Sabtu, 06 Juni 2020

Takhayul dan Mitos

Jalur Gunung Kerinci

Hidup di daerah yang beriklim tropis memungkinkan lahirnya banyak cerita mistis, baik dari segi mitos maupun takhayul. Indonesia merupakan salah satunya. Memiliki iklim tropis menjadikan orang-orang Indonesia sangat percaya terhadap cerita-cerita mistis, tak hanya Indonesia, negari Arab pun yang terkenal dengan daerah padang pasir memunculkan banyak orang-orang yang menjadi dukun dan banyaknya cerita gaib. Di Indonesia mitos bisa ditemui dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi.

Kegemaranku mendaki dan berpetualang membuatku menemukan banyak kisah dalam perjalanan. Salah satu kisahnya adalah saat masih berada di semester 3, untuk kepentingan observasi saya bersama beberapa orang teman harus melakukan penelitian budaya, daerah yang kami tuju saat itu adalah “Suku Seko”. Salah satu suku yang berada di pedalaman Luwu. Jalur untuk ke Suku Seko bisa dengan dua jalur, menggunakan pesawat atau dengan jalur darat dengan menggunakan ojek atau berjalan kaki. Tapi karena waktu itu kami rencana ke Suku Seko dengan tujuan penelitian jadi kami harus berjalan kaki sekitar 30-an KM dan melewati Gunung Kambuno. Perjalanan jalur darat akan melewati sebuah dusun yang bernama Dusun Mangkaluku yang merupakan perkampungan terakhir sebelum mendaki Gunung Kambuno. Kala itu ketika kami tiba di Dusun Mangkaluku dan ingin langsung mmelanjutkan perjalanan menuju ke Suku Seko orang-orang setempat menawarkan kami untuk istirahat di Mangkaluku dan menceritakan sebuah kisah yang terjadi beberapa saat sebelum kami datang. Konon, ada beberapa pendaki yang datang beberapa bulan sebelum kami yang berasal dari palopo dan mereka hilang di Gunung Kambuno, masyarakat bercerita kronologi sesaat sebelum pendaki tersebut hilang. Cerita masyarakat setempat pendaki tersebut sebelumnya ditawari untuk mampir ngeteh dan disuruh istirahat sejenak tapi mereka tak mengindahkan tawaran tersebut dan memilih untuk terus berjalan, dalam perjalanan mereka dikabarkan bertemu dengan orang-orang pendek atau biasa disebut kurcaci, cerita yang berkembang dimasyarakat setelah mereka bertemu dengan kurcaci di Gunung Kambuno mereka hilang tak tau arah dan sampai sekarang ada yang belum ditemukan, dan sebagiannya lagi dinyatakan gila. Mitos yang berkembang mengatakan sebab musababnya itu adalah karena mereka menolak teh yang sudah dihidangkan. Dan dalam perjalanan mereka bertemu dengan kurcaci dan melihat sebuah jalur yang sangat mulus dan akhirnya mereka mengikuti jalur tersebut yang ternyata merupakan jalur yang salah dan hal itu yang akhirnya membuat mereka tersesat.

Dusun Mangkaluku

Cerita lain ketika saya mendaki di Semeru, gunung para dewa yang dikeramatkan di Jawa, mitosnya di Ranu Kumbolo tepatnya ditanjakan cinta ketika kita mendaki di tanjakan cinta dan kita menoleh kebelakang kita akan putus dengan pasangan kita. Lalu kemudian berkembang cerita yang mencoba merasionalisasi mitos tersebut yang mengatakan bahwa keindahan tanjakan cinta akan membuat para pendaki malas untuk melanjutkan perjalanan makanya tidak dianjurkan untuk menoleh ke belakang. Mitos yang lain, masih di Gunung Semeru apabila ada seseorang yang kencing disembarang tempat dalam perjalanannya mereka akan diiringi hujan sepanjang jalan. Namun, seseorang yang lain mencoba merasionalisasi hal tersebut bahwa larangan tersebut menjadi petuah agar kita tetap menjaga sikap dan adat istiadat selama mendaki karena Gunung Semeru merupakan gunung tempat bersemedi para dewa-dewa.

Dilanjutkan lagi ke Gunung Kerinci, gunung merapi tertinggi di Indonesia, dikabarkan digunung kerinci hidup kurcaci dan kaum cindaku dimana kakinya menghadap kebelakang dan kuku kukunya panjang menyentuh tanah. Kala itu saya mendampingi beberapa teman yang penelitian tenang Cindaku di Gunung Kerinci. Namun, kami sangat sulit untuk mendapatkan responden. Ada cerita yang berkembang di masyarakat yang mengatakan bahwa cindaku adalah nama yang terlarang untuk dibicarakan karena dikabarkan akan mendatangi orang-orang yang membicarakannya dan membunuhnya, hal inilah yang membuat beberapa orang yang berada di kaki Gunung Kerinci enggan untuk membicarakan tentang cindaku karena takut ada hal buruk terjadi dengan mereka.

Masih tentang gunung, Gunung Gamalama yang ada di Ternate mitosnya hujan selalu datang ketika pendaki menapaki jalan untuk menuju puncak, satu satunya cara agar hujan itu berhenti adalah dengan cara adzan karena kepercayaan orang setempat jalur Gunung Gamalama merupakan jalan yang sering dilewati sultan pada jaman dahulu makanya tempat itu di keramatkan.

Selain mitos dan takhayul yang berkembang sangat pesat di Indonesia, beragam makluk halus pun muncul, mulai dari pocong, kuntilanak, genderuwo, suster ngesot, kolor ijo, suwanggi, cindaku, parakang dan masih banyak lagi. Menurut logika hemat saya, berbagai macam makhluk halus itu hanya merupakan tipu daya jin untuk menakut nakuti manusia. Karena bagaimana pun kita sudah memiliki dunia yang berbeda dan kehidupan yang berbeda, jadi kita tidak mungkin bisa saling menyentuh ataupun menyakiti satu sama lain. Kalo mereka mengganggu manusia masih sangat mungkin terjadi, jangankan mahkluk halus, sesama manusia saja ketika diganggu akan berontak dan marah, jadi intinya berbuat baiklah kepada siapapun dan kamu akan mendapatkan kebaikan, kalo tidak ingin di usili atau diganggu, jangan mengusili atau menganggu orang lain.

Inilah Indonesia dengan sejuta cerita mitos dan takhayul, tak ayal Indonesia bukan hanya kaya sumber daya alam dan sumber daya manusia tapi juga kaya cerita mitos dan takhayul, dan hal ini tak bisa lepas dari kehidupan kita karena sudah mengakar menjadi suatu kearifan lokal, entah sesuatu itu terjadi karena kebetulan ataukah mungkin benar adanya ada kaitannya dengan sesuatu yang dipercaya sebagai suatu mitos, biarkan waktu yang akan menjawabnya dan kita akan terus melangkah untuk menemukan kebenaran dari mitos-mitos yang berkembang.

Cerita Lawas, ditulis 28-09-2015

 

 

Jumat, 05 Juni 2020

Harusnya


Harusnya saat ini saya sudah berada di Labuan Bajo andai saja moda transportasi beraktifitas normal. Harusnya saat ini saya sudah pergi ke Mekah andai saja saya tidak sedang mengandung. Harusnya resepsi pernikahan saya berlangsung meriah andai saja tak ada corona. Harusnya saaat ini saya sudah bekerja di perusahaan ternama andai saja waktu itu saya tidak mengalami kecelakaan. Harusnya saya sudah menikah dengan pujaan hati andai saja tak ada orang ketiga yang masuk merusak hubungan kami. Harusnya saya sudah ujian andai saja dosen pembimbing tidak banyak memberikan revisi. Harusnya saya sudah wisuda andai saja petugas kampus tidak berbelit-belit dalam masalah administrasi.

Banyak sekali kisah dalam hidup yang kita terlalu paksakan. Memakai pola harusnya seakan-akan semuanya memang harus terjadi. Seakan memaksa Tuhan untuk mengabulkan segala keinginan kita. Padahal tak ada yang benar-benar memaksa kita untuk melakukan hal itu. Kita yang terkadang terlalu keras sama diri sendiri hingga terkadang mengalami stress dan depresi saat keinginan kita tidak berjalan sesuai yang kita impikan. Kita yang kadang lupa bahwa sebaik apapun kita berencana, serinci apapun langkah demi langkah yang ingin kita lakukan kita hanyalah manusia biasa yang mempunyai banyak keterbatasan. Dibalik rencana indah yang telah kita susun rapi kita tak bisa menafikkan bahwa ada campur tangan Tuhan yang memiliki hak preogratif untuk menjadikan rencana kita nyata atau hanya berakhir sebagai sebuah rencana semata.

Adanya Covid-19 ini membuat banyak hal tertunda bahkan batal. Sesuatu yang baru sebatas rencana ecek-ecek maupun yang sudah direncanakan dengan sangat matang. Tak ada yang menyangka masa ini akan ada, tak pernah ada yang bermimpi kita melewati masa-masa sulit ini. Tapi dengan adanya kejadian ini kita disadarkan oleh keadaan bahwa sehebat-hebatnya manusia berencana ada kekuatan yang jauh lebih hebat, yakni kekuasaan Tuhan.

Kamis, 04 Juni 2020

Kesehatanmu loh

Sumber Google

Nak, jaga kesehatanmu. Kesehatan fisik dan mentalmu. Jaga kondisimu agar tetap fit dan prima. Jaga kewarasanmu. Dunia terkadang begitu kejam, kau  hanya dibutuhkan dalam hubungan transaksional. Kau akan menyaksikan betapa banyak orang-orang disekelilingmu saat kau berada di puncak kehidupan dan akan melihat betapa orang-orang yang selama ini setiap mendukungmu akan melangkah menjauh saat kau tak lagi berdaya.

Teman-teman yang setia menemanimu nongkrong di kafe saat kau masih sehat bugar akan pelan-pelan mengambil langkah membuat jarak denganmu saat kau jatuh terkapar dan tak lagi mampu berbuat apa-apa, saat kesehatan mentalmu terganggu kau akan menyaksikan orang-orang yang dulu berada di sekelilingmu akan berbalik arah menjadi penonton yang melihatmu layaknya badut dan orang stress. Kantor yang dulu karenanya kau kerja lembur hingga tak kenal waktu, mengorbankan fikiran tenaga dan usia akan dengan mudah mencari penggantimu saat kau tak lagi mampu memberikan keuntungan.

Orang-orang mungkin akan menjengukmu sekali dua kali saat kau tak lagi bisa memberikan mereka manfaat, setelah itu mereka akan mengingatmu hanya sekedar nama dan kenangan. Pada akhirnya, bagaimanapun keadaanmu hanya keluarga yang akan menerimamu dengan tangan terbuka, yang akan merawatmu saat kau tak mampu lagi untuk mengurusi dirimu sendiri, bahkan yang akan menggantikan popokmu saat kau ke toilet saja sudah tak mampu. Keluarga yang mungkin sering kau lupakan dalam kesibukanmu selama ini, keluarga yang mungkin jarang kau hubungi karena kau terlalu penat dalam mengejar segala target-targetmu, keluarga yang mungkin menjadi orang terakhir yang kau pikirkan saat belanjar buah tangan ketika liburan bersama teman-temanmu.

Nak, jaga kesehatanmu. Apa yang kau kejar mati-matian hingga tak punya waktu yang cukup untuk tidur dan makan tak akan banyak membantumu saat kau tak lagi punya tenaga. Jangan terlalu keras sama diri sendiri, sesuatu yang kau korbankan untuk orang lain, untuk pekerjaanmu, untuk angan-angan masa depanmu tak akan cukup menjadi penolong saat kau jatuh sakit ataupun saat kau mengalami gangguan mental.

Rabu, 03 Juni 2020

Dunia Relawan

Ada rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, tapi hanya bisa dirasakan, dan hal itu yang saya dapatkan ketika ikut dalam kegiatan kerelawanan. Berkali-kali saya sudah mencoba untuk berhenti bergabung dalam kegiatan volunteering, tapi berkali-kali pula saya selalu merasa terpanggil ketika ada pembukaan pendaftaran kerelawanan. Bagi saya dunia volunteering itu candu. Dunia yang mengajarkan saya banyak hal. Kedengarannya mungkin begitu klise, tapi bagi saya kenikmatan hidup bisa saya dapatkan ketika bergabung dalam dunia kerelewanan. Senyum ramah masyarakat desa, ketawa tulus dari anak-anak pedalaman, binar mata mereka yang menyorotkan semangat yang tak pernah surut membuat saya selalu ingin bertemu dengan mereka. Bertemu dengan orang baru, bersosialisasi dengan masyarakat, hidup dan mengenal kearifan lokal dan membuka perspektif saya mengenai kehidupan. Dunia kerelewanan mengajarkan saya banyak hal mengenai kehidupan, belajar bersyukur, menumbuhkan empati, dan hidup selaras dengan alam.

Saya mendapatkan begitu banyak privilege selama hidup. Mendapat pendidikan yang “layak”, dan itu yang ingin saya bagikan bagi orang-orang yang belum sampai pendidikan yang memadai kepadanya. Seperti kata pak Anies Baswedan “tanggung jawab pendidikan adalah tanggung jawab semua orang terdidik”, dari pada menjadi generasi pemaki-maki, lebih baik menjadi generasi yang menawarkan solusi. Lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan. Pemerintah saja tidak cukup untuk memberantas masalah-masalah pendidikan yang ada di negeri ini, maka seyogyanya anak-anak muda yang sudah sedikit banyak mendapat pendidikan yang “layak”lah yang turut mengambil andil untuk “pemerataan pendidikan” yang layak. Saya tidak ingin ketika saya tua kelak saya menyesali hal-hal yang tidak saya lakukan ketika masih muda, maka dari itu saya bergabung dalam dunia volunteering.

Selasa, 02 Juni 2020

Basa Basi

Kapan nikah? Udah hamil belum? Kerja di mana sekarang? Kapan selesai kuliahnya? Kamu gendutan ya. Kok kamu kurusan sih. Eh jerawat kamu kok makin banyak. Kamu makin hitam sekarang! Kita pasti familiar dengan kata-kata tersebut. Pertanyaan-pertanyaan dan penilaian yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang akrab dengan kita maupun hanya sebatas kenal. Pertanyaan basa basi untuk memulai sebuah obolan.

Bisa gak sih pertanyaan atau pernyataannya gak usah basi. Kita gak pernah benar-benar tau kondisi mental seseorang hingga pertanyaan itu dilontarkan. Bisa jadi dia lagi berusaha mencari jodoh tapi memang belum saatnya dipertemukan. Bisa jadi dia lagi program hamil tapi memang belum rejekinya atau mungkin ada penyakit yang serius yang tidak untuk diceritakan ke semua orang. Barangkali dia sudah menyebar banyak lamaran kerja tapi belum ada yang nyangkut. Barangkali dia lagi stres menghadapi revisi yang tidak berujung. Pertanyaan-pertanyaan basa basi seperti itu bisa jadi malah makin membuatnya tertekan.

Untung ya kalau hanya bertanya. Tak sedikit orang yang menyambungnya dengan penghakiman. Kamu gak nikah-nikah sih soalnya standarmu terlalu tinggi. Kamu belum hamil karena kecapean kali makanya jangan terlalu sibuk. Kamu belum dapat kerja karena kamu terlalu pilih-pilih sih. Kamu gak lulus-lulus karena main terus. Tau gak sih penghakiman-penghakiman seperti itu, menyakitkan! Kita gak pernah benar-benar tau usaha seseorang. Kita gak pernah benar-benar tau kondisi ekonomi seseorang dan betapa dia harus menjadi salah satu tulang punggung keluarga. Kita gak pernah benar-benar tau barangkali dia memang memilih untuk tidak menikah atau tidak memiliki anak. Kita gak pernah benar-benar tau sudah berapa kali dia ditolak. Kita gak pernah benar-benar tau berapa kali dia sudah mengalami kegagalan. Kita gak pernah benar-benar tau betapa dia sudah jatuh bangun berjuang. Karena kita gak pernah benar-benar tau jadi kita pun tak punya hak untuk menghakimi pilihan dan kondisi seseorang.

Jangan sampai karena mulut pedas kita membuat mereka akhirnya salah pilih hanya untuk menyenangkan orang-orang yang peduli pun mungkin juga tidak. Bisa jadi pertanyaan-pertanyaan yang kelihatannya perhatian hanyalah kekepoan untuk memvalidasi asumsi-asumsi kita selama ini. Atau mungkin kepo hanya untuk bisa lebih bersyukur atas kondisi kita sekarang dengan melihat kenyataan ada orang yang lebih susah dari kita. Ah betapa piciknya kita, bahkan untuk bersyukur pun kita harus mencari orang yang lebih "susah" kehidupannya dibanding kita. Jadilah teman yang aman dan nyaman bukan teman yang menyebalkan. Jangan jadikan standar kebahagiaan dan kesuksesan yang kita punya membuat kita merasa memiliki hak untuk mendikte pilihan hidup seseorang.

Pertanyaan dan pernyataan kita mungkin bisa diganti dengan doa jika kita memang benar-benar peduli, atau bertanya kabar, atau memperkenalkan seseorang, atau menawarkan pekerjaan. Banyak kok hal-hal positif lain yang bisa dipilih. Hal-hal baik saja belum tentu bisa diterima dengan baik, apatah lagi jika memang sudah kurang baik. Candaan saja bisa disalah artikan jika kondisi seseorang sedang tidak netral, apatah lagi dengan kalimat-kalimat penghakiman.

Pasti ada aja yang komentar "lebay banget sih, gitu aja baper". Heii, berempati memang susah, bukan berarti karena kamu gak mengalami, rasa itu akhirnya tidak valid. Kita tak perlu merasakannya sendiri baru bisa menyadari kalau ternyata rasa itu ada.

"Tapi kan pertanyaan dan pernyataan itu biasa". Heii, karena saking biasanya dan selalu didengar berulang-ulang awalnya kita yang menanggapinya biasa aja akhirnya jadi kepikiran.

Katanya lagi, kita gak bisa mengontrol omongan seseorang yang bisa kita kontrol adalah respon. Iyaa memang benar, tapi aplikasinya gak segampang teorinya. Saya pribadi sih terkadang respon pun tak bisa saya kontrol jadi yang saya lakukan adalah menghindari orang-orang yang mulutnya menyakitkan. Kalau di sosial media kita juga bisa memanfaatkan fitur hide, mute, unfol bahkan block yang disediakan di sosial media. Kita bertanggung jawab atas kesehatan fisik dan mental kita. Reminder aja nih buat kita-kita, hentikan basa basi yang gak penting-penting banget itu, kita gak pernah tau saat bertanya basa basi kepada orang lain kondisi emosi orang tersebut lagi seperti apa, jangan sampai hanya karena basa basi membuat hubungan pertemanan dan kekerabatan kita dengan orang lain jadi renggang. Cheers

Senin, 01 Juni 2020

Mengamati Pisang

Selama tinggal di kampung kurang lebih tiga bulan ada begitu banyak rasa yang muncul, bagai gado-gado yang campur aduk, kadang senang kadang juga bosan tapi lebih banyak senangnya sih.

Kali ini saya akan mengulik tentang pisang, pengetahuan yang saya dapatkan dari pengamatan bukan dari materi-materi di kelas selama sekolah.

Berikut gambar pertumbuhan pisang dari waktu ke waktu, saya tidak mengambil gambar sewaktu jantung pisang masih berupa jantung, saya baru kepikiran mengabadikan gambarnya setelah setengah dari jantung pisang sudah berubah menjadi pisang.
Captured 16 Mei

Captured 29 Mei

Captured 1 Juni

Setelah 27 tahun menghirup udara dunia saya baru tau bahwa ternyata pisang itu berasal dari jantung pisang. Dulunya saya berfikir pisang itu tiba-tiba aja jadi pisang utuh seperti buah-buah yang lain, ternyata pisang berawal dari jantung pisang. Jantung pisang yang menggugurkan lapisannya satu persatu lalu kemudian keluar bunga yang ada di dalamnya dan bunga itu yang menjadi pisang. Saya pun juga baru mengetahui ternyata satu pohon pisang hanya berbuah satu kali. Kemarin saking penasarannya saya bertanya sama mamaku, "mak itu pisang kalo sudah berbuah nanti berbuah lagi atau langsung ditebang", tanyaku. Mamaku malah menjawab dengan sebuah jargon "pantang pisang berbuah dua kali, pantang pemuda makan sisa". Saya langsung kesal tapi juga ketawa-ketawa, mamak ini ditanyain serius malah jawabnnya dikasi pantun. Mamaku juga ikutan kesal karena merasa sudah menjawab dengan tepat pertanyaanku tapi saya masih nyolot.

Lama kelamaan kuamati lalu saya kembali bertanya lagi sama mamaku, "mak saya serius nih nanya, ini pisang kalau sudah berbuah nanti berbuah dua kali atau gimana", lagi lagi mamaku menjawabnya dengan pantun itu. Lalu dijelaskan kalau pisang itu cuman berbuah sekali, nanti kalau sudah berbuah bisa langsung di tebang. Di samping pohon pisang yang sudah berbuah itu akan tumbuh pohon-pohon pisang yang lain. Lalu saya kembali ke belakang melihat belasan pohon-pohon pisang yang tumbuh subur di tanah kosong belakang rumah. Ternyata benar, di sisi pohon pisang yang berbuah akan ada bertumbuhan pohon pisang cilik atau anak pisang.






Saya merasa senang karena dapat pengetahuan baru, ilmu baru. Sesuatu ecek-ecek yang mungkin bagi orang lebay tapi bagiku sangat berharga karena saya tidak pernah mengetahui hal tersebut sebelumnya. Selama ini taunya makan buah pisangnya saja, atau mengambil daunnya untuk dimanfaatkan sebagai pembungkus kue atau lauk, tapi tak pernah tau proses bertumbuhnya seperti apa.

Waktu

Sumber Pinterest
Waktu, melesat bagai anak panah, berputar layaknya sebuah roda menjadikan kita berada di puncak dan tak jarang pula di pangkal. Tak ada yang kekal berada di garis yang sama. Hanya kebaikan dan amal ibadah yang bisa ditabur sebagai bekal.

Gemilaunya harta, bersinarnya tahta, cemerlangnya prestasi tak akan ada yang abadi. Mudah saja bagi Allah menjadikan hambanya mulia, pun hina dina. Banyak kisah yang bisa disaksikan bagaimana saat Allah menjadikan seseorang yang awalnya dihinakan oleh manusia bertansformasi menjadi seseorang yang mulia berkat campur tangan-Nya, pun indra kita akrab dengan banyaknya pemberitaan pesohor-pesohor yang tersandung kasus yang biasanya disanjung dan dimuliakan oleh manusia seketika mereka menjadi makluk yang daif.

Harta, tahta, prestasi tak lebih dari sebuah ujian semata, bukan kepemilikan yang tak berujung. Ujian yang akan menunjukkan watak dan kepribadian kita, dengan segala keistimewaan yang dimiliki mudah saja bagi kita untuk menjadi bermanfaat atau malah merugi. Mengkerdilkan seseorang yang nampak derajatnya lebih rendah dibanding kita. Segala sesuatu memang indah ketika kita berada di puncak, layaknya saat berada di puncak gunung ataupun puncak tertinggi gedung bertingkat, segala hal yang kita lihat di bawah nampak kecil dan tak berdaya. Namun, itu pun merupakan ujian bagi kita yang bukan tidak mungkin hanya dengan hitungan detik sudah harus bertukar posisi.
Menjadi baik memang hanyalah sebuah pilihan, tapi pilihan itu bisa kita usahakan karena masa depan masih selalu menjadi hal yang misterius, tak ada yang bisa memastikan apa yang akan terjadi dalam hitungan beberapa detik kedepan. Kebaikan speaks louder, tak ada kebaikan yang jatuh percuma di tanah, hanya kebaikan yang sedikit banyak akan menolong kita saat kita sudah tak lagi berdaya dan saat segala keistimewaan tak lagi menjadi milik kita.
Demi waktu, sesungguhnya manusia kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran serta saling menasihati untuk kesabaran (Al-Asr).

Moment To Remember

  Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...