Selasa, 07 Juli 2020

I’m Secure

Insecure I'm Secure

Sekitar 2 hari yang lalu saya ikut kelas yang diadakan oleh hersphere bekerjasama dengan perempuan gagal, pembicaranya adalah Kak Ayu Kartika Dewi yang merupakan Co-founder dari perempuan gagal. Selalu senang sih ikut kelas yang pembicaranya adalah Kak Ayu, energi positif dan semangatnya selalu menular. Ini kali kesekian saya mengikuti kelasnya Kak Ayu dan setelah selesai kelas selalu merasa dapat energi dan semangat serta insight. Karena merasa banyak hal yang bisa saya petik dari kelas tersebut, rasanya sayang jika saya menikmatinya sendiri dan tidak menuliskannya dalam sebuah catatan.

Kegagalan, sesuatu yang sangat tabu untuk dibicarakan, seakan orang yang mengalami kegagalan adalah orang yang paling menyedihkan sehingga banyak yang menyimpan sendiri kegagalan tersebut, yang ditampilkan hanyalah sisi bahagia dan kesuksesan, tak ayal hal tersebut membuat banyak orang merasa insecure dan beranggapan bahwa hidupnya paling susah jika belum mencapai keberhasilan atau kesuksesan yang selama ini dilihatnya, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Seminar-seminar motivasi pun berjamur dan sangat ramai oleh peserta, yang diceritakan adalah langkah menuju sukses, jarang sekali yang mau bercerita tentang kegagalan. Kegagalan pun menjadi untold story.

Perempuan gagal lahir dari ketabuan itu, menyingkap sisi-sisi yang selama ini jarang atau bahkan tidak pernah diceritakan. Mengungkap bahwa kegagalan adalah sesuatu yang biasa dan bisa dialami oleh siapapun, tak peduli status sosial, tak peduli strata pendidikan, tak peduli bagaimana tampilan fisik, semua orang pasti pernah mengalami kegagalan.

Dalam sesi tersebut Kak Ayu bercerita sangat antusias mengenai banyak hal, nampak energinya sangat penuh dan siap ditularkan kepada siapapun yang mendengar.

Berikut akan saya tulis beberapa insight dari kelas tersebut.

Belajar untuk berani. Kenapa disuruh belajar untuk berani, bukan disuruh langsung untuk berani? Tau gak kenapa? Karena berani itu memang butuh dipelajari, berani bukan sesuatu yang serta merta ada. Butuh dilatih terus menerus. Keberanian itu hanya 50% jam terbang, 50% sisanya adalah kenekatan. Kalau kita tidak pernah nekat kita tidak akan pernah mencoba, kalau kita tidak pernah mencoba kita tidak akan punya jam terbang.

Resep kecewa. Ternyata bukan cuman masakan nih yang punya resep. Kecewa pun juga ada resepnya. Mau tau apa? Resep kecewa adalah saat kita menggantungkan validasi pada sesuatu yang berasal dari luar diri kita. Contohnya saat kita mengunggah sesuatu di sosial media dan berharap akan mendapat banyak engagement. Jika harapan tersebut tidak menjadi nyata, maka kecewa pun akan menyapa. Contoh yang lain, jika kita mengharap dukungan dari orang lain dan ternyata apa yang kita harapkan tidak kita dapatkan maka kita pun harus bersiap untuk bercengkrama dengan rasa kecewa, dan masih banyak lagi hal-hal yang jika kita gantungkan validasi dari eksternal maka hasilnya adalah kecewa. Kita pun perlahan akan kehilangan motivasi untuk melakukan sesuatu karena kita tidak menemukan apresiasi.

Jadi gak boleh nih mengharapkan external validation? Boleh, boleh banget. External validation itu akan membuat kita lebih semangat lagi untuk berkarya. Tapi jangan sampai karena external validation ini kita malah stuck, karena orang-orang di luar diri kita berada di luar control, dan kita tidak bisa mengontrol mereka ingin berbuat seperti apa.

Jadi yang mesti dilakukan apa? Belajar untuk mengapresiasi dan memvalidasi diri sendiri. Membangun inner security. Lah, inner security apaan lagi tuh? Percaya gak sih di dalam kepala kita itu ramai dan sangat berisik. Coba tenang dan dengarkan, sadari dan pahami apapun yang berisik di otak kita adalah sesuatu yang biasa dan itu gapapa. Belajar lagi konsep inner friend dan inner enemy.

Inner friend vs inner enemy. Apaan tuh? Jadi inner friend adalah suara-suara dari kepala kita yang menguatkan, menenangkan, mendorong agar tidak berhenti dan terus mencoba. Sedangkan inner enemy adalah suara-suara yang melemahkan. Inner friend ini tuh mesti dilatih biar gak kalah sama inner enemy. Yang mana sih yang dimaksud inner friend? Inner friend itu yang sering bersuara kayak “ayok coba aja gak usah takut gagal, kamu pasti bisa, gapapa kalo salah nanti dibenerin”, dan lain sebagainya. Kalau inner enemy itu yang mana? Jika sering mendengar dalam kepala kita ada bisikan-bisikan kayak “gak usah ajalah dicoba nanti gagal, nyerah aja kamu pasti gak bisa, eh kalo kamu salah nanti dipojok-pojokin dan diketawain loh, jangan ambil kesempatan itu apa kamu gak malu teman-teman timmu keren-keren semua”, dan masih banyak lagi. Jadi kata-kata yang menguatkan itu berasal dari inner friend sedangkan kata-kata yang melemahkan itu dari inner enemy. Nah inner friend ini tuh mesti dilatih biar kuat. Kalau kepala kita berisik dengan inner enemy, inner friend harus hadir untuk melawan inner enemy. Salah satu hal untuk melatih inner friend adalah menulis catatan syukur setiap hari dan membuat list strength serta weakness kita, agar strength yang kita miliki bisa kita asah dan perkuat.

Audit pertemanan. Emangnya keuangan mesti diaudit? Eits, jangan salah. Pertemanan pun harus di audit. Gunanya apa sih emang? Jadi audit pertemanan ini untuk memilih lingkungan terdekat yang positif yang akan jadi support system kita. Caranya gimana? Coba di list teman-teman yang paling sering berinteraksi, terus dibuat listnya lagi orang ini tuh menguatkan atau melemahkan, karena ternyata orang-orang yang selama ini sering berinteraksi dengan kita gak semuanya menguatkan. Nah logikanya, kalau gak menguatkan ya gak usah sering-sering berinteraksi, ya buat apa. Fokus aja dengan orang-orang yang menguatkan, bangun bounding dengan orang-orang yang menguatkan itu. Tapi yang mesti ditanamkan di dalam diri kita bahwa meskipun kita butuh dengan orang-orang itu, keluarga atau teman-teman yang kita anggap menguatkan itu. Rasa butuh tapi jangan sampai membuat kita bergantung.
Nah dalam lingkaran pertemanan pasti ada aja tuh teman-teman kita yang bagai trash truck atau truk sampah. Orang-orang yang dalam ucapan dan perbuatannya full of negativity. Mending gak usah dekat-dekat deh sama orang-orang kayak gini, karena energi itu kan nular. Kalau terlalu sering berinteraksi apalagi bersama pasti nanti akan nular tuh energi negatifnya. Kita individu merdeka yang bebas memilih circle yang ingin kita jadikan lingkaran satu tanpa harus ada perasaan gak enak, karena temanmu adalah cerminan dirimu.

Last but not least, sebelum kita mengatakan sesuatu atau mendengarkan sesuatu pastikan 4 hal ini. Apakah hal ini truthful (mengandung kebenaran), apakah ini useful (bermanfaat), apakah ini timely (diberikan pada waktu yang tepat), dan apakah ini kind (baik). Kalau gak mengandung 4 hal itu mending gak usah dikatakan atau didengarkan.

Lastly, don’t let insecurity take over the way you made up decisions. Choice should be taken by hopes, not by fears. Good things about insecurities only happen in our head. It can be controlled. Most of us feel insecure sometimes, but some of us feel insecure most of the time. Percaya diri adalah hasil. To accept and overcome insecurities, women rather need to stop caring too much about each other and start to care more for each other.

Senin, 06 Juli 2020

Sahabat

Saat mendengar kata sahabat, pasti di benak kita langsung teringat dengan seseorang atau bahkan beberapa orang. Orang tua atau mungkin teman yang kita anggap sebagai seorang sahabat. Orang yang selalu ada untuk kita dalam kondisi apapun. Orang yang akan selalu mendukung rencana-rencana kita, orang yang tak segan menegur saat kita salah, orang yang tak pernah meninggalkan saat kita terjatuh, orang yang tak pernah lelah menarik kita saat kita tersungkur, orang yang akan mengapresiasi saat kita berhasil, orang yang selalu tau kapan berada di garda terdepan atau garda paling belakang.

Namun, pernahkah berada di kondisi yang sahabat pergi karena satu dua alasan? Entah karena sudah berbeda "jalan", atau karena sudah berbeda prioritas, atau karena salah satu dari kita ada yang menikah, atau mungkin karena meninggal? 

Kehilangan? Pasti. Seakan sebagian dari kita ikut hilang. Karena menyadari bahwa orang akan dengan mudah datang dan pergi dan itu adalah sebuah keniscayaan, maka kita pun perlahan belajar untuk melepaskan kelekatan. Melepaskan rasa kepemilikan akan sesuatu yang berada di luar kita. 

Belajar untuk bersahabat dengan diri sendiri. Memperlakukan diri sendiri layaknya seorang sahabat memperlakukan sahabatnya. Sering mengobrol dengan diri sendiri, sering-sering memberikan afirmasi dari diri sendiri untuk diri sendiri. Menemani saat terjatuh, menyemangati untuk tak lelah berjung ketika gagal, tak memojokkan ketika dunia berlaku begitu kejam, menepuk-nepuk pundak sendiri dan berbicara dengan diri kita yang lain. Menyadari bahwa orang yang paling bisa diandalkan, orang yang tidak akan pernah pergi adalah diri sendiri. Belajar menjadi individu yang merdeka.

Minggu, 05 Juli 2020

People Addict

Kemarin malam aku terlibat dalam obrolan yang sedikit lebih serius dengan seorang teman baik, obrolan yang sedikit berbeda dari hari biasanya. Kali ini aku bercerita tentang lika liku kehidupan yang penuh drama. Aku yang seringkali bimbang dengan tujuan hidup, dengan prinsip, dengan berbagai macam hal yang mesti kuputuskan.

Selama ini aku selalu berada di situasi dimana aku memiliki banyak orang-orang yang bisa aku andalkan, entah itu keluarga maupun teman. Tak ayal, hal itu membuatku ketergantungan. Aku selalu meminta pertimbangan mereka setiap kali aku ingin melakukan sesuatu. Aku selalu meminta mereka menemaniku dalam setiap langkah dan berbagai kegiatan yang akan aku kerjakan. Aku selalu butuh validasi dari mereka setiap kali aku ingin melangkah agar aku bisa benar-benar yakin dengan apa yang aku jalani.

Hingga tak jarang agar semua itu bisa terpenuhi, aku pun melakukan hal yang sama. Aku akan selalu menjadi orang yang berada di garda terdepan mendukung dan menemani teman-temanku dalam setiap rencana yang mereka lakukan. Apapun itu. Bisa dihitung jari aku melakukan penolakan, selalu aku iyakan apapun permintaan mereka tak peduli aku suka ataupun tidak, yang jelas aku mendukung dan ikut setiap mereka mengajak demi agar aku pun mendapat perlakuan yang sama setiap kali aku butuh.

Kamu pernah melakukan itu juga gak? Memiliki kelekatan yang begitu tinggi dengan orang lain. Memiliki ketergantungan dengan orang lain. Sesuatu yang membuat kamu selalu berkata iya dan susah menolak.

Belakangan aku menyadari ini sudah mulai tidak sehat. Menggantungkan banyak hal kepada orang lain membuatku menjadi pribadi yang tidak merdeka. Hal itupun yang membuat moodku kadang tidak stabil. Jika seseorang berlaku tidak seperti yang kuharapkan mudah sekali moodku berubah menjadi buruk, jika menemukan teman-temanku menjadi seseorang yang kuharapkan mudah sekali aku bahagia dan bersyukur.

Setelah melewati dan mengalami fase mood yang naik turun aku menyadari ini ada sesuatu yang salah, akhirnya aku bercerita dengan salah satu temanku. Teman yang selama ini menurutku memiliki karakter yang sangat kuat, prinsip yang teguh, dan tidak pernah ikut-ikutan entah itu kegiatan ataupun trend jika itu tidak sesuai keinginannya. Dia mudah sekali mengatakan tidak jika memang dia tidak suka ataupun tidak mau. Dia tidak pernah mengiyakan sesuatu yang tidak dia inginkan hanya untuk menyenangkan orang lain.

Kami yang sering terlibat dalam obrolan ngalor ngidul dan tiba-tiba berbicara sedikit lebih serius membuat kami kikuk, curhatan yang ngenes sekalipun membuahkan tawa karena hal itu terasa begitu geli, sesuatu yang sangat berbeda dari yang sering kami lakukan. Dalam obrolan yang sedikit lebih serius itu ada beberapa kata-katanya yang membuatku merenung beberapa jam sebelum terlelap. Ada banyak hal yang menjadi insight untuk aku renungkan.

People addict, istilah yang dia gunakan untuk menyimpulkan apa yang sedang kurasakan. Rentetan kata-kata mutiara pun dilontarkannya. "Kamu sebenarnya tau akar dari semua kegalauanmu ini. Manusiawi banget, tapi kamu harus sadar hukum alam tetep berlaku. Kamu mau gimanapun menjaga seseorang, tetep aja people come and go. Itu udah alamiah sekali. Misal kamu gak disukain sama orang trus orangnya menjauh, nanti juga akan ada yg datang lagi. Dan gitu terus siklusnya sampe kiamat". " Kalo kamu merasa gak enak tapi tetap masih dilakuin, itu bisa jadi jalan setan buat menggoda. Dia bisik-bisikin nanti biar kamu gak ikhlas. Cuma pencitraan aja. Pahalamu nanti berkurang". "Harusnya kamu udah punya bekal sih, keluargamu membebaskanmu melakukan apapun yang kamu inginkan, keluargamu tidak pernah maksa-maksa, semuanya terserah kamu. Terus kenapa lingkungan pertemanan membuatmu mempersempit bahkan menghilangkan ruang pribadimu". 

Rentetan kata demi kata, kalimat demi kalimat yang begitu berarti, begitu "menampar", dan sedikit demi sedikit menyadarkan ada sesuatu yang memang harus diperbaikin, tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, karena pembiaran cepat atau lambat akan menghasilkan "penyakit" dan masalah.

Salah satu hal yang sangat kusyukuri karena aku memiliki telinga yang selalu siap mendengarkan tanpa menghakimi. Selalu memberikan feedback yang membantu untuk menarik agar tidak terjatuh di lubang yang semakin dalam. Feedback yang selalu jujur dan membantu untuk mengarahkan kembali ke jalur yang benar.

Jumat, 03 Juli 2020

Sebuah Refleksi

Dalam hidup, ada banyak hal-hal yang selalu ingin kita skip, apalagi jika hal itu sudah berbau-bau sesuatu yang tidak mengenakkan. Seperti sedih, marah, jengkel, tertekan, cemburu, dan lain sebagainya. Berbagai emosi yang selalu diidentikan dengan emosi negatif ini terkadang selalu ingin kita skip, bahkan jika kita memiliki kemampuan memutar waktu pastilah kita ingin memutar waktu lebih cepat agar segala emosi negatif itu segera berlalu.

Namun, terkadang sesuatu yang di masa lalu selalu ingin kita skip, bisa jadi hari ini adalah sesuatu yang sangat kita rindukan bahkan ingin kita ulang. Sebut saja masa-masa belajar, banyak dari kita yang ketika sekolah atau kuliah terlalu jengah dengan berbagai tugas yang membuat kita tertekan, rasanya kita ingin membuat waktu berputar cepat agar kita bisa segera melewati masa-masa itu. Tapi lihat sekarang, betapa banyak orang yang ingin kembali ke masa-masa itu, masa-masa ketika sekolah dan kuliah ditemani tumpukan tugas yang membuat tidur tak nyenyak dan terkadang terjaga hingga tengah malam.

Banyak orang yang kadang ingin menskip masa-masa kerja, rasanya ingin segera sore agar bisa lekas pulang ke rumah dan istirahat. Namun, coba lihat betapa banyak orang yang sekarang sudah jenuh di rumah dan sangat merindukan rutinitas kantor yang penuh kesibukan.

Banyak orang yang kadang ingin menskip masa-masa jomlo, ingin segera menikah. Tapi coba lihat, betapa banyak orang-orang yang sudah menikah yang ingin kembali ke masa-masa single, masa dimana mereka memiliki kebebasan melakukan berbagai macam hal.

Lihat, betapa sering kita menginginkan waktu cepat berputar demi bisa merasakan kesenangan, kebahagiaan, dan kelegaan. Namun, saat kita sudah melewati masa-masa itu, kita malah merindukan waktu-waktu yang ingin kita skip dulu.

Sama seperti hari ini, saat jengah dengan daily routine yang itu-itu saja, betapa banyak orang yang ingin ini semua segera berlalu, aku pun demikian. Namun, coba kita renungkan bisa jadi kondisi hari ini yang membuat kita jenuh di rumah mungkin akan kita rindukan esok saat kesibukan sudah kembali menyapa.

Sebuah tulisan untuk dikenang ketika esok keadaan sudah berubah, ketika keadaan sudah kembali ke normal yang kita harapkan. Sebuah tulisan refleksi agar bisa belajar bersyukur dan menikmati setiap momentum meskipun kita tertatih melewatinya.

Kamis, 02 Juli 2020

Belajar Mendengarkan

Menahan diri untuk tidak ikutan bercerita dan menanggapi sewajarnya saat ada teman yang curhat ternyata bukanlah hal yang mudah, butuh usaha untuk mengontrol diri, apalagi jika hal yang diceritakan adalah sesuatu yang pernah atau bahkan sedang kita alami.

Wajar saja kalau banyak meme yang sering membahas tentang ini. Menahan diri untuk tidak berlomba pamer derita dan kesedihan.

Pernah gak sih ketika kamu curhat, ketika kamu bercerita, temanmu malah menanggapi ceritamu dengan "itu mah gak seberapa aku malah bla bla bla, atau lebih beruntung kamu daripada aku bla bla, atau lebih mending itu sih aku malah bla bla bla", kita yang awalnya berniat untuk bercerita malah berbalik menjadi pendengar. Atau mungkin kita yang sering melakukan hal tersebut, disaat teman kita bercerita bukannya khidmat mendengar kita malah lebih semangat untuk menimpali cerita mereka dengan cerita kita yang dianggap lebih buruk daripada yang sedang teman kita ceritakan.

Terkadang memang muncul hasrat untuk menguasai pembicaraan dengan satu dua maksud. Ingin menenangkan teman yang sedang bersedih hati dengan ikutan cerita bahwa dia tidak sendiri dalam mengalami kondisi tersebut, atau dengan maksud ingin memotivasi agar teman yang curhat tidak larut dalam kesedihan berkepanjangan karena masalahnya tidak sebesar yang dia ceritakan, bukan hanya dia yang mengalami hal tersebut tapi banyak orang yang mengalami hal serupa. Namun, terkadang niat menghibur dan menenangkan tersebut malah kebablasan sehingga yang seharusnya menjadi pendengar malah lebih banyak didengarkan.

Percayalah, saat seseorang memilihmu sebagai tempat untuk bercerita berarti dia percaya bahwa kamu adalah telinga yang tepat untuk mendengarkan, bukan malah seseorang yang siap membandingkan cerita yang kamu miliki. Validasi rasa dan cerita yang temanmu bagikan, dengarkan, tak usah berkomentar banyak jika dia tidak memintamu berkomentar. Terkadang seseorang bercerita hanya butuh divalidasi karena dia sudah tidak sanggup menahan sendiri rasa yang dia miliki. Jadilah teman yang ramah untuk kisah dan masalah temanmu, jadilah pendengar yang baik, bukan komentator yang handal.

Setiap orang punya cara dan kemampuan yang berbeda dalam menghadapi masalah. Terkadang masalah yang sama bisa ditanggapi berbeda oleh setiap orang. Masalah temanmu yang kelihatannya kecil bukan berarti masalah tersebut juga dianggap kecil olehnya, bisa jadi sesuatu yang kita anggap kecil malah berefek besar bagi orang lain.

Disaat seseorang bercerita bisa jadi kondisinya memang sudah "buruk", karena memutuskan untuk bercerita ke orang lain pun butuh kekuatan jadi tidak mungkin temanmu bercerita hanya karena iseng, bisa jadi dia memang lagi dalam kondisi tidak baik-baik saja.

Jadilah bijak dengan menjadi pendengar yang baik, bukan menjadi komentator apalagi hakim bagi cerita atau kisah teman-temanmu. Tulisan ini merupakan selfreminder bagi aku yang selama ini seringkali secara sadar ataupun tidak terkadang reaktif sama cerita orang lain.

Rabu, 01 Juli 2020

Decluttering

Seperti biasanya, sebelum mata terlelap dan pikiran melayang ke alam mimpi sudah menjadi rutinitas untuk merenung dan memikirkan banyak hal termasuk yang sangat absurd. Sesaat sebelum lampu kamar dimatikan dan handphone dinonaktifkan saya sempat membaca tentang tulisan mengenai decluttering sebuah movement yang dalam Bahasa Indonesia lebih dikenal dengan mengurangi sesuatu yang tidak dibutuhkan dan menyisakan yang memang benar-benar dibutuhkan.

Pernah gak sih ngerasa rumah atau kamar penuh sesak dengan barang? Baju yang bertumpuk di lemari, buku yang berjejer di rak, pernak pernik yang penuh di kotak, jilbab yang full di gantungan, dan barang-barang kenangan yang menghiasi kamar? Pernah gak sih saat menata lemari merasa begitu kewalahan karena sudah tidak ada lagi space yang kosong dan pada akhirnya membuat kita menumpuk pakaian yang kita miliki? Pernah gak sih iseng memperhatikan isi kamar atau isi rumah dan kemudian merenungi fungsi serta manfaat dari barang-barang tersebut?

Ada banyak alasan mengapa orang menyimpan begitu banyak barang di rumah dan di kamar, salah satunya karena beranggapan kalau hari ini gak dipake besok pasti dipake, kalau gak butuh saat ini kapan-kapan mungkin butuh, dan hal itu terjadi hampir pada semua barang yang kita miliki, akhirnya barang itu numpuk.

Kita berbicara soal pakaian aja yang selama ini sering kita beli tapi selalu merasa kurang. Meski barang-barang di lemari sudah penuh sesak tak jarang kita malah mengalami kebingungan ketika hendak bepergian karena merasa tidak memiliki baju. Saat jalan-jalan di mall atau saat berselancar di marketplace tak jarang kita impulsive untuk memesan dan membeli barang hanya karena melihat tulisan diskon atau harga coret. Hayoo ngaku siapa yang juga mengalami hal yang sama? Tenang, kamu gak sendirian. Banyaak banget orang yang mengalami hal serupa, saya pun demikian.

Banyak orang yang saat ini mulai sadar dan akhirnya kebingungan untuk menata barang yang begitu banyak. Tak sedikit mereka yang terkejut dengan kondisi penyimpanan sendiri yang ternyata sudah dipenuhi dengan barang-barang yang jarang dipakai. Untuk menaungi kegelisahan ini, saat ini sudah gencar kampanye yang sering kita dengar dengan istilah decluttering atau kampanye hidup minimalis.

Ajakan buy 1 give 1 sudah banyak dilakukan oleh orang-orang yang mulai sadar bahwa memiliki banyak barang tak selamanya membuat kita bahagia dan cenderung malah membuat kita merasa tak pernah cukup. Semakin banyak barang yang kita miliki semakin banyak waktu yang kita habiskan untuk memilih barang-barang tersebut ketika hendak bepergian, semakin sesak rumah kita karena diisi oleh banyak barang yang mungkin tak semuanya kita butuhkan.

Sekarang coba buka lemari dan cek kembali berapa banyak barang yang mungkin sudah tidak pernah kita pake? Katanya sih, jika tiga hari barang tersebut tidak pernah digunakan atau bahkan disentuh artinya kita tidak benar-benar butuh barang tersebut. Tapi saya menambahkan waktunya, coba deh dicek lagi barang-barang yang bahkan sebulan terakhir pun tak pernah kita lirik, artinya barang-barang tersebut kita simpan karena adanya lekatan emosi yang susah kita lepaskan sehingga kita cenderung sulit untuk berpisah dengan barang-barang tersebut.

Coba cek lagi berapa banyak pakaian yang kita punya, berapa banyak jilbab yang terpajang di gantungan, dan coba tanya sama diri sendiri sebenarnya berapa banyak yang kita butuhkan? Selama ini banyak dari kita sering terjebak dalam perkembangan fashion, seakan jika tidak membeli sesuatu yang trend kita merasa ketinggalan jaman, alhasil ketika fashion berganti pakaian yang sudah kita beli pun enggan kita gunakan lagi dan terus menerus kita belanja mengikuti trend yang ada hingga pakaian yang kita miliki pun menumpuk, mau disumbangkan juga entah kepada siapa.

Dengan banyaknya barang yang kita miliki, dan lebih banyak lagi yang tidak terpakai daripada yang terpakai hal ini bisa menjadi sebuah pelajaran untuk kita menahan diri, menahan nafsu untuk mengurangi belanja, membeli sesuatu yang memang benar-benar kita butuhkan, dan kalau pun terpaksa harus belanja ya pelan-pelan belajar menerapkan buy one give one biar barang yang kita miliki tidak menumpuk dan biar kita juga bisa untuk menahan hasrat berbelanja.

Untuk barang-barang yang yang sudah ketinggalan jaman dan enggan kita gunakan lagi dan tidak bisa disumbangkan juga ke siapa-siapa itu bisa didaur ulang kembali, dipermak agar lebih variatif dan bisa digunakan lagi dengan model yang baru, atau dibuat hasil karya yang lain dengan menggunakan modal youtube untuk melihat tutorial “cara membuat karya dari pakaian/jilbab bekas” atau menggunakan keyword yang lain.

Selamat mencoba ^^

 

Moment To Remember

  Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...