selamat datang di Wakatobi. Sebuah momentum yang mengingatkan untuk selalu berbuat baik kepada siapa pun karena kita tidak pernah tahu esok lusa kita akan bertemu dengan siapa dalam kondisi yang seperti apa. Selepas dari kegiatan di Wakatobi dan kembali ke Bau-Bau di sana juga dipertemukan dengan  keluarga Jackson dan keluarga Lee yang meluangkan waktu untuk bertemu dan mentraktir makan gelato di Bau-Bau. Sebuah momen yang sangat priceless.

Selain pertemuan dengan alumni Alekawa, perjalanan ke Bau-Bau dan Wakatobi untuk pertama kalinya itu juga memberikan banyak pengalaman baru, berkenalan dengan banyak volunteer dengan berbagai latar belakang dari berbagai daerah, pertama kalinya mencoba makan gurita di Wakatobi, bertemu dengan lumba-lumba di tengah laut, mandi dan masak pakai air asin di Kapota, pawai budaya keliling Pulau Kapota dengan segala kemeriahannya, nonton film “Agak Laen” di bioskop Bau-Bau, rebutan tempat tidur di kapal dalam perjalanan pulang ke Makassar agar bisa dekatan dengan semua volunteer, dimarahin penumpang kapal karena bermain games dan tertawa berisik.

-   Februari

Pulang dari Wakatobi, beberapa teman singgah di Makassar untuk jalan-jalan dan mencoba makanan Makassar, ada yang hanya transit untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Jawa dengan naik pesawat, ada yang extend beberapa hari untuk bisa menjelajah beberapa tempat sebelum kembali ke rutinitas. Salah satu kebahagiaan tersendiri kalau bisa ngehosting teman-teman, sebuah rasa yang sama bahagianya ketika ke suatu tempat dan ada teman yang bersedia untuk nge-hosting. Beberapa hari menjadi tour guide dan juga sekaligus host selama teman-teman di Makassar.

Setelah berbagai kegiatan itu, akhirnya kembali dengan rutinitas sehari-hari untuk mengajar. Kembali bertukar cerita dengan para siswa tentang budaya dan bahasa. Selama mengajar di Alekawa rasa-rasanya rutinitas tersebut tidak hanya sebatas pekerjaan tapi menjadi salah satu wadah untuk bertumbuh, selalu merasa harus ada input baik dari pengalaman langsung atau pun dari bacaan agar bisa bertukar cerita dengan para siswa. Jadi selalu semangat jika melakukan perjalanan karena hal itu berarti akan ada bahan pembicaraan yang baru. Selain rutinitas mengajar, di akhir Februari saya, Selpi, dan Kak Nunu memanggil guru private untuk kami belajar menari persiapan ikut mengajar BIPA di luar negeri.

-   Maret

Awal Maret ada agenda gathering Mata Garuda Sul-Sel di Pantai Bosowa untuk membangun bonding sesame pengurus, lumayan recharge energi dengan bertemu dengan teman-teman dan juga dapat hadiah-hadiah yang cute. Lalu beberapa hari kemudian memasuki bulan ramadan dan disibukkan dengan agenda buka puasa di berbagai kelompok pertemanan. Syukuran ulang tahun Alekawa yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama tutor dan siswa, buka puasa Panrita, buka puasa teman SMA, buka puasa teman kuliah, buka puasa Mata Garuda di bantaran Sungai Jenne’berang. Selain agenda buka puasa di mana-mana, satu hal yang paling kusyukuri di ramadan tahun ini yaitu kesempatan bergabung di satu grup yang memiliki tujuan untuk belajar ayat demi ayat Alquran, mentadaburi ayat-ayat Al-Quran dan menuliskan insight yang didapat dari ayat tersebut. Agenda ini memberikan banyak pengetahuan baru tentang ayat-ayat suci Al-Quran yang selama ini biasanya hanya dibaca lafaz Arabnya tanpa tau arti dan sebab turunnya ayat tersebut.

-   April

Setelah menjalani berbagai macam kegiatan selama ramadan, di penghujung ramadan melakukan perjalanan pulang kampung untuk persiapan lebaran bersama dengan keluarga. Momen lebaran bersama dengan keluarga selalu menjadi agenda tahunan yang penting untuk dirayakan. Waktu berjeda dari segala kesibukan dan menikmati kebersamaan.

Berpindah-pindah tempat tinggal sejak SMP, SMA, kuliah S1 dan S2 membuatku tidak memiliki banyak teman di kampung halaman selain keluarga, jadi biasanya setelah lebaran ada teman dari luar daerah atau luar kota yang berkunjung ke rumah, tahun ini Keluarga teman SMA dari Makassar yang melakukan kunjungan, maklum dianya tidak punya kampung jadi tidak ada tradisi pulang kampung hehe. Bisa saling melengkapi, teman yang tidak punya kampung difasilitasi kampung untuk berkunjung, sayanya juga jadi senang mendapat kunjungan dari teman di kampung.

Bulan April ini juga menjadi hari Bahagia untuk salah satu staff Alekawa, Wirda, yang melangsungkan akad dan resepsi pernikahan di kampung halamannya di Sinjai. Rombongan tutor dan siswa Alekawa berangkat dari Makassar menuju ke nikahan Wirda di Sinjai, perjalanan ke Sinjai mereka lalui dengan melewati Soppeng agar bisa mampir ke rumah. Kunjungan siswa bule ke rumah di kampung sontak melahirkan kehebohan, bahkan bagi orang-orang yang sedang lewat, ada pengendara yang lewat depan rumah dan memberhentikan kendaraannya untuk sekadar singgah untuk berfoto bersama para bule. Di rumah pun tak kalah hebohnya tetangga dan keluarga yang datang untuk melihat bule dan berfoto bersama. Rombongan Alekawa sengaja menyempatkan waktu untuk ke kampung saya untuk berkunjung, bertemu dengan keluarga dan sekaligus makan siang.

Huru hara pertemuan dengan bule berlangsung beberapa jam dan kemudian melanjutkan perjalanan ke tujuan utama di Sinjai. Kami mengikuti prosesi mappaci, akad nikah, dan resepsi selama 1 malam 1 hari di Sinjai dan kemudian melanjutkan perjalanan liburan ke Bulukumba. Tidak banyak agenda jalan-jalan, kami liburan ala bule yang menghabiskan waktu yang berkualitas, berkumpul dan makan bersama di satu tempat. Kebetulan lokasi penginapan kami tepat berada di bibir pantai jadi tidak harus mencari spot foto atau spot nongkrong untuk menikmati pemandangan.

-   Mei

Awal Mei saya bersama teman-teman merancang sebuah project kolaborasi yang kami beri nama “Arungi Cita” yang memiliki filosofi mengarungi cita-cita, project yang menyatukan Komunitas Sinesia, Mata Garuda, Panrita, Alekawa. Empat organisasi/lembaga yang saya menjadi bagian di dalamnya, jadi seolah-seolah project pribadi yang dibantu oleh teman-teman untuk mewujudkan. Sebuah project yang dengan antusias kami rancang untuk menjadi navigasi bagi anak-anak SMA yang harapannya tidak salah memilih jalan seperti yang Sebagian besar dari kami pernah alami. Project tersebut alhamdulillah bisa terlaksana dengan baik dengan bantuan banyak teman dan kolaborasi dengan berbagai pihak.

Di bulan yang sama datang ke akikahan anak salah seorang teman. Tahun ini ada cukup banyak agenda nikahan dan akikahan juga, alhamdulillah sampai di umur ini yang dulu kusaksikan sebagai aktivitas manusia-manusia dewasa. Selain beberapa agenda tersebut, saya juga berkesempatan mendampingi Laura yang menjadi pemateri untuk anak-anak Al-Azhar di Mall Nipah, sebuah kegiatan seru yang tidak pernah saya dapatkan ketika saya masih SD dulu, belajar ala-ala bahasa Inggris di mall dipandu oleh bule hehe. Masih di bulan yang sama, salah satu sahabat SMAku, Rezky, menikah dengan laki-laki yang sudah menjadi pacarnya beberapa tahun terakhir.

-   Juni

Mengawali bulan Juni dengan jalan-jalan ke Pulau Lanjukang bersama dengan Nanda, akhirnya terwujud juga perjalanan ke Lanjukang, sebenarnya keinginan untuk jalan-jalan ke Pulau Lanjukang sudah ada sejak lama tapi baru ketemu kesempatannya. Perjalanan yang seru bisa menikmati keindahan alam Lanjukang dan bertemu dengan beberapa teman baru. Bersyukur tinggal di Makassar yang memiliki banyak pulau-pulau yang indah yang bisa dikunjungi dengan sehari perjalanan atau bisa dimanfaatkan untuk short vacation.

Berselang beberapa hari, saya bersama dengan orang tua melakukan kunjungan ke rumah kakak yang ada di Kalimantan Selatan, kami sekaligus merayakan idul adha bersama. Sudah lama sejak sekali kami tidak merayakan hari raya bersama-sama, dan tahun ini pun perayaan hari rayanya tidak lengkap karena adik sedang berada di papua. Kami menghabiskan 2 minggu di Kalimantan, melakukan berbagai rutinitas sebagai sebuah keluarga. Kebersamaan bersama dengan keluarga di usia segini menjadi hal yang sangat mahal, semua sudah dengan kesibukan dan tanggung jawabnya masing-masing di daerah yang berbeda-beda, jadi butuh waktu dan dana untuk bisa berkumpul bersama.

Akhir bulan Juni kami meninggalkan Kalimantan menggunakan kapal ferry menuju ke Surabaya, sebenarnya tujuan kami selanjutnya adalah Jogja, tapi kami lewat Surabaya agar lebih hemat. Naik kapal dari Kalimantan menuju Surabaya, lalu melanjutkan perjalanan dari Surabaya menuju ke Jogja. Untungnya saya sudah booking penginapan dan mobil beberapa hari sebelum kami tiba di Jogja karena ternyata akhir bulan Juni itu merupakan high season, sehingga banyak sekali orang yang liburan di Jogja yang mengakibatkan penginapan hampir semuanya penuh dan kendaraan rental sangat susah ditemukan, bahkan beberapa tempat wisata yang kami kunjungi hampir semuanya ramai. Kami menghabiskan beberapa hari di Jogja, alhamdulillah bahagia bisa jalan-jalan bersama orang tua di Jogja, kota yang memiliki tempat yang spesial di hati. Mama sebenarnya sudah pernah beberapa kali ke Jogja, khususnya pada saat saya kuliah di Jogja, tapi etta baru pertama kali ke Jogja dan kesempatan ini menjadi kesempatan yang berharga dan membahagiakan bisa menunjukkan beberapa tempat favoritku dulu pada saat kuliah, dan juga bisa mengenal beberapa teman-teman dekatku pada saat kuliah dulu. Semoga kami senantiasa diberikan kelapangan rezeki dan umur yang Panjang agar bisa melakukan banyak perjalanan-perjalanan lainnya. Akhir Juli mama dan etta kembali ke Makassar karena sudah ada kesibukan yang menanti, sedangkan saya masih tinggal beberapa hari. Jogja selalu punya daya magnet untuk dikunjungi dan sangat sayang jika hanya menghabiskan beberapa hari saja. Masih ada beberapa teman-teman yang juga mau ditemui.

-   Juli

Sepulangnya etta dan mama ke Makassar, di awal Juli Kak Galuh, salah satu volunteer yang kukenal pada saat di Wakatobi ternyata sedan gada conference di Jogja, jadilah kami menghabiskan dua hari untuk menjelajah Jogja. Setelah Kak Galuh balik, beberapa hari kemudian di akhir pekan saya bersama dengan Ani, Ana, dan Hanan berangkat ke Salatiga bertemu dengan Kak Kasih. Di akhir tahun 2023 sebenarnya ada rencana untuk datang ke Salatiga menemani Kak Kasih merayakan natal, tapi karena ada rencana ke Wakatobi di bulan Januari akhirnya rencana itu dibatalkan dan diubah jadwalnya ke bulan Juli.

Untuk pertama kalinya berkunjung ke Salatiga dan langsung jatuh cinta dengan kota ini. Kalau bisa berkhayal, rasanya mau ada kesempatan untuk bisa tinggal di Salatiga, kotanya tidak terlalu besar, sejuk, dan tenang, ditambah lagi rumah Kak Kasih diatur hingga menjadi rumah yang sangat homey. Beberapa kali Kak Kasih mengajak untuk keluar, tapi hanya satu kali kami memutuskan untuk nongkrong di luar, karena di rumah saja rasanya sudah terlalu nyaman. Kafe yang kami kunjungi pada saat keluar tempatnya sangat bagus dengan harga yang masih sangat masuk akal. Argh, semoga punya kesempatan untuk jalan-jalan ke Salatiga lagi. Kami menghabiskan waktu di Salatiga selama 3 hari, lalu kembali ke Jogja untuk persiapan nonton Tulus di Prambanan Jazz.  

Kak Kasih ikut menonton Tulus, meskipun dia bule ternyata dia juga mengenal Tulus dan tau beberapa lagunya. Momen menonton konser kali ini tidak akan pernah terlupakan, waktu itu ada beberapa band terkenal yang tampil, seperti Dewa 19, Gigi, dan Kahitna. Berkesannya bukan karena siapa yang tampil di konser itu, tapi karena kami terpencar. Ini momen paling menyebalkan pada saat itu, tapi sekarang malah ditertawakan karena momen itu sangat konyol haha. Jadi singkat cerita, kami datang ke Prambanan Jazz sore dan otomatis terpotong magrib. Kami bertiga (Saya, Ani, dan Ana) menuju mushola yang disiapkan panitia. Karena mau pipis, jadinya saya ke toilet sedangkan Ana dan Ani ke musholla, dan pintarnya saya semua barang-barang kutitipkan di mereka dan kami menyepakati satu tempat untuk bertemu. Waktu berjalan, mereka sholat, saya pun kemudian sholat dan ke titik yang kami sepakati untuk kumpul. Mereka tak ada di sana sampai beberapa menit kucari. Hari sudah mulai gelap, saya pun memutuskan untuk kembali ke depan panggung, tempat kami berempat nongkrong sebelumnya. Ternyata pada saat kembali, suasananya sudah berubah karena sudah mulai ramai dan sudah gelap. Saya tidak bisa menghubungi Ana dan Ani karena saya tidak tau nomor mereka, saya telefon hp saya yang dibawa oleh mereka tapi tidak ada respon dan masih panjang cerita ketololan lainnya hahaha. Pada akhirnya kami terpisah menonton, mereka menikmati karena berpikir toh saya berdua dengan Kak Kasih, tapi saya tidak menikmati karena fokus mencari mereka di tengah lautan manusia, jaringan yang hilang, dan hp yang lowbat. Sungguh nonton konser yang sangat berkesan.

Beberapa hari setelah nonton konser, kami (saya, Ana, dan Ani) berangkat ke Karimun Jawa, destinasi wisata yang sudah kami impi-impikan sejak 5-7 tahun lalu waktu kami masih kuliah, akhirnya kesampaian juga bisa ke sini dalam kondisi yang jauh lebih baik. Mungkin kalau berangkatnya dulu pas masih mahasiswa kami akan backpackeran, tapi sekarang karena mau yang lebih nyaman dan kami juga sudah punya uang jadi kami mengambil paket trip yang sekali bayar untuk semua hal mulai dari berangkat di Jepara sampai kembali ke Jepara. Pantai-pantai di Karimun Jawa sangat indah, meskipun alam bawah lautnya tidak begitu bagus, apalagi beberapa bulan sebelumnya saya sempat snorkeling di Wakatobi jadi ada perbandingan, tapi pantai dan panorama lautnya sangat indah. Kalau ada kesempatan, mau berkunjung lagi ke Karimun Jawa.

Minggu ketiga Juli, perjalanan yang cukup panjang sudah selesai dan waktunya kembali ke rutinitas dengan energi yang sudah 100% charged. Selain mengajar, sekembalinya dari Jogja saya langsung bergabung dengan teman-teman mempersiapkan terjun ke sekolah di akhir Juli. Jadi kegiatan Arungi ada dua waktu, akhir Juli dan pertengahan Agustus. Akhir Juli ini yang terjun ke sekolah adalah para fasilitator untuk mengambil data secara real tentang rencana adik-adik SMA, kemudian data tersebut kami olah untuk jadi referensi yang kami bagikan ke volunteer agar mereka mempersiapkan materi yang cocok dengan kebutuhan adik-adik di sana.

Bulan Juli ternyata cukup panjang. Setelah liburan, berkegiatan, tibalah di satu momen yang tak kalah berkesannya. Waktu ketika transfer uang kontrakan ke bapak kontrakan dan tiba-tiba ditelefon oleh bapak kontrakan yang menjelaskan banyak hal yang intinya “saya harus mengosongkan rumah yang sudah saya tempati 5 tahun itu dalam waktu dua minggu”. Belum juga hilang bayangan liburan, belum juga hilang capek berkegiatan, tiba-tiba ada hal baru yang cukup mengagetkan. Alurnya pun seperti drama di sinetron. Hahaha. What a life.

Malam ketika mendapat telefon itu masih ketawa-ketawa dan mencoba tenang memproses segala informasi yang datang begitu cepat dan seolah-seolah tidak memberikan waktu untuk berfikir. Keesokan harinya setelah tidur dengan tenang saya diskusi dengan orang tua, menghubungi teman yang sudah membeli rumah terlebih dahulu, dan merencanakan survey rumah yang rencana akan saya tempati sembari mempersiapkan berkas-berkas yang kemungkinan akan dibutuhkan.

Di bulan yang sama harus berbesar hati melepas kepergian salah satu teman terbaik, Aryana, untuk melanjutkan hidup dengan profesi yang berbeda di tanah yang nan jauh di sana, ada rasa sesak ketika sudah berada di fase nyaman dengan seseorang tapi harus berjarak, tapi setidaknya ada satu hal pasti yang kutau bahwa kita hanya berjarak, tidak berpisah.

-   Agustus

Hidup menjadi lebih berwarna dengan banyak drama kehidupan. Di waktu yang sangat terbatas alhamdulillah dimudahkan untuk mencari rumah, memantapkan hati memilih rumah, dan mengurus berkas-berkas KPR. Alhamdulillah Allah mudahkan segala prosesnya, bahkan ada momen ketika merasa pesimis pengajuan KPRnya akan approved karena status pekerjaan yang bukan pegawai tetap, tapi alhamdulillah Allah mengirimkan orang-orang baik yang membantu segala prosesnya dan semuanya menjadi mudah, bahkan di ACC oleh bank hanya dalam waktu kurang dari 2 minggu, dan akad kredit KPR kurang dari 1 bulan. Sempat menangis haru saat menjalani prosesnya, setiap kali ada keraguan selalu saja Allah mengirimkan bukti nyata yang mematahkan keraguan tersebut, lalu apalagi yang bisa kita andalkan sebagai manusia yang lemah ini selain berserah kepada Allah dan berusaha.

Selain kemudahan, alhamdulillah ada banyak hal kebetulan yang terjadi, kebetulan dapat rumah yang sudah hampir rampung, rumah yang sudah dibooking oleh orang lain tapi tiba-tiba batal diambil oleh pemilik sebelumnya karena satu dua alasan, dan rumahnya kebetulan pas tetanggaan dengan Kak Udpa, sesuatu yang kelihatan semua serba kebetulan tapi nyatanya sudah diatur sedemikian apik oleh sang maha pengatur, terima kasih ya Allah, maafkan hambamu ini yang seringkali khawatir dan ragu tentang banyak hal.

Akan ada momen-momen dipaksa oleh keadaan untuk berproses, belajar, dan bertumbuh. Rasa-rasanya hal-hal tersebut penuh dengan ketidaknyamanan. Salah satunya ya proses memiliki rumah ini, sudah sejak lama disuruh untuk membeli rumah, tapi tak pernah ada niat serius untuk mencari karena terlalu nyaman hidup di kontrakan, bahkan saya sudah menghitung simulasi kalau harus ngontrak 10 tahun berapa anggaran yang harus saya siapkan. Tapi namanya manusia ya, kita hanya bisa berencana, Allah sebaik-baik pengatur yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Dalam keadaan terdesak dan tidak ada pilihan barulah pada akhirnya mau tidak mau membeli rumah, alhamdulillahnya dapat rumah di lokasi yang strategis dengan proses yang alhamdulillah mudah. Satu hikmah yang kupetik, andaikan memutuskan membeli rumah sejak beberapa tahun yang lalu, mungkin pilihannya akan jatuh ke rumah subsidi yang jaraknya cukup jauh dari kota, untunglah dengan segala skenario terbaik Allah bisa menempati rumah yang semoga bisa memberikan kenyamanan dan kebaikan.

Di bulan yang sama program lanjutan Arungi Cita dilaksanakan dengan menghadirkan volunteer dari berbagai profesi untuk hadir membagikan pengalaman dan gambaran pekerjaan mereka, alhamdulillah semuanya berjalan lancar sesuai dengan rencana.

Akhir Agustus pulang ke kampung karena ada sepupu yang melangsungkan acara pernikahan. Untung saja kegiatan Arungi tidak bersamaan dengan nikahan sepupu, jadi tidak harus terpaksa memilih dua hal yang sama-sama penting.

-   September

My day. Accidentally, meskipun tidak ada sesuatu yang benar-benar kebetulan. Saat tiduran sambil main hp, tiba-tiba masuk chat dari Winda, sahabat SMAku, yang mengajak untuk staycation. Dia sudah memesan kamar hotel dengan dua orang temannya dan kebetulan dua-duanya berhalangan datang karena ada urusan yang lain, sedangkan kamar yang sudah dipesan tidak bisa cancel dan reschedule. Ajakan tersebut tepat sehari sebelum ulang tahunku. Sebenarnya Winda tidak ada niatan untuk ngasih surprise karena dia lupa kalau besoknya itu ulang tahunku, tapi kebetulan saja dia mengirim foto kami staycation di grup, dan salah satu sahabatku yang lain chat ke Winda menanyakan apakah kebersamaan kami disengaja atau tidak. Keesokan harinya setelah sarapan tiba-tiba saja Winda datang dengan kuetartnya yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan di mall bersama teman-teman. Saya mendapat hadiah dari setiap teman. Senang banget rasanya dengan hubungan kami yang longlast sejak SMA dan selalu meluangkan waktu untuk merayakan momen-momen istimewa kami. Selain perayaan kecil bersama dengan teman-teman, saya juga merayakan diri sendiri dengan mentraktir diri sendiri dengan kuetart sehat. Alhamdulillah bulan penuh berkah.

Bulan September menjadi awal kesibukan di Alekawa dan Panrita secara ugal-ugalan, alhamdulillah jadwal selalu padat hampir setiap hari, bahkan beberapa kali sampai menolak kelas karena menyadari alarm tubuh yang sudah tidak sanggup untuk terus diporsir. Pada waktu itu akhirnya menyadari limit tubuh dan membuat batasan yang mana bisa kuterima, yang mana harus kutolak demi Kesehatan fisik dan mental.

-   Oktober

Kesibukan September belum berakhir dan masih berlanjut di bulan Oktober. Selain mengajar dengan jadwal yang cukup padat yang menguras energi dan fikiran, perpisahan dengan keluarga Parker yang kembali ke Amerika menambah satu hal yang terkuras, mentally. Saya cukup dekat dengan Laura, kami sering menghabiskan waktu nongkrong dan berdiskusi hal-hal yang ringan hingga berat yang membuat kami memiliki hubungan emosional yang cukup dekat, jadi saat mereka harus kembali ke Amerika, saat itu juga sangat terasa sedihnya karena membayangkan akan menjalani hari-hari dengan rutinitas yang berbeda yang tidak ada Laura di dalamnya selama beberapa bulan. Tapi, hidup harus tetap berlanjut ada atau tidaknya orang-orang yang cukup dekat dengan kita. Jadi beberapa hari setelahnya sudah bisa berdamai dengan perpisahan dan kembali ke rutinitas semula.

Overwhelmed yang dirasakan sejak awal Oktober karena rutinitas dan perpisahan, ternyata tidak berakhir sampai di situ, ada satu hal lain yang menambah beban pikiran dan menguras energi, tidak lain dan tidak bukan adalah urusan dengan polisi. Surprisingly, semuanya serba tiba-tiba, tiba-tiba berurusan dengan polisi yang tiba-tiba mempermasalahkan hal yang selama 7 tahun terakhir baik-baik saja. Tapi, hahaha dari beberapa paragraf sebelumnya selalu saja ada kata tapinya. Tapii, everything happens for a reason. Karena kejadian ini, ada beberapa hal yang sebelumnya dianggap biasa-biasa saja akhirnya kami pedulikan bahwa hal tersebut sangatlah penting. Utamanya pencatatan keuangan, laporan pajak, dan serba serbi administrasi. Untungnya berkas-berkas kami semuanya lengkap dan tidak bermasalah, sehingga tidak ada celah untuk diproses lebih lanjut, meskipun kata pak polisinya kasusnya belum ditutup, setidaknya sudah tidak harus bolak balik lagi ke kantor polisi dalam waktu dekat dan semoga tidak akan pernah lagi ke sana karena sebuah masalah. Ada satu hal yang juga menjadi perhatian kami akibat kejadian ini, yakni belajar strategi komunikasi yang baik dan seluk beluk perizinan untuk menyelenggarakan kegiatan. Karena kejadian ini, jadinya kenalan kami bertambah hahaha, jadi kenal dan saling simpan nomor dengan penyidiknya, bisa saling lihat status juga dan bisa tau informasi terkini terkait sesuatu yang terjadi di sekitar karena pak polisinya rajin banget update status hahaha.

Di pertengahan Oktober, setelah melewati banyak hal yang menguras energi dan pikiran, kami memutuskan menepi sejenak ke Malino, melepas segala penat. Rencana sudah sangat matang meski pada hari keberangkatan Kak Udpa tidak jadi berangkat karena salah satu anaknya sakit. Akhirnya kami hanya menghabiskan waktu di villa, pindah dapur dan tempat tidur, momen yang cukup menyenangkan untuk rehat. Oh iya, ada satu hal lain yang terjadi di minggu itu. Saya yang daftar CPNS karena disuruh oleh Kak Udpa ternyata hari tesnya bersamaan dengan jadwal berangkat ke Malino. Saya merasa hal ini menjadi jawaban atas keraguan saya apakah akan melanjutkan proses pendaftaran CPNS atau tidak, jadi saya memilih tetap berangkat liburan dan tidak ikut seleksi. Ketika ikut seleksi dan saya lolos SKD bisa dipastikan saya akan lolos menjadi CPNS karena kebutuhan formasinya dua dan saya satu-satunya pendaftar di formasi tersebut. Saya merasa ini menjadi keputusan yang bijak karena ketika saya ikut seleksi lalu lolos SKD dan saya tidak melanjutkan ke SKB, saya mungkin akan ada penyesalan di kemudian hari, tapi karena ini tidak dicoba dari awal jadi tidak akan ada penyesalan kemudian, insyaallah semoga hahaha.

Akhir Oktober, liburan masih berlanjut, saya menemani Kak Udpa dan keluarganya untuk jalan-jalan ke Bantimurung sebagai pengobat hati karena tidak bisa ikut ke Malino. Jalan-jalan ke Bantimurung menjadi self-healing karena bisa bermain air di mata air murni dan pada saat itu pengunjung tidak terlalu ramai jadi bisa menikmati.

Selain agenda jalan-jalan, Oktober ditutup dengan kegiatan dewasa yakni mengemasi mengemasi barang-barang untuk pindahan.

-   November

Awal November sudah mulai pindah ke rumah yang baru meskipun belum selesai 100%. Alhamdulillah proses memiliki rumah sangat dimudahkan oleh Allah, tapi ternyata tantangannya adalah ketika telah memiliki rumah hahaha. Harus pindah “terpaksa” di saat rumahnya belum 100% selesai karena batas tinggal di kontrakan sudah habis, harus menempati rumah yang belum ada pintu dan jendela, ditambah lagi hari-hari awal di rumah baru saat itu sudah memasuki musim hujan, jadi bisa kebayang rempongnya tinggal di rumah yang hanya ditutupi dengan kardus dan musim hujan, ditambah lagi ada beberapa tukang yang ikut tinggal di rumah, barang banyak berserakan di mana-mana, rumah mulai kelihatan ada yang bocor, sungguh hari-hari yang menguras energi dan kesabaran.

Selama sebulanan di November berurusan dengan rumah serta tetek bengek dan segala dramanya sukses membuat stress hahaha. Ditambah lagi siswa di Alekawa berkurang secara drastis, kelas di Panrita sudah selesai, jadi tetap tinggal di rumah dengan segala keruwetannya, karena terkadang malas juga keluar rumah kalau tidak ada urusan, jadi ya sudah terima nasib tinggal di rumah dengan hati yang campur aduk.

Alhamdulillah semuanya terlewati meskipun tertatih. Di pertengahan November sempat mengadakan acara syukuran dan alhamdulillah banyak teman-teman yang datang, dapat banyak kado juga yang mengurangi list belanjaan yang harus dibeli jadinya stresnya berkurang hahaha. Ada satu hal lain yang menjadi sumber stress, baru memasuki fase dewasa yang ternyata cukup berat apalagi saat berurusan dengan finansial. Baru terjun langsung mengurus bahan-bahan renovasi, mengisi perabot rumah yang ternyata budgetnya cukup besar ahahaha.

Alhamdulillah alhamdulillah November berakhir juga dan bisa lulus dengan waras hahaha

-   Desember

Memasuki bulan Desember, artinya sebulan sudah berlalu di rumah yang baru, meskipun rumah belum 100% rampung, bocor masih terlihat di beberapa titik, muncul beberapa masalah yang lain, tapi sudah jauh lebih berdamai dengan keadaan. Melihat segala ketidaksempurnaan itu sudah tidak lagi stress, yang ada malah ketawa-ketawa saat harus menghadapi masalah-masalah berbeda dengan bulan sebelumnya saat melihat ada bocor dan masalah yang lain bawaannya stress dan bad mood ke semua orang. Desember urusan rumah sudah jauh lebih baik, perasaan juga sudah mulai berdamai dengan banyaknya kekurangan, hidup pun menjadi jauh lebih baik.

Setelah melewati fase stress urusan rumah, “masalah” yang lain kemudian muncul. Sempat berada di situasi “krisis”, mempertanyakan dan mengkhawatirkan banyak hal, tapi hanya selang sehari tiba-tiba Allah menjawab segala keraguan tersebut. Untungnya masalahnya ada dalam diri sendiri yang masih masuk dalam lingkaran “control”, jadi bisa dengan cukup mudah diatasi meskipun tetap tertatih. Alhamdulillah Allah selalu membersamai dan tidak pernah meninggalkan meskipun kadang hambanya ini kadang meragukan, hikz. Makasih banyak Allah.

Di bulan ini ada perpisahan juga dengan keluarga Wiseman yang kembali ke Amerika, jadi fiks di Alekawa hanya ada beberapa kelas karena hampir semua siswa sedang berada di luar kota dan luar negeri. Berita baiknya bulan ini sempat mencoba pengalaman baru naik kereta di Sulawesi untuk pertama kalinya, makan kerang di Barru juga untuk pertama kalinya, dan menikmati pemandangan dari dalam kereta dalam perjalanan pulang. Bagaikan pengobat hati terhadap hati yang gusar beberapa minggu sebelumnya.

Awal tanggal 20-an ada rapat Panrita dan kemudian lanjut rapat tahunan Alekawa juga untuk rencana tahun 2025, setidaknya ada semangat baru untuk menghadapi tahun 2025 dengan jauh lebih baik. Ada perjalanan dadakan juga ke Bantaeng untuk bertemu bupati Bantaeng terpilih untuk membahas potensi kerjasama dengan LPDP. Dan terakhir hari ini, tanggal 31 Desember, saat tulisan ini mulai dirampungkan, tadi sore kami (Saya, Kak Udpa, Kak Nunu, dan Kak Yayat) nongkrong di Excelso untuk membahas satu program yang akan kami kerjakan bersama di tahun depan. Malamnya, berkumpul bersama dengan keluarga untuk menantikan pergantian tahun.

Alhamdulillah menutup tahun dengan melewatinya bersama-sama orang-orang terkasih, orang-orang yang menyaksikan dan membersamai perjalanan 2024 dengan segala dramanya.

 

Tahun ini belajar lebih banyak tentang hal spiritual, energi, trauma dan pola hidup sehat. Dalam proses belajar ini pula cukup terasa ujian demi ujian untuk menguji apakah sanggup untuk mempraktekkan apa yang sudah dipelajari atau tidak, tanggung jawab belajar tidak hanya berakhir sekadar tau, tapi apakah ilmu yang dipelajari bermanfaat atau tidak, bisa dipraktekkan atau tidak.

Ada banyak perasaan tidak nyaman yang muncul karena harus mengulik sesuatu yang mungkin sengaja atau tidak, sudah dikubur dalam-dalam dan harus dibawa ke permukaan. Alhamdulillah semuanya terlewati meskipun tertatih.

Terima kasih tahun 2024 dengan berbagai ceritanya. Dengan segala macam emosi. Dengan segala macam pelajaran. Dengan banyaknya pertemuan dan perpisahan. Semoga saya bisa bertumbuh menjadi sosok yang jauh lebih dewasa dan lebih bijak dalam menjalani kehidupan ke depannya.

Semoga tahun 2025 jauh lebih berwarna dengan cerita yang lebih baik. Bisa bertemu dengan jodoh dan menikah di tahun 2025. Aamiin


Baiti Jannati - 31 Desember 2024

22:24

 

 

 


Moment To Remember

  Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...