Kamis, 19 November 2020

Gini-gini aja

Pernah gak sih ngerasa hidup kok gini-gini aja, gak ada progress, banyak mimpi dan rencana-rencana yang belum tercapai.

Kalau pernah, mungkin kita butuh untuk ambil jeda, istirahat sejenak, belajar dari orang-orang yang hidup di jalanan. Mereka gak "bergerak" gak makan, mereka banyak yang hidup dan tidur di jalanan.

Kita meski mungkin gini-gini aja tapi kita masih berteduh di rumah yang kokoh, kita masih bisa makan enak, masih bisa tidur nyenyak. Banyak hal yang bisa kita syukuri meski kondisi kita masih "gini-gini aja".

Akan ada saatnya hidup gini-gini aja berubah jadi hidup kok gini amat. Dunia adalah tempat "ujian", semoga aja kita lulus ujian demi ujian yang diberikan kepada kita dan kita tidak menjadi hamba yang kufur nikmat. Gak papa kalo saat ini kita hidup gini-gini aja, asal terus berusaha untuk menjadi terbaik versi kita, gak perlu berlomba untuk cepat-cepatan menjadi yang paling WAH dan paling terlihat sukses, setiap orang punya masanya dan setiap orang strugling di relnya masing-masing. Sering-sering ngobrol dengan diri sendiri agar tidak selalu meratapi hidup yang seringkali kita cap gini-gini aja.

Rabu, 18 November 2020

Self-Healing

Namanya juga manusia akan selalu dipastikan emosinya akan naik turun, sekaya apapun dia, sealim apapun dia, bahkan semampu apapun dia memenuhi segala kebutuhannya yang namanya emosi pasti akan selalu naik turun. Seperti layaknya semangat dan iman yang selalu naik turun, emosi pun demikian.

Saya mencari dan menemukan salah satu self-healing terbaik versi saya adalah berbagi. Saat berbagi akan selalu ada suntikan semangat yang ditularkan oleh orang-orang yang saya temui, dari mereka saya belajar arti perjuangan dan bersyukur. Beberapa minggu terakhir saya inisiatif mengajak beberapa orang untuk membuat sebuah gerakan kecil-kecilan yang tanpa nama dan tanpa membawa bendera apapun, gerakan kecil untuk berbagi makanan bagi orang-orang yang berjuang mencari nafkah di jalanan.

Selalu ada suntikan rasa syukur dan semangat melihat begitu banyaknya dukungan yang datang, baik berupa dukungan semangat, doa, terlebih lagi dukungan dalam bentuk dana. Gerakan seperti ini sudah pernah saya lakukan sebelumnya secara mandiri dan tanpa membuka donasi, tapi dampaknya juga kecil karena penghasilan saya yang belum seberapa jadi hanya mampu untuk berbagi ala kadarnya. Belakangan saya mencoba untuk membuka donasi, ternyata begitu banyak orang baik yang turut andil urunan untuk berbagi makanan bagi mereka yang “membutuhkan”. Banyak orang-orang baik yang membutuhkan wadah untuk menyalurkan niat-niat baik mereka menjadi aksi baik.

Cerita di jalanan sangat beragam. Umumnya kami menemui pemulung yang benar-benar menggantungkan hidupnya di jalanan. Di gerobak mereka selain berisi hasil dari memulung tak jarang pula berisi anak mereka yang lagi terlelap. Satu dua hingga beberapa kali saat kami membagikan makanan anak-anak mereka akan menerimanya dengan begitu girang, sama seperti ekspresi anak-anak kecil kebanyakan yang hanya tau senang ketika mendapat sesuatu yang membahagiakan dan menangis saat mereka “terluka”. Mereka berjuang dalam kerasnya kehidupan jalanan, membelah kemacetan kota, menerjang dinginnya malam, dan terus bergerak demi untuk memastikan ada sesuap nasi yang bisa mereka nikmati setiap harinya untuk menyambung hidup.

Pernah pula kami menemui pemulung yang tidak membawa gerobak, melainkan memikul karung yang berisi hasil dari memulung. Berjalan dengan kaki telanjang di tengah dinginnya malam. Mereka menggunakan masker dari pasangan calon walkot yang berbeda, peduli apa mereka dengan paslon walkot tersebut? Yang mereka perjuangkan adalah menjemput rejeki untuk tetap bisa menyambung hidup. Saat kami berikan masing-masing satu kotak makanan tak hentinya doa-doa baik mereka rapalkan, lalu kemudian berselang beberapa detik mereka melipir mencari tempat lapang untuk menyantap makanan yang diterimanya.

Tak jarang pula kami melihat mereka yang duduk di trotoar jalan dengan tatapan nanar, beristirahat setelah berjalanan seharian mencari sesuatu yang dianggap sampah oleh orang lain menjadi sesuatu yang bisa bernilai jual bagi mereka. Ada pula yang sedang duduk sambil makan sepotong kue, mengambil sedikit demi sedikit kue yang ada di genggaman mereka. Memasukkannya ke dalam mulut demi untuk mengganjal perut mereka yang kelaparan.

Salah satu hal yang mengiris-ngiris hati ketika melihat anak usia batita yang masih ngedot harus tidur di pangkuan ibunya di trotoar jalan tepat di samping gerobak. Sebagai seorang wanita dan seorang tante yang memiliki keponakan yang masih bayi, saya bisa merasakan “pedihnya” hati ibunya yang harus membawa serta anaknya untuk berjuang di jalanan. Ibu mana sih yang ingin melihat anaknya menderita? Tapi nyatanya banyak orang yang tidak mempunyai pilihan, garis kemiskinan  itu sistemik dan susah keluar dari lingkaran setan itu. Mereka juga berjuang keras untuk menjemput rejeki, namun nyatanya perjuangan keras mereka hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan makan untuk menyambung hidup saja. Pada akhirnya kerasnya kehidupan membuat mereka harus menyesuaikan diri untuk hidup dan tidur di mana saja.

Pernah sekali dua kali seseorang bertanya, apa yang kamu inginkan dari semua yang kamu lakukan ini? Tak panjang jawaban yang bisa kujawab, saya hanya mencari kelapangan dan kecukupan. Rasa cukup, rasa lapang, dan rasa tenang. Hal yang selalu saya dapatkan setiap kali berbagi dengan orang lain. Saya pun percaya segala hal baik yang terjadi dalam hidup saya dan keluarga tak terlepas dari banyaknya doa-doa baik yang melangit. Allah menyelipkan rasa lapang, rasa syukur, dan rasa tenang untuk saya dan keluarga di setiap waktu. Rasa yang tidak bisa dibeli dengan nominal berapapun. Begitupun dengan bala yang dihindarkan, itu karena banyaknya doa-doa baik yang melangit untuk saya. Thanks God.

Saya selalu percaya bahwa siapapun yang memudahkan urusan orang lain Allah pun akan memudahkan urusannya. Hal tersebut bekerja luar biasa dalam hidup saya. Setiap kali saya “tersandung” saya selalu mengambil jeda waktu untuk berfikir dan refleksi, apa yang salah? Barangkali ada rejeki orang yang tertahan di saya, barangkali ada satu dua kata dan perbuatan yang tak sengaja melukai orang lain, atau barangkali hubungan saya dengan Tuhan sedang tidak baik-baik saja. Sebuah momen refleksi yang membuat saya selalu belajar setiap waktu.

Dalam kondisi yang tidak selalu baik, hal yang bisa diusahakan selalu baik adalah pola pikir, pola tutur, dan pola tindakan kita. Bersama-sama berjuang untuk melakukan dan mendapatkan yang terbaik.

 

Selasa, 17 November 2020

Random Thoughts

Saat kita sibuk bertumbuh dan mengejar mimpi-mimpi kita, disadari atau tidak orang tua kita juga semakin menua. Entah karena faktor umur atau karena sudah terlalu sering bepergian, sekarang ngerasanya mau tinggal dan bekerja di Makassar aja biar bisa dekat dengan orangtua dan keluarga. Terkadang sekali dua kali muncul pikiran "apa sih yang sebenarnya saya kejar, apa sih yang sebenarnya saya cari", pada akhirnya keluarga adalah tempat kembali. Pada akhirnya semua yang diusahakan selama ini semata-mata tak jauh dari membahagiakan diri sendiri, orang tua, dan keluarga.

Jika dulunya sering nekat untuk kemana-mana bahkan dalam jangka waktu yang lama, sekarang mau keluar kota dalam waktu beberapa hari aja kadang mikir "pergi gak ya"? Apalagi jika tempat tersebut jaringannya tidak stabil, selalu saja ada kekhawatiran aneh-aneh yang menyelinap masuk ke dalam pikiran. At the end of the day kita akan sampai di tahap pengambilan keputusan akan mempertimbangkan faktor kondisi keluarga. 

Benar-benar waktu berlalu begitu cepat, melesat bagai anak panah, membuat kondisi berubah sedemikian cepatnya. Benar adanya bahwa setiap orang ada masanya, masa-masa berjaya dan nekat melakukan banyak hal tanpa banyak pertimbangan, hingga memasuki masa di mana segala hal dipertimbangkan dengan begitu matang, meminimalisir segala risiko yang mungkin terjadi. Baru sekarang menyadari kenapa kebanyakan orang tua begitu protektif kepada anaknya, ternyata rasanya seperti ini ya. Rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata, cukup dirasakan dengan rasa.


Senin, 16 November 2020

Milad 27 MPAS Maestro


 

Selamat ulang tahun yang ke-27 Maestroku. Tempatku bertumbuh dan berproses selama 10 tahun terakhir. Beragam pengalaman saya dapatkan sejak awal bergabung di Maestro hingga kini. Beragam pelajaran pula yang saya pelajari. Berbagai macam orang dengan karakter yang unik telah saya temui. Waktu 10 tahun berproses di Maestro cukup banyak membentuk pola pikir dan pola tindakan saya.

Maestro adalah salah satu tempat yang benar-benar membentuk saya hingga kini menjadi seseorang yang mampu bertahan dalam berbagai situasi dan kondisi. Tempatku merasa selalu diterima sejauh apapun saya telah pergi, seburuk apapun kondisi saya, sekering apapun kondisi dompet saya, tempat saya merasakan kondisi sangat aman untuk menjadi diri sendiri tanpa harus khawatir akan sebuah justifikasi. “Rumah” yang selalu menjadi tempat kembali bagi banyak maestroner.

Setelah beberapa tahun terakhir tidak pernah lagi bergabung dalam kegiatan milad karena sedang tidak berada di Makassar, akhirnya kemarin bisa kembali bergabung. Milad eksternal dengan konsep outdoor dihadiri banyak sekali orang, dari para anggota Maestro hingga anak-anak lembaga kemahasiswaan di FBS. Ngecamp di hutan pinus yang family friendly, jadi senior-senior yang sudah berkeluarga dan memiliki anak bisa membawa anaknya sekalian untuk ikutan milad. Ada hal yang “unik” dalam milad kemarin. Jika selama ini kami selalu mengadakan kegiatan outdoor yang jauh dari peradaban dan mesti ditempuh dengan berjalan kaki berjam-jam, namun kali ini berbeda. Milad diadakan di tempat camp yang sangat mudah dijangkau, turun dari kendaraan sudah bisa langsung masuk ke tenda. Sebuah metamorfosa kehidupan, orang-orang yang dulunya kuat mendaki hingga ke luar pulau Sulawesi sekarang sudah mulai “rapuh” dan akan mencari pilihan-pilihan yang tidak harus berjalan jauh lagi hahaha.

Salah satu hal yang membuat selalu kagum dengan para anggota-anggota maestro adalah loyalitas yang tiada akhir. Bahkan setelah berkeluarga, punya anak, bekerja, dan sibuk dengan dunianya masing-masing para anggota akan selalu menyempatkan hadir di kegiatan-kegiatan Maestro. Kata salah seorang senior “27 tahun Maestro berkiprah dengan berbagai kondisi yang telah kita lewati bersama yang tentu saja tidak selalu mudah”, hal tersebut yang membuat hubungan emosional kami terbentuk dengan begitu kuat. Sehingga setiap ada kegiatan kita akan selalu meluangkan waktu untuk hadir. Setiap ada seseorang yang “bermasalah” kita akan selalu hadir sebagai support system.

Kegiatan kemarin di konsep dengan begitu baik oleh para satgas (satuan tugas) yang jumlahnya tidak seberapa. Mulai dari kegiatan puncak perayaan milad, lomba masak, lomba memanah, hingga outbound. Semua menikmati kegiatan yang disajikan oleh panitia. Meski pada hari kedua hujan mengguyur daerah Bissoloro (lokasi ngecamp) dengan begitu derasnya. Kami yang sudah hendak bersiap-siap untuk pulang kembali masuk ke tenda masing-masing untuk tidur.

Di tengah keseruan acara milad kemarin, drama-drama perjalanan pun tak bisa dihindari. Saya menuliskan cerita perjalanan kemarin sebagai sebuah catatan sejarah kehidupan saya pribadi untuk dikenang. Kami berencana balik ke Makassar pukul 16.00 sore. Rombongan yang naik mobil pribadi dan motor berangkat duluan. Tersisa dua mobil yakni mobil pick up untuk barang dan mobil tentara untuk penumpang.

Drama pertama terjadi saat mobil pick up yang seharusnya mengangkut barang-barang untuk kembali ke Makassar mengalami mogok karena kehujanan dan kedinginan. Mobil didorong maju mundur selama beberapa kali tapi tidak juga membuahkan hasil. Setelah sekian lama akhirnya mobilnya dibongkar dan diperbaiki, barulah sekitar pukul 20.00 mobil bisa kembali menyala. Barang-barang pun diangkut naik ke mobil dan kami para penumpang naik ke mobil tentara yang telah disewa oleh panitia.

Drama kedua terjadi saat mobil pick up yang mengangkut barang-barang mengalami kendala, ban mobil tergelincir karena licin sehabis hujan sehingga ban mobil tersebut masuk ke dalam akar pohon. Semua anggota cowok turun untuk bergotong royong mengangkat mobil kembali ke jalur yang benar. Butuh waktu setengah jam lebih untuk membuat mobil pick up kembali ke jalan yang benar. Semua senang semua tenang. Tetapi perasaan senang tersebut tidak berlangsung lama, terjadi lagi drama ketiga.

Drama ketiga terjadi saat semua penumpang mobil tentara disuruh turun jalan kaki menuju ke pintu gerbang masuk, hal tersebut disebabkan oleh licinnya jalan yang dikhawatirkan dapat membahayaka penumpang dan mobil. Jadi opsi satu-satunya hanyalah jalan. Jalan dalam gelap malam di tengah jalanan yang licin dan penuh lumpur. Kurang dari 15 menit kami sudah tiba di gerbang masuk. Kami menunggu cukup lama sekitar setengah jam lebih, ternyata mobil tentara yang kami tumpangi mengalami kendala nyangkut di pohon. Semua kembali bergotong royong untuk membuat mobil tersebut jalan lagi dan bisa mengangkut kami dengan selamat. Tak lama kemudian mobil tersebut sudah berada di pintu gerbang. Kami melanjutkan perjalanan menuju ke Makassar. Baru beberapa menit mobilnya jalan, di tikungan menurun kami papasan dengan mobil yang datang dari bawah dan tidak memungkinkan untuk bisa jalan, harus ada salah satu yang mengalah. Mobil yang berasal dari bawah tersebut mengalah untuk mundur yang ternyata tidak cukup membantu. Setelah itu turunlah pak ketua untuk memberikan arahan kepada dua mobil yang berpapasan tersebut, sehingga ditemukan titik terang yang membuat kami bisa kembali melanjutkan perjalanan. Sekadar informasi, saat mobil kami berpapasan kami bisa menikmati keindahan kerlap kerlip Kota Makassar yang artinya kita berada di ketinggian dan kanan kiri jurang. Supirnya salah prediksi aja kami bisa terjun bebas ke jurang. Alhamdulillah Allah masih meridhoi perjalanan kami dan menganugerahkan kami keselamatan.

Mobil pun melaju menuju ke Makassar. Tak ada posisi enak dan nyaman di mobil. Tempat duduk yang terbuat dari susunan kayu dan sandaran yang begitu keras membuat pantat dan punggung kami sakit, belum lagi terpaan angin yang begitu kencang karena gorden mobil tidak ditutup, membuat kami sama sekali tidak merasakan kenyamanan. Tak tahan dengan dinginnya angina saya meminta salah seorang anggota untuk menutup tirai mobil, barulah setelah itu ada sedikit kenyamanan meski pantat dan punggung masih aja sakit. Sekadar gambaran, mobil tentara yang kami tumpangi adalah semacam mobil truk yang memiliki tempat duduk. Jadi kebayang kan bagaimana kondisinya hahaha. Pukul 22.30 kami tiba di kampus dengan selamat menyisakan kenangan berbagai drama.

Saya kemudian menyadari kenapa saya begitu menormalisasi sebuah kenyataan yang terkadang meleset jauh dari rencana karena saya sudah terlatih di Maestro. Rencana seindah apapun akan selalu memberikan kita kejutan-kejutan kenyataan yang tidak pernah kita perkirakan sebelumnya. Kita hanya butuh untuk lebih legowo dan berbesar hati menerima segala hal yang tidak sesuai yang kita rencanakan dan inginkan.   

Makassar 16 November 2020

Sabtu, 26 September 2020

Ekstrovert (?)

Saya sudah mencoba beberapa macam tes psikologi gratis di internet tentang kepribadian, hasilnya selalu menunjukkan bahwa saya adalah seseorang yang ekstrovert. Ekstrovert dan introvert sebenarnya hanya berbeda dalam pengelolaan “energi”. Ekstrovert akan ngerasa energinya terisi ketika ketemu sama orang-orang, sedangkan introvert malah sebaliknya orang-orang introvert malah cenderung kelelahan jika terlalu lama bertemu dengan orang, sehingga terkadang butuh “me time”.

Meskipun dari beberapa tes hasilnya menunjukkan bahwa saya adalah seorang ekstrovert, ternyata tak lantas membuat saya selalu senang ketemu dengan orang-orang. apalagi belakangan ini. Saya cenderung menghindari untuk bertemu intens dengan orang-orang, bahkan hingga komunikasi pun saya terkadang enggan.

Sekarang ngerasanya terlalu sering ketemu dengan orang malah terlalu banyak “tekanan”. Harus selalu tampil baik-baik saja, harus bisa selalu melayani pertanyaan basa-basi orang, harus selalu kelihatan berprogress setiap saat meski kenyataannya tak selalu demikian. Saya merasakan bahwa perubahan lingkungan, pertambahan digit umur ternyata sangat besar pengaruhnya terhadap kondisi mental. Akan selalu ada hal-hal yang membuat kita overthinking hingga tertekan sehingga terkadang banyak orang yang lebih memilih untuk “menghindar”.

Ekstrovert dan introvert mungkin bukan sesuatu yang paten, buktinya perubahan lingkungan tempat tinggal dan pergaulan akan sedikit banyak memengaruhi. Orang-orang yang dulunya merasa energinya bertambah saat bertemu orang, sekarang malah merasa energinya terkuras habis dan merasa begitu kelelahan setelah bertemu dengan orang. Ya, manusia sedinamis itu. Sangat mudah berubah, baik secara pemikiran maupun kondisi mental.

Dan memang benar adanya bahwa semakin kita bertambah tua semakin mengecil lingkaran pertemanan kita. Kita akan memilah dan memilih orang-orang yang akan kita masukkan dalam kehidupan kita. Orang-orang yang dengan ikhlas mau kita temui dan berbincang dengan sangat terbuka. Orang-orang yang mengerti tanpa harus dijelaskan, orang-orang yang akan selalu berada disisi kita tanpa harus banyak menuntut ini dan itu, orang-orang yang dengan tulus menerima kita dengan segala lebih dan kurang yang kita miliki, serta orang-orang yang bisa mendukung dan tidak perlu mendikte pilihan-pilihan hidup kita.

Makassar, 26 September 2020

Minggu, 20 September 2020

Konsultasi Masalah Haid di RSIA

 

Teman-teman pasti sudah tau kan RSIA itu apa? Ya, RSIA adalah singkatan dari Rumah Sakit Ibu dan Anak. Beberapa hari yang lalu karena ingin periksa di dokter obgyn akhirnya saya memutuskan untuk ke RSIA. Salah satu alasannya karena saat ini lagi masa-masa covid dan menurut saya RSIA adalah RS yang lebih aman dibandingkan RS umum.

Saya berangkat bersama seorang teman yang baru beberapa hari yang lalu menikah, dia juga hendak konsultasi ke dokter obgyn. Kejadian awkward dimulai saat baru mendaftar di bagian administrasi, ditanyain sudah menikah belum? Dengan tatapan ini anak kecil ngapain ke RSIA segala. Hahaha. Saya menjawab belum kak, sambil menceritakan saya hendak konsultasi apa ke dokter siapa. Untungnya sebelum ke RS saya sudah terlebih dahulu meminta rekomendasi ke teman yang sering ke RS tersebut, menanyakan nama-nama dokter yang sekiranya bagus dan pas di hati. Jadi saat mendaftar bisa langsung mention nama dokternya.

Info yang saya dapat dari teman kalau kita harus mendaftar sehari sebelum dokter tersebut praktik, agar melengkapi kebutuhan administrasi terlebih dahulu. Tapi saat mendaftar di bagian administrasi ternyata bisa langsung check up pas hari itu juga, jadi tidak perlu menunggu sampai besok dan besoknya lagi. Oke, bagian administrasi sudah dilewati. Sekarang lanjut ke bagian administrasi lantai dua untuk mendaftar lagi. Ditanyain dengan pertanyaan yang sama, sudah menikah belum, nama suaminya siapa? Belum  juga menjawab satu pertanyaan sudah dijejal dengan pertanyaan lanjutan. Saya belum menikah kak, jawabku. Akhirnya ditanyain nama bapak untuk ditaroh di nama belakang saya. Gapapa ya pake nama bapak dulu, bulan depan atau tahun depan siapa tau udah jadi nyonya dari seseorang, batinku. Hahaha

Setelah beres dari bagian administrasi kedua selanjutnya disuruh menunggu. Waktu itu masih pukul 11.00 WITA sedangkan jadwal praktik dokternya pukul 13.00 WITA. Masih ada waktu dua jam untuk melakukan banyak hal. Saya dan teman saya pergi ke luar dulu untuk suatu keperluan. Barulah kembali ke RS lagi setelah pukul 13.00. Kali ini kami harus melapor di bagian perawat. Menceritakan masalah yang akan kami konsultasikan. Lagi-lagi ditanya status pernikahan, sudah pernah menikah, lalu perawatnya buru-buru mengganti pertanyaannya, sudah menikah? Mungkin perawatnya menyadari pertanyaan sebelumnya adalah pertanyaan yang aneh “sudah pernah menikah” akhirnya diganti sudah menikah? Hahaha

Setelah ditanya tiga kali dengan pertanyaan yang bermaksud sama “sudah menikah atau belum”? Saya akhirnya bisa menyimpulkan bahwa pertanyaan tersebut adalah pertanyaan wajib yang akan ditanyakan oleh petugas, ya jelas ajalah ya. Namanya RSIA jadi orang-orang yang datang mayoritas orang-orang yang hendak konsultasi mengenai kondisi kandungan, kehamilan, maupun urusan anak.

Dokter yang dijadwalkan praktik pukul 13.00 nyatanya baru mulai praktik saat jarum jam menunjukkan pukul 15.00 kurang. Saya pun baru mendapat giliran konsul menjelang pukul 17.00. Untung dokternya ramah dan menjelaskannya dengan jelas sehingga lelah menunggu lama pun akhirnya terbayarkan.

Saya konsultasi ke dokter karena ada masalah haid tidak lancar dan tidak teratur. Sebelumnya ditanya-tanyain sama dokter mengenai kondisi haidnya seperti apa, kapan terakhir haid, ada keluhan gak kalo lagi haid, dan pertanyaan yang tidak ketinggal sudah menikah belum? Setelah saya menjawab pertanyaan-pertanyaan dokternya akhirnya diajak menuju ke ruang USG. Alhamdulillah setelah USG ternyata sehat dan tidak ada masalah apa-apa, hanya saja ada penebalan di dinding Rahim yang menyebabkan haid tidak lancar. Alhamdulillah sehat dan normal, selama ini sudah khawatir jangan sampai ada penyakit, tapi alhamdulillahnya tidak ada.

Saya suka dan nyaman dengan dokternya dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, ditanyain sudah nikah belum, ada rencana menikah, kapan mau nikah, ada rencana punya anak? Pertanyaan-pertanyaan yang jarang ditanyakan sama orang adalah “ada rencana menikah, ada rencana punya anak”? karena kenyataannya sekarang banyak orang yang memilih tidak ingin menikah dan tidak ingin punya anak, meskipun aku bukan bagian dari orang-orang tersebut.

Setelah melihat hasil USG akhirnya diberikan resep obat sama dokter untuk pelancar haid plus nasihat-nasihat untuk memperbaiki pola makan, istirahat, dan jangan stres  karena beberapa hal tersebut yang bisa menjadi sangat berpengaruh terhadap pola haid. Dipesenin juga sama dokter jika nanti sudah ada rencana mau nikah untuk berkonsultasi lagi agar diberikan terapi hormon, haid tidak lancar sebenarnya tidak selamanya berbahaya tapi akan sangat berpengaruh jika ada rencana untuk memiliki momongan, karena berdampak ke masa subur yang juga tidak menentu. Jadi perlu untuk adanya terapi hormone agar haid menjadi lancar jika nantinya sudah ada rencana menikah dan ingin memiliki anak.

Buat para cewek-cewek, kita memang sedari awal harus aware tentang kesehatan kita, apalagi terkait kesehatan reproduksi karena banyak sekali penyakit-penyakit yang terkait kesehatan reproduksi ini. Tapi jangan khawatir dan gak usah terlalu overthinking jika mengalami sesuatu yang “di luar kenormalan”. Jangan menjadikan google sebagai info valid untuk memvalidasi rasa penasaran kamu. Segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat.

Makassar, 20 September 2020

Senin, 14 September 2020

Perjalanan ke Pulau Barrang Lompo

 

Akhirnya liburan lagi, ngecamp lagi, setelah berbulan-bulan hanya tinggal di rumah mengikuti anjuran pemerintah. Namun, kali ini rasa-rasanya liburannya tidak seheboh dan semenyenangkan liburan-liburan sebelumnya. Bukan, bukan karena orang-orangnya, bukan karena tempatnya, melainkan karena kondisinya.

Kondisi covid19 yang belum juga mereda menyisakan rasa khawatir untuk kemana-mana, bersenang-senang hanya dengan dalih rindu liburan. Lalu, kalau khawatir ngapain pergi Maemunah? Hmmp alasannya karena ingin berkumpul bersama orang-orang yang selama bertahun-tahun belakangan tidak lagi pernah berkumpul dan bercanda tawa seperti dulu waktu masih berstatus mahasiswa.

Untuk mengatasi rasa khawatir serta tidak enak kepada nakes dan orang-orang yang masih tetap memilih di rumah aja dalam kondisi seperti ini, saya berkomitmen untuk tidak mengunggah foto liburan. Agar tidak menjadi trigger orang-orang untuk melakukan hal yang sama. Meski alasan ini pun sama sekali tak bisa dijadikan pembenaran.

Perjalanan ke Pulau Barrang Lompo didasari dengan alasan ingin ngecamp dan kebetulan di sana ada salah satu rumah adik junior. Perjalanan ditempuh dengan durasi waktu kurang lebih satu jam, berangkat dari dermaga Kayu Bangkoa menggunakan kapal kecil dengan muatan lebih dua puluh orang. Rencana awalnya berangkat usai sholat ashar molor hingga menjelang maghrib. Tapi ada untungnya juga berangkat menjelang maghrib, kami jadi bisa menikmati sunset di tengah laut lepas. Alhamdulillahnya lagi ombak tidak begitu kencang.

Menjelang pukul 7 malam kami tiba di Dermaga Barrang Lompo. Jeng jeng jeng, beberapa dari kami yang berekspektasi akan ngecamp harus menelan kekecewaan menyaksikan kondisi Barrang Lompo yang ternyata sebuah perkampungan padat penduduk. Bukan pulau-pulau private yang bisa ngecamp di bawah pohon-pohon kelapa. Tidak ada bibir pantai yang bisa memanjakan mata dan kaki kami dengan pasir-pasir indahnya, yang ada hanya dermaga  

Kami silaturahmi sejenak di rumah Eja’, salah satu junior kami. Sembari teman-teman panitia menyiapkan tenda yang akan ditempati untuk menginap. Lokasi didirikannya tenda tidak jauh dari rumah Eja’, yakni di halaman sebuah penginapan milik Fakultas Kelautan Unhas (Marine Center). Tenda-tenda yang dibangun dikhususkan untuk teman-teman yang cowok, sedangkan yang cewek disewakan dua kamar di dalam Marine Center. Satu kamar ada 4 kasur dengan harga 100.000, harga yang sangat terjangkau.

Sekitar pukul 9 malam kami akhirnya makan malam dengan menu seafood segar. Cumi-cumi beserta ikan dengan berbagai varian ditemani sambal tomat yang menggugah selera. Tidak cukup waktu yang lama untuk kami menghabiskan makanan yang tersedia di meja makan (red: meja dadakan yang terbuat dari papan dengan alas batu bata). Kami lalu melanjutkan bercengkrama di antara tenda-tenda yang sudah didirikan, di bawah pohon-pohon rindang yang telah diberikan lampu-lampu untuk penerangan kami.

Keesokan paginya saya dan Nurul ke dermaga untuk melihat sunrise. Ternyata di dermaga sudah ada Kak Aco’ dan Ai’ yang juga menanti sunrise. Dan benar aja sunrise di Barrang Lompo sangat indah, mirip dengan gambar-gambar yang ada di wallpaper. Menjelang siang kami ada agenda snorkeling. Eja’ membawa kami ke sebuah titik yang biasa ditempati orang-orang untuk snorkeling. Lokasinya hanya sekitar 10 menit dari Dermaga Barrang Lompo. Keindahan bawah laut bisa disaksikan dari atas kapal karena kejernihan air. Saya memilih untuk tidak ikut snorkeling karena sebelumnya sudah mandi dan malas untuk mandi kedua kalinya. Karena tidak turun ke air akhirnya mendapat mandat untuk menjadi tukang foto teman-teman yang turun ke air. Banyak pose yang lucu nan menggemaskan.

Teman-teman yang selama ini suka berpetualang ternyata hanya akrab dengan gunung hutan, tetapi tidak dengan laut. Alhasil butuh waktu cukup lama untuk memberanikan diri melepaskan pegangan dari kapal. Mereka anak-anak mapala yang tidak bisa berenang. Meskipun sudah menggunakan pelampung sebagian dari mereka masih saja merasa ketakutan untuk terjun bebas ke air. Pemandangan muka panik dan ketakutan menjadi sebuah pemandangan yang indah dan lucu. Setelah sudah sedikit lebih berani untuk nyemplung ke air mereka malah lupa untuk balik. Saking senang dan excited melihat pemandangan bawah laut yang begitu indah.

Sekitar 3 jam kemudian setelah semuanya puas untuk bermain air, kami kembali ke dermaga lalu ke penginapan untuk makan siang dan bersiap untuk pulang. Rencana awalnya mau balik siang molor hingga habis ashar. Ternyata karena kesorean ombaknya tinggi dan angin begitu kencang. Alhasil kami yang rencana balik sore akhirnya baru bisa meninggalkan dermaga setelah sholat maghrib.

The adventure just began. Balik ke Makassar dalam kondisi matahari sudah tenggelam, hari sudah gelap, ombak yang tinggi, angin yang kencang, dan kapal yang digunakan lebih kecil dari kapal yang digunakan berangkat. Benar-benar menguji adrenalin dan menambah kadar keimanan. Tak hentinya suara istighfar dan kata-kata “jangan panik, jangan goyang, jaga keseimbangan” terdengar.

Di tengah laut suara istighfar berkali-kali terdengar. Saat suara mesin kapal rendah artinya ombak meninggi dan kita sudah bisa bersiap-siap dengan ombak yang mengombang-ambingkan kapal. Di tengah gelap malam masih ada cahaya bulan dan bintang yang mampu membuat mata kami terbelalak melihat gulungan ombak yang ada di sisi kiri kanan depan belakang kapal. Setiap ombak menghantam kapal suara istighfar lantang terdengar setelah itu kembali hening. Sekitar 10 menit menjelang tiba di dermaga Kayu Bangkoa ombak sudah mulai bersahabat, air laut sudah mulai tenang, dan kami tiba di dermaga dengan selamat sekitar pukul delapan malam. Alhamdulillah. Liburan di tengah pandemi yang penuh kejutan berakhir dengan selamat.





                            Sunset di Dermaga Kayu Bangkoa dan foto kapal yang kami gunakan

 





                                                    Sunrise di Dermaga Barrang Lompo

                                                                   Foto saat snorkeling

 

Muka lega saat tiba di Makassar dengan selamat

Gambaran kapal yang kami tumpangi balik dengan muatan 20 orang lebih

(Sumber Google)

Makassar, 14 September 2020

Moment To Remember

  Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...