Selasa, 05 Maret 2019

Bandung hari ketiga




DAY 3
Kami memulai hari dengan bangun pukul 4 subuh lalu antri untuk mandi. Hari ini kami berencana berangkat lebih pagi, untuk menghindari macet. Hari ini pula kami tidak memesan gocar melalui aplikasi, tapi minta dijemput oleh Dwika si pemilik gocar yang mengangkut kami saat hari pertama kami tiba di Bandung. Perjalanan yang sepagi itu ternyata tidak bisa menghindarkan kami dari macetnya kota Bandung, meski berangkatnya pukul 7 kurang, kami tetap sampai di lokasi kegiatan pukul 08 lewat. Kami pun langsung registrasi lagi di meja registrasi yang telah disediakan. Lalu memilih ruangan yang ingin kami masuki, saat kami tiba di lokasi presentasi session pertama sudah dimulai, dan dibagi dalam beberapa ruangan. Orchid 1, 2 dan 3. Jadi kami bebas memilih ruangan yang ingin kami masuki dengan tema yang kami ingin dengarkan. Dipilihlah orchid 2 sebagai tempat berlabuh kami, berhubung diruangan tersebut 5 dari 7 rombongan kami akan presentasi disitu. Ada beberapa peserta yang berhalangan hadir, sehingga beberapa peserta maju presentasi lebih awal dari jadwal yang sudah dibagikan. Tapi tidak menjadi masalah yang begitu berarti bagi kami, karena sudah mempersiapkan dari beberapa hari sebelumnya.

Hingga pukul 10, yang artinya setengah jam lagi giliran saya untuk presentasi. Saya pamit untuk pindah ke orchid 3, ruangan yang akan menjadi tempat saya presentasi. Rasa gemetar, gugup, tidak percaya diri, mules mulai menghampiri saya. Apalagi melihat para presenter membawakan materi dengan bahasa Inggris full, saya tidak begitu siap dan tidak latihan dengan baik menggunakan Bahasa Inggris, alhasil saat saya presentasi saya tampil apa adanya dengan mengerahkan kemampuan maksimal saya yang bulepotan. Semua audience memperhatikan dengan saksama, entah karena tidak ada pilihan lain selain memperhatikan saya mempresentasi atau memang mereka mengerti apa yang saya bicarakan. Oh iya, karena menyangka presentasi bisa mix antara bahasa Indonesia dan Inggris jadi file presentasi saya hanya berupa poin-poin, tapi ternyata sangkaan saya keliru. Untungnya saya sedikit banyak telah menguasai materi tersebut dalam bahasa Indonesia, jadi presentasinya sambil mikir dan menerjemahkan dalam waktu yang bersamaan. Tampak wajah teman-teman saya yang memperhatikan dengan tegang dan sesekali mengambil gambar, mereka mungkin khawatir jika saya benar-benar stuck dan malu-maluin. Hahahah, tenang aja guys kita memang sudah terbiasa untuk saling malu-maluin satu sama lain. Hahahaha. Di barisan paling depan nampak seorang bapak paruh baya yang memperhatikan saya presentasi dengan begitu serius sambil sesekali mencatat. Saat 10 menit telah berlalu, waktu presentasi saya telah selesai dan dibukalah sesi Tanya jawab, 1 menit menunggu pertanyaan dan tidak ada satupun yang melontarkan pertanyaan dan berakhirlah waktu saya. Moderator mempersilahkan saya duduk dan digantikan dengan presenter yang lain. Alhamdulillah ada kelegaan saat presentasi telah berakhir, meskipun bocor sana sini presentasinya setidaknya saya telah melakukan yang terbaik versi saya.

Setelah saya presentasi, saya dan beberapa teman pun pindah ke orchid 2 dan melihat Ana yang sementara presentasi. Beberapa menit kemudian moderator mengingatkan 10 menit waktu presentasi telah berakhir, 5 menit yang tersisa mau digunakan untuk Tanya jawab atau lanjut presentasi, dan Ana memilih untuk lanjut presentasi. Tak terasa waktu berallu begitu cepat, Ana telah selesai presentasi dan tibalah waktu untuk istirahat. Ana yang terbiasa sarapan dan sedari pagi tidak makan apapun dan telah bercampur dengan rasa gugup dan tegang sebelum presentasi tadi membuat maagnya kambuh. Kami semua duduk di depan mushollah menunggui Ana yang sedang sakit.

Tiba-tiba melintas bapak yang duduk dibarisan paling depan saat saya presentasi, bapak tersebut menyatakan apresiasinya “ibu, tadi saya tidak mengerti bahasa yang ibu bawakan, tapi saya begitu tertarik dengan tema yang ibu bahas, sangat menarik dan pembagiannya bagus, ibu dari UGM ya? Bagus tuh, Universitas terbaik”. Saya hanya menjawab iya dan memberikan senyum terbaikku. Ada rasa haru yang muncul dari dalam jiwa, ternyata sesuatu yang saya anggap biasa-biasa saja, bahkan yang saya anggap meaningless ternyata menarik dan berarti bagi orang lain. Dari hal ini saya belajar untuk menghargai sekecil apapun itu, karena dari hal kecil tersebut ada usaha yang begitu besar, jadi tak perlu mengkerdilkan diri hanya karena kita merasa bahwa kita tidak berharga. Bukan hak kita untuk menilai, biarkan penilaian menjadi urusan orang lain. Terus saya lanjut berfikir, saat bapak tersebut menyebutkan nama kampus saya, tidak bisa dipungkiri bahwa nama besar kampus akan mendompleng penilaian orang lain terhadap diri kita. Siapa yang bilang nama kampus tidak berpengaruh, siapa yang bilang nilai tidak penting? Keliru ketika kita berfikir itu tidak penting dan berpengaruh, buktinya orang-orang akan melihat sesuatu dari brand. Baru setelah itu kualitas diri menyusul untuk diperhitungkan.

Sore itupun berakhir dengan penutupan oleh bapak Dadang selaku kepala Balai Bahasa Jawa Barat, ada satu pesan yang saya ingat benar. Pak Dadang berpesan bahwasanya ketika nanti kita menikah dengan seseorang yang berbeda suku, bahasa yang akan diajarkan sama anak harus sudah disepakati sebelum ijab dikabulkan, jangan sampai karena tidak adanya kesepakatan tersebut hingga nantinya kita memilih untuk mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa Ibu kepada anak-anak kita, karena hal tersebut yang akan menjadi salah satu faktor punahnya bahasa, yakni penuturnya yang berkurang hingga yang tidak memiliki penutur lagi, dan perkawinan antar suku adalah salah satu faktor yang akan menjadikan hal itu terjadi.

Saat sesi terakhir itu ada dua orang penyusup, Oky dan Ghery. Oky adalah teman komunitas saya di Makassar yang saat ini sedang kuliah di ITB dan menjadi travel guide kami selama beberapa hari di Bandung, Ghery adalah teman saya saat PK di Wisma Hijau, saat ini dia sedang menempuh pendidikan di UPI Bandung. Mereka berdua datang ke hotel untuk menemui saya dan teman-teman. Ada rasa syukur dan bahagia karena memiliki banyak teman-teman di mana-mana.
Kami ber-9 lalu ke Alun-alun, rencana ingin foto-foto. Berhubung beberapa orang dari kami baru pertama kali datang ke Bandung. Jelas kami terbagi dalam dua mobil, karena tidak akan mungkin cukup ber-9 dalam satu mobil. Hahaha, akhirnya terpisahlah sekat antara akhi dan ukhti. Kami tiba di alun-alun sekitar setengah jam kemudian, kami memutuskan untuk jalan ke Asia-Afrika dulu sembari berfoto ria, dan rencana sholat maghrib di Mesjid Raya. Langit kota bandung begitu gelap, menemani perjalanan kami.

Ana yang tadi di hotel tidak makan meminta untuk kami mencari makan dulu sebelum melanjutkan jalan-jalan, Ghery mengajak kami untuk mencari makan di Braga, teman-teman meminta untuk ke warung makan yang murah dan enak. Kami pun larut dalam perjalanan dan canda tawa, sesekali mencari warung makan yang kemungkinan murah. Maklum saja, mahasiswa Jogja yang main ke Bandung terkaget-kaget dengan harga yang lumayan mahal bagi kami.

Dipilihlah salah satu warung makan yang ada diperempatan jalan Braga, tempat di depan bank BJB. Saya ditugaskan untuk mengecek harga dulu sebelum kami memutuskan untuk makan di sana, saat saya melihat daftar menu dan makanan yang lumayan ekonomis, saya pun memberikan kode kepada teman-teman yang masih berada diseberang jalan untuk mengikuti saya masuk ke warung tersebut. Tawa kami pecah, ada-ada saja kelakuan koplak kami yang memalukan. Kami pun diberikan petunjuk untuk menuju ke lantai 3, tempatnya sepi, luas dan nyaman. Sembari menunggu makanan kami bermain undercover. Ghery dan Oky pun sudah terlibat keakraban dengan teman-teman saya yang lain, Ghery pun nyeletuk “anak-anak UGM hemat-hemat ya”, mendengar celetukan tersebut, teman-teman saya tertawa. Bukan hemat sih, tapi kaget dengan harga yang melambung tinggi, berbeda sekali antara harga di Jogja dan Bandung, jadi kami mencari yang paling ekonomis.

Hujan pun turun dengan begitu derasnya, rencana kami untuk sholat di masjid Raya akhrinya tertunda. Hujan tak kunjung berhenti hingga waktu menunjukkan pukul 20:00, makanan sudah habis, kami pun sudah mulai bosan bermain undercover, jadi kami memutuskan untuk pulang saja dan merencanakan ulang sholat di masjid Raya keesokan harinya. Kami dijemput lagi sama Dwika, supir gocar yang mengantar kami tadi pagi. Pukul 20:00 lebih beberapa menit kami meninggalkan warung tersebut dan melanjutkan perjalanan balik ke asrama, sedang Oky dan Ghery juga memesan gojek untuk balik ke kediaman masing-masing. Kami menutup hari tersebut dengan perasaan lega dan bahagia, telah menyelesaikan tanggungjawab dan mengakhirinya dengan makan bersama. 
14 Februari 2019

Bandung hari kedua


DAY 2
Hari kedua di Bandung kami sudah mengikuti rangkaian seminar hari pertama. Kami berangkat lebih awal, sekitar pukul setengah 7 pagi. Awalnya menelfon Aa’ gocar yang hari sebelumnya, tapi tak kunjung aktif nomornya jadi saya memesan gocar melalui aplikasi. Pesanan pertama masuk tapi taka da konfirmasi dari drivernya, mobilnya pun tak kunjung bergerak. Setelah menunggu sekitar 10 menit saya mengcancel orderan tersebut lalu memesan gocar yang baru. Tak lama kemudian mobilnya pun datang dan kami meluncur menuju ke hotel. Sekitar jam 8 kami sudah tiba di hotel, langsung menuju ke lantai 2 lalu registrasi dan mendapat seminar kit. Id card yang kami dapatkan sesuai nama masing-masing kami kalungkan dileher lalu berjalan menuju ruang seminar, mencari tempat duduk yang strategis. Ada tiga ruangan yang digunakan dan disulap menjadi satu ruangan yang besar untuk seminar dan mendengarkan presentasi dari beberapa keynote speaker. Ada 4 keynote speaker pada hari itu, mereka membawakan materi yang baru bagi kami dengan pembawaan materi yang baik.

Tak banyak yang bisa saya ceritakan mengenai seminar hari pertama, semua berjalan seperti biasa. Layaknya seminar-seminar pada umumnya. Seminar diawali dengan tarian, dialnjutkan dengan angklung lalu sambutan dan pembukaan. Selanjutnya diambil alih oleh moderator untuk masu ke sesi presentasi oleh keynote speaker.

Sore sebelum ashar kegiatan hari pertama sudah selesai, kami pun bersiap-siap untuk balik dan memilih sholat ashar di asrama untuk menghindari macet. Dan Alhamdulillah pilihan kami untuk sholat di asrama tepat, kami tidak terjebak macet. Tapi masalah datang dari sisi yang lain. Driver gocar yang kami tumpangi membawa kendaraan dalam keadaan mengantuk hingga bawa mobilnya ugal-ugalan yang membuat penumpang dalam mobil tersebut satu persatu muntah dan pusing sesampainya di asrama, parahnya lagi besoknya kami mau seminar. Jadi untuk mengatasi semua itu kami makan yang banyak dan minum susu beruang malam harinya agar besok ketika seminar tidak tumbang.
13 Februari 2019

Bandung hari pertama






DAY 1
Hari pertama di Bandung, tepatnya hari selasa. Bangun pagi kami disambut dengan dinginnya Bandung yang menusuk hingga ke tulang. Wajar saja, Asrama UIN yang berada di daerah Cibiru ternyata daerah dataran tinggi, saat pagi datang kulihat gunung atau lebih tepatnya bukit yang berada pas dibelakang asrama. Saking dinginnya membuat kami enggan untuk beranjak dari tempat tidur, dan lebih memilih untuk kembali menarik selimut. Untungnya hari itu masih hari selasa, acara seminar belum dimulai. Rencana hari itu hanya seputar mengecek lokasi seminar yakni di Hotel Grand Tjocro. Pukul 09.00 baru kami siap-siap untuk berangkat, setelah melewati segala kemalasan dan kepenatan. Sebelum berangkat ke lokasi seminar terlebih dahulu kami sarapan di kantin Ma’had berkumpul bersama mahasiswa UIN yang juga sedang makan di sana. 

Nampak dari wajah mereka menyiratkan bahwa mereka kemungkinan adalah mahasiswa tingkat 2 atau 3, mereka larut dalam obrolan dengan segelas kopi di hadapan mereka dan sebatang rokok yang terpatri indah di sela-sela jari mereka, sesekali asapnya mengepul dan sampai dihidung kami. Lalu saya membuka obrolan “Hmmp semenjak kuliah S2 saya sudah jarang menemukan teman-teman yang merokok, beda ketika masih S1, jangankan rokok hal-hal yang lebih parah dari rokok pun hampir setiap hari saya dapati teman-teman saya melakukannya, tapi wajar sih ya jaman S1 masih jaman eksistensi dan aktualisasi diri, semua hal dicobain. Kalau di S2 mah mungkin sudah banyak yang tobat bahkan berfikir ini tidak lagi memberikan banyak manfaat malah menyisakan penyakit di masa tua”, teman yang lain pun menyambung obrolan saya dan kami terlibat dalam obrolan mengenai rokok dan masa-masa S1 sampai tak terasa Siti dan Tama yang sarapan telah menghabiskan makanannya, saya pun memesan gocar menuju grand Tjocro. Oh iya, saya dan Ani memilih untuk tidak sarapan karena berencana untuk sarapan di ITB sambil melihat dedek gemes yang ada di ITB. Tak lama kemudian, gocarnya pun datang.

Alhamdulillahnya kami mendapat supir yang masih muda dan asyik, kami lalu terlibat obrolan dengan supirnya yang belakangan kami tau namanya Dwika. Sepanjang perjalanan kami bercanda tawa, menikmati kemacetan kota Bandung yang naudzubillah. Baru terasa omongan orang yang mengatakan UIN itu jauh, ternyata memang iya. Semalam saat berangkat dari stasiun tidak begitu terasa karena tengah malam dan jalanan lengang, tapi saat pagi datang kemacetan itu sangatlah terasa. Sejam kemudian kami sudah tiba di depan hotel Tjocro lalu melanjutkan perjalanan ke ITB, menemui Oky yang sudah menunggu lebih dari sejam sebelumnya. Waktu itu sudah masuk waktu Duhur, jadi teman-teman menunaikan sholat duhur di masjid Salman sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke kampus ITB.

Oky yang belum begitu menguasai daerah Bandung mengajak kami unutk mencari makan di depan kampus, berhubung saat itu waktunya makan siang jadi kami tidak kebagian tempat. Oky pun menawarkan makan pasta yang kemudian diaminkan oleh anak-anak yang lain. Fix tujuan kita makan pasta di dekat kampus ITB, tapi sebelumnya Oky mengajak kami untuk datang ke pameran illustrator yang kebetulan sedang berlangsung di Fakultas Seni Rupa ITB. Nampak banyak pajangan illustrator dari berbagai sumber tapi sayangnya tak bisa kami abadikan dalam gambar. Saat kami sudah puas berkeliling dan melihat gambar yang dipamerkan, kami pun siap-siap untuk mencari makan. Oky kemudian berbisik kepadaku bahwa pasta yang ditawarkan sebelumnya itu mahal dan porsinya sedikit, jadi dia berinisiatif mengajak kami untuk makan di ciwalk. Salah satu mall yang berada di dekat kampus ITB, katanya di sana terdapat banyak jajanan. Kusampaikan hal itu kepada teman-teman yang lain lalu mereka pun mengiyakan. Jadilah kami bertujuh menuju ciwalk untuk makan, tapi sebelumnya kami menyusuri setiap sudut ITB terlebih dahulu untuk mengabadikan foto.

Seorang teman berdecak kagum sesaat setelah kami tiba di Ciwalk, baru kali ini dia melihat mall dengan konsep outdoor. Lalu kami berjalan menyusuri ciwalk untuk mencari makan yang sesuai kantong, dan tibalah kami di depan gigglebox yang memamerkan diskon 50% dengan tulisan yang begitu besar di depan café mereka. Kami pun akhirnya memilih gigglebox untuk nongkrong dan makan. Harganya lumayan untuk ukuran mahasiswa Jogja yang ekonomis, tapi Alhamdulillah ada diskon 50% jadi kami bisa makan “mewah” dengan harga ekonomis. Persyaratannya cukup sederhana untuk mendapatkan diskon, cukup dengan follow, upload foto dan buat caption kami secara otomatis bisa mendapat diskon 50% yang ditawarkan tersebut. Kami tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.

Beres makan, kami mencari musholla untuk sholat lalu bersiap untuk balik ke asrama. Dengan alasan persiapan untik besok dan menemui Aad yang mengabarkan dirinya sudah sampai di Bandung. Sebenarnya kami bertujuh mengikuti seminar di STBA, hanya saja Aad berangkat dari Surabaya menggunakan bis jadi waktu tiba kami di Bandung berbeda.

Awalnya kami membercandai Aad bahwa kami akan sampai di asrama isya karena kami masih di luar, Aad yang sudah capek pasrah saja kami bercandai seperti itu. Menjelang pukul setengah 5 sore kami sudah siap-siap untuk pulang, beberapa kali orderan ojol saya ditolak, dan beberapa kali pula saya cancel karena lokasinya yang kejauhan. Hingga pemesanan ketujuh barulah ada bapak ojol yang menerima orderan saya dan saya terima juga, di aplikasi terpapar orderan prioritas tak lama kemudian ojolnya datang lalu kami pun beranjak pulang. Jam pulang kantor berarti jam-jam macet. Benar saja, jalanan besar, gang hingga jalanan perumahan semuanya macet. Hampir sejam dimobil hanya bergerak sekitar 3KM, dan supir ojolnya pun mulai menyerah, kami pun sudah jenuh mendengar beliau terus-terusan mengeluh. Jadilah kami diturunkan dipinggir jalan dan disarankan untuk naik damri, sore itu Bandung diguyur hujan yang lumayan deras. Supir ojol tersebut berdalih kemungkinan di depan itu banjir dan mobil kecil tidak bisa lewat, jadi kami disarankan untuk naik damri agar lebih aman.

Kami pun  turun di depan halte dan menunggu bis di halte. Anehnya, setiap orang yang lewat melihat kami dengan ekspresi heran, pun juga dengan damri yang lewat tak satupun yang singgah mengambil kami. Ana berinisiatif bertanya kepada penjual di warung klontong pas di samping halte. Darinya kami mendapat informasi agar menunggu di trotoar jalan saja, bukan di halte. Karena terkadang kalau di halte supir damrinya tidak melihat. Pengalaman baru di Bandung, jika di Jogja bis tidak akan berhenti selain di halte, di Bandung malah berhentinya bukan di halte. Pantas saja orang-orang yang lewat melihat kami dengan tatapan muka yang heran.

Dan benar saja, kami baru tiba di asrama menjelang isya. Ini mungkin definisi kualat, awalnya hanya ingin membercandai Aad, nyatanya kami memang terlunta-lunta dan baru sampai di UIN hampir 3 jam kemudian. Setelah menemui Aad di masjid, kami bersama-sama mencari makan di depan UIN lalu kembali ke asrama untuk istirahat. Mempersiapkan diri untuk berangkat lebih awal keesokan harinya agar tidak terjebak macet yang naudzubillah.
12 Februari 2019

Perjalanan ke Bandung



Perjalananku ke Bandung bukan kali pertama, tapi perjalanan kali ini berbeda dengan perjalanan sebelum-sebelumnya, dulunya selalu berangkat sendiri sekarang berangkat rame-rame dengan teman-teman. Ini merupakan perjalanan yang menyenangkan, saya penganut garis keras “Perjalanan bukan tentang tempat yang indah tapi dengan siapa kita ke sana”. Tujuan saya dan teman-teman ke Bandung adalah untuk mengikuti seminar Internasional linguistic yang diadakan oleh STBA Yapari ABA Bandung. Seminar merupakan prasyarat wajib bagi mahasiswa Linguistik UGM sebelum maju untuk sidang agar terbebas dari review dosen, atau kalau tidak mengikuti seminar maka tesisnya akan direview oleh 5 dosen sebelum dinyakatan layak untuk diujiankan.

Kami berangkat menuju Bandung menggunakan kereta api Pasundan, kereta yang paling ekonomis dengan jadwal keberangkatan yang cocok untuk kami. Berangkat dari Jogja pukul 14:10 dan tiba di Bandung pukul 23:25, dengan harga 88.000. Kami (saya, Siti, Tama, Ani, Ana dan Caca ) janjian bertemu di stasiun. Caca yang sudah sampai lebih dulu mendapat bagian print tiket yang kami pesan melalui online, saya Tama dan Siti berangkat bersamaan dan paling terakhir sampai di stasiun. Kami sampai di stasiun sekitar pukul 13:50, lalu kami buru-buru ke outlet Bakpia kukus untuk membeli oleh-oleh untuk ustadz dan teman-teman Siti di Asrama, tempat gratis yang akan kami huni selama kami berada di Bandung.

Pukul 14:00 kami sudah naik ke kereta, menyimpan barang di tempat penyimpanan barang di atas tempat duduk dan di bawah kursi, lalu kami duduk sambil menertawakan satu sama lain. Oh iya, kebetulan hari itu, tanggal 11 Februari merupakan hari ulang tahun Ana, jadi kami memberinya kue ulang tahun dan juga kue untuk Caca yang ulang tahunnya sudah lewat beberapa hari. Ulang tahun kali ini dirayakan di atas kereta dengan disponsori makanan oleh ibunya Ana. Ana membawa bekal yang begitu banyak, hingga tercetus istilah warteg di atas kereta. Setiap orang sudah mendapat jatah makan yang telah dibungkus oleh ibunya Ana dan begitu banyak cemilan yang lain. Perut kenyang, hidup pun sejahtera. Sepanjang perjalanan kami terlibat obrolan yang begitu seru, dan dilanjutkan dengan bermain undercover. Sesekali orang-orang menatap kami yang kadang lepas control kala mengobrol dan tertawa.

Dalam perjalanan, sesaat sebelum kereta tiba di Purwokerto, Papanya Caca menelfon mengabarkan bahwa beliau juga telah membeli bekal untuk perjalanan kami. Caca diminta untuk turun sebentar saat kereta berhenti di stasiun Gombong, Alhamdulillah perjalanan kami memiliki banyak bekal yang membuat kami tidak lagi jajan di kereta.

Kereta terus melaju, melewati stasiun demi stasiun. Kami menghabiskan waktu dengan mengobrol, bermain undercover dan bermain ludo. Setelah maghrib kami pun sudah dihinggapi rasa bosan, akhirnya kami satu persatu tertidur. Perjalanan masih lumayan panjang. Satu dua orang mulai turun di stasiun stasiun pemberhentian, hingga di stasiun Ciamis dan Tasikmalaya gerbong 3 yang kami tempati sudah mulau lengang. Kami mencari tempat yang lowong untuk sekedar meluruskan badan. Tempat duduk kami sebelumnya adalah kursi 3-3 yang berhadapan, di samping kursi kami sudah ada yang kosong, saya pun pindah ke kursi tersebut.

Ada kejadian yang tak terduga dalam perjalanan kami. Saat melihat peluang di kursi sebelah kami yang kosong, saya pun memilih pindah, namun tak bisa rebahan disebabkan ibu yang duduk kursi depannya selonjoran, alhasil saya tetap dengan posisi tidur duduk, dan sempat diabadikan oleh Tama foto saya yang sedang tidur dengan posisi seperti tahiyat akhir. Hahaha. Tidak nyaman dengan posisi itu, saya melirik bangku dibelakang kursi kami, ternyata salah satu bangku tersebut kosong, meski di satu sisi sedang ditempati oleh seorang lelaki berpostur besar yang juga sedang tertidur. Beberapa kali berfikir hingga saya memutuskan untuk pindah ke kursi yang kosong tersebut, agar bisa rebahan. Waktu itu saya berfikir, toh juga tidurnya di kursi yang berbeda dan posisi tidur saya yang membelakangi lelaki tersebut. Saat rebahan di kursi tersebut saya sudah hilang ingatan, sudah larut dalam lautan mimpi. Hingga saya terbangun dan melihat sudah ada cewek yang duduk di bangku sebelah bersama lelaki yang saya lihat sebelum saya tidur tersebut. Melihat ada wanita yang duduk di situ saya tak lekas beranjak, malah kembali tidur dengan posisi yang lain. Hingga tiba pukul 23 saya pun mulai bangun dan beranjak dari tidur panjang lalu berbenah untuk persiapan turun. Saya kembali melirik wanita yang ada di depan saya, dia menatap saya dengan muka yang tidak mengenakkan. Saya pun memperhatikan gerak gerik wanita dan lelaki tersebut. Nampak dari cincin yang melingkar dari jari manis wanita tersebut menyiratkan bahwa mereka adalah sepasang suami istri. Istrinya menunggui suaminya yang berbenah dan bersih-bersih menjelang turun dari kereta. Saya pun belum beranjak dari tempat duduk yang sebelumnya saya gunakan untuk tidur tersebut, saya melirik teman-teman saya yang duduk di bangku yang berbeda, mereka tertawa dengan sangat puas. Saya hanya membalas dengan tertawa tanpa tau apa yang sebenarnya mereka tertawakan.

Pukul 23:20 terdenganr pemberitahuan dari awak kereta bahwa perjalanan kami akan segera berakhir di stasiun terakhir yakni stasiun Kiaracondong. Kami pun mempersiapkan barang bawaan kami dan bersiap-siap menuju pintu keluar. Tiba di stasiun ketawa mereka makin lepas, lalu mereka mulai bercerita tentang kejadian di kereta tadi. Sembari saya memesan go-car untuk menuju ke Asrama. Ternyata saat saya tidur terjadi perseteruan kecil antara suami istri yang duduk di depan saya tadi waktu di kereta. Katanya istrinya nampak marah saat mendapati suaminya sedang tidur bersama cewek lain, hahaha. Drama banget ya kata-katanya. Iya mendapati suaminya sedang tidur sebelahan dengan cewek lain. Istrinya bertanya “itu siapa” dan suaminya pun menjawab dengan muka lugunya “saya gak tau, dia tiba-tiba aja ada saat aku bangun”. Begitu cerita teman-temanku yang melihat pasangan suami istri itu berdebat di depan saya yang sedang tertidur pulas dan seolah-olah tanpa rasa berdosa. Hahaha setelah itu tawa kami meledak, saya kemudian merunut segala kejadian sebelumnya. Ternyata itu menjadi penyebab wanita cantik yang saya liat sebelumnya itu menatap saya dengan muka sinis. Nyatanya dia cemburu memergoki suaminya sedang bersama wanita lain, meskipun tidak terjadi apa-apa.

Sesaat kemudian gocar yang saya pesan menelfon dan mengabari kalau dia akan menjemput kami tepat di depan tempat mengambil karcis di bawah flyover. Obrolan kami berlanjut hingga kami naik di gocar dan menuju ke asrama. Mereka mengalamatkan kata “pelakor” sebagai kata candaan untuk saya. Saya yang meras tak berbuat apa-apa hanya menimpali dengan candaan balik dan tertawa keras. Tama menimpali, cewek itu bodoh banget kalau mau cemburu hanya karena hal-hal seperti itu, tanggapnya. Tapi bisa aja sih, aku aja tau pasanganku chatan sama temannya terkadang cemburu padahal taka da apa-apa, apalagi memergoki suami sendiri bersama wanita asing. Jadi wajar-wajar aja sih cemburu. Kami pun kembali saling menertawakan. Tak terasa, mobil yang membawa kami sudah sampai di depan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, tempat kami akan menginap selama di Bandung. 

Selamat datang di Bandung, selamat datang di UIN. Dan selamat mengukir kenangan sealama beberapa hari ke depan.
11 Februari 2019

Jumat, 01 Maret 2019

Perihal keliling Indonesia


Resolusi untuk keliling Indonesia selalu saya tulis ulang selama 3 tahun terakhir, saya merasa impian saya belum juga tercapai. Hingga hari ini saya baru menyadari, ternyata jalan yang Tuhan pilihkan selalu lebih indah dan tepat dibanding rencana seorang anak manusia yang serba terbatas. Impian saya untuk keliling Indonesia diwujudkan dengan perjalanan yang tak direncanakan utuh mengelilingi Indonesia dalam sekali waktu, setelah melihat catatan-catatan lama, saya takjub ternyata saya sudah menginjakkan kaki hampir di semua pulau yang ada di Indonesia, meski belum menjamah setiap sudutnya.

Saya kembali terhenyak, perjalanan ternyata begitu melelahkan. Menjadi nomaden tak selalu menyenangkan. Sesimple-simplenya saya tetap seorang wanita seperti kebanyakan, yang rempong ketika ingin bepergian, yang akan mengalami kebingungan memilih tas agar semua barang muat, padahal perjalanan barangkali hanya seminggu.

Apa kabar jika saya benar-benar keliling Indonesia dalam satu waktu, mungkin saya akan membawa satu lemari untuk membersamai perjalanan saya.

Ah, cara Tuhan memang tak pernah bisa ditebak. Sekarang saya mencoba merangkai titik-titik perjalanan itu, mencoret setiap kota yang telah saya kunjungi, dan kelak akan berteriak bahagia ternyata impian saya berkeliling Indonesia telah terwujud dengan jalan dan cara yang tak pernah saya duga.
Kereta perjalan Jogja-Jember
01-03-2019

Moment To Remember

  Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...