Sabtu, 14 Juli 2018

Cerita pendek untuk kisah yang panjang

Aku senang bercerita, aku senang menulis tentang kisahku, karena ingatan manusia terbatas, dan tulisan itu kekal, karena kelak kisah ini akan kukenang.

Tak banyak yang tau kalo saya punya dua saudara, punya kakak dan adik. Sejak SMP saya dan kakak sudah berpisah, seingatku kelas 3 smp tepatnya kakakku diterima menjadi salah satu brigade polri dan mendapat tugas di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kota yang sangat asing bagi kami saat itu, kota tersebut pula yang menjadi tempat mencari rejeki kakakku selama 12 tahun, terhitung dari 2006 hingga 2018 kala tulisan ini kutulis.

Usia 30 tahun, akhirnya masa lajang itu berakhir. Entah sejak berapa tahun yang lalu, mamaku kekeuh menyuruh kakak menikah, entah berapa ratus purnama telah terlewati, mama yang sudah ingin melihat anaknya menikah, sedang anaknya belum juga bergeming. Entah berapa wanita yang sudah dikenalkan tapi belum juga merubah pendirian untuk merubah status, meskipun teman seangkatan hampir semuanya sudah menikah, bahkan sudah memiliki beberapa orang anak, sampai teman angkatannya anaknya sudah ada duduk di sekolah dasar.

Angka 30 mungkin adalah waktu yang tepat, tepat untuk mengakhiri masa lajang. Dengan penuh drama, tanggal 12 Juli 2018 akad itu diucapkan. Ijab Kabul di depan penghulu melantun merdu hingga menggetarkan arsy, sepasang anak manusia menyempurnakan separuh agamanya. wanita yang baru dikenalnya beberapa bulan yang lalu, sekarang menjadi istrinya. Lagi lagi kupercaya bahwa waktu bukanlah sebuah tolak ukur kita berjodoh atau tidak dengans seseorang. Sekuat apapun kita memaksa, sekuat apapun kita menolak, kalau seseorang itu adalah jodoh yang sudah dituliskan oleh-Nya maka selalu ada jalan untuk bersatu.

Sebelumnya, tepatnya di awal tahun 2018. Mama kembali mengenalkan seseorang kepada kakakku, anak dari teman dekatnnya, rumahnya pun tak jauh dari rumah kami. Entah karena sudah lelah sendiri, atau karena terpaksa terus-terusan di desak. Untuk pertama kalinya, mama dan kakak satu suara. Wanita yang dikenalkan mama disetujui oleh kakak. Meski kakak belum pernah ketemu dengan cewek tersebut, kakak dengan ikhlas menerima perjodohan tersebut. Berkas pun diurus sana sini. Menjadi seorang istri aparat, bukanlah perkara gampang. Sebelum prosesi pernikahan, ada banyak berkas yang mesti dilengkapi, harus mengikuti sidang baru dapat menentukan tanggal pernikahan. Acara lamaran berlangsung di bulan Februari, dan rencana akad dan resepsi diadakan di bulan April. Menunggu sidang selesai dan dapat menentukan tanggal. Berkas dilengkapi lalu dikirim ke Banjar. Persiapan pernikahan pun sudah mulai disusun. Mulai dari perias pengantin, baju, tenda, catering, dan segala tetek bengeknya.

Bulan maret, posisiku lagi di Jogja kala itu. Saya sudah kembali ke Jogja setelah acara lamaran kakak karena sudah masuk kuliah. Waktu itu tiba-tiba telefonku bordering, ada panggilan dari mama. Memberitahukan kalau pernikahan antara kakak dan cewek yang dijodohkan tersebut batal karena ada satu dan lain hal yang tak bisa saya ceritakan disini, dimana hal tersebut bukan lagi hal yang bisa ditoleransi. Mama sempat berada dalam titik terendah. Sempat hampir stress dan kalap. Berkali-kalai kutenangkan mama, dengan kata-kata kalau memang bukan jodoh pasti ada saja hal yang membuat berpisah. Dan Alhamdulillah semuanya terungkap sebelum akad dilaksanakan. Pertanyaan pertama yang kutanyakan kala itu “gimana keadaan orang tua si cewek”? mama menceritakan semuanya. Lalu kuchat kakak, memberikan semangat dan mengajaknya mengikhlaskan semua.
Meskipun berat tapi semuanya akhirnya menerima kenyataan tersebut. Meski begitu, cerita dari mulut ke mulut tentang peristiwa batalnya pernikahan kakak sudah terdengar dan menjadi obrolan banyak orang. Mama disalahkan banyak orang, karena telah mengenalkan cewek tersebut. Tapi bukankah segala sesuatu terjadi karena sebuah alasan yang indah? Akhirnya masa-masa menyedihkan tersebut terlewati. Mama dan kakak sudah kembali semangat lagi.

Bulan april, kakak dikenalkan oleh temannya dengan seorang wanita. Wanita yang kini menjadi istrinya. Proses yang sangat cepat, Bulan Mei mama berangkat ke Kalimantan untuk kenal dengan cewek tersebut. Kembali ke Sulawesi lalu balik lagi ke Kalimantan untuk melamar. Akhirnya lamaran kedua dilakukan sebelum puasa. dan merencakan akad akan dilakukan setelah lebaran, kembali menunggu prosesi sidang dan penyelesaian berkas.

Dari prosesi lamaran-sidang-akad banyak hal yang kemudian terjadi. Menjadi hari-hari yang lumayan sulit dalam keluarga. Ternyata rasanya seperti ini ya, menuju halal, menuju pernikahan bukan sesuatu yang gampang, banyak drama yang terjadi. Bukan hanya antara kedua mempelai, tapi juga keluarga. Mama & bapak gantian sakit.

Kalau mengingat kembali malam itu, rasanya pengen nangis. Itu adalah malam paling menyeramkan sepanjang saya hidup. Malam dimana mama tiba-tiba berada dalam kondisi seperti orang sekarat. Minta dibacakan Al-Fatiha beberapa kali, minta dibacain do’a. badanku gemetaran, tak sanggup kumemikirkan kemungkinan terburuk. Beberapa kali kumerengek sama Tuhan, agar senantiasa memberikan kesehatan dan umur panjang kepada kedua orang tua hamba. Rasanya ingin kuskip malam itu dan melupakan segala hal yang terjadi dan rasa yang ada malam itu. Malam itu rasanya menjadi malam yang panjang, malam yang begitu menyeramkan. Inginku langsung pagi dan berharap semalam hanya mimpi buruk. Beberapa hari masa pemulihan, saya selalu memperhatikan perkembangan mama, dan melayani segala kebutuhannya. Alhamdulillah mama kuat dan kembali sehat.

Beberapa hari kemudian. Kembali bapak yang sakit. Badannya panas, panas sekali. Perasaannya dingin. Malam itu, kembali mama dan adik tidak tidur. Gantian mengompress bapak yang badannya sepanas api. Hatiku remuk melihat kondisi bapak yang selama ini sehat tiba-tiba sakit seperti itu. Demam biasa sih sepertinya, tapi itu adalah kali pertama kumelihat bapak terkapar seperti itu. Kukembali merengek sama Tuhan untuk memberikan kesembuhan kepada bapak. Kumemohon sama Allah untuk kesehatan dan umur panjang untuk kedua orang tuaku. Beberapa hari, kami mengurusi bapak. Alhamdulillah atas kuasa Allah bapak kembali sehat meskipun belum sepenuhnya seperti sedia kala. Dua kejadian yang membuat hari-hariku terasa begitu berat. Alhamdulillah dengan kasih sayang Allah semua dapat kami lewati.

Semua kembali fokus ke persiapan pernikahan kakak. Undangan pun di cetak 3 minggu sebelum acara dilaksanakan. Dengan segala keriweuhan persiapan. Mama yang mesti bolak balik Kalimantan untuk mengikuti sidang. Bapak yang tidak tau apa-apa. Saya dan adik yang seminggu jalan menemani teman  yang lagi main ke Makassar. Bukan maksud memprioritaskan teman dibanding membantu persiapan pernikahan kakak. Hanya saja, teman yang memang sengaja untuk liburan di Makassar telah lebih dulu membeli tiket sebelum tanggal nikahan kakak ditentukan. Perkiraan mama, pernikahan akan dilaksanakan di bulan agustus, tapi setelah bertanya kepada om dan orang yang dituakan dikampung, terpilihlah 12 Juli sebagai tanggal baik. Persiapan dadakan pun dilakukan. Kurang dari sebulan jarak antara penentuan tanggal dan acara. Penyusunan nama-namayang ingin diberi undangan, pemesanan catering, dekorasi pengantin, make up dan pendistribusian undangan semua berlangsung begitu kilat.

Dramanya belum berakhir sampai disitu, tanggal 27 Juni waktu yang dijadwalkan untuk kakak sidang ternyata batal karena satu dan lain hal. Mama yang sudah berada di Kalimantan kala itu pun dilanda kepusingan. Satu sisi ingin menunggu kejelasan jadwal sidang, satu sisi harus pulang untuk mengurus persiapan. Akhirnya mama memutuskan untuk pulang sembari menunggu jadwal sidang kakak. Barulah pada tanggal 6 Juli sidang itu berlangsung, dan Alhamdulillah bisa dikuasakan dengan alasan yang bisa diterima. Sidang berjalan lancer dan kakak beserta calon mempelai wanita dan keluarganya menjadwalkan berangkat ke Makassar tangga 8 Juli. Semua berjalan singkat, dan Alhamdulillah diberi kemudahan. Mulai dari keberangkatan hingga pengurusan berkas-berkas pra nikah. Kalau biasanya wajib mengikuti prosedur kurang 10 hari sebelum akad sudah harus melakukan pencatatatn di kantor KUA. Ini mendapat toleransi bisa kurang dari itu karena ada hal yang tidak bisa ditinggalkan. Intinya mah komunikasi.

Oh iya, saya belum menceritakan. Kakak tertua mama yang biasanya mengarahkan ini itu, yang selama ini menjadi orang yang dituakan sekaligus membimbing di Jumat malam tanggal 6 Juli dilarikan ke RS karena hipertensi dan terserang struk. Hingga tulisan ini ditulis, tante yakni kakak tertua mama masih sakit. Mama begitu terpukul dan kehilangan arah. Orang yang selama ini selalu membimbing, membantu banyak hal. Terkapar tak berdaya. Harus berbaring di tempat tidur, bangun pun mesti dibantu. Anaknya yakni sepupu saya yang selama ini total membantu kalau ada acara di rumah sekali pun tak pernah kelihatan karena mengurusi tante saya yang struk. Tante yang saya panggil mama aji selama ini pun begitu bersedih hati, karena tidak bisa menyaksikan keponakannya duduk di pelaminan, bahkan ketika masih di RS pun beliau beberapa kali merengek sama dokter agar diperbolehkan keluar karena ingin melihat keponakannya menikah. Meski pada kenyataannya beliau pun tak bisa hadir karena belum mampu bangun dari tempat tidur. Semoga mama aji lekas sembuh dan bisa kembali sehat seperti sedia kala.

Malam ini, 14 Juli 2018. Saat tulisan ini kutulis, semua orang sudah tidur karena kelelahan. Seharian menjamu tamu dari pagi hingga malam hari. Prosesi panjang pernikahan sudah berakhir. Mulai dari lamaran, sidang, akad hari kamis 12 Juli, malam mappacci 13 Juli, dan resepsi 14 Juli sudah selesai. Selamat menempuh hidup baru kakak dan istri. Semoga mencapai keluarga sakinah mawaddah warahmah. Berkah dunia akhirat. Semoga bisa menjadi pasangan sehidup sesurga. Terimakasih untuk semua keluarga yang sudah membantu mulai dari persiapan, prosesi hingga pasca acara. Kuterharu melihat persatuan dan kesatuan semua keluarga besar baik dari keluarga mama, maupun dari keluarga bapak. Kubahagia anggota keluarga bertambah, keluarga istri kakak pun begitu baik. Semoga selamanya seperti itu.

Selamat berbahagia kakak dan istri, sehat terus mama, bapak dan semua keluarga.
Selamat malam dan selamat istirahat

Beberapa dokumentasi nikahan kakak





Soppeng, 14 Juli 2018
11:57PM   

Minggu, 08 Juli 2018

Pulau Cangke in Love

Apa yang lebih membahagiakan dari sebuah mimpi yang menjelma menjadi nyata?
Menikmati debur ombak
Berlarian di pantai
Tidur diatas hamparan pasir
Menikmati bintang-bintang dalam kesunyian


Ingatkah kau mimpi yang pernah kita ukir bersama?

Mimpi untuk liburan di sebuah pantai yang ada hanya aku dan kau. Kau yang selalu berhasil menjadi orang yang bisa aku ajak berbincang mengenai apa pun.kau yang selalu ada untuk kuajak kemanapun. Itu menjadi salah satu alasan aku selalu nyaman bersamamu.Namun, kini kau telah pergi. Pergi membawa segala mimpi yang pernah kita rajut bersama.

Tak mengapa, kasih.
Hidup bukan hanya sebuah pilihan ganda yang memberikan kita kesempatan untuk bebas memilih. Terkadang hidup pun berupa sebuah essai, yang mengharuskan kita untuk menjawab segala tanya. Dan segala tanyaku tentang masa depan bersamamu, terjawab dengan kepergianmu.

Ah, aku selalu percaya sesuatu yang memang ditakdirkan untuk kita tak akan salah sasaran. Pun sesuatu yang tidak digariskan untuk kita pasti akan selalu menemukan jalan untuk lepas dari genggaman kita. Tak ada gunanya memaksakan kehendak. Kita hanya butuh untuk berdamai dengan kenyataan, menerima segala realita, dan bahagia setelahnya.

Ilmu ikhlas itu memang sulit. Tapi yang sulit bukan berarti tidak bisa dipelajari, bukan? Sulit bukan berarti tidak bisa dijalani, bukan?

Terimakasih untuk luka yang pernah kau torehkan. Kini aku bisa belajar untuk berjalan sendiri, tanpamu. Tanpa mimpi yang ada kamu lagi didalamnya. Terimakasih, karenamu aku akhirnya tau bahwa sumber besar kekecewaan dan sakit berasal dari harapan yang begitu tinggi.

Kamis, 10 Mei 2018

Berjarak


"Kita" hanya berjarak, bukan berpisah
 
Mungkin “kita” butuh untuk berjarak, agar “kita” tau arti sebuah kehilangan

Aku rindu, rindu sekali. Rindu untuk berkumpul dan bercanda tawa seperti dulu lagi. Tapi aku merasa hubungan “kita” belakangan ini terasa begitu jauh. Ketika “kita” kumpul pun rasanya raga berada di tempat yang sama, namun jiwa dan pikiran entah berada dimana.

Aku rindu, rindu sekali. Rindu sebuah kehangatan obrolan seperti dulu lagi. Aku selalu membesarkan hati, menghibur diri “ah mungkin semuanya pada sibuk, jadi jarang waktu untuk berkumpul bersama”, namun ketika melihat kamu bisa menyempatkan diri untuk berkumpul dan bercanda tawa dengan yang lain, dan terkadang memiliki alasan untuk tidak hadir ketika diajak kumpul bersama, disitu kadang saya berfikir, apakah “kita” tak lagi berarti untukmu?

Kamu diperlakukan beda, itu tandanya kamu sudah masuk dalam list orang special, jadi tak perlu ada kepura-puraan. Tapi, terlalu sering dibedakan dan kamu lebih menprioritaskan orang lain terkadang membuat kami berfikir, apa benar ini karena kita sudah begitu dekat hingga kau tidak lagi peduli dengan perasaan kami? Atau mungkin memang kami tak berarti bagimu.

Hmmp mungkin memang kita butuh untuk berjarak, agar kita tau arti sebuah rindu. Agar kita tau kalau kita saling membutuhkan. Agar rasa jenuh itu menguap dan hilang.

Jangan lama-lama berjarak, karena kenyamanan bisa datang dari mana saja. Dan ketika seseorang bisa memberikan rasa nyaman yang lebih, bukan tak mungkin hubungan “kita” yang mulai renggang akan semakin renggang dan semakin berjarak.

Aku sempat berfikir, oh mungkin ini salah satu alasan selingkuh dan pertengkaran dalam rumah tangga. Saat seseorang di dalam rumahnya sudah tak dianggap dan jarang dipedulikan, maka dia akan mencarinya di tempat yang lain. Dan jika di tempat lain dia menemukan apa yang dia cari, maka kenyamanan itu akan muncul. Dan untuk kembali kepada seseorang yang sempat melukai, itu bukan hal yang mudah.  

Yogyakarta, 11 Mei 2018, 23:53

Piknik Ceria


2014, ketika masih di Kampung Inggris, Pare, Kediri. Salah seorang teman mengajak untuk mendaki ke Prau, tapi karena satu dan lain hal akhirnya rencana itu tidak terealisasi.

2018, dengan bermodalkan kata “AYOK MAIN” akhirnya rencana itu terwujud. Rencana yang hanya diwacanakan 2 hari akhirnya teralisasikan. Memang ya, sesuatu yang tiba-tiba jauh lebih besar kemungkinan direalisasikan ketimbang sesuatu yang direncanakan lama.

Berdelapan orang mengendarai mobil sewa, kami bertolak dari Jogja menuju Dieng pada rabu malam pukul 20.00 dan tiba di Dieng pukul 00.00. Perjalanan terasa begitu lama karena kami beberapa kali singgah, temanya aja Piknik Ceria. Jadi kami tidak ada target waktu, menjalani sesuatunya dengan senang hati tanpa timeline dan deadline, ops.

Sesampainya di basecamp, kami siap-siap dan registrasi. Biaya registrasi per orang Rp 10.000 ditambah biaya parkir mobil Rp 20.000. Basecamp registrasi disamping dipakai untuk tempat registrasi juga sebagai tempat para pendaki yang akan muncak maupun yang sudah turun. Setelah melewati proses registrasi dan siap-siap, kami memulai perjalanan menuju puncak Prau. Kami melewati ladang penduduk, pos 1, pos 2, pos 3 dan terakhir di puncak. Kami berangkat pukul 00.30 dan tiba pukul 03.30

Sebenarnya ada beberapa puncak, dan kami tidak mengerti yang mana puncak sesungguhnya. Kami memilih mendirikan tenda di salah satu puncak yang ada beberapa pohon menjulang tinggi, alasan memilih tempat tersebut karena puncak lainnya begitu terbuka, dan angina berhembus begitu kencang. Disaat 3 cowok yang berada dalam rombongan mendirikan tenda, para cewek-cewek membuat kopi dan menyiapkan sesuatu yang bisa di cemil. Saat tenda sudah siap digunakan, makanan dan minuman pun sudah siap untuk disantap.

Tak sampai habis makanan dan minumannya, kami semua bergegas masuk di tenda. Berada di luar tenda dalam waktu yang sedikit lebih lama sama halnya membiarkan diri membeku secara perlahan, dingin di puncak terasa begitu menusuk. Kami mengambil posisi masing-masing untuk rebahan. Tenda yang muat 6 orang diisi 8 orang sontak membuat para penghuninya dempet-dempetan bagai ikan teri.

Belum juga cukup sejam rebahan, bahkan belum sampai tertidur. Suara adzan diluar tenda menggema begitu merdu. Masih dalam keadaan setengah ngantuk, kami bangun untuk bersiap sholat subuh berjamaah. Saat keluar tenda, saya begitu kaget sekaligus terharu melihat para jamaah sholat subuh berjamaah dibelakang tenda sudah begitu banyak, lebih dari 20 orang. Pemandangan yang bahkan tak pernah kujumpai selama mendaki. Meskipun cuaca dingin dan angina yang berhembus begitu kencang kami masih bisa khidmat menunaikan ibadah sholat subuh, diimami oleh seorang imam yang begitu lantang menggemakan ayat-ayat Allah dibawah rembulan beralaskan tanah.

Selesai sholat subuh, kami kembali ke tenda dan bersiap untuk menikmati sunrise. Entah perubahan apa yang terjadi belakangan ini, saya tergiring untuk mengikuti gaya anak kekinian. Tidak ada lagi kesan mapala yang kumal. Sebelum kami keluar menikmati sunrise, kami terlebih dahulu menabur bedak di wajah dan sedikit polesan lipstick di bibir, agar bisa menghasilkan jepretan foto yang cerah. Masih dalam keadaan dingin yang begitu menusuk, kami mencari spot foto yang indah. Diantara puluhan pendaki lain kami berswafoto dan menikmati keindahan alam yang terpampang begitu luar biasa.

Puas berfoto ria, kami kembali ke tenda. Bermain Uno sambil mengobrol dan bercanda ria. Kenikmatan dan kebahagiaan kecil tapi terasa begitu luar biasa. Berkumpul bersama, tertawa dan melupakan sejenak segala hiruk pikuk tugas dan tanggung jawab yang ada, terlepas dari jangkauan jaringan dan sosial media membuat kita benar-benar hidup dan menikmati kehidupan.

Alhamdulillah perjalanan kali ini dipertemukan dengan orang-orang yang luar biasa, orang-orang baik dengan energy yang begitu positif, sehingga perjalanan terasa begitu menyenangkan.

Ah memang benar, ini bukan tentang tempatnya indah atau tidak. Tapi dengan siapa kita hadir di tempat tersebut. Dinikmati atau tidaknya sebuah keindahan bergantung siapa yang membersamai kita kala itu. Dan memang benar, energy itu mempunyai kekuatan, entah itu positif atau negatif energy itu akan mempengaruhi orang lain. Dan energy yang kudapat dan saling bertukar dalam perjalanan ini begitu positif, sehingga perjalanan secapek apapun tidak terasa, yang ada hanyalah kebahagiaan dan belajar arti proses tadabur alam. Terimakasih tripnya hari ini, sampai jumpa di trip selanjutnya.
Yogyakarta, 11 Mei 2018, 23:35

Selasa, 08 Mei 2018

Amanah


Amanah itu tanggung jawab
Tanggung di dunia
Jawab di akhirat
Amanah tak akan salah memilih pundak

Amanah itu tanggung jawab dunia akhirat, maka tak heran jika banyak yang menolak untuk mengemban sebuah amanah. Tapi kamu beda, selalu berbeda. Kau yang memilih tanggung jawab itu untuk bernaung di dirimu. Kau selalu memilih untuk berbeda, tau kan resiko memilih jalan yang berbeda? Ya, siap dengan banyak ketidaksukaan, siap dengan kebencian, dan siap untuk di musuhi.

Akhirnya kau benar membuktikan kata-katamu. Teringat malam itu, saat kita kumpul dan sedikit berdiskusi mengenai posisi yang kau daftari di salah satu lembaga, “Kalau kamu ditempatkan bukan ditempat yang kamu inginkan, apa yang kamu lakukan”? Tanyaku kala itu. “Berarti saya diberi ruang untuk berkarya di tempat lain”, and you prove it. Kau benar membuktikan bahwa ketika satu tempat menolakmu, ada tempat yang lebih indah dan lebih pantas untuk kau tempati.

Hmmp kembali lagi, amanah itu tanggung jawab. Terpilih menjadi seorang pemimpin berarti harus memantaskan diri untuk memimpin. Terpilih menjadi seorang pemimpin bukan berarti perjuangan sudah selesai, melainkan ini menjadi langkah awal untuk mulai berkarya, untuk mulai mengabdi, untuk mulai belajar dan beproses.

Selamat mengemban amanah, tetap down to earth. Masih ingat kan kata-kata yang pernah kau lontarkan? Salah satu hal yang membuat seseorang hancur adalah kesombongan, mudah-mudahan kau selalu ingat itu. Dan ada 3 hal yang membuat laki-laki hancur, harta tahta wanita. Semoga kau bisa tetap baik-baik saja.

Dear, Hasanuddin Ismail. Selamat menjadi ketua KMMH FH UGM 2018-2019.

Senin, 07 Mei 2018

Sifat Buruk

Setiap orang memiliki sifat buruk, semua orang, tak terkecuali aku. Aku rasa, begitupun denganmu! 

Aku termasuk tipe orang yang ketika menyayangi seseorang akan sayang banget, namun ketika gak suka kadang juga kebangetan. 

Aku ingin bercerita tentang salah satu sifat burukku yang akupun belum bisa mengendalikan. Aku adalah makhluk yang ketika sayang sama seseorang terkadang tidak rela berbagi dengan orang lain, dalam artian aku kadang gak terima jika orang yang aku sayangi banyak yang suka dan dia merespon balik. Ketika seseorang yang aku sayang banyak yang menyukai, itu tak masalah, yang kadang menjadi masalah adalah ketika dia merespon balik dengan meladeni segala perhatian, chat dan segala tetek bengeknya. 

Bisa dikata, aku adalah orang yang egois, tak rela berbagi, atau mungkin terlalu takut kehilangan. Bagaimanapun se sok tangguh kelihatannya, aku adalah wanita yang memiliki perasaan terlalu mendominasi. Sama seperti wanita kebanyakan, aku selalu ingin menjadi center of attention dan menolak kehadiran orang lain yang kemungkinan akan mengambil posisi itu. Padahal aku harusnya sadar, ketika aku menyayangi dan perhatian kepada seseorang, aku harusnya ikhlas tanpa pamrih, dan orang yang aku sayangi tidak mempunyai kewajiban untuk melakukan hal yang sama. Aku pun harusnya sadar, ketika orang yang aku sayangi pun memiliki rasa yang sama, aku pasti memiliki tempat yang special di hatinya, meskipun itu tidak di tampakkan.

Moment To Remember

  Akhirnya bisa sampai di titik bernafas lega dan bilang "akhirnya minggu yang berat terlewati juga". Dari puluhan hari yang telah...