Selasa, 07 Juli 2020
I’m Secure
Senin, 06 Juli 2020
Sahabat
Minggu, 05 Juli 2020
People Addict
Jumat, 03 Juli 2020
Sebuah Refleksi
Dalam hidup, ada banyak hal-hal yang selalu ingin kita skip, apalagi jika hal itu sudah berbau-bau sesuatu yang tidak mengenakkan. Seperti sedih, marah, jengkel, tertekan, cemburu, dan lain sebagainya. Berbagai emosi yang selalu diidentikan dengan emosi negatif ini terkadang selalu ingin kita skip, bahkan jika kita memiliki kemampuan memutar waktu pastilah kita ingin memutar waktu lebih cepat agar segala emosi negatif itu segera berlalu.
Namun, terkadang sesuatu yang di masa lalu selalu ingin kita skip, bisa jadi hari ini adalah sesuatu yang sangat kita rindukan bahkan ingin kita ulang. Sebut saja masa-masa belajar, banyak dari kita yang ketika sekolah atau kuliah terlalu jengah dengan berbagai tugas yang membuat kita tertekan, rasanya kita ingin membuat waktu berputar cepat agar kita bisa segera melewati masa-masa itu. Tapi lihat sekarang, betapa banyak orang yang ingin kembali ke masa-masa itu, masa-masa ketika sekolah dan kuliah ditemani tumpukan tugas yang membuat tidur tak nyenyak dan terkadang terjaga hingga tengah malam.
Banyak orang yang kadang ingin menskip masa-masa kerja, rasanya ingin segera sore agar bisa lekas pulang ke rumah dan istirahat. Namun, coba lihat betapa banyak orang yang sekarang sudah jenuh di rumah dan sangat merindukan rutinitas kantor yang penuh kesibukan.
Banyak orang yang kadang ingin menskip masa-masa jomlo, ingin segera menikah. Tapi coba lihat, betapa banyak orang-orang yang sudah menikah yang ingin kembali ke masa-masa single, masa dimana mereka memiliki kebebasan melakukan berbagai macam hal.
Lihat, betapa sering kita menginginkan waktu cepat berputar demi bisa merasakan kesenangan, kebahagiaan, dan kelegaan. Namun, saat kita sudah melewati masa-masa itu, kita malah merindukan waktu-waktu yang ingin kita skip dulu.
Sama seperti hari ini, saat jengah dengan daily routine yang itu-itu saja, betapa banyak orang yang ingin ini semua segera berlalu, aku pun demikian. Namun, coba kita renungkan bisa jadi kondisi hari ini yang membuat kita jenuh di rumah mungkin akan kita rindukan esok saat kesibukan sudah kembali menyapa.
Sebuah tulisan untuk dikenang ketika esok keadaan sudah berubah, ketika keadaan sudah kembali ke normal yang kita harapkan. Sebuah tulisan refleksi agar bisa belajar bersyukur dan menikmati setiap momentum meskipun kita tertatih melewatinya.
Kamis, 02 Juli 2020
Belajar Mendengarkan
Menahan diri untuk tidak ikutan bercerita dan menanggapi sewajarnya saat ada teman yang curhat ternyata bukanlah hal yang mudah, butuh usaha untuk mengontrol diri, apalagi jika hal yang diceritakan adalah sesuatu yang pernah atau bahkan sedang kita alami.
Wajar saja kalau banyak meme yang sering membahas tentang ini. Menahan diri untuk tidak berlomba pamer derita dan kesedihan.
Pernah gak sih ketika kamu curhat, ketika kamu bercerita, temanmu malah menanggapi ceritamu dengan "itu mah gak seberapa aku malah bla bla bla, atau lebih beruntung kamu daripada aku bla bla, atau lebih mending itu sih aku malah bla bla bla", kita yang awalnya berniat untuk bercerita malah berbalik menjadi pendengar. Atau mungkin kita yang sering melakukan hal tersebut, disaat teman kita bercerita bukannya khidmat mendengar kita malah lebih semangat untuk menimpali cerita mereka dengan cerita kita yang dianggap lebih buruk daripada yang sedang teman kita ceritakan.
Terkadang memang muncul hasrat untuk menguasai pembicaraan dengan satu dua maksud. Ingin menenangkan teman yang sedang bersedih hati dengan ikutan cerita bahwa dia tidak sendiri dalam mengalami kondisi tersebut, atau dengan maksud ingin memotivasi agar teman yang curhat tidak larut dalam kesedihan berkepanjangan karena masalahnya tidak sebesar yang dia ceritakan, bukan hanya dia yang mengalami hal tersebut tapi banyak orang yang mengalami hal serupa. Namun, terkadang niat menghibur dan menenangkan tersebut malah kebablasan sehingga yang seharusnya menjadi pendengar malah lebih banyak didengarkan.
Percayalah, saat seseorang memilihmu sebagai tempat untuk bercerita berarti dia percaya bahwa kamu adalah telinga yang tepat untuk mendengarkan, bukan malah seseorang yang siap membandingkan cerita yang kamu miliki. Validasi rasa dan cerita yang temanmu bagikan, dengarkan, tak usah berkomentar banyak jika dia tidak memintamu berkomentar. Terkadang seseorang bercerita hanya butuh divalidasi karena dia sudah tidak sanggup menahan sendiri rasa yang dia miliki. Jadilah teman yang ramah untuk kisah dan masalah temanmu, jadilah pendengar yang baik, bukan komentator yang handal.
Setiap orang punya cara dan kemampuan yang berbeda dalam menghadapi masalah. Terkadang masalah yang sama bisa ditanggapi berbeda oleh setiap orang. Masalah temanmu yang kelihatannya kecil bukan berarti masalah tersebut juga dianggap kecil olehnya, bisa jadi sesuatu yang kita anggap kecil malah berefek besar bagi orang lain.
Disaat seseorang bercerita bisa jadi kondisinya memang sudah "buruk", karena memutuskan untuk bercerita ke orang lain pun butuh kekuatan jadi tidak mungkin temanmu bercerita hanya karena iseng, bisa jadi dia memang lagi dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Jadilah bijak dengan menjadi pendengar yang baik, bukan menjadi komentator apalagi hakim bagi cerita atau kisah teman-temanmu. Tulisan ini merupakan selfreminder bagi aku yang selama ini seringkali secara sadar ataupun tidak terkadang reaktif sama cerita orang lain.
Rabu, 01 Juli 2020
Decluttering
Seperti biasanya, sebelum mata terlelap dan pikiran melayang ke alam mimpi sudah menjadi rutinitas untuk merenung dan memikirkan banyak hal termasuk yang sangat absurd. Sesaat sebelum lampu kamar dimatikan dan handphone dinonaktifkan saya sempat membaca tentang tulisan mengenai decluttering sebuah movement yang dalam Bahasa Indonesia lebih dikenal dengan mengurangi sesuatu yang tidak dibutuhkan dan menyisakan yang memang benar-benar dibutuhkan.
Pernah gak sih ngerasa rumah atau kamar penuh sesak dengan barang? Baju yang bertumpuk di lemari, buku yang berjejer di rak, pernak pernik yang penuh di kotak, jilbab yang full di gantungan, dan barang-barang kenangan yang menghiasi kamar? Pernah gak sih saat menata lemari merasa begitu kewalahan karena sudah tidak ada lagi space yang kosong dan pada akhirnya membuat kita menumpuk pakaian yang kita miliki? Pernah gak sih iseng memperhatikan isi kamar atau isi rumah dan kemudian merenungi fungsi serta manfaat dari barang-barang tersebut?
Ada banyak alasan mengapa orang menyimpan begitu banyak barang di rumah dan di kamar, salah satunya karena beranggapan kalau hari ini gak dipake besok pasti dipake, kalau gak butuh saat ini kapan-kapan mungkin butuh, dan hal itu terjadi hampir pada semua barang yang kita miliki, akhirnya barang itu numpuk.
Kita berbicara soal pakaian aja yang selama ini sering kita beli tapi selalu merasa kurang. Meski barang-barang di lemari sudah penuh sesak tak jarang kita malah mengalami kebingungan ketika hendak bepergian karena merasa tidak memiliki baju. Saat jalan-jalan di mall atau saat berselancar di marketplace tak jarang kita impulsive untuk memesan dan membeli barang hanya karena melihat tulisan diskon atau harga coret. Hayoo ngaku siapa yang juga mengalami hal yang sama? Tenang, kamu gak sendirian. Banyaak banget orang yang mengalami hal serupa, saya pun demikian.
Banyak orang yang saat ini mulai sadar dan akhirnya kebingungan untuk menata barang yang begitu banyak. Tak sedikit mereka yang terkejut dengan kondisi penyimpanan sendiri yang ternyata sudah dipenuhi dengan barang-barang yang jarang dipakai. Untuk menaungi kegelisahan ini, saat ini sudah gencar kampanye yang sering kita dengar dengan istilah decluttering atau kampanye hidup minimalis.
Ajakan buy 1 give 1 sudah banyak dilakukan oleh orang-orang yang mulai sadar bahwa memiliki banyak barang tak selamanya membuat kita bahagia dan cenderung malah membuat kita merasa tak pernah cukup. Semakin banyak barang yang kita miliki semakin banyak waktu yang kita habiskan untuk memilih barang-barang tersebut ketika hendak bepergian, semakin sesak rumah kita karena diisi oleh banyak barang yang mungkin tak semuanya kita butuhkan.
Sekarang coba buka lemari dan cek kembali berapa banyak barang yang mungkin sudah tidak pernah kita pake? Katanya sih, jika tiga hari barang tersebut tidak pernah digunakan atau bahkan disentuh artinya kita tidak benar-benar butuh barang tersebut. Tapi saya menambahkan waktunya, coba deh dicek lagi barang-barang yang bahkan sebulan terakhir pun tak pernah kita lirik, artinya barang-barang tersebut kita simpan karena adanya lekatan emosi yang susah kita lepaskan sehingga kita cenderung sulit untuk berpisah dengan barang-barang tersebut.
Coba cek lagi berapa banyak pakaian yang kita punya, berapa banyak jilbab yang terpajang di gantungan, dan coba tanya sama diri sendiri sebenarnya berapa banyak yang kita butuhkan? Selama ini banyak dari kita sering terjebak dalam perkembangan fashion, seakan jika tidak membeli sesuatu yang trend kita merasa ketinggalan jaman, alhasil ketika fashion berganti pakaian yang sudah kita beli pun enggan kita gunakan lagi dan terus menerus kita belanja mengikuti trend yang ada hingga pakaian yang kita miliki pun menumpuk, mau disumbangkan juga entah kepada siapa.
Dengan banyaknya barang yang kita miliki, dan lebih banyak lagi yang tidak terpakai daripada yang terpakai hal ini bisa menjadi sebuah pelajaran untuk kita menahan diri, menahan nafsu untuk mengurangi belanja, membeli sesuatu yang memang benar-benar kita butuhkan, dan kalau pun terpaksa harus belanja ya pelan-pelan belajar menerapkan buy one give one biar barang yang kita miliki tidak menumpuk dan biar kita juga bisa untuk menahan hasrat berbelanja.
Untuk barang-barang yang yang sudah ketinggalan jaman dan enggan kita gunakan lagi dan tidak bisa disumbangkan juga ke siapa-siapa itu bisa didaur ulang kembali, dipermak agar lebih variatif dan bisa digunakan lagi dengan model yang baru, atau dibuat hasil karya yang lain dengan menggunakan modal youtube untuk melihat tutorial “cara membuat karya dari pakaian/jilbab bekas” atau menggunakan keyword yang lain.
Selamat mencoba ^^
Moment To Remember
Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...
-
Pada tulisan kali ini saya akan mengulas mengenai tata cara unggah mandiri ke perpustakaan UGM. Sebelum proses unggah mandiri, seb...
-
Baru 2 bulan kuliah aja, identitasnya udah ilang. Kartu identitas ya. Sebiji kartu penanda untuk meyakinkan orang-orang kalo aku udah mahas...
-
Kemarin malam aku terlibat dalam obrolan yang sedikit lebih serius dengan seorang teman baik, obrolan yang sedikit berbeda dari hari biasany...